Malam baru saja menjelang ketika sebuah pesan WhatsApp masuk dari seorang teman. Ia bertanya, di mana bisa mendapatkan kisah Hind Rajab secara lengkap.
Seketika, saya tertarik dengan pertanyaannya.
Dengan antusias, saya menjawab, “Nanti saya undang saat kami mengadakan nonton bareng (nobar) film tersebut.”
“Hmmm… cuma begini, saya butuh sekarang. Karena lusa, hari Minggu, saya ikut join acara Kalla Run khusus anak-anak dengan jarak 2 km. Sengaja saya ambil jalur itu karena ingin mendedikasikannya untuk Hind Rajab dan semua anak-anak di Gaza.”
Saya tertegun sejenak membaca alasannya. Ada sesuatu yang menyentuh dari niat sederhana itu. Lalu, saya mengirimkan beberapa tautan bacaan yang sekiranya bisa memperkaya pengetahuannya tentang sosok Hind Rajab.
Keesokan harinya, muncul keinginan untuk hadir pada kegiatan tersebut. Masih ada waktu sehari untuk berpikir dan menimbang. Malam harinya, saya masih setengah-setengah memutuskan apakah akan datang atau tidak. Saya menunggu intuisi memberi arah. Belum berani menjanjikan apa-apa.
Meski begitu, saya tetap memasang alarm untuk bangun pukul 05.00 pagi, padahal malam itu saya tidur cukup larut, hampir pukul satu dini hari.
Saya tahu, ketika niat belum benar-benar kuat, selalu ada alasan yang bisa digunakan untuk membatalkan sesuatu. Namun, entah mengapa, pagi itu saya memilih tetap bangun dan berangkat.
Acara dijadwalkan mulai pukul 06.00 pagi. Ternyata, para peserta benar-benar tepat waktu. Ketika saya masih di perjalanan, para runners sudah mulai berlari.
Saya terlambat sekitar 15 menit. Sesuatu yang tidak biasa, karena saya termasuk orang yang terbiasa datang tepat waktu.
Pertimbangan saya, toh saya hanya akan hadir sebagai penonton. Tidak ada peran khusus yang harus saya jalankan di sana. Namun, ketika sampai di lokasi, semua peserta sudah meninggalkan tempat. Akhirnya, saya memutuskan menunggu di pertengahan jalan. Siapa tahu nanti bisa mengikuti teman yang menjadi peserta.
Lucunya, saya bahkan belum pernah bertemu dengannya. Wajahnya pun sama sekali tidak saya kenal.
Ah, lihat saja nanti siapa di antara para pelari itu yang membawa poster, pikir saya.
Benar saja. Tidak lama berdiri di pinggir jalan, dari kejauhan saya melihat seseorang berlari sambil membawa poster Hind Rajab.
Saya segera merekamnya sebentar, lalu ikut berlari-lari kecil di sampingnya. Tentu saja sambil mengobrol.
Belum jauh kami berlari, suara orang-orang mulai terdengar bersahutan. Garis finish sudah terlihat. Kami hampir sampai.
Sementara itu, kedua tungkai saya mulai terasa pegal. Bagaimana tidak? Saya sama sekali belum melakukan pemanasan, tetapi tiba-tiba sudah ikut berlari.
Menjelang garis akhir, beberapa fotografer terlihat sibuk mengabadikan para peserta. Karena berlari bersisian dengan teman saya, tentu saja saya ikut masuk ke dalam bidikan kamera mereka.
Padahal, saya tidak mengenakan jersey pelari, apalagi nomor peserta.
Dalam pikiran saya, acara ini mungkin sekadar kegiatan untuk bersenang-senang dan mempererat keakraban antarkeluarga pegawai perusahaan. Siapa pun boleh mengajak anggota keluarga atau teman untuk ikut meramaikan suasana.
Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian saya.
Pada tikungan terakhir menjelang garis finish, jalur para pelari mulai diapit pagar di sisi kanan dan kiri. Saya masih asyik mengikuti langkah teman yang terus berlari, meskipun napas mulai terdengar sedikit tersengal.
Menjelang garis akhir, seorang petugas menghampiri saya.
“Mau ke mana, Bu?”
Mungkin ia mengira saya warga sekitar yang tiba-tiba masuk ke lintasan dan hendak menyeberang.
Saya menjawab singkat, “Saya ikut teman,” sambil menunjuk ke depan.
Dan begitulah, tanpa rencana, saya ikut tiba di garis finish bersama pelari lainnya. Lebih tepatnya terbawa arus.
Medali ini untukmu, Hind
Setelah menyelesaikan lari, para peserta berbaris rapi. Mereka akan menerima bingkisan dan medali sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.
Saya menunggu tidak jauh dari barisan tersebut.
Satu per satu peserta menerima minuman, buah, dan makanan ringan. Di meja paling akhir, mereka mendapatkan medali finisher.
Sampai kemudian, ada satu momen haru yang sangat menyentuh.
Saat menerima medali, teman saya menempelkannya di depan gambar wajah Hind Rajab yang terpampang pada poster yang dibawanya.
Lalu, ia berucap pelan, “Medali ini untukmu, Hind.”
Sebuah medali yang secara fisik diberikan kepada seorang pelari. Tetapi pagi itu, medali tersebut seolah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tanda bahwa seseorang telah mencapai garis akhir.
Ada nama seorang anak kecil di baliknya. Seraut wajah yang mengingatkan kita pada kehidupan-kehidupan yang terenggut di Gaza. Di mana anak-anak seharusnya berlari untuk bermain, tumbuh, dan meraih cita-cita, bukan menjadi bagian dari kisah kehilangan dan penderitaan.
Pagi itu, saya datang tanpa rencana yang benar-benar matang. Bahkan, awalnya saya hanya berniat menjadi penonton. Namun, sebuah pesan sederhana dari seorang teman membawa saya pada pengalaman yang tak saya duga sebelumnya.
Barangkali, begitulah cara empati bekerja. Berawal dari sebuah percakapan singkat dan keputusan kecil untuk hadir.
Pagi itu, sebuah medali mengingatkan saya bahwa di tengah dunia yang terus bergerak, kita tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mengingat.
Mengingat Hind Rajab.
Mengingat anak-anak Gaza.
Dan mengingat bahwa di balik setiap nama, ada kehidupan yang layak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, bermain, dan merasakan masa kecilnya dengan aman.
Medali itu mungkin telah sampai di tangan seorang pelari. Tetapi makna yang ingin disampaikannya jauh melampaui garis finish.

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply