Tentang kata, bahasa, serta filosofinya. Membentuk kosakatanya menjadi istilah dengan pengertian yang serupa, tetapi tak sama dalam situasi dan kondisi tertentu (dialek/budaya).
Pada narasi ini, hanya sekadar ilustrasi saja. Jikalau ada yang sama pada peristiwa kali ini, itu bukan kebetulan. Itu benar terjadi adanya.
Sebuah peran yang sapaannya begitu sangat dekat. Panggilan sakral bagiku, tidak semua orang harus menjadi bagian dari kata itu dan harus kugunakan. Ada syarat, ada kriteria. Bagiku, sangat berhati-hati menggunakan kata “Siana’”.
Bagaimana dengan kata “Kisanak” dibuat definisi cara menghormati, tetapi sesuai situasi dan kondisi, Kisanak itu menjadi arti: telah berjarak.
Siana’ hadir sebagai sebutan kearifan lokal, sapaan yang begitu kuat. Saudara tak sedarah katanya! Saling menguatkan ikatan batin katanya, jiwa, saling peduli, saling menyayangi.
Detak waktu, perangai mulai tumbuh dan teruji, setiap detik, sampai pada batas norma. Sebuah petaka yang mengubah semuanya, rasa yang dulu saling mengingatkan, merasakan kedekatan yang seolah takkan bisa memisahkan. Saling memuji, menyayangi!
Semua yang tersisa hanya bahasa tubuh yang menjadi basa-basi.
Begitu konyol, membuatku hampir terbawa seperti manusia tertolol. Di sebuah titik peristiwa dan masa yang belum genap kemarau. Ketika bersama menumbuhkan kelopak bunga saat musim kemarau, serta musim hujan yang tak direstui awan. Tiba-tiba petir menandai semuanya menjadi kocar-kacir. Bahkan ada yang ngacir.
Petir tanpa aba-aba itulah yang dulu kata sakral Siana’ itu kini berjarak menjadi sisa Kisanak!
Di luar nalar dan narasi sapaan akrab. Dari interaksi yang intens menjadi resisten. Secara kultur. Ada gestur dan tutur ngelantur. Sengaja atau tidak. Tergantung cara kita menyikapi dan beradaptasi.
Lalai, terbuai, semua tak terkendali. Pecah terburai. Menjadi duri, yang tadinya saling membasuh, menangis, tertawa. Menjadi pertarungan yang konyol pula.
Ada pahit, begitu juga manis. Setangkai teriris. Betapa begitu drastis menukik tajam. Bagai dendam tak tunai. Kita lupa sepiring berdua, tamasya bersama, suka duka kita rasakan.
Kita lupa. Seperti dunia milik kita. Yang lain biar iri melihat kita beriringan, merangkai waktu setiap saat, merajut, menyeka air mata.
Pada akhirnya, akrabnya hilang, rasa saudara yang tak sedarah itu menjadi muncahan serta cercaan. Semua diumbar. Memasang tameng.
Menguak semuanya. Bagai bom waktu. Abu perapian menjadi aib. Semua sisa kenangan tergenang dalam kenangan pahit.
Dulu kita seia sekata, lirih kalimat Danu kepada Serpitih. Seorang yang dianggap mampu menambatkan segala perjanjian sampai ke labuhan kebahagiaan.
Ibaratnya, mereka adalah petani bunga, menabur benih kebajikan, memupuk, memelihara untuk tumbuh keharuman. Tanpa membatasi waktu, ruang, semua bagai pinang dibelah dua.
Tiba-tiba bunga harapan itu dibakar. Tempat dulu menghabiskan waktu. Tempat tawa memecah kesunyian. Senda dan gurau, sebagai canda yang candu.
Awal yang indah, ending-nya bencana. Lencana dan rencana tinggal kenangan. Bangunan dan taman menjadi rapuh sekejap. Tersisa hanya “Kisanak” saja. Siana’ telah punah seketika.
Pada akhirnya, Danu memilih membatasi ruang interaksi dengan kata yang sangat dia hindari untuk diucapkan, takut hanya sebagai tameng yang bisa kelak membuatnya menjadi manusia yang lupa menoleh.
Ia membaca pertanda. Kita saling menyapa, tetapi masih tersanggah. Masih saling mengangguk, menyebut nama dengan hormat yang dibuat-buat.
Padahal, malam-malam Danu tak lagi mencari akhir. Berharap perapian itu terjaga. Tetap humanis dari harmoni yang terbangun dengan begitu alami. Tetapi, dia merasakan petaka sepele, dia cari kamus, bagai mencari jarum dalam jerami.
Ya. Tersisa puing dari bekas-bekas luka sosial yang sama-sama kita tinggalkan.
Danu merenung beberapa pekan. Tibalah dia merayu logika, nalar, dan perasaannya yang konyol. Berbisik pada dirinya sendiri:
“Di sinilah pertarungan sejatinya, Siana’. Bukan tentang siapa yang salah menaruh kalimat itu menjadi petir. Tapi tentang apakah kita masih berani menyapa dan saling mengucap Siana’. Yang bagi Danu itu tidak mudah sekadar diucapkan! Setelah semua terlanjur menjadi abu!”
Alih-alih kemudian adu argumentasi serta klarifikasi, membuat fragmen yang telah ketahuan terbaca sebelum ditulis. Danu merasa tertipu oleh kausalitas yang sebenarnya masih bisa diurai dari seutas yang kusutnya terlihat. Tetapi, Danu meraba egonya kala itu begitu kuat bertahan.
Sisi lain, kita sering melakukan pembenaran. Tujuannya sama. Tidak juga peristiwa kemarau dan hujannya. Tapi cara kita membenarkan hujan yang ditinggalkan awan. Hukum serta setangkai masalah yang tak tuntas dibahas. Semua sama-sama bablas.
Danu tidak butuh lagi klarifikasi. Serpitih telah rapi mengemas di setiap beranda. Karena ia tahu kalau semua pembenaran, lalu memadamkan perapian tanpa alasan. Mengapa dulu saling memanggil Siana’.
Danu pulang menemui ibunya. Melihat nasi ditanak.
Tanda ia pulang bukan karena kalah, bukan pula merasa menang.
Ia belajar satu hal dari abu yang dibakar itu. Ibunya mengingatkan:
“Cukup menjadi pelajaran bagimu, Nak. Bahwa Siana’ kadang belum tanak. Sudah merasa paling matang, padahal itu hanya tameng.”
Kalimat ibunya sederhana. Tidak sok mengajari atau sok bijak! Tanpa kurikulum dan teori. Hanya menyalakan perapian, dengan menghidangkan nasi yang tanak.
Danu semakin mulai berhati-hati. Ketika setiap ada yang memanggilnya Siana’, Danu hanya tersenyum. Tahu dan perlahan berjaga-jaga agar tidak terjebak lagi.
Karena di balik kata sapaan itu pernah ada saling menabur bunga kebersamaan.
Berusaha untuk diterima nalar. Nalar juga kabur. Saat dia berusaha memasukkan di akal, akal pun menyangkal.
Di perapian yang tinggal abu itu, Danu kemudian membakar buku tebal yang isinya hanya teori yang telah punah di peradaban kemarin sore.
Ini hanya pelajaran, bahkan teguran. Ini juga sebuah siklus peradaban kemanusiaan. Dinamika yang lumrah. Amarah yang kelak akan rebah. Danu berbicara sendiri. Sementara Serpitih telah jauh berjarak, menggandeng atas nama kesedihan dan pembenaran.
Pada ruang lain, tawa itu terpingkal memicing ke arah Danu. Tahu bahwa tawa renyah itu untuk menghardiknya. Yang dulu kagum, tiba-tiba menjadi perundungan baginya. Ia hadapi, tidak mengelak. Sebab, realitas itu tampak jelas.
Ia tidak beranjak pergi. Dia menerima sebagai warisannya.
Sadar, bukan lagi bermain pada sabar. Menunggu perjalanan waktu kelak. Ia mengalah, bukan kalah sepenuhnya.
Percaya bahwa amarah kelak akan rebah, tawa yang licik itu akan lelah. Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang semuanya telah punah dan lupa seketika:
Masihkah berani memanggil Siana’ setelah semua tawa menjadi penghardik?
Danu kelimpungan dari pertanyaan seseorang yang menghampirinya tanpa tahu arah dari mana! Tidak menjawabnya. Ia hanya menjaga agar perapian tidak padam seluruhnya.
Pada akhirnya, Danu tidak menunggu Serpitih sadar. Ia tidak lagi menunggu klarifikasi. Ia hanya menjaga satu bara kecil di perapian yang sudah jadi abu itu.
Bukan untuk Serpitih. Bukan untuk siapa-siapa. Untuk dirinya sendiri. Agar jika suatu hari seseorang dengan jujur memanggilnya Siana’ lagi, ia masih punya cahaya untuk menjawab, bukan hanya tameng untuk menghindar.
Danu pulang. Bukan karena kalah. Bukan karena menang. Ia pulang karena nasi harus tetap tanak, meski yang memakannya nanti sudah menjadi Kisanak.
Sampai hari ini aku masih menyimpan kata Siana’ itu. Tidak kubuang. Tersimpan di laci, seperti benih bunga yang belum berani aku tabur lagi. Aku takut bukan pada Serpitih, tapi pada diriku sendiri yang belum tanak menggunakan kata itu.
Danu tersenyum, sembari merawat abu bekas perapian yang pernah sama-sama terjaga, kini menjadi jelaga. Sadar, bukan sabar.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply