Puang Lompo

Ada kenangan yang bertahan, bukan semata-mata karena peristiwa itu berulang, melainkan karena sesuatu yang ditinggalkannya terus menyertai perjalanan hidup. Menjadi bekal hidup dan kehidupan.

Pengajian kitab yang diasuh K.H. Abdul Jabbar Arafah, lebih populer dipanggil Puang Lompo, di Masjid Ruhul Amin, Bissampole, Bantaeng, sungguh salah satu peninggalan abadi.

Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan tersebut, saya menyaksikan bagaimana pengajian menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.

Sejak pertengahan 1970-an, saya mulai mengingat aktivitas Puang Lompo di Bissampole. Ingatan itu semakin jelas ketika memasuki usia remaja, saat duduk di bangku SMP dan SMA, sekitar 1980-1985. Saya mengikuti pengajian, nyaris setiap pekan.

Abba dan Amma selalu mengontrol keikutsertaan saya. Bagi mereka, pengajian bukan sekadar kegiatan tambahan di luar sekolah, melainkan bagian dari pendidikan yang mesti dijalani seorang anak.

Pada 1985, ketika mulai kuliah di Makassar, saya tidak lagi mengikuti pengajian secara rutin. Sesekali saya tetap hadir apabila pulang berlibur dan kebetulan bertepatan dengan jadwalnya. Namun, pengajian itu terus berlangsung. Kepergian saya dari Bissampole tidak serta-merta memutus kegiatan belajar yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Cara Puang Lompo mengelola pengajian terbilang khas. Kegiatan itu berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama membahas persoalan fikih, termasuk perkara kontemporer yang bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.

Sesi berikutnya membahas satu hadis setiap pekan. Dengan susunan tersebut, jamaah memperoleh ruang untuk mendalami ketentuan agama sekaligus mengenal sumber ajaran yang menjadi landasannya.

Setiap memasuki bulan Ramadan, pengajian diganti dengan cerdas cermat. Bahan pertanyaannya diambil dari materi yang telah dibahas sepanjang tahun, sedangkan soal dan jawabannya disusun oleh Puang Lompo sendiri.

Kegiatan itu menjadi semacam peninjauan kembali, atas pelajaran yang telah diterima jamaah. Ilmu tidak dibiarkan berlalu sebagai sesuatu yang sekadar didengar, tetapi dihidupkan kembali melalui ingatan dan pemahaman.

Dalam kesederhanaan metode tersebut, saya melihat kesungguhan seorang pengajar merawat kesinambungan ilmu. Pengajian bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan, melainkan juga ruang untuk menguji, sejauh mana pengetahuan itu menetap dalam diri jamaah.

Merujuk pada hasil riset Muslimin A.R. Effendy, berjudul “Revealing the Struggle of Thought and Islamic Dissemination of the Ulama in Jeneponto and Bantaeng, South Sulawesi“, saya nukilkan sepenggal perjalanan hidup Puang Lompo, terkait kelahiran, pendidikan di Mekah, dan kembali ke Indonesia.

Puang Lompo lahir pada 23 April 1920 dan wafat pada 1989. Perjalanan keilmuannya membawanya ke Makkah pada masa ketika Haramain menjadi salah satu pusat penting pembelajaran Islam bagi ulama Nusantara. Pada 8 September 1947, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama.
Di sana, ia mengikuti pendidikan formal di al-Madrasatul Falah di bawah bimbingan Syekh Alwy bin Abbas Maliki. Pendidikan tersebut diselesaikannya pada pertengahan 1949. Setelah memperoleh ijazah atau keterangan kelulusan, ia kembali ke Indonesia pada penghujung tahun itu.

Pengalaman belajar di Haramain menjadi bagian penting dari perjalanan keulamaannya. Di Bantaeng, Puang Lompo berupaya meneruskan tradisi pembelajaran yang diperolehnya melalui pengajian, pendidikan, dan keterlibatan dalam kehidupan organisasi keagamaan.

Beberapa tetua saya temui, memperkirakan Puang Lompo, mulai mukim di Bissampole sekitar awal 1960-an. Selama bermukim , ia pernah menjabat Ketua Pengadilan Agama Bantaeng. Pada masa berikutnya, ia pindah ke Kampung Parang Cidu, sekarang dikenal sebagai kawasan Jalan Kenanga, dan menempati rumah dinas, selaku Ketua Badan Pemerintahan Harian. Rumah tersebut menjadi tempat tinggalnya hingga akhir hayat.

Meski berpindah tempat tinggal, hubungannya dengan Bissampole tidak terputus. Puang Lompo tetap menggawangi pengajian di Masjid Ruhul Amin dan menyahuti berbagai permintaan masyarakat berkaitan dengan persoalan keagamaan. Rumahnya di Bissampole masih bertahan hingga kini, dengan makamnya bersama sang istri berada di halaman rumah. Rumah dan makam itu menjadi penanda yang menghubungkan ruang hidup masyarakat dengan ingatan tentang panritanya.

Kehadiran Puang Lompo ikut mendorong perkembangan fungsi Masjid Ruhul Amin. Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga pusat pendidikan. Bangunan di sayap kiri masjid dimanfaatkan sebagai Madrasah Diniyah, yang menjadi salah satu cikal bakal perkembangan lembaga pendidikan Ma’arif di Bissampole menjelang pertengahan 1960-an.

Di sini, pengabdian seorang ulama bergerak dari pengajaran langsung menuju pembentukan ruang belajar yang lebih teratur. Pengajian menghubungkan guru dengan jamaah, sedangkan madrasah membuka kesempatan pendidikan bagi generasi berikutnya. Keduanya tumbuh dalam lingkungan masjid dan memperluas peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Pada awal 1980-an, ketika Puang Lompo menjadi Ketua Masjid Ruhul Amin, lahir pula Remaja Masjid Ruhul Amin, yang dikenal dengan sebutan Remra. Kehadiran organisasi tersebut menandai tumbuhnya ruang bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam kehidupan kemasjidan. Remra kelak layak ditelusuri melalui kisah dan pengalaman para perintisnya sendiri.

Puang Lompo juga pernah menjadi Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Bantaeng. Keterlibatannya dalam pemerintahan dan organisasi keagamaan memperlihatkan jangkauan pengabdiannya di luar masjid. Namun, keterbukaan corak keulamaannya lebih mudah dirasakan melalui kegiatan yang dijalankannya: pengajian yang membahas persoalan fikih dan hadis, perhatian terhadap masalah kontemporer, serta pengembangan pendidikan di lingkungan masjid.

Melalui kegiatan-kegiatan itu, tradisi keilmuan tidak berhenti sebagai warisan dari masa lalu. Ia menemukan bentuk baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Inilah salah satu sumbangan Puang Lompo dalam perjalanan Bissampole: memperluas ruang belajar sekaligus menjaga agar masjid tetap menjadi pusat kehidupan bersama.

Seperti halnya Puang Hami dan Babba Usu, Puang Lompo juga hidup dalam ingatan masyarakat, melalui cerita-cerita yang bersentuhan dengan perkara mistis. Sebagian orang meyakininya memiliki kemampuan penerawangan.

Kepercayaan tersebut membuatnya kerap dijadikan rujukan oleh para penjudi buntut, baik lotto maupun porkas, yang berharap memperoleh petunjuk mengenai nomor yang akan keluar.

Ada orang-orang yang mengamati gerak-geriknya, menyimak tutur katanya, atau menunggu di sekitar rumahnya untuk mencari isyarat yang dapat ditafsirkan sebagai petunjuk angka. Sebagian lainnya datang atau bertahan di sekitar kegiatan pengajian demi memperoleh sesuatu yang dapat dijadikan pegangan dalam menentukan nomor pilihan.

Padahal, Puang Lompo tidak menyetujui perilaku semacam itu. Di sini tampak sebuah ironi: masyarakat dapat membangun gambaran tertentu tentang seorang panrita, kemudian menjadikan gambaran itu sebagai dasar tindakan yang justru tidak disetujuinya. Wibawa seorang ulama terkadang melahirkan kepercayaan yang bergerak jauh melampaui ajaran yang disampaikannya.

Beredar pula anggapan bahwa Puang Lompo memiliki istri jin. Cerita semacam itu mungkin tumbuh dari keyakinan masyarakat mengenai karamah atau keistimewaan yang dilekatkan kepadanya. Kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari ingatan sosial tentang Puang Lompo, berdampingan dengan ingatan tentang pengajian, pendidikan, dan pengabdiannya.

Seorang panrita ternyata tidak hanya dikenang melalui apa yang diajarkannya. Ia juga hidup dalam tafsir masyarakat, termasuk tafsir yang tidak selalu sejalan dengan sikapnya sendiri. Dalam perkara Puang Lompo, kenyataan itu memperlihatkan betapa luasnya pengaruh seorang ulama dalam imajinasi masyarakat, sekaligus betapa beragamnya cara masyarakat memaknai pengaruh tersebut.

Pengajian Puang Lompo berakhir seiring dengan menurunnya kondisi kesehatannya. Ketika ia wafat pada 1989, kegiatan yang bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bissampole itu pun berhenti. Namun, berhentinya pengajian tidak serta-merta menghapus jejaknya.

Dalam rangkaian Panrita Tallua ri Bissampole, Puang Lompo hadir sebagai bagian dari jalinan pengabdian yang lebih panjang. Ia datang setelah Puang Hami meninggalkan Bissampole untuk kembali ke Sigeri. Sebelumnya, Babba Usu membantu Puang Hami dalam pembangunan masjid. Ketika Puang Lompo mengembangkan pengajian dan kehidupan pendidikan di Masjid Ruhul Amin, Babba Usu kembali menjadi rekan yang mengiringi perjalanan keagamaan masyarakat.

Ketiganya memiliki corak pengabdian yang berbeda. Puang Hami meletakkan fondasi melalui keulamaan klasik dan pembangunan masjid. Babba Usu hadir sebagai kiai kampung yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Puang Lompo memperluas pengabdian melalui pengajian teratur, pendidikan, dan organisasi keagamaan.

Mereka tidak perlu ditempatkan dalam tingkatan tertentu, sebab sumbangan masing-masing justru tampak melalui cara berbeda dalam merawat kehidupan Bissampole.

Di situlah makna Panrita Tallua ri Bissampole menemukan bentuknya. Ketiganya bukan sekadar nama yang pernah dikenal masyarakat, melainkan bagian dari perjalanan panjang pembentukan peradaban lokal. Melalui masjid, pengajian, dan pendidikan, mereka turut membangun ruang tempat ilmu diwariskan dan kehidupan keagamaan dirawat.

Bissampole pun tidak hanya menyimpan kenangan tentang siapa yang pernah mengajarkan ilmu di masjidnya. Bissampole menyimpan jejak bagaimana ilmu itu tumbuh, menyatu dengan kehidupan masyarakat, dan meninggalkan warisan yang melampaui usia seorang panrita.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *