Melintasi Imajinasi

Ketahuilah, dari imajinasi itulah kelahiran buah pikiran. Seseorang nyeletuk ringan. Memulai memantik.

Ruang itu hanya dihiasi suara deru ombak serta tawa kecil dari percakapan di meja lain, tanpa cat mahal dengan lukisan yang terpajang.

Tanpa terjemahan atau kamus, kalkulus yang hanya motif bulus biasanya. Tapi ini beda, suasana ternikmati, di tengah kemarau yang dirisaukan sejuta umat, dan seteguk saling merunduk, kopi diaduk tanpa sendok, memutar dan membalikkannya biar menyatu di dalam kemasan plastik. Gelas kaca mulai ditinggalkan.

Sekelumit, dengan digit yang menggigit kantong, sebuah perhelatan terlukis kisah dalam karya kelak.

Ada cara pandang tanpa harus merasa saling merebut jatah bicara. Ada keakraban tanpa setingan, membuatku betah, entah kenapa. Biasanya hanya diam mengutak-atik gawai. Kali ini lintasan imajinasi itu berkeliaran.

Tanpa atribut kita sematkan. Tanpa menarik lengan baju, hanya kepulan asap tembakau merebahkan ego kita masing-masing.

Sampai malam itu tidak terasa malam telah larut. Melupakan marutnya keadaan, peradaban yang kian mendera dan menjadi beban saja. Celetuk seseorang. Imajinasi itu semakin terbangun dan liar, tetapi terkendali.

Pertemuan pertama dengan salah satu di antara mereka, sembari mencari celah untuk berinteraksi dan mengalir. Seakan pertemuan kami itu sudah terbangun sejak lama. Dari konsep hingga terapi pikiran kita berusaha untuk merasakan sensasinya.

Malam itu kami tidak membuat kesepakatan apa-apa. Ada kecemasan yang kita sudahi. Sebuah warisan yang kita lalui dengan tidak memaksanya untuk menjadi milik kita. Ada kerindangan pengetahuan yang kutemukan. Bahwa aku bertemu guru selanjutnya.

Di meja panjang dan beberapa puntung serta telah menjadi abu, tanpa kami saling mengibuli dan mengelabui. Cara ego bermain, menempatkan diri, tanpa harus merasa pintar. Tetapi mereka menghantar sesuatu kepadaku, sebuah keakraban.

Percakapan kian mengalir. Membedah, menelaah. Bukan kebenaran dan pembenaran. Tapi ada penguatan hierarki proses kehidupan setiap manusia diseduhkan malam itu.

Dari sebuah interpretasi, sudut pandang, sampai kami tidak harus menemukan jawaban, namun ada hamparan pengetahuan yang juga menjadi kesadaran baru lagi.

Pada suasana inilah aku diajari dan mulai mengerti. Imajinasi itu benar-benar melintasi apa saja. Dari sebelumnya meja kaca, meja kayu seduhan kopi kemasan, hingga malam itu. Merawat kembali lintasan imajinasi yang membuat kami melupakan getaran dan nada dering HP.

Sampai tidak kita sadari dan melihat lagi orang-orang sekitar meninggalkan mejanya menuju kasir.

Kami masih menjaga ritme percakapan. Merasakan dingin embusan desau angin malam.
Rasa kopi kemasan itu masih di lintasan imajinasi. Semua terasa sama. Pahit dan manisnya.

Malam itu bukan menghabiskan kopi, tapi percakapan lawas dari kehidupan sekarang. Tentang nilai, cara kita membaca zaman, tentang cara buah pikiran menjadi sengketa sosial manusia itu sendiri.

Pukul seperdua malam, di balik temaram lampu kafe Maevan. Kuterhenyak. Tanpa saling menimpali, namun menyemai persepsi bersama, kemudian melontarkan apa yang mengusik nalar selama ini. Tanpa “subjektivitas”.

Ya. Akhir-akhir ini menyadari kecenderungan berpikir itu dengan sangat kurang. Tentang pikiran berserak itu. Ada kadang cenderung mengikuti atribut intelektual yang berlaku. Menganggap sekadar bualan dan kata-kata saja. Tanpa jalur akademik. Ini mulai kian terkoyak. Terpental secara mental sebuah habitus itu menundukkan dengan paksa.

Kesadaran itu tidak tumbuh selama ini. Malam itu pada deretan kursi dan meja kami mencoba membuka suasana. Tanpa dipandu. Hanya bersilang lalu saling merasa tidak “paling”. Itu membuatku tidak secepat beranjak pulang.

Merancang, merias, membaca era, tanpa membawa merasa akademik seseorang mengarung di tanah bertuah dengan karyanya.

Ada kemasan, ada remah-remah amarah tersisa dalam pikirannya dia tuangkan kelak pada sebuah rongsokan yang terbuang menjadi karya. Ada kritik sosial, lingkungan dan memulihkan kembali kesadaran itu sendiri.

Di meja itulah aku dipertemukan dia. Seseorang yang akan memamerkan karyanya dari sampah. Dari kemasan yang terbuang, dari remah-remah amarah yang tersisa dalam pikirannya. Menjadi sebuah karya. Sebuah kritik tentang sosial, lingkungan, dan memulihkan kembali kesadaran itu sendiri.

Pertemuan itu dan teman yang sedari tadi menghubungi saya menyinggahinya di kafe itu untuk bertemu perupa itu denganku yang masih suka membual ini.

Sepertinya perjamuan kita pertunjukan awal, dari yang otodidak sepertiku dan dengan perupa yang menyusuri secara akademik.

Yah. Lirih kuberusaha menagih kalimat lagi. Bahwa: ini pertemuan kata dan sampah. Yang kelak akan dihelatkan.

Ada perantara, ada takdir kecil yang selama ini kita terkucil di tengah peradaban manusia, yang semakin urung disuguhkan hanya karena kepekaan yang tidak lagi bekerja di ruang imajinasi. Yang ada di ruang pulus dan bulus. Semua yang penting mulus.

Cekatan kuredakan sejenak. Bahwa peradaban kita hari ini tidak butuh lagi imajinasi yang dianggap membual dan membuat mereka katanya mual.

Butuh pulus, uangnya ada. Butuh bulus untuk melejit dengan taktik yang jalan. Yang penting mulus, menghindari gesekan. Tanpa ada lagi peran percakapan dari sebuah pikiran, yang ada kita harus ikuti dan patuh. Menelantarkan lintasan imajinasi selama ini.

Hari, tempat, dan tanggal telah mereka tentukan. Jalur persuratan dan redaksinya mulai dia tata, tanpa harus merasa rapi, cukup mengikuti alur/mekanisme yang selalu terasa ribet. Begitulah adanya.

Sampah dan kata, jalur penyampai sekian lama imajinasi itu terdampar, akan terhampar. Di tengah keramaian malam dan suara berisik musik yang saling beradu.

Tawa di kafe, sekelompok menikmati malam panjangnya, meski sekadar memicing menyaksikan hal tidak biasa di riuhnya para pengunjung, deru kendaraan dan bau knalpot, di sanalah kelak perhelatan antara sampah dan kata terhidang seperti menu kafe-kafe di sekitarnya.


Comments

One response to “Melintasi Imajinasi”

  1. Menafikan imajinasi demi bulus dan fulus…sementara begitu banyak imajinasi yang berserakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *