Pelan nan perlahan, ada gelombang perubahan, dari cara orang Bissampole memberi nama kepada anak-anaknya. Perubahan itu mungkin tampak sederhana, sebatas pergantian nama yang melekat pada seseorang sejak kelahirannya. Namun, di balik nama tersimpan jejak zaman, ingatan keluarga, kebiasaan berbahasa, serta pandangan mengenai kehidupan.
Nama-nama yang dahulu akrab di telinga, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, perlahan mulai jarang terdengar. Sementara itu, nama-nama dengan bunyi dan nuansa lebih modern kian memperoleh tempat dalam pilihan keluarga. Bissampole pun menjadi ruang untuk membaca perubahan tersebut.
Sebagai orang tempatan Bissampole dan sudah memangsa usia lebih setengah abad, saya merasakan kegelisahan kreatif melihat perubahan tradisi memberi nama bagi anak keturunan. Mungkin terkesan sederhana gejalanya, tetapi justru di balik kesederhanaan itu hadir keunikan.
Cobalah menyebut nama Bancoki, Kassiro, Ropu, Paropo, Bella, Sama, Pabba, Pabbe, Pole, Kona, Sia, Rodding, Kabai, Sano, Coka, Rumpa, Soho, Barong, Lahasang, Bindua, Langka, Bangko, Laupa, Sadani, Joho, Japing, Sangkala, Lambu, Dowa, Rappung, Jabadi, Madi, Rumbu, Lateng, Sampara, Sanre, dan sederet lagi bisa saya ajukan.
Nama-nama itu memiliki keakraban tersendiri bagi generasi yang pernah hidup bersama orang-orang yang menyandangnya. Ada pula nama-nama lain yang tumbuh dari lingkungan bahasa dan kebudayaan Makassar.
Nama-nama tersebut bukan sekadar susunan bunyi untuk membedakan seseorang dari orang lain. Ia merupakan bagian dari khazanah penamaan yang pernah hidup dalam keseharian masyarakat, menyertai hubungan kekerabatan, pergaulan, dan ingatan antargenerasi.
Khazanah nama lama di Bissampole tidak berasal dari satu sumber saja. Sebagian memiliki kekhasan bahasa Makassar, sedangkan sebagian lainnya berkaitan dengan nama hari, bulan, dan pengaruh tradisi Islam. Sanneng, Salasa, Rabai, Kammisi, Juma, dan Sattu, misalnya, memperlihatkan hubungan penamaan dengan nama-nama hari.
Rumallang, Muharrang, Jumaddi, Sawwala, Rabbi, Sabang, dan Maudu memperlihatkan jalur lain yang berkaitan dengan penanggalan serta kehidupan keagamaan. Dalam praktik masyarakat, unsur-unsur tersebut menjadi bagian dari pilihan nama yang diwariskan dari masa ke masa.
Perbedaan sumber itu menarik untuk diperhatikan. Nama-nama lokal tidak selalu tumbuh dari kebudayaan yang tertutup. Di dalamnya terdapat perjumpaan antara bahasa setempat, kebiasaan masyarakat, dan pengaruh agama.
Unsur yang berasal dari luar dapat diterima, disesuaikan, lalu menjadi bagian dari kehidupan lokal. Khazanah nama Bissampole memperlihatkan kebudayaan yang berinteraksi dengan berbagai pengaruh, sekaligus memiliki corak tersendiri dalam praktik kesehariannya.
Kiwari, saya iseng-iseng menyambangi tempat pengajian dasar dekat mukim dan Raudhatul Athfal Ma’arif Tumbel Gani. Juga bertanya pada anak-anak di seputaran Bissampole. Amboi, saya menjumpai nama-nama keren di kekinian.
Tampaklah beberapa nama yang digunakan oleh generasi millenial: Athafariz Radea Zhafran, Dzaki Asla Muyassar, Rafa Azka Putra, Raditya Nugraha, Zalfa Qirani Azkayra, Arumi Nasha Razeta, Ayman Atharazka Sigara, Fahrul Argan Syaif, Salsabila Putri Maharani, Rangga Alfarisi, Risya Dien Naura, dan masih bisa saya urutkan lagi daftarnya.
Nama-nama tersebut memperlihatkan susunan dan pilihan bunyi yang berbeda dari sebagian nama lokal tadi. Ada unsur yang berasosiasi dengan penamaan Arab atau Islam, ada pula rangkaian nama yang terasa akrab dalam kebiasaan penamaan Indonesia masa kini. Dan, satu lagi, penamaan lama amat sederhana, cukup satu kata. Sedangkan saat ini, dua atau tiga suku kata. Jadinya, kolom daftar hadir bisa lebih lebar.
Perbedaan itu tidak perlu dipertentangkan sebagai persoalan baik atau buruk. Namun, ketika nama-nama dari dua generasi diletakkan berdampingan, perubahan selera penamaan menjadi lebih mudah dibayangkan.
Nama bukan sekadar penanda yang membedakan seseorang dari orang lain. Di dalamnya tersimpan harapan orang tua, pertalian kekerabatan, pengaruh lingkungan, bahkan gambaran mengenai masa depan. Melalui nama, sebuah keluarga dapat memperlihatkan kedekatannya dengan tradisi, keyakinan, atau tokoh yang dihormati.
Nama juga dapat menjadi penanda zaman, sebab setiap generasi memiliki kecenderungan tersendiri dalam memilih nama bagi anak-anaknya. Karena itu, perubahan dalam praktik penamaan, layak dibaca lebih jauh daripada sekadar pergantian selera.
Dalam kajian antroponimi, nama orang dipahami sebagai bagian dari praktik kebahasaan dan kebudayaan. Pilihan nama dapat memperlihatkan hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya. Dari sudut pandang ini, pergeseran penamaan di Bissampole merupakan gejala sosial yang patut dicermati.
Nama yang dahulu dianggap wajar dan akrab, mungkin kini terasa kurang sesuai dengan selera zaman. Sebaliknya, nama yang bersumber dari lingkungan budaya lain, memperoleh tempat karena dianggap indah, modern, religius, atau memiliki daya tarik tersendiri.
Meminjam minda Pierre Bourdieu, mengenai modal simbolik, saya terbantu membaca perubahan tersebut. Dalam kehidupan sosial, nilai suatu hal tidak hanya ditentukan oleh asal-usulnya, tetapi juga pengakuan yang diberikan masyarakat.
Sesuatu yang memperoleh prestise akan lebih mudah dipilih, sedangkan sesuatu yang kehilangan prestise berpotensi ditinggalkan. Jika nama lokal mulai dianggap kuno, sementara nama yang mengikuti kecenderungan mutakhir dipandang lebih bergengsi, pergeseran itu dapat dibaca sebagai perubahan nilai simbolik.
Nama bukan lagi sekadar pilihan pribadi, tetapi juga berhubungan dengan cara keluarga, membayangkan kedudukan sosial dan masa depan anaknya.
Tentu saja, alasan orang tua memilih nama tidak sesederhana itu. Ada yang mempertimbangkan makna, ajaran agama, nama tokoh yang dikagumi, atau keindahan bunyi. Ada pula yang ingin memberikan nama yang dianggap sesuai dengan zamannya.
Pendidikan, perpindahan penduduk, media massa, media sosial, serta pergaulan lintas daerah memperluas sumber inspirasi penamaan. Nama yang populer di suatu lingkungan, dapat menyebar ke lingkungan lain, kemudian diterima sebagai pilihan yang lazim.
Sesuatu yang mula-mula terasa asing perlahan menjadi akrab. Dalam proses tersebut, selera baru tumbuh melalui pergaulan, peniruan, kekaguman, dan keinginan mengikuti perkembangan zaman.
Waima, perubahan itu menyisakan pertanyaan mengenai kedudukan bahasa lokal. Nama-nama khas Makassar, menyimpan jejak bahasa, pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Sebagian mungkin masih dipahami, sedangkan sebagian lainnya mulai terasa asing bagi generasi lebih muda.
Nama dapat bertahan lebih lama, daripada pemahaman terhadap asal-usulnya. Seseorang mungkin masih mengenal nama warisan orang tuanya, tetapi tidak lagi mengetahui latar kebahasaan yang melahirkannya. Nama tetap hidup sebagai panggilan, sementara sebagian pengetahuan yang menyertainya berpotensi memudar.
Apakah keterbukaan terhadap dunia, mesti berjalan seiring dengan semakin tersisihnya nama-nama lokal? Pertanyaan ini bukan seruan untuk menolak perubahan atau memaksa orang tua kembali menggunakan nama lama. Kebudayaan yang hidup tentu bergerak, menerima pengaruh, dan menyesuaikan diri dengan keadaan.
Nama-nama baru tidak dengan sendirinya menjadi ancaman bagi identitas lokal. Persoalan muncul ketika khazanah nama setempat semakin jarang dikenal, bahkan tidak lagi dipertimbangkan sebagai bagian dari pilihan yang tersedia. Yang perlu direnungkan bukan kebebasan keluarga memilih nama, melainkan kemungkinan menyempitnya pengetahuan tentang warisan kebudayaan sendiri.
Nama dapat menjadi wadah ingatan kolektif. Sebuah nama mungkin menyimpan kisah keluarga, hubungan dengan tempat, penghormatan kepada leluhur, atau kebiasaan yang pernah hidup dalam masyarakat. Ketika nama tersebut semakin jarang digunakan, ingatan yang dikandungnya tidak serta-merta lenyap.
Namun, kesempatan untuk mewariskannya melalui praktik sehari-hari semakin berkurang. Anak-anak mungkin masih mendengar nama itu dari cerita orang tua atau kakek-nenek, tetapi tidak lagi menjumpainya sebagai bagian dari nama generasinya sendiri. Jarak antara ingatan dan pengalaman pun perlahan melebar.
Di Bissampole, nama-nama lama yang masih dapat disebutkan hari ini, merupakan kekayaan yang patut dikenali kembali. Nama-nama khas Makassar dan nama-nama yang tumbuh melalui perjumpaan dengan tradisi Islam, sama-sama memperlihatkan perjalanan kebudayaan masyarakat.
Keduanya tidak harus dipertentangkan dengan nama modern. Yang diperlukan ialah kesadaran, bahwa perubahan zaman tidak harus membuat pengetahuan tentang masa lalu ikut menghilang. Nama lama boleh saja semakin jarang dipilih, tetapi asal-usul, pemakaian, dan kisah yang menyertainya masih dapat dicatat serta diwariskan.
Barangkali senjakala itu bukan pertanda bahwa semua nama lama akan benar-benar berakhir. Ia lebih menyerupai cahaya petang yang mengingatkan, sesuatu dapat memudar, ketika tidak lagi dirawat dalam ingatan dan praktik kehidupan.
Nama-nama modern akan terus datang bersama perubahan zaman, sebagaimana nama-nama lokal pernah tumbuh dalam zamannya sendiri. Yang perlu dijaga, agar keterbukaan terhadap dunia, tidak membuat masyarakat kehilangan pengetahuan tentang akar kebudayaannya.
Senjakala nama-nama di Bissampole, dengan demikian, bukan semata-mata kisah tentang nama lama yang kalah oleh nama baru. Ia merupakan kesempatan untuk membaca perubahan selera, hubungan antargenerasi, dan perjalanan bahasa dalam kehidupan masyarakat.
Nama boleh berganti, zaman mesti bergerak, tetapi ingatan tentang kebudayaan yang pernah melahirkannya, tidak semestinya ikut menghilang. Bagai pegunungan di sebelah utara Bissampole, yang dahulu hijau oleh hutan, kini sebagian kehilangan rimbanya, raib bersama hadirnya asap. Hutan yang siap dipanen, tinggal menggantang asap.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply