Kita pernah salah mengira. Tulus itu membawa rantang keikhlasan, ternyata modus sebuah pulus. Begitu mulus teraba. Pada akhirnya tersisi di tengah, pulus yang kemudian mengambil alih peran.
Karena tulus itu bekerja dalam diam. Tidak sibuk mencatat dan mencatut diri. Ia tidak butuh panggung untuk sah, tidak untuk tepuk tangan, dan hidup dengan kelimpahan validasi (pengakuan). Ketika ia berteriak minta diakui, maka ia sudah berganti baju, menjadi bulus yang sedang merayu pulus. Dengan topeng tulus.
Saat pulus hadir, bulus menjadi teman. Tulus terjerat di antara pekiknya sendiri.
Dan kita mulai membagi peran, menjadi ketiganya atau memilih satu yang orang-orang buru sebagai atribut menjadi manusia tulus?
Padahal tidak ada benar tulus. Yang ada hanya giliran. Hari ini kita pamer tulus, besok menjadi bulus, lusa kita beratribut pulus.
Semua bisa jadi modus. Ketiganya hanya versus. Sama-sama punya cara dan mengejar atribut dan afirmasi.
Dalam panggung sandiwara kehidupan, manusia dibekali dengan berbagai topeng dan karakter untuk bertahan hidup. Di antara spektrum sifat manusia yang paling kontras, terdapat dua istilah yang sangat akrab di telinga kita: tulus dan bulus.
Dua kata yang hanya berbeda satu huruf vokal ini sejatinya mewakili dua kutub moralitas yang bertolak belakang. Tulus mencerminkan kesucian niat tanpa pamrih, sementara bulus, atau yang sering kita sebut sebagai “akal bulus”, merupakan perwujudan dari kecerdikan yang manipulatif demi keuntungan pribadi.
Secara filosofis, tulus adalah bentuk tertinggi dari keikhlasan. Ketika seseorang bertindak dengan tulus, mereka memberikan perhatian, bantuan, atau kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan, pujian, atau pengakuan.
Bulus sering kali terlihat manis di luar, pandai bersilat lidah, dan tampak sangat mendukung. Namun, di balik topeng ramah tersebut, terdapat kalkulasi keuntungan yang matang.
Tidak melihat orang lain sebagai subjek untuk dikasihi, melainkan sebagai objek atau batu loncatan untuk memuluskan kepentingan sendiri.
Ironisnya, dalam realitas modern yang kompetitif, batas antara tulus dan bulus sering kali menjadi kabur. Dunia kerja, sosial, bahkan paling mengaku beragama, sampai pada ranah paling sering terjadi di ruang publik dan politik.
Misalnya, kerap kali menuntut kemampuan strategis yang berbatasan tipis dengan kelicikan. Seseorang yang “terlalu tulus” sering kali dianggap naif, rentan dimanfaatkan, atau bahkan dinilai tidak cakap dalam bertahan hidup.
Ya. Ironi memang. Tetapi saya mencoba mengurai dan menjawab pernyataan di atas: Kemudian mencoba menjadi ketiganya. Tulus yang bisa bulus, bulus bisa jadi pulus. Sampai pada akhirnya kita tahu, kapan harus melepasnya.
Melepas ketiganya?
Petakan coba. Dan rasakan serta dalami diri sendiri. Kapan pernah kau menjadi ketiganya! Yakin kita semua pernah menjadi ketiganya.
Kenapa demikian?
Karena kita kadang butuh bulus demi pulus. Sementara tulus kadang juga punya cara membawa pulus bermodus di baliknya juga bulus. Tulus dipuji, bulus dicaci, pulus paling “suci”.
Ini bukan dosa, ini hanya diagnosa. Ketiganya adalah bekal. Pada hal kekal yang kita masih diiming-imingi dengan modus.
Dan jujur saja, kita bukan korban tulus. Kita adalah pedagangnya. Kita gelar lapak keikhlasan di pasar validasi, pasang harga pahala, kasih diskon pencitraan.
Disebut tulus, padahal sejak awal kita sudah jadi bulus yang menghitung kembalian. Pulusnya belum datang, tapi gaya kita sudah seperti pemilik surga. Itu bukan tulus, itu transaksi yang gagal bayar malu.
Kita ini lucu. Kata Vi hendak mencoba membaca perangai manusia: Mau pulus tapi tidak mau disebut matre, mau bulus tapi tetap ingin dipuji tulus.
Akhirnya kita ciptakan makhluk baru: bulus yang berwudu dengan air tulus, lalu salat menghadap kiblat pulus. Semua doa kita bukan lagi tentang bagaimana pulang dengan selamat, tapi bagaimana terlihat selamat di depan manusia. Tulusnya mati sebelum sempat hidup.
Danu. Vi mengingatkan:
Tidak ada yang paling berbahaya dari manusia yang bulusnya sudah hafal ayat-ayat tulus. Ia tidak lagi menipu orang lain, ia sudah berhasil menipu dirinya sendiri. Dan di situlah pulus tertawa paling keras, karena ia tidak perlu lagi merayu. Kita sendiri yang menyembahnya sambil merasa paling tulus.
Ketika pulus duduk manis di atas sajadah tulus menunggu disembah. Maka ketiganya akan saling memanfaatkan.
Di titik itulah kita paling sering tertipu oleh diri sendiri. Ketika sedang menjaga tulus, padahal sedang memelihara bulus yang rapi, demi pulus yang sedang duduk manis.
Kita menukar keikhlasan dengan tepuk tangan, menukar doa dengan panggung. Sampai lupa, yang tulus itu tidak perlu teriak.
Dan tapal itu tidak pernah kita ukur. Kita hanya sibuk menancap patok tulus di tanah orang lain, sambil lupa tapal di diri sendiri sudah bergeser. Di situlah bulus bekerja paling halus, menggeser tapal tanpa suara, sambil kita masih merasa paling tulus menjaga batas. Padahal kita telah menerabas norma bahkan telah menebas.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply