Sebuah jelaga hendak menebar dan membuat akar baru, padahal itu membawa petaka pada sebuah telaga yang dibangun di tengah sejarah panjang yang mereka dan sebagian orang-orang tidak tahu.
Kabut pekat seakan merekam jejak, menguatkan, melebur untuk menyatakan bahwa akar telah dipenuhi jelaga yang merusak. Membunuh pokok yang menjadi batang diri sebuah keadaban dan kultur yang mengikat menjadi harmoni selama ini.
Di ruang itulah jejak sejarah hadir mengingatkan saya tentang bagaimana akar itu tumbuh, dirawat, dijaga, terjewantah. Sepeka yang hadir, sebuah tangis sejarah menguatkan untuk tetap pada barisan dan warisan tetuah.
Lalu peradaban baru datang, menenteng kitab-kitab pembenaran yang menghasut. Membawa nampan perubahan dengan isi kue terlihat lezat, namun ternyata sebagian mengira itu hidangan istimewa, padahal rasanya pekat, pukat jebakan.
Bagaimana bisa menjaga akar, sementara sering kualami sekat di antara pengertian, perilaku, peristiwa, dan tindakan manusia yang melupakan akarnya sendiri. Bahkan merusak pokok dengan menebas-nebas.
Saya terkecoh mengira bahwa ini adalah akar, ini budaya, tetapi saya kadang masih keliru, masih butuh mengolah rasa, jiwa, dengan riasan manusia, yang masih suka bersolek, menapikan akar, berharap merangkul peradaban!?
Berusaha tetap menjaga setiap fenomena budaya yang kini menghadapi tantangannya
sendiri.
Dihiasilah proses manusia. Berkontemplasi di tengah gejolak, serta di setiap sudut simpang zaman akan menghadapi dinamika atas nama keberagaman. Tapi itu tipu daya.
Mencoba mengurainya. Ketika etika dikandangi oleh karena merasa paling berbudaya, atau kadang kita lalai pada satu sentimeter saja, maka akibatnya kebablasan. Sebab setiap detik adalah nilai. Salah pecah kau dicacah, salah langkah kau akan “ditenta” (dihadang).
Etika budaya sering kali dipahami sekadar sebagai kumpulan tradisi atau aturan adat warisan nenek moyang. Namun, jika ditelaah lebih dalam, etika budaya adalah kompas moral yang menuntun masyarakat untuk bersikap santun, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan hidup bersama.
Di tengah gempuran setiap penjuru zaman, eksistensi etika budaya menghadapi tantangan besar yang menuntut kesadaran kita untuk kembali merenunginya.
Hari itu bagi saya sejarah pula, secara naluri, mentalitas, serta identitas pada peran kualitas, bukan sekadar jadi permintaan. Tetapi melebur masuk dengan totalitas.
Kesadaran ini mulai didera habitus dan situs baru manusia, seolah saya sudah berbudaya dan telah menjaga akar dari lintasan pemikiran, yang harus lebih di-update, dirias dan membiasakan mendaras.
Kadang masih ada pertengkaran pada pikiran ini tentang makna dan peran etika budaya itu sendiri.
Etika budaya lahir dari pergulatan panjang masyarakat dengan alam, sejarah, dan sistem sosialnya. Mengajarkan bagaimana manusia harus bertutur kata, bersikap kepada yang lebih tua, bergotong royong, serta menjaga keseimbangan dengan lingkungan (seperti filosofi Subak di Bali atau nilai sipakatau di Sulawesi).
Nilai-nilai ini bukan sekadar formalitas adat, melainkan “lem perekat sosial” yang merekatkan solidaritas dan mencegah terjadinya disintegrasi di dalam komunitas.
Sebuah laman menegurku seketika, mencakapkan tentang bagaimana sisi lain budaya itu berintegrasi di tengah setiap pergolakan peristiwa manusia itu sendiri.
Kutelusuri kembali, menemaniku di tengah gundah, bagai terkoyak dan tersingkir di halaman, rumah sendiri, bercampur gerai amarah, tapi masih terkontrol.
Dalam pandangan sosiologis, etika budaya juga menjadi filter alami bagi masuknya nilai-nilai luar.
Sejauh mana pentingnya itu semua? Sementara kadang juga secara naluri kubiarkan cara pandangku itu mencoba membantah beberapa teori, pengertian etika itu sendiri.
Kata sebagian pendapat: etika budaya adalah seperangkat nilai, norma, dan kebiasaan yang hidup dalam suatu masyarakat untuk menuntun perilaku manusia agar sesuai dengan pandangan baik dan buruk yang diakui bersama.
Kadang masih kuanggap ini masih doktrin saja. Agar bisa sedikit beradab katanya.
Padahal akar tidak pernah minta dijaga dengan doktrin. Akar hanya minta untuk kita jujur. Seperti dawai kecapi, mengalun di balik kampung yang dilupakan yang tertimpa kesenjangan.
Tidak juga berteriak paling berbudaya, tidak sibuk merias dan bersolek saja.
Tetapi menyatukan sikap, demi menjaga sebuah akar pokok sekian lama tumbuh sebagai “pa’la’langngang” (tempat berteduh, dengan kesejukan, kedamaian nan khidmat).
Dia mengalun, menyusuri lorong waktu, dan menemukan di antara kita siapa hendak menunduk, atau bersujud dengan jumud selama ingin pengakuan.
Ada letih, tertatih. Membawa diri untuk berusaha menjaga etika, budaya, dan kemuning manusia yang terkadang lupa bahwa ada akar menumbuhkan pokok, ranting, daun, bunga, dan buah.
Menjaga akar mungkin bukan tentang seberapa banyak tradisi yang kita hafal. Tetapi seberapa berani kita mengakui bahwa kita masih keliru, masih butuh mengolah rasa, masih suka bersolek.
Dari pengakuan itulah, peradaban baru bisa dirangkul. Bukan sekadar hadir. Bertarung tempat letih mencari makna kita berlabuh.
Tetiba kalung sakti itu saya taruh, usai menyusuri, berinteraksi, bertamasya di suatu perjalanan. Setelah akar itu mulai terusik dan dibuat rapuh.
Ada harapan di tengah hamparan budaya dan etika baru yang mengubah begitu saja. Detik berlalu, telat sedikit semua akan punah, lalu kita hanya menyaksikan atas nama etika itu berlangsung menelanjangi dan merubuhkan apa yang menjadi akar kita sendiri.
Kemudian saya memilih kembali pulang merunut lagi. Belajar lagi menjaga akar, seperti menjaga museum, walau tidak dipajang, tidak dikunci kaca, tidak sekadar label.
Akar itu liar. Dia tumbuh ke bawah, ke samping, ke tempat yang kadang orang tidak melihatnya.
Mungkin selama ini kita salah menjaga. Kita menjaganya sekadar bersolek, menambah riasan, dengan memburu kalung sakti, dengan doktrin yang masih samar tanpa akar dan nalar yang berkadar.
Padahal akar meminta hanya satu hal. Temani dia dalam gelap. Dengar dawai itu mengalun dari kampung yang kehilangan dari peta bumi, karena ketimpangan sosial dan keadilan dari kesenjangan mendera.
Karena peradaban, bukan tentang siapa yang paling lantang berteriak menjaga. Peradaban siapa yang masih mau duduk, melepas topi kebanggaan “sicidongan“, merasakan bersama, menjaga seperti dulu kita saling merawat kebersamaan, melestarikan tanpa terpaksa dan sekadar.
Sembari mendengarkan kembali “Kelong pappasang” tetua. Kita mulai dalam kesadaran, memahami bahwa di balik akar, dari sekian peradaban yang kita abaikan selama ini. Ada sebuah peradaban yang merangkul, menjaga kita sampai saat ini.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply