“Perjalanan pendidikan: bukan sekadar gelar, tetapi tentang menerjemahkan, menerapkan apa yang tersemat. Apalah guna sebuah titel jika tanpa merawat pengetahuan dengan memanusiakan manusia.”
Sebuah pembuka dari Tiara membuatku tercekat. Saat percakapan saya dengan seorang anak perempuan bertarung mengarungi samudra ilmu pengetahuan di rantau.
Seorang putri dari tanah bertuah Bantaeng yang berjuang demi sebuah pengabdiannya kelak, pada kondisi sosial masyarakat, ekonomi peradaban yang terasa dia menyaksikan telah terdera sisi lain tentang manusia lupa dan kadang lalai memanusiakan manusia.
Nama Tiara dengan tambahan Anggun, yang disematkan oleh seorang bapak sederhana yang sering kusapa dengan nama Mubaraq/Subair dan seorang perempuan yang melahirkan bernama Rostia. Kini anak pertama dari kedua pasangan tersebut saat ini telah wisuda pascasarjana di luar kota Sulawesi.
Akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan, saat toga wisuda pascasarjananya melintas di berandaku.
Akhirnya berlanjut di ruang chat, Tiara mengurainya:
Awalnya, saya sempat ragu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bukan karena saya tidak memiliki keinginan, melainkan karena saya menyadari bahwa kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus saya hadapi.
Bahkan, orang tua saya pun sempat ragu untuk membiayai kuliah saya karena keterbatasan biaya. Namun, di balik segala keraguan itu, saya memiliki tekad yang kuat:
Dengan jalan pendidikan, kelak saya bisa membanggakannya, istilahnya mengangkat derajat orang tua, dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan tekad tersebut, mulai mencari berbagai peluang dan kegiatan yang dapat membantu meringankan beban biaya perkuliahan.
Ketika mimpinya tidak mau terusik dan citanya dia tempuh tanpa harus rapuh karena kondisi ekonomi, dia menemukan jalan agar tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa sepenuhnya bergantung pada kondisi ekonomi keluarga.
Hingga akhirnya, mendapatkan kesempatan mengikuti program Pertukaran Mahasiswa di Universitas Brawijaya. Melalui kesempatan dan momentum itu hadir membasuh harapannya. Memperoleh bantuan UKT dan uang saku yang sangat membantu memenuhi kebutuhan selama menjalani perkuliahan.
Tidak berhenti sampai di situ. Tiara meneruskan percakapan kami. Dia juga mendapatkan kesempatan mengikuti program Kampus Mengajar. Pengalaman ini membuka perspektif baru baginya tentang dunia pendidikan, khususnya mengenai realitas pembelajaran dan berbagai tantangan yang dihadapi di lingkungan sekolah.
Tiara menutur dalam kerangka nalar dan pikirannya: Saya mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi atau mengejar capaian akademik, tetapi juga tentang memahami manusia, mengenali kebutuhan mereka, dan memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berkembang.
Pengalaman-pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperluas cara pandang, membangun keberanian, dan menghadirkan perubahan.
Bagaimana bisa kemudian lanjut meneruskan sekolah, apatah lagi di luar kota, lintas jarak jauh dari kedua orang tua? Saya mengejar dengan pertanyaan itu!
Keputusan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 juga tidak lahir tanpa alasan. Tumbuh dan lahir di lingkungan yang memiliki pandangan tertentu mengenai keberhasilan seseorang setelah menyelesaikan pendidikan sarjana.
Kadang kerap mendengar bahwa setelah lulus S-1, seseorang seharusnya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), menjadi PNS atau PPPK, dan memperoleh pekerjaan yang dianggap mapan.
Sungguh! Tidak memandang pekerjaan-pekerjaan tersebut sebagai sesuatu yang salah. Namun, merasa bahwa keberhasilan seseorang seharusnya tidak dibatasi oleh satu ukuran atau satu jalur kehidupan saja.
Kuterdiam tercekat mendengar ulasan seorang anak perempuan yang sering kulihat masa proses remajanya. Menuju bahtera kedalaman penguatan ilmunya, melaju dalam kesadaran, cara pandang, cara membaca zaman, dan memahami peradaban yang kian mengajaknya bertarung di usianya yang membuatnya semakin matang.
Dalam mengambil keputusan, bertutur serta mengatur secara terukur setiap langkah yang harus dia jalani.
Tiara melanjutkan: Ada satu hal yang masih saya ingat hingga saat ini. Seseorang pernah meremehkan pendidikan sarjana dengan mengatakan bahwa banyak lulusan S-1 yang menganggur.
Saat itu, saya hanya terdiam. Dan kelak membuktikan dengan tekad untuk terus belajar dari tempahan hidup. Sebuah fase serta menjalani sebuah proses yang jauh lebih luas daripada sekadar gelar atau status pekerjaan.
Dengan suara serak dia tahan. Tiara berucap: Saya ingin keluar dari cara pandang yang membatasi potensi manusia. Saya ingin membuktikan, terutama kepada diri sendiri dan orang tua, bahwa perjalanan pendidikan tidak harus berhenti pada apa yang dianggap cukup oleh lingkungan sekitar.
Baginya, melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 bukan semata-mata tentang mengejar pengakuan, melainkan tentang memperluas pengetahuan, mengembangkan pemikiran kritis, dan mempersiapkan diri agar mampu memberikan kontribusi yang lebih bermakna bagi masyarakat.
Ada satu hal yang ingin dibuktikan melalui perjalanan ini. Jeda sejenak ia berusaha menguatkan bahwa kenapa ia melanjutkan pendidikan S-2? Bukan hanya untuk diri saya sendiri.
Reda suaranya teredam haru dirasakannya:
Saya ingin menghadirkan kebanggaan bagi orang tua yang telah berjuang, bertahan, dan memberikan dukungan di tengah keterbatasan. Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa pengorbanan dan perjuangan mereka memiliki arti yang besar dalam perjalanan hidup saya.
Membuktikan bahwa nilai seseorang tidak semestinya diukur hanya dari atribut, identitas sosial dengan sekadar melengkapi CV bahwa kesarjanaan adalah satu-satunya. Padahal terlihat sekadar tontonan atribut, identitas saat ini, bukan tuntunan sesuai profesi. Atau memiliki pekerjaan yang dipandang mapan oleh masyarakat.
Pada akhirnya, dengan pendidikan yang tertempuh tidak hanya mengubah kehidupan saya dan keluarga, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Tiara tidak memilih jalan menjadi bulus demi pulus. Ia memilih jalan tulus yang justru paling sulit: bertahan dalam keterbatasan, mencari beasiswa, ikut pertukaran, ikut Kampus Mengajar, lalu melanjutkan S-2 bukan karena gengsi toga.
Ia tidak mau ilmunya berhenti di area dangkal, yang sukanya hanya menyangkal. Ia tahu, di Bantaeng, tanah bertuah yang harus dia buktikan, tanpa harus duduk di beranda malam, mendengarkan celoteh ceplos yang mengukur keberhasilan hanya dari ASN yang kadang absen saat pagi, sekadar apel upacara dan isi absen.
Atau pekerjaan yang dianggap mapan. Ia melawan ukuran itu bukan dengan membantah, tapi dengan membuktikan.
Tiara mampu membaca peradaban, dan berani menyelam ke samudra kedalaman ilmu pengetahuan. Dari sekian banyak hanya bermain di area dangkal. Yang sukanya hanya menyangkal.
Dan di titik itulah saya mengerti, kenapa percakapan kami dimulai dari toga wisuda yang terlintas di beranda. Karena toga itu bukan sekadar gelar. Itu adalah perapian lain.
Jika perapian terbuat dari huruf-huruf di beranda malam, perapian Tiara terbuat dari tekad seorang anak perempuan yang ingin mengangkat derajat orang tuanya, dan memanusiakan manusia di sekitarnya.
Pertanyaanku selanjutnya: Apakah hanya sampai di sini menyelam samudra ilmu pengetahuan?
Hening sejenak: Jawabannya tak terduga.
Wisuda bukan akhir. Justru di sanalah awal sebuah perjalanan samudra pengetahuan. Tanpa menafikan beberapa teori yang setiap saat menghuni dan membuat kita stagnan hanya sampai di situs status toga kesarjanaan.
Bagi Tiara, wisuda tidak harus menepuk dada, sarjana pascasampai bergelar level yang suka menempel sebagai embel-embel.
Tidak sekadar lencana dan rencana. Akan tetapi, bagaimana penerapannya, terjewantah tanpa harus di ruang mewah, meja dan kursi yang sengaja ditata, di ruang ber-AC, serta merasa paling akademik.
Tiara menutup percakapan kami via chat WhatsApp:
“Apalah arti sematan gelar dan toga, tanpa telaga jiwa, kemudian membuat kita jumawa, dan paling penting bagaimana kita tanpa memburu merasa paling intelek, tetapi setiap saat meng-update dan meng-upgrade diri tanpa merasa paling istimewa.”

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply