Manusia paripurna sepanjang sejarah hidup manusia tidak lain adalah sosok Nabi Muhammad saw. Riwayat hadis paling populer di kalangan umat Islam menyatakan, “Laulaka laulaka ma khalaqtu al-aflak,” yang artinya, “Seandainya bukan karena engkau (wahai Muhammad), niscaya Aku tidak akan menciptakan alam semesta (cakrawala/ciptaan).”
Sifat dan perbuatan Nabi menjadi contoh dan tuntunan umat Islam di semua aspek kehidupan. Beliau adalah suri teladan yang sempurna bagi umat manusia. Sifat dan perbuatan Nabi telah melekat sejak dulu dalam ingatan kita. Umumnya, Baginda Nabi diketahui memiliki sifat shiddiq, amanah, tablig, dan fatanah.
Selain sifat-sifat yang kita ketahui itu, jauh lebih dalam lagi, Nabi memiliki kemampuan melihat dan merasakan ketidakberdayaan orang lain. Kemampuan itu membuat Nabi seolah-olah bisa merasakan penderitaan sesama. Kemampuan tersebut melebihi siapa pun dan tak ada bandingannya di dunia.
Orang-orang menamakan sifat tersebut sebagai empati. Tingkat kepedulian dan keberempatian Nabi tidak bisa dibandingkan dengan manusia lain. Bahkan, Nabi lebih mengetahui diri seseorang daripada orang itu sendiri. Di dalam diri Nabi, tidak ada keinginan untuk melihat umatnya menderita. Pengorbanan luar biasa seperti ini hanya Nabi yang bisa menanggungnya.
Tidak semua hak Tuhan mampu ditunaikan oleh seluruh ciptaan-Nya. Maka, kehadiran Nabi-lah yang menggantikan sekaligus menunaikan seluruh hak-hak Tuhan yang diemban oleh seluruh makhluk. Tugas tersebut hanya bisa dikerjakan oleh Nabi. Maka, benarlah riwayat, “Seandainya bukan karena engkau (wahai Muhammad), niscaya Aku tidak akan menciptakan alam semesta (cakrawala/ciptaan).”
Tak salah jika Nabi menjadi penopang semesta beserta isinya. Sebagian besar hak-hak Tuhan yang tidak mampu diemban manusia, Nabi-lah yang menebusnya kepada Tuhan. Berkat cinta dan empati yang tak ada tandingan itu, Beliau dianugerahi gelar Al-Musthafa.
Sosok paripurna Nabi Muhammad saw. senantiasa menjadi panutan hingga akhir zaman. Kita dituntut untuk mengikuti ajarannya yang suci. Berempati kepada sesama manusia tanpa memandang latar belakangnya merupakan satu dari sekian banyak sifat Nabi Muhammad saw. yang mesti kita teladani, meskipun tingkat empati kita jauh berbeda dengan Beliau.
Rasa empati dengan sendirinya akan melahirkan sifat-sifat kebaikan lainnya. Sebagaimana Nabi saw. dengan sifat empatinya, dari sana lahirlah cinta kasih, kerelaan berkorban, kesabaran, dan lain-lain. Nabi tidak hanya mewariskan sifat yang umumnya sudah diketahui umat Islam (shiddiq, amanah, tablig, dan fatanah). Empati adalah satu dari sekian banyak kebaikan yang menyatu erat dengan diri Nabi.
Sudah sepatutnya sifat empati tercermin dalam kehidupan umatnya. Krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di sebagian belahan bumi menandakan ada yang hilang dari sisi kemanusiaan kita. Sifat fitri tidak lagi tergerak; seolah-olah penderitaan orang lain bukan bagian dari urusan masing-masing. Kita hidup bersama di muka bumi, namun sendiri dalam penderitaan.
Warisan kenabian sejalan dengan fitrah manusia. Penjara-penjara ego-lah yang membuat manusia menjauh dari sifat kenabian. Ali Syariati pernah mengulas tentang penjara ego manusia yang mengeliminasi eksistensi manusia, yakni penjara alam (nature), sejarah, masyarakat, dan ego (keakuan). Bagi Syariati, penjara ego adalah yang paling rumit dalam hidup manusia karena pertempurannya terjadi di dalam diri sendiri.
Empati yang dicontohkan Nabi saw. mengiringi manusia masuk ke dalam sifat yang lebih esensial. Dalam dunia sufistik, empati hanyalah permukaan dari sifat yang dicontohkan Nabi. Menurut para sufi, empati akan berwujud sebagai cinta Ilahi (mahabbah). Bagi mereka, empati adalah awal peleburan ego demi menyatu dengan penderitaan makhluk lain. Dengan demikian, empati mengantarkan manusia ke puncak cinta tertinggi.
Peleburan ego melalui sifat empati merupakan cara Tuhan mengembalikan manusia pada fitrahnya. Merasakan derita orang lain seketika akan meruntuhkan ego. Jurang pemisah antara “aku” dan “kamu” menghilang. Peleburan ego inilah yang melahirkan cinta sejati—cinta tanpa syarat yang jauh dari keuntungan diri pribadi.
Sering kali seseorang lebih cepat menempuh perjalanan menuju Tuhan melalui jalan empati, yakni dengan memberikan pelayanan kepada sesama manusia, daripada sekadar ibadah ritual yang egois. Pelayanan yang tulus tanpa pamrih inilah wujud dari cinta kasih (rahmah) yang sesungguhnya.
Dalam konteks kasih sayang, Jalaluddin Rumi memandang bahwa setiap makhluk adalah cerminan (tajalli) dari keindahan Tuhan. Oleh karena itu, empati kepada makhluk hidup—baik manusia, hewan, bahkan alam—adalah bentuk ekspresi cinta langsung kepada Allah. Menyakiti makhluk lain berarti melukai manifestasi cinta-Nya. Dengan sendirinya, seorang pejalan rohani pasti memiliki empati yang tinggi.
Jika empati didasari oleh keterikatan duniawi, ia bisa goyah. Namun, empati sufi bertransformasi menjadi cinta yang universal (universal love). Mereka bisa berempati dan mencintai bahkan kepada orang-orang yang membenci atau memusuhi mereka. Mengapa? Karena mereka melihat melampaui perilaku buruk manusia dan berfokus pada jiwa yang sedang “sakit” atau menjauh dari Tuhan.
Jalan para sufi adalah mengubah kesedihan orang lain menjadi kegembiraan kita sendiri, serta menanggung beban orang lain sebagai bentuk cinta kepada Sang Kekasih. Hati yang penuh empati adalah cawan tempat cinta Ilahi dituangkan. Tanpa kemampuan merasakan getaran kesedihan orang lain, jalan tasawuf akan menjadi kering.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Jeneponto. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku berjudul, Kilometer Empat Puluh (2025).


Leave a Reply