Sang pemulung dan toga. Dia menemui telaga, menyusuri sabana. Di tengah kesenjangan hidup menempanya. Terlatih tertatih. Sampai rasa lelah, tidak harus membuatnya menyerah meski rasa sakit itu hampir tidak terasakan lagi baginya.
Sampai pada satu tujuan mengenakan toga di kepalanya.
Dia telah sarjana. Pemulung dalam rentetan peluru kehidupan menempanya, bertahan di tengah lambung kehidupan yang penuh proses ujian.
Yah. Dia meraih toga kesarjanaan itu dengan predikat “cumlaude”.
Pemilik predikat itu adalah yang setiap malam, ia menepi di sudut Alfamart. Mendekap malam, setelah seharian melewati terik dengan harapan bisa pulang membawa sesuatu ke rumah, kepada ibu dan adik-adiknya.
Sebagian dari kita mungkin pernah melihatnya di depan Alfamart Jalan Kartini beberapa tahun lalu. Anak lelaki pemulung itu, ditemani karung dan buku tulis yang menjadi tempat keluh. Di situlah kisahnya ia tuliskan.
Di tengah riuh pembeli, Aco hanya menatap. Sesekali ia menelan keinginannya, seperti mereka yang belanja sekeresek penuh makanan dan minuman. Aco hanya mampu menatap karungnya sendiri, menyeka gundah sambil duduk menentukan langkah, harapan, serta mimpinya. Sambil menatap orang-orang yang lalu-lalang, menyaksikan perbedaan itu ada di depan matanya.
Dia tidak menangis meratap. Dia mendekap derita, menyeka air matanya sendiri. Melewati hari, petang hingga malam menemaninya.
Percakapan saya kemudian bermula saat mendengar kabar mengharukan dari Kak Syam. Bahwa Ardi, yang biasa dipanggil Aco, telah selesai menempuh pendidikan di luar kota.
Sontak saya terbawa suasana. Saya meminta nomor kontaknya. Hingga akhirnya saya bisa bercakap langsung dengan Aco.
Aco lalu mengurai dengan antusias, bagaimana ia bangkit dari kesenjangan sosial keluarganya. Dia mengurainya seperti ini:
”Sebenarnya kalau ditanya bagaimana saya bisa bertahan seperti ini, Kak, jawabanku tidak lain adalah saya ingin keluar dari kondisi keluargaku yang sekarang ini. Dari dulu saya bermimpi ingin mengubah kondisi keluargaku, baik dari sisi ekonomi maupun yang lainnya. Saya meyakini bahwa mungkin lewat jalur pendidikan saya bisa keluar atau mengubah kondisi keluarga secara perlahan.”
”Ini yang memotivasi saya sebenarnya dari dulu, dan ini yang bisa membuat saya bertahan sampai detik ini selain doa keluarga, terutama mamakku, yang ternyata menjadi kepala rumah tangga utama di rumah saya sekarang.”
Lalu saya kembali bertanya, bagaimana menjaga mental, serta bisa berdiri bangkit berjalan di tengah himpitan ekonomi? Aco cekatan mengetik dan membuatku terdiam:
”Kalau saya, Kak, prinsip saya adalah harus selalu belajar menerima keadaan, dan percaya bahwa hidup masih bisa diperbaiki. Ini yang selalu saya ingat, di setiap keadaan, apalagi pada saat di titik rendah.”
Jujur saya terdiam kembali. Aco yang dulu hanya menenteng karung, berteman malam sendiri. Duduk memintal mental yang tidak pernah menyerah.
Aco melanjutkan:
”Dulu pas lulus SMK, saya merasa putus asa untuk melangkah mencapai impian saya. Di pikiran saya pada saat itu betapa mustahilnya. Betapa sungguh tidak percaya di mana anak dari keluarga yang tidak punya apa-apa seperti saya ini bisa duduk di bangku perkuliahan.
Rasanya pada saat itu mustahil bagi saya untuk bisa kuliah, apalagi mendengar kata-kata orang yang mengatakan bahwa kuliah itu sangat mahal.”
”Tetapi karena saya punya mimpi, bertekad untuk tetap ingin kuliah. Apapun yang saya impikan harus saya raih dengan cara apapun. Dengan tekad ini saya berusaha mencari info-info beasiswa dan alhamdulillahnya dipertemukan dengan orang yang baik.
Dan ini jalan Allah SWT yang diberikan kepada saya sampai saya mendapat beasiswa Baznas. Dengan beasiswa ini saya akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan menyelesaikan sampai akhir. Sesuatu yang sudah saya mulai akan saya selesaikan.”
”Kalau ditanya bagaimana cara saya berjuang selama ini, mungkin cara ini sudah dilakukan oleh sebagian banyak orang. Walaupun saya mendapat beasiswa untuk membantu perkuliahan saya, dari semester 3 saya mulai mengambil pekerjaan paruh waktu, part time, sampai yang full time.
Kadang ada yang bertanya, kamu dapat beasiswa, kenapa harus kerja? Beasiswa saya memang untuk membantu perkuliahan, tapi saya juga punya tanggung jawab terhadap mamak dan adik-adik saya. Selama kuliah ini saya banyak mengambil kerjaan.”
Di sini saya berhenti sejenak. Nyambi menutupi keluarga. Sampai dia pikirkan keluarga, tidak menikmati zona nyamannya seperti anak lain. Tekad. Ya, ini yang susah sekarang, bagaimana konsisten, tidak hanya menikmati bantuan saja. Tetapi Aco sambil kuliah dia bertarung juga untuk biaya serta kebutuhan lain.
Percakapan kami berlanjut semalam:
”Selama kuliah ini, saya selalu menyeka sendiri air mata saya ketika mengalir, betapa proses perjuangan bertahan di rantau dalam keadaan seperti kehidupan saya dan keluarga. Saya menyembunyikan tangis itu. Saat itu awal bulan, mendengar teman asrama saya yang juga mahasiswa dikirimi uang saku sama orang tuanya, rasanya begitu ingin juga merasakan apa yang dirasakan teman saya.”
”Karena sejak dulu memang tidak pernah mendapat hal seperti itu dari orang tuaku, yang apa-apa harus cari sendiri, mau jajan saja harus kerja dulu. Ingin sama seperti teman-teman yang lain, tapi saya sadar dengan kondisi ekonomi keluarga. Ini bukan membagi kesedihan ya Kak, tapi hal seperti ini membuat saya semakin termotivasi untuk mengejar impian itu.”
”Dari segala peristiwa itulah belajar untuk kuat, tertatih di tengah letih yang sampai hampir tidak terasa. Perjuangan itu tidak semudah jika kau ingin menemukan, menggapai mimpi. Jalani, hadapi dan kelak kau akan raih.”
Dia mencoba mengutip perjalanannya saat hari ini dia masih tidak percaya bisa sejauh ini. Kadang ada yang bilang lupakan masa lalu karena bisa membuatmu susah melangkah. Aco punya cara pandang lain, katanya beda pikiran dengan saya.
”Masa itu saya jadikan sebagai motivasi diri, walaupun kadang membuat saya minder untuk berteman dengan orang baru. Tapi saya bersyukur dan bangga dengan masa tersulit itu. Dengan itu bisa lebih mensyukuri apa yang saya dapatkan, lebih kuat menjalani hidup di perantauan, tidak kaget di titik rendah. Waduh saya mengetik ini sambil menangis Kak. Betapa semesta mempertemukan dengan orang baik yang selalu saya temui di setiap episode cerita kehidupan saya.”
Dan di situlah saya mengerti. Aco tidak pernah benar-benar meninggalkan karung itu. Ia hanya mengganti isinya. Dulu karung itu berisi botol bekas dan kardus. Sekarang karung itu berisi buku, toga, dan tanggung jawab pada mamak dan adik-adiknya.
Kita yang pernah melihatnya di depan Alfamart Jalan Kartini, mungkin hanya melihat pemulung. Padahal di sebelah karung itu ada buku tulis. Di situlah bedanya. Kebanyakan orang menunggu keadaan baik dulu baru menulis mimpi. Aco menulis mimpi dulu, di tengah keadaan yang tidak baik.
Jika di esai sebelumnya saya bicara tentang beranda yang kayunya dipahat dengan hati, maka Aco adalah orang yang memahat kayunya sendiri, dengan tangannya sendiri, di tengah terik dan di sudut Alfamart. Tanpa jati, tanpa gelar, tanpa panggung. Hanya dengan keyakinan sederhana: hidup masih bisa diperbaiki.
Pemulung itu kini telah sarjana: Toga di kepalanya tidak semudah yang kita lihat dan kita dengar saat dia lulus pada pilihan jurusannya prodi kewirausahaan, fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram Yogykarta, tahun 2022, dan berhasil menggapai mimpinya tahun 2026.
Malam merambat. Napaktilas Aco membawanya menjadi lebih menghargai, tidak melupakan sesiapa yang berempati selama perjalanan hidupnya.
Dia menutup dengan kalimat ini: “terbukti sekali, pepatah yang mengatakan dimana ada kemauan disitu pas ada jalan, dan itu terjadi di saya kak”.
Ini tambahannya sudah bagus, Dion. Jujur sekali. Aku rapikan bahasanya saja, biar terima kasihnya sampai tanpa terkesan mengiba.
Bagi siapa saja yang pernah bersentuhan dengan Ardi / Aco yang kita kenal sebagai anak pemulung itu tidak pernah lupa. Dia merasakan kehadiran kalian semua. Melewati rinai-rinai waktu. Menguatkannya, memapahnya bersama. Yang tidak bisa ia sebutkan satu per satu.
Kepada yang membaca narasi ini dan pernah hadir menemani, menemukan, berinteraksi dengannya, atau memberinya ruang termasuk Forum Anak Butta Toa Bantaeng dan pihak terkait, sampai toga itu bisa hadir menjawab semuanya, bahwa hidup tidak sendirian. Bahwa masih ada banyak elemen yang meluangkan waktu untuk berempati dan peduli.
Maka dengan demikian tekad, keseriusan berdiri berpijak di kaki sendiri, saat itulah terasa bagaimana hidup dan perjalanan itu bukan sekadar dinikmati, tetapi dihadapi, tanpa kita sesali apalagi menghindari prinsip kita sendiri.
Aco menutup ceritanya sambil meneduhkan kembali apa yang sekarang ia raih. Bukan berarti berhenti. Tetapi tetap lelah menjadi Aco yang selalu optimis, meski anak pemulung, tidak harus selalu murung. Hari tidak selamanya mendung. Ia bisa meraih sarjana di rantau orang.
”Dan di titik itulah saya kembali merasakan, toga itu bukan akhir. Toga itu adalah karung baru. Karung yang dulu ia pikul di pundak di depan Alfamart Jalan Kartini, kini ia pikul di kepala sebagai janji: bahwa dari beranda Butta Toa, seorang pemulung pernah membuktikan hidup memang masih bisa diperbaiki.”

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply