Sebuah pesan digital masuk ke gawai saya malam itu, berupa grafem “p”. Kalimat jamak yang acap kali digunakan generasi hari ini untuk mengetuk pintu obrolan. Pengirimnya adalah Rahmat Qadriyanto, seorang rekan sealumni kampus.
Berawal dari grafem itu, percakapan mengalir hangat, seperti dulu ketika kami bertukar pikir di sudut ruang kuliah. Lalu ia menyodor sebuah proposal memuat konsep. Esensi pikir yang berpuncak dari kegelisahan Rahmat dan komunitasnya (Celebes Art Wave). Dalam narasinya ia menuturkan keresahan pada fenomena sampah di pesisir pantai Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Sebuah ironi ekologis yang kontras pada rekam jejak kotanya. Pesisir Kota Bantaeng, daerah yang dulu disematkan citra bersih melalui penghargaan Adipura, kini dihadapkan pada gelombang limbah plastik yang terus bermetastasi seiring aktivitas ekonomi pesisir. Persoalan lingkungan yang perlahan menggeser stigma masyarakat, kini mewujud nyata dalam setiap langkah pengunjung yang datang menyisir tepian pantai.
Ketika sore melarut dan langkah kaki membawa ekspektasi akan ketenangan senja, realitas menyambut justru memicu keprihatinan mendalam. Duduk di jejeran kursi santai sembari memesan pisang epe dan kopi khas Sulawesi, memang masih menawarkan kehangatan romansa kota lama. Namun, embusan angin laut kini terasa berbeda, aroma kurang sedap dari pembusukan sampah organik di sela-sela tanggul malah menyayat hidung.
Di batas pandang tempat matahari bertengger, debur ombak tak melulu membawa buih putih yang menenangkan. Ombak laut justru mengempaskan ratusan botol kemasan, kantong plastik sekali pakai, hingga sisa-sisa alat penangkap ikan terombang-ambing di area intertidal. Fasilitas tempat sampah yang berjejer sepanjang alun-alun reklamasi tampak seolah pajangan mati.
Setiap pelancong yang bertandang, di benaknya menyisakan dualisme rasa. Ada garis batas yang runtuh antara kagum dan cemas melihat ekosistem jeratan makroplastik. Lanskap indah dulunya jadi latar swafoto, kini menuntut lebih dari sekadar kagum, tapi menuntut insyaf khalayak dan ketegasan otoritas setempat.
Sampah plastik di pesisir tak sekadar keteledoran individu atau masalah domestik lokal belaka, melainkan manifesto hilir dari hegemoni bahan bakar fosil dan industri petrokimia global (oil hegemony).
Hegemoni Bahan Bakar Fosil dan Industri Petrokimia Global (Oil Hegemony)
Ngomongin soal plastik, tentu tak bisa lepas dari keseharian kita. Sejak beranjak dari tempat tidur, bahkan sebelum mata kita benar-benar terbuka. Benda yang pertama kita pegan adalah plastik misalnya sikat gigi, sisir, botol sampo hingga kemasan kertas tisu dimeja. Jarang kita kita bertanya darimana bermuasal, prosesnya hingga kemana akan labuh setelah dibuang. Ntah terbawa arus, atau justru terkubur ditepi selokan rumah.
Benda yang hampir tiap saat kita gunakan adalah turunan minyak bumi, dan gas alam. Sebuah narasi komoditas cair yang mampu mendikte politik, mengendalikan ekonomi, menentukan pemenang perang, dan menyusup kedalam aspek paling intim dari kehidupan kita.
Menilik jejaknya, Hegemoni ini berpuncak sejak dunia beralih dari batu bara ke minyak bumi, berkulminasi pada Era 1970-an seiring lahirnya petrodollar. Kesepakatan strategis antara Amerika Serikat dan Arab Saudi, dunia secara “sukarela” menyepakati bahwa setiap tetes minyak dunia ditukar dollar AS. Tekanan regulasi yang memaksa negara konsumen menggadaikan mata uang mereka dengan dollar.
Namun dominasi dollar tak sepenuhnya kokoh. Bisikan dedolarisasi menyata, aliansi negara BRICS memperluas perdagangan dengan mata uang lokal dan menautkan sistem pembayaran lintas negara. Indonesia merajut wacana penyelesaian transaksi rupiah dan yuan tanpa dollar. melepas dollar tak berarti melepas minyak. Hanya mata uang yang berganti, sementara ketergantungan minyak dunia tetap bertahan.
Minyak tak sekadar penggerak mesin melainkan arsitektur kekuasaan global. Meski dunia mulai beralih ke mobil listrik dan panel surya, hegemoni minyak tak lantas luruh, justru bermetamorfosis “Petrokimia”. Minyak yang dulunya dibakar kini dipadatkan menjadi plastik murni (virgin plastic). Struktur ekonomi global segaja didesain agar ketergantungan pada plastik sekali pakai tetap terjaga, menciptakan siklus konsumerisme akut tak berkesudahan. jika petrodollar fondasinya, maka yang berdiri diatasnya jauh lebih luas dari sekedar urusan transaksi.
Narasi hegemoni ini menyimpan efek destruktif di wilayah negara berkembang. Korporasi memproduksi plastik secara massal, di desain homogen, murah, dan segera dibuang sehabis pakai. Narasi praktis dicekokin pada masyarakat urban maupun rural, melahirkan normalisasi atas krisis ekologis yang sedang berlangsung di negara berkembang.
Kuntungan ekonomi dari produksi plastik mengalir ke korporasi fosil global di utara. Sementara polusi fisik, ancaman makro pada pangan laut. Rusaknya ruang pariwisata serta budidaya ditanggung langsung oleh masyarakat seperti pesisir Bantaeng.
Di sinilah seniman Bantaeng mengambil peran sebagai agen kontra-hegemoni. Plastik; Ekspedisi Seni, Lingkungan, dan Masyarakat”. Komunitas Celebes Art Wave memanifestasi gagasan itu melalui gerakan kolektif masyarakat. Melalui pendekatan upcycling, sampah plastik yang awalnya sebagai kotoran tak bernilai, didekonstruksi secara radikal. Kantong plastik pembungkus, botol, hingga sachet berlapis aluminium dipotong, dilelehkan, jalin-menjalin membentuk matarial papan. Material itu dirakit instalasi seni, patung kontenporer.
Tindakan ini tak semata aktivitas bersi-bersih lingkungan yang romantis, melainkan sebuah klaim politis yang tajam. Dengan memberi “nyawa kedua” pada plastik, para seniman membalikkan logika industri petrokimia, mereka membuktikan material “sampah” ini sebenarnya memiliki sejumlah narasi, memori, dan potensi estetika.
Karya seni yang lahir dari tangan komunitas kreatif Bantaeng berfungsi sebagai cermin kritis bagi khalayak. Ketika sebuah instalasi seni dari limbah plastik dipajang di ruang publik atau galeri lokal, audiens dipaksa berhadapan langsung dengan manifestasi dari gaya hidup konsumtif mereka yang difasilitasi oleh korporasi petrokimia.
Seni pada konteks ini tak mencari keindahan visual semata yang menidurkan kesadaran, melainkan menciptakan “estetika perlawanan”, memantik dialog, menggugah kegelisahan, dan mengedukasi warga akan bahaya laten pencemaran plastik terhadap ruang hidup mereka. Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh para seniman di Bantaeng adalah potret kecil dari pertarungan global yang terjadi di tingkat lokal, Pantai Seruni Bantaeng.

Lahir di Sinjai, 09 April 1998. Seorang Apresiator Seni.


Leave a Reply