Kadang manusia tidak konsisten antara percaya bahwa Tuhan segala-galanya dan, di sisi lain, membatasi-Nya.
Panitia surga bermunculan seketika. Dengan mendebat sesama penganut, merasa paling suci. Bertabur kebencian berdalih serta menganggap pahamnya paling benar.
Konsep “manusia membatasi Tuhan” dalam perspektif yang kadang saya sering bertengkar dengan nalar, apa yang menjadi tanya saat sebagian dengan hanya persoalan sepele membawa nama Tuhan dengan hukuman yang menakutkan?
Kecenderungan manusia yang sering kali mempersempit pemahaman, kuasa, atau cara kerja Tuhan yang tak terbatas. Tiba-tiba mereka yang membawa dalil justru menerapkan ancaman Tuhan.
Surga begitu menakutkan pada akhirnya, apatah lagi neraka. Contoh paling sederhana sering kudengar para pencerah menebar membuatku penuh dengar dan seribu tanya bahwa: Hanya gara-gara lafal dosa menukik tajam. Neraka tempatnya. Lalu Tuhan menghukum hamba-Nya sebagai dosa!?
Ini bukan soal membantah apa yang menjadi hukum, aturan yang berlaku sejak ingatanku masa kanak dulu selalu didera ancaman tentang Tuhan.
Tuhan yang Mahaluas, tiba-tiba dijelaskan dalam kotak yang sempit. Tuhan yang katanya Maha Pengampun, tiba-tiba dibatasi cara mengampuninya oleh manusia. Tuhan yang katanya Maha Kasih, tiba-tiba kasih-Nya dikunci oleh lafal manusia.
Padahal kalau Dia memang segala-galanya, bukankah Dia terlalu besar untuk dibatasi oleh takaran dosa versi kita?
Mungkin yang menakutkan bukan neraka itu sendiri. Yang menakutkan adalah ketika manusia merasa berhak menjadi penjaga pintu surga dan neraka, sambil membawa nama Tuhan.
Dan di situlah Tuhan yang tak terbatas menjadi terbatas oleh mulut manusia.
Sepertinya Tuhan tersenyum mendengar para pencerah dengan habitus yang dibungkus beberapa cerita, kisah yang masih perlu ditelaah.
Tuhan tersenyum, bukan marah. Karena Dia tahu, yang berbicara itu manusia yang masih belajar mengeja nama-Nya.
Kucegat keliaran pertanyaanku sejak dulu. Hanya bisa diam dan bersembunyi menyaksikan yang terjadi. Tentang sebagian manusia yang mulai terbatas mengeja Tuhannya sendiri.
Mereka mengeja Tuhan hanya dengan huruf-huruf ancaman. Padahal ejaan Tuhan jauh lebih panjang dari itu. Ada ejaan ampun, ada ejaan peluk, ada ejaan pulang.
Atau ketika di antara ibadah kita, terpaksa hitung-hitungan sama Tuhan! Seorang karib, Akbar, melanjutkan kembali membaca dan mencoba membawa suasana bincang di sudut waktu itu sepertinya serius.
Berapa pahala kalau begini. Berapa dosa kalau begitu. Berapa rakaat agar surga dekat. Kita berdagang dengan Tuhan yang kita sebut Maha Pemberi tanpa hitungan.
Padahal ibadah yang tulus tidak pernah bawa kalkulator.
Teringat seorang Mubaraq ketika itu membaca dengan serius. Dia bilang: Tuhan tidak butuh hitunganmu. Yang butuh hitungan itu manusia yang takut rugi.
Dan aku yang sejak dulu diam dan bersembunyi, malam itu mengerti.
Yang membatasi Tuhan bukan orang yang bertanya seribu tanya seperti aku.
Yang membatasi Tuhan adalah orang yang sudah merasa punya jawaban mutlak tentang siapa yang masuk surga dan siapa yang harus dibakar.
Padahal Tuhan tidak pernah membatasi diri-Nya begitu.
Dia masih tersenyum mendengar kita. Bahkan ketika kita salah mengeja nama-Nya. Suara lirih Mubaraq kepada kami. Beberapa detik kami terdiam.
Kalimat itu jatuh tepat di tengah serambi. Tidak keras. Lirih. Tapi semua yang mendengar terdiam.
Karena selama ini kita diajar membayangkan Tuhan yang murka jika salah eja. Ternyata ada kemungkinan lain: Tuhan yang tersenyum.
Kemudian suatu waktu kusuruh bertaubat saat menanyakan hal dianggap tabu selama ini. Sembari berbaik sangka.
“Taubatko,” kata seorang berlapik dalil, tetapi tingkahnya yang dekil.
Hanya karena aku bertanya. Hanya karena aku menolak menelan cerita tanpa telaah. Hanya karena aku tidak mau beragama dengan mulut tertutup.
Jawabanku tidak harus ngeles karena paling malas beribadah selama ini. Aku tidak malas beribadah. Aku hanya malas berhitung dengan Tuhan.
Aku malas beribadah yang karena takut dicambuk neraka. Aku ingin beribadah karena rindu. Seperti Danu menulis Rindumu yang sah di buku kuningnya. Bukan karena disuruh, tapi karena rindunya tak bisa terbantah.
“Kalau ibadah karena takut, itu bukan ibadah. Itu penyanderaan.”
Karib Mubaraq menambahkan: Katanya, orang yang paling dekat dengan Tuhan justru yang paling banyak bertanya tentang Tuhan. Bukan yang paling banyak menghakimi atas nama Tuhan.
Dan waktu itu, untuk pertama kalinya sejak kanak-kanak, aku tidak takut lagi menyebut nama-Nya. Karena aku tahu, kalaupun aku salah mengeja, Dia masih tersenyum mendengarku.
Percakapan kami mengalir begitu saja. Masih berusaha tidak melebihi kapasitas kami yang masih proses mencari dalam pemahaman kesadaran.
Meski bagi yang lain, ini aneh, sudah keluar serta katanya sudah melenceng. Dan harus kembali ke jalan yang benar.
Mubaraq mencoba mengurai dan menemukan hal apa yang kami pikirkan dan cakapkan sembari mencoba menerjemahkan di sebuah laman bahwa:
Kekakuan dalam memahami agama dan Tuhan sering kali terjadi ketika manusia terjebak pada formalisme struktural, yakni hanya berfokus pada aturan kulit luar, simbol, dan klaim kebenaran sepihak, tanpa menyelami hakikat terdalam dari ajaran itu sendiri.
Penyebabnya beberapa hal. Dan sering kita temukan seperti: pola didikan dan lingkungan sejak kecil, di mana keyakinan sering kali diturunkan secara dogmatis oleh keluarga atau lingkungan sekitar tanpa diberi ruang untuk melatih nalar kritis dan pemahaman yang luas.
Atau memahami teks atau ajaran agama secara harfiah/tekstual tanpa melihat konteks zaman, tujuan serta esensi agama hadir serta Tuhan itu sendiri.
Lebih parah lagi, kecenderungan menjadi “hakim” bagi sesama: banyak yang merasa paling dekat dengan Tuhan, lalu dengan mudah menghakimi, menyalahkan, atau melabeli kelompok lain yang berbeda cara pandang.
Di sisi lain pula kehilangan esensi kemanusiaan: saat seseorang semakin mendalami agama, seharusnya ia semakin toleran dan memanusiakan manusia.
Kami diam beberapa detik lagi. Sembari menatap saling menatap. Tiba-tiba menemukan persepsi yang sama:
“Mungkin juga sebaliknya. Kekakuan membuat seseorang sibuk beragama tetapi lupa untuk bertuhan.”
Jubah, songkok, identitas saja bernama pakaian budaya, serta seabrek atribut yang tersemat itu pengkotakan.
Kita mengira sedang membela agama. Padahal yang kita bela kadang hanya pakaiannya. Budayanya. Atributnya. Kotak-kotaknya.
Kita lupa, jubah itu dijahit manusia. Songkok itu dianyam manusia. Atribut itu disematkan manusia. Semuanya budaya. Bukan Tuhan.
Lalu kita pakai kotak itu untuk mengotak-ngotakkan manusia lain. Ini surga, itu neraka. Ini suci, itu najis. Ini kami, itu mereka.
Padahal agama sebuah rem untuk hadir mengatur kemanusiaan dan peradaban.
Rem. Bukan gas untuk menabrak. Rem untuk menghentikan kita agar tidak kebablasan menghakimi. Agar menghentikan kita agar tidak ugal-ugalan merasa paling benar. Membuat kita berhenti sejenak merunut diri.
Jika agama membuatmu lebih kejam, lebih suka mengancam, lebih gemar mengotak-ngotakkan, mungkin yang kau pakai bukan agamanya. Tapi atributnya saja.
Karena agama yang benar tidak pernah membatasi Tuhan. Agama yang benar membebaskan manusia untuk menemukan Tuhannya.
Dan Tuhan itu tetap tersenyum. Pada semua hamba dan makhluk-Nya.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply