Bissampole mengenal banyak kiyai yang tumbuh dari denyut kehidupan masyarakatnya sendiri. Mereka mengaji, mengajar, membangun masjid dan madrasah, mendatangi rumah-rumah warga, serta hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Di antara nama yang masih disebut oleh orang-orang tua di Bissampole terdapat seorang kiyai bernama K.H. Yusuf Sulaemana, yang lebih akrab disapa Babba Usu.
Babba Usu lahir di Ereng-Ereng, Bantaeng, pada 2 Agustus 1928. Ia wafat di Bissampole pada 29 Agustus 2009, lalu dimakamkan di kampung kelahirannya. Jejak kehidupannya memperlihatkan perjalanan seorang pencari ilmu yang menempuh jalan panjang sebelum akhirnya menetap dan mengabdikan diri di Bissampole.
Mula-mula ia menempuh pendidikan umum di Kota Bantaeng. Hasrat memperdalam ilmu agama kemudian membawanya ke Bulukumba. Di sana ia berguru kepada seorang kiyai yang sering disebutnya Puang Arafah, putra Puang Haji Daeng.
Ketika Puang Arafah berangkat ke Tanah Suci dan menetap di sana, Babba Usu memperoleh pesan agar meneruskan pengajiannya kepada Gurutta Sade, atau K.H. Muhammad As’ad, pendiri Pesantren As’adiyah di Sengkang, Wajo.
Di Sengkang, Babba Usu memperdalam ilmu agama di bawah asuhan Gurutta Sade. Setelah menyelesaikan pengajiannya, ia ditugaskan ke Sumatera untuk menjalankan pengabdian.
Di sana ia sekaligus memperdalam pengetahuan agama dan mendirikan madrasah. Daerah yang sering disebutnya ialah Batang Hari dan Kuala Tungkal, Jambi, tempat banyak perantau Bugis telah menetap dan beranak-pinak.
Perjalanan Babba Usu ke Sumatera memperlihatkan bahwa pengabdian dan pencarian ilmu dapat berjalan beriringan. Namun, catatan tentang masa tersebut belum lengkap. Belum ditemukan keterangan yang cukup akurat mengenai tahun keberangkatannya, lama pengabdiannya, maupun waktu persis ia menyelesaikan pendidikan di Sengkang.
Sesudah masa pengabdian itu, ia berangkat menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan tersebut tidak sampai ke tujuan. Kapal yang ditumpanginya telah meninggalkan perairan Indonesia ketika diketahui air di kapal mengalami keracunan.
Kapal akhirnya kembali ke Sumatera. Setelah tiba, Babba Usu tidak meneruskan perjalanan ke Tanah Suci. Ia berangkat ke Surabaya, kemudian pulang ke Makassar. Dari Makassar, ia memilih kembali ke Bantaeng, bukan meneruskan perjalanan ke Sengkang.
Kepulangannya menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Pada 1954, ia menikah dengan Sitti Mariyah Haruna, seorang perempuan yang tinggal di Tompong. Rumah keluarga istrinya tidak jauh dari Masjid Takwa Tompong, salah satu masjid tua di Bantaeng.
Sekitar 1956, Babba Usu berpindah ke Bissampole. Mula-mula ia tinggal di sekitar Masjid Al-Mubaraat, masjid yang dibangun oleh K.H. Abdul Hamid, atau Puang Hami. Pada masa itu, bangunannya masih sangat sederhana.
Pada 3 Januari 1957, Babba Usu membeli sebidang tanah, membangun rumah berhadapan dengan rumah Puang Hami. Kehadirannya kemudian turut menghidupkan kegiatan masjid. Ia dipercaya menjadi ketua pembangunan ketika Masjid Al-Mubaraat dikembangkan menjadi bangunan permanen.
Sejak itu, kehidupan Babba Usu semakin lekat dengan Bissampole. Seperti halnya Puang Hami, ia dikenal tegas dan berani dalam menjalankan dakwah. Orang-orang tua masih mengenang keberaniannya menghadapi persoalan masyarakat.
Ungkapan “loe tongi baca–bacana” yang bertahan dalam ingatan warga menggambarkan kewibawaannya sebagai kiyai yang diyakini memiliki kemampuan keagamaan dan batin.
Namun, kekuatan Babba Usu sebagai kiyai kampung tidak hanya terletak pada keberanian atau kemampuan tersebut. Ia dekat dengan kehidupan masyarakat dan meladeni berbagai kebutuhan warga.
Selain memberikan pengajian kitab di masjid maupun di rumah, ia dikenal suka membantu orang sakit, terutama mereka yang penyakitnya dikaitkan dengan gangguan nonmedis atau mistis. Bila dipanggil, ia berusaha datang, bahkan pada dini hari sekalipun.
Warga juga mengenang kemampuannya memeriksa badik, mulai dari kualitas dan kegunaannya hingga perkiraan usianya. Ia gemar mengoleksi batu permata, melakukan songko bala ketika ada kendaraan baru, memandikan orang yang bertobat, serta mendoakan mereka yang hendak bepergian.
Berbagai kebiasaan tersebut menjadi bagian dari ingatan masyarakat tentang sosoknya, yang menjalankan peran keagamaan di tengah kehidupan sehari-hari.
Dari cerita orang-orang tua Bissampole, tampak pola dakwah yang khas. Masyarakat yang masih akrab dengan praktik mistis tidak serta-merta dijauhi. Mereka didatangi, diladeni, diberi pengajian, dan dibantu ketika sakit.
Melalui kedekatan itu, Babba Usu membangun hubungan yang memungkinkan nasihat keagamaan diterima di dalam kehidupan masyarakat, bukan disampaikan dari jarak yang membuatnya terasa asing.
Sekitar pertengahan 1960-an, kiprahnya memasuki ruang kelembagaan Nahdlatul Ulama. Ia dipercaya menjadi ketua Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (PERTANU) Bantaeng. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga mengemban amanah sebagai Mustasyar NU Bantaeng selama waktu yang cukup panjang.
Keterlibatannya memperlihatkan bahwa pengabdian seorang kiyai tidak terbatas pada masjid dan pengajian, tetapi bersentuhan pula dengan kehidupan sosial-ekonomi warga.
Pilihan itu sejalan dengan kehidupannya sendiri. Babba Usu tidak jauh dari kerja sehari-hari masyarakat. Ia berdagang dan bertani, menjual bundu-bundu—sejenis barang campuran—serta kain di pasar. Di Ereng-Ereng, ia mengusahakan kebun kopi, cengkeh, dan cokelat. Ilmu agama berjalan berdampingan dengan kerja tangan dan ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup.
Pengabdiannya juga tidak berhenti di Bissampole. Di Ereng-Ereng, kampung kelahirannya, Babba Usu mendirikan Pesantren/Madrasah As’adiyah Ereng-Ereng dan Masjid Darussalam.
Di tempat itu ia mengajarkan kitab dan membuka ruang pendidikan keagamaan bagi masyarakat. Ia juga kerap menyambangi sejumlah kampung, di antaranya Sarrea dan Moti, ketika warga membutuhkan pengajian atau bantuannya.
Dengan demikian, terdapat dua ruang penting dalam perjalanan pengabdiannya. Bissampole menjadi tempat ia menetap, membangun masjid, mengajar, dan melayani masyarakat. Ereng-Ereng menjadi kampung kelahiran, kembali disentuhnya melalui pendidikan dan kehidupan keagamaan.
Pengembaraan ilmu yang ditempuhnya seolah kembali kepada dua tempat yang membentuk perjalanan hidupnya.
Ada satu lingkaran perjalanan yang menarik dalam kehidupan Babba Usu. Pada masa muda, ia pernah berangkat menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan itu terhenti karena keadaan kapal.
Puluhan tahun kemudian, pada 1994, ia akhirnya menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Sitti Mariyah Haruna. Di Tanah Suci itu, ia sempat bertemu dengan Syekh Alwi, putra gurunya ketika belajar di Bulukumba.
Pertemuan tersebut mempertautkan kembali perjalanan seorang murid dengan mata rantai keilmuannya. Guru yang dahulu menjadi pintu awal pencarian ilmu hadir kembali dalam ingatan melalui perjumpaan dengan putranya.
Dalam kehidupan seorang santri, ilmu tidak hanya tersimpan dalam kitab dan ruang pengajian, tetapi juga hidup dalam hubungan antara guru, murid, dan generasi yang menyambungnya.
Babba Usu akhirnya bukan sekadar nama seorang kiyai, pernah tinggal di Bissampole. Ilmu yang diperolehnya melalui perjalanan dari Bantaeng, Bulukumba, Sengkang, hingga Sumatera, tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Ia membawanya kembali ke tengah masyarakat melalui pengajian, masjid, madrasah, organisasi, serta pertolongan kepada warga.
Ia menjalani laku pengabdian itu hingga akhir hayatnya. Babba Usu wafat di Bissampole, sementara jasadnya dimakamkan di kebunnya, Ereng-Ereng. Jejaknya tertinggal di kedua tempat tersebut, dalam bangunan keagamaan, kegiatan pendidikan, ingatan orang-orang tua, serta cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Begitulah seorang kiyai kampung bekerja: hadir ketika dibutuhkan, mengajar ketika masyarakat memerlukan ilmu, dan ikut membangun ruang kehidupan keagamaan bersama warga.
Babba Usu menjadi salah satu mata rantai Panrita Tallua ri Bissampole, seorang pencari ilmu, pulang untuk mengabdi dan menjadikan kedekatan sebagai jalan dakwah.
Warisan Babba Usu tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga jejak nyata dalam kehidupan masyarakat yang pernah dilayaninya.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply