Kadang kita merasa sial. Padahal kita telah memenuhi syarat. Ternyata itu masih standar. Di tengah kidung dan kalung sosial.
Berkacalah aku, berusaha tahu di mana jerawat itu tumbuh. Dan berapa banyak helai-helai itu jatuh. Aku mengira ini baru permulaan. Ternyata telah berlangsung lama.
Dilema. Antara melupakan luka, memaafkan atau sekadar basa-basi saja. Begitulah pragmen yang diadaptasi, bahkan diadopsi setiap individu.
Filsafat manusia hanya kidung pembawa pengetahuan, kita eja, tetapi kita tidak berani mengejawantahnya. Masih ragu, masih mencari celah.
Trauma? Tidak juga. Hanya saja cara luka itu berangsur menyusup dan mulai berinteraksi kembali.
Kita menyebutnya sosial. Padahal ada cara yang menyelubungi ke tempat nilai yang berwarna abu-abu.
Luka sosial, dia menyetel dan membuat parsel terlebih dulu. Bukan juga mengarang. Dan menyelinap
Pada akhirnya sayatan itu nyaris dilupakan. Ada yang mulai baik, ada masih jaim. Setelah luka sosial itu mulai perlahan terlupakan. Damai sejenak. Tetapi membawa luka sosial baru.
Karena lukanya tak berdarah. Ia hanya membuat kita pelan-pelan tidak percaya pada kaca cermin. Akhirnya kita sibuk merapikan kalung sosial biar terlihat lebih nyentrik, kharismatik. Dari pada menyembuhkan jerawat sejawat, tumbuh di wajah kita sendiri.
Ternyata damai itu hanya jeda, karena dari damai yang sejengkal itu, lahir luka sosial yang baru. Dengan bungkus yang lebih rapi. Bernama budaya, agama yang kian menjadi bingkai paling indah, nyatanya hanya pemanis.
Untuk lebih tidak sekadar opini. Rasanya aku baru kali ini pula membawa nama-nama yang berpengaruh tentang hal tersebut. Tidak juga merasa pembaca paling Arif dan rakus. Tetapi sekadar membungkus. Biar semua tahu ini ada keterhubungan di zamannya dulu. Hingga saat ini.
Di sudut laman. Celetuk seseorang mengutip sebuah contoh pada filsafat sosial manusia dan Interaksi.
Katanya: Manusia tidak pernah benar-benar sendiri. Sejak lahir, ia sudah dilempar ke dalam kerumunan. Lalu timbul pertanyaan, kenapa kita butuh orang lain untuk merasa jadi manusia?
Seorang bernama Hegel datang dan berkata: kita hanya mengenal diri kita lewat tatapan orang lain. Aku ada karena kamu mengakuiku ada. Di sinilah luka sosial mulai tumbuh. Bagi saya ini juga masih ambigu, ketika pengakuan itu tidak datang, atau datang dengan bungkus yang rapi tapi palsu.
Ada juga yang mengadakan dengan melihatnya lebih tajam: interaksi sosial kita sering kali bukan interaksi, tapi transaksi. Kalung sakti seorang Danu misalnya adalah topeng kelas. Kita sibuk merapikan kalung, bukan menyembuhkan jerawat, karena masyarakat menilai kalung lebih dari wajah dan sifat.
Dan pada akhirnya aku sepertinya mulai sepaham dengan kalimat ini ” membunuh tanpa menyentuh” itu cara luka sosial tumbuh setiap detik.
Bagiku sebagaimana orang berkiblat pada sebuah ungkapan bernama filsafat dan keterhubungan dengan sosial, bukan sekadar kidung pengetahuan yang kita eja.
Ia adalah cara kita mengejawantahkan luka. Bahwa interaksi bukan soal basa-basi siapa yang paling nyentrik dan kharismatik, tapi siapa yang masih mau tinggal di rumah yang sama ketika dawainya terlepas putus dan dilupakan.
Kemudian berharap sebagaimana yang menjadikanku kultur sejak dulu sampai saat ini: Dimana Budaya dan agama seharusnya jadi obat. Tapi ketika luka sosial sudah terjadi terlalu lama, keduanya cuma mau terlihat egaliter, kemapanan seolah-olah. Hiasan dan kiasan saja.
Pada akhirnya kita saling menyabung diri dengan kepatuhan terpaksa yang akan kita langgar.
Suatu hari Danu memilih tidur molor dan nyenyak. Orang-orang memberiku predikat pemalas. Padahal mereka tidak tahu bahwa yang kurasa susah tidur.
Antara ejekan dan ajakan. Saat ini susah membedakan. Saat kemudian berusaha tidak seragam ketika dipaksa beragam. Dianggap sudah melenceng.
Saat mengira-ngira dosa itu ancaman. Mereka beramai-ramai memburu sedekah hukum sosial. Banyak sudah yang mangkir di tengah sosial dan adab yang mereka bangun.
Di dunia pengetahuan, secara sederhana kubuat peta sendiri: Percakapan bukan mencari sesiapa paling benar dan pintar, tapi soal siapa yang berani berkata jujur di tengah seribu pertanyaan yang harus terlontarkan, merasakan di rumah sendiri, ketika semua orang di luar menghukum sesama secara sosial dan adab yang tidak disadari.
Raga Danu terjebak lelah. Pikiran merekah mencari tanya setiap saat. Di saat tumbuh dianggap telah melanggar tatanan. Itu menjadi penyebab mental kita terlalu pengecut.
Sosial menjadi sial. Celoteh wayang serta sejarah yang penuh kisah katanya heroik, padahal meminjam budaya luar, adaptasi lalu menjadi aturan baku hingga saat ini. Dibungkus cerita sang pengarang. yang sejak dulu membawa kita berfantasi. Kukira tuntunan ternyata hanya tontonan Sampai saat ini kita yakini sebagai pedoman bahkan iman!
Tanpa terduga seseorang membiarkan luka sosialnya ia sobek, dan koyak sendiri. Supaya sosial tetap abadi membawa belati ke setiap peradaban yang ternyata kita dikhianati.
Luka itu terasa di setiap gang, lorong, kampung, sekolah, kantor. Bahkan di tempat ibadah.
Kita percaya pada wayang tanpa lakon, hingga iman tanpa sadar, membuat kita sial? Dawai yang putus bukan karena tidak dipetik, tetapi kita sibuk menyesuaikan nada agar di terima. Begitulah di luar sana. Interaksi sosial, berujung sial menemukan luka kita bawa pulang.
Terpaksa harus seragam. Mengikuti, atas nama nilai. Untuk kita jaga, selanjutnya beragam dan seragam di dalamnya kita telah di tajam.
Luka itu dibuat pemetaan dan ruang-ruang untuk seragam. Nilai sosialnya harus di pajang dengan potret yang lebih terang.
Kalau mau jujur, semua pernah merasakan luka sosial yang tak terlihat tersabet dan tergores bahkan berdarah itu. Dia terselubung.
Merah jambu, dan kemilau padu yang kontraksi menjadi keindahan. Itu terlalu subjektif. Tetap yang dianggap lebih jelas dan patuh hanya hitam dan putih.
Itu luka sosial yang kadang kita tidak sadar melakukan. Saat kita berbeda, mereka mengusik bahajan mengusir.
Terlalu banyak yang belum jujur. Untuk mengakui. Yang ada sebagian hanya nL KK mengakali.
Danu menyadari. Tertunduk lesuh, dan pikiran mulai rusuh.
Di luar, disaksikan nilai sosial yang dipajang memang lebih tenang. Lebih laku, banyak tepuk tangan.
Dia duduk di luar pemetaan dan melihat itu. Panggung itu ramai. Seragam itu rapi. Potret hitam putih itu terang.
Diam-diam dia mengakui: itu memang menenangkan. Tidak perlu menjelaskan merah jambunya. Tidak perlu membela kemilau padunya.
Padahal luka sosial itu terasa begitu serupa, sama dalam setiap peran manusia.
Sama sakitnya di si penjual kopi, di si pegawai kantor, penulis yang malas bangun pagi, dan nak gang yang motornya butut.
Caranya mulus. Mengusir tanpa teriak. Bertindak tanpa harus bereaksi menolak. Bahkan dengan senyum seragam.
”Danu pernah diusir begitu. Dan Danu pernah mengusir begitu”
Maka Danu mencoba menganalisa lagi dengan menganyam. Berusaha berbeda yang dia paksakan serta menerima konsekeunsi dengan warna yang kontraksi. Merah, yang berdarah tetapi indah.
Dia hamparkan lagi anyaman lamanya di serambi. Dia coba jujur.
Tapi anyaman merah itu tidak laku. Tidak ada yang tepuk tangan. Tidak dipajang di ruang terang.
Yang laku tetap hitam putih. Yang dipuji tetap yang patuh.
Sampai pada akhirnya dia mengalah mengikuti selera dan keseragaman mereka dengan warna yang lebih terpaksa ditabrak.
Dia pakai topi krem. Dia ganti motor kalau bisa. Dia tulis kalimat yang seragam.
Bukan karena dia kalah. Tapi karena dia lelah menjelaskan merahnya.
Dan mengalah itu juga luka.
Luka yang dia buat sendiri. Untuk bisa tetap duduk di ruang yang memajang nilai sosial itu.
Akah Danu adalah luka? Atau sosial yang makin marak di jual?
”Kita dikhianati bukan oleh orang, tapi oleh cerita yang kita yakini sebagai kebenaran”

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply