Bissampole = Sentrum

Entah mengapa, hasrat saya untuk bersetubuh dengan Bissampole makin menjadi-jadi. Semua ini dipicu gelora generasi kekinian di Bissampole yang mulai berhasrat mendalami lebih jauh negeri mereka sendiri. Tak tanggung-tanggung, deklarasi tentang kebangkitan Peradaban Bissampole pun mengemuka. Saya telah mendedahkan satu esai tentang itu di Paraminda.com.

Sebagai anak negeri yang bertumbuh di Bissampole, saya kemudian ikut arus pendalaman identitas tersebut. Saya kembali mengeja sebuah buku berjudul, Bantaeng Masa Prasejarah ke Masa Islam. Perhatian saya tertuju pada pagina 130-134, terutama narasi mengenai Tumanurung dan asal-usul Kerajaan Bantaeng.

Semula, saya ingin mengutip teksnya secara utuh. Namun, keterbatasan ruang membuat saya memadatkannya. Ada satu hal yang kemudian menarik perhatian saya: Bissampole bukan sekadar nama tempat yang kebetulan muncul dalam cerita asal-usul kerajaan. Dalam narasi tersebut, Bissampole justru menempati posisi yang sangat penting.

Kisanak dan nyisanak, mari mengeja kembali kisahnya.

Menurut narasi yang merujuk pada arsip kolonial Belanda, Tumanurung merupakan tokoh penting yang menyatukan Bantaeng. Sebelum kedatangannya, wilayah Bantaeng disebut hanya terdiri atas Onto. Tumanurung sendiri dipercaya sebagai sosok yang turun dari langit.

Dalam perjalanannya, Tumanurung melewati Mangepong, Karatuwang, Bontosunggu, dan Lindulae. Tempat-tempat itu kemudian disebut menjadi bagian dari Bissampole. Tumanurung selanjutnya menetap di Bissampole dan tinggal di sebuah rumah besar bersama Pole yang berasal dari Karatuwang.

Setiap hari, dua belas orang pilihan yang disebut Tomanngada menyampaikan laporan kepada Tumanurung. Mereka juga memilih seorang wakil dari Karatuwang yang diberi gelar Tonigalaraka.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Tumanurung, masyarakat membuka persawahan. Masing-masing Tomanngada menunjuk empat orang untuk mengerjakannya. Dengan demikian, terdapat 48 orang yang disebut Baku atau Toripabaku Eroki.

Hasil persawahan tersebut dibagi kepada sejumlah pihak: Tumanurung, Pole, Tonigalaraka, para Tomanngada, serta 48 orang yang mengerjakan sawah. Pengaturan ini memperlihatkan adanya pembagian hasil sekaligus pembagian peran dalam kehidupan masyarakat.

Pembukaan persawahan dan pembagian hasilnya, menyiratkan sesuatu yang lebih jauh, daripada sekadar pemenuhan kebutuhan hidup. Ada pengorganisasian tenaga, penetapan tanggung jawab, serta pengaturan distribusi hasil. 48 orang yang ditunjuk oleh para Tomanngada memperlihatkan adanya pengerahan tenaga secara terstruktur.

Dalam pembacaan saya, praktik semacam ini merupakan salah satu petunjuk, tentang tumbuhnya tata kehidupan bersama. Kekuasaan tidak hanya bertumpu pada kewibawaan seorang tokoh, tetapi juga mulai bekerja melalui pengaturan sumber penghidupan dan keterlibatan masyarakat.

Suatu ketika, Tumanurung menghilang. Empat puluh hari kemudian, ia menyampaikan pesan agar Pole menjadi jannang Bissampole, sedangkan Tonigalaraka diangkat menjadi Gallarang Bantaeng. Tonigalaraka bertugas memimpin dua belas Tomanngada atau jannang yang ditempatkan di permukiman-permukiman baru.

Adapun pengganti Karaeng Bantaeng, harus dipilih dari sembilan bersaudara yang tinggal di Karatuwang. Setelah melalui musyawarah, Masanigaya, saudara tertua, terpilih menjadi Karaeng Bantaeng. Ia kemudian dibawa ke Bissampole, tempat yang sebelumnya menjadi kediaman Tumanurung. Sejumlah sumber daya juga diserahkan kepadanya, untuk menjalankan kedudukannya.

Pole selanjutnya bermimpi bahwa Tumanurung akan kembali, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai patung emas. Di Onto, Pole bersama para Tomanngada berusaha memanggilnya. Dari birang muncul sejumlah benda pusaka: ana loloa berupa pedang atau kelewang, lowo berupa tombak bermata dua, tajina limpowua berupa badik kecil, serta balonga berupa bendera hitam. Benda-benda tersebut kemudian dibawa kembali ke Bissampole.

Masanigaya pun tinggal di Bissampole sebagai Karaeng Bantaeng pertama. Sementara itu, Gallarang Bantaeng bersama dua belas jannang membentuk Hadat Bantaeng. Kedua belas jannang tersebut dikenal sebagai Ada’ Sampulo Ruwa. Dalam perkembangan selanjutnya, Kaili kekaraengan bergabung secara sukarela sebagai polili Bantaeng.

Demikianlah ringkasan kisah yang memberikan gambaran, tentang kemunculan tatanan pemerintahan awal Bantaeng. Di dalamnya terdapat tokoh pemersatu, wakil masyarakat, pembagian hasil, penetapan jabatan, pengangkatan penguasa, serta pembentukan struktur pemerintahan.

Dari narasi tersebut, saya mengajukan satu minda: Bissampole dapat bermakna sama dengan (=) sentrum pembentukan awal Kerajaan Bantaeng.

Minda ini tentu bukan kesimpulan final. Namun, beberapa petunjuk dalam kisah tadi layak diperhatikan. Tumanurung menetap di Bissampole. Di tempat itu, ia menerima laporan dari para wakil masyarakat, mengatur pembagian hasil persawahan, dan membangun hubungan dengan tokoh-tokoh yang kelak menempati kedudukan penting dalam pemerintahan.

Setelah Tumanurung menghilang, Pole memperoleh jabatan Jannang Bissampole, sementara Masanigaya dibawa ke tempat yang sama, untuk menjalankan perannya sebagai Karaeng Bantaeng.

Rangkaian peristiwa tersebut, menempatkan Bissampole sebagai ruang berlangsungnya proses politik dan sosial yang penting. Tempat ini bukan sekadar latar geografis bagi kisah Tumanurung. Di Bissampole, hubungan antartokoh terjalin, kewenangan mulai dibagi, dan pergantian kepemimpinan memperoleh bentuk.

Ada hal menarik dalam pembagian jabatan antara Pole dan Tonigalaraka. Pole ditetapkan sebagai jannang Bissampole, sedangkan Tonigalaraka menjadi Gallarang Bantaeng yang memimpin dua belas jannang. Pembedaan itu mengisyaratkan adanya pembagian lingkup kewenangan. Bissampole memiliki kedudukan tersendiri, sementara Gallarang Bantaeng menjalankan fungsi kepemimpinan yang lebih luas.

Pembagian kedudukan tersebut juga menarik dibaca dari sudut hubungan antara pusat dan wilayah. Bissampole tampil sebagai tempat kediaman Tumanurung, kemudian menjadi tempat tinggal Masanigaya setelah terpilih sebagai Karaeng Bantaeng. Sementara itu, jabatan Gallarang Bantaeng memiliki jangkauan kepemimpinan terhadap dua belas jannang.

Gambaran ini memperlihatkan kemungkinan adanya pola pemerintahan, tidak sepenuhnya terpusat pada satu jabatan atau satu wilayah. Bissampole memiliki bobot simbolis dan politis, sedangkan struktur pemerintahan berkembang melalui pembagian kewenangan.

Dari sini, penting pula membedakan tiga hal: Bissampole sebagai wilayah, Kare Bissampole sebagai satuan kekuasaan, dan Jannang Bissampole sebagai jabatan pemerintahan. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak serta-merta dapat dipertukarkan maknanya.

Kisah Tumanurung memberi petunjuk, tentang pentingnya Bissampole dalam pembentukan awal kerajaan. Namun, kedudukan administratif Kare Bissampole serta perkembangan jabatan Jannang Bissampole masih memerlukan penelusuran sumber lain.

Karena itu, menyebut Bissampole sama dengan (=) sentrum, tidak harus berarti menetapkannya selaku ibu kota pertama Kerajaan Bantaeng. Istilah sentrum yang saya maksud, lebih merujuk pada titik temu berbagai unsur pembentukan kekuasaan: tokoh pemersatu, wakil masyarakat, pengelolaan sumber penghidupan, penataan jabatan, dan penentuan penerus kepemimpinan. Unsur-unsur tersebut hadir dalam kisah yang menempatkan Bissampole sebagai ruang penting bagi lahirnya tatanan kerajaan.

Tentu, sumber kolonial yang menjadi rujukan perlu dibaca secara kritis. Kisah asal-usul kerajaan tidak selalu dapat diverifikasi sebagai rekaman peristiwa secara utuh. Di dalamnya mungkin terdapat ingatan kolektif, simbol, dan penjelasan masyarakat mengenai legitimasi kekuasaan.

Karena itu, penelusuran lebih jauh perlu membandingkannya dengan sumber lokal, tradisi lisan, serta catatan sejarah lain. Sikap kritis semacam ini justru membuka peluang untuk memahami sejarah secara lebih saksama, bukan sekadar menerima atau menolaknya.

Di sinilah pentingnya menempatkan cerita asal-usul dalam kesadaran sejarah masyarakat. Sebuah kisah mungkin menyimpan ingatan tentang tokoh, tempat, dan peristiwa, sekaligus menghadirkan cara suatu komunitas memahami kelahiran tatanan sosialnya.

Simbol-simbol dalam cerita Tumanurung, termasuk benda-benda pusaka yang muncul dari birang, tentu menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Benda-benda itu mungkin memiliki makna yang melampaui fungsi bendawinya. Namun, penafsirannya perlu ditopang oleh keterangan dan perbandingan sumber, bukan semata-mata dugaan.

Saya kembali kepada hasrat semula: bersetubuh dengan Bissampole. Bagi saya, keintiman dengan tanah kelahiran, tidak cukup diwujudkan melalui kebanggaan terhadap nama dan kenangan. Ia menuntut kesediaan mengeja ulang sumber, menguji cerita, dan merangkai petunjuk yang selama ini mungkin terlewatkan.

Jika kisah Tumanurung memberi petunjuk, bahwa Bissampole merupakan ruang penting dalam pembentukan awal Kerajaan Bantaeng, maka kebangkitan Peradaban Bissampole memperoleh satu pijakan, agar melangkah lebih jauh. Bukan buat mengklaim seluruh sejarah Bantaeng sebagai milik Bissampole, melainkan untuk menempatkan negeri ini, secara proporsional dalam sejarah yang lebih luas.

Sebab, mengenali kembali posisi sebuah negeri dalam perjalanan sejarahnya bukanlah perkara membesarkan nama. Ia merupakan ikhtiar menelusuri kelahiran suatu tatanan, pembentukan kekuasaan, serta peran sebuah tempat dalam lintasan peradaban.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *