Masjid Agung Syekh Abdul Gani: Peradaban Bissampole yang Harus Dijaga

Ketika Jamaah Meminta Musyawarah, Bukan Sekadar Penjelasan

Ada sesuatu yang mungkin perlu kita renungkan bersama tentang apa yang sedang terjadi di Masjid Agung Syekh Abdul Gani.

Ini bukan semata-mata soal siapa yang menjadi pengurus masjid. Bukan pula sekadar soal berapa jumlah pengurus yang dianggap perlu atau tidak perlu.

Ada sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana kita memperlakukan sebuah masjid yang sudah begitu lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bissampole.

Selasa, 6 Oktober 2026, Forum Jamaah Masjid Agung Syekh Abdul Gani bersama warga Bissampole akhirnya menyampaikan aspirasi mereka di hadapan Ketua dan anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bantaeng.

Mereka datang bukan untuk membuat keributan. Mereka datang membawa kegelisahan.

Ada pertanyaan yang selama ini belum memperoleh jawaban yang memadai. Mengapa terjadi perombakan dan perampingan kepengurusan masjid? Mengapa pengurus lama tidak dilibatkan? Mengapa jamaah yang selama ini hidup bersama masjid tidak diajak bermusyawarah? Pertanyaan itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia tidak boleh dianggap remeh.

Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan rekomendasi agar segera dilaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan menghadirkan pihak-pihak yang berkepentingan.
Bagi jamaah, ini tentu sebuah langkah maju.  Bukan karena mereka ingin memenangkan pertarungan.Tetapi karena mereka akhirnya mendapatkan ruang untuk didengar.
Dan mungkin, inilah inti persoalannya sejak awal: jamaah hanya ingin didengar.

Jangan Perlakukan Masjid Seperti Sekadar Sebuah Kantor

Kita bisa mengganti kepala dinas. Kita bisa merotasi pejabat. Kita bisa mengubah struktur organisasi pemerintahan. Tetapi masjid memiliki sejarah yang berbeda. Masjid tumbuh bersama masyarakat.

Ada orang-orang yang mungkin sudah puluhan tahun mengurusnya tanpa pernah berpikir tentang jabatan. Mereka datang ketika masjid membutuhkan tenaga. Mereka membersihkan, mengurus kegiatan, menghidupkan pengajian, menghubungi jamaah, mengurus jenazah, mengumpulkan zakat dan sedekah, dan melakukan banyak hal yang mungkin tidak pernah masuk dalam laporan administrasi. Mereka bekerja karena merasa itu rumah mereka. Rumah umat.

Karena itu, ketika struktur kepengurusan masjid diubah secara sepihak tanpa melibatkan mereka yang selama ini berada di dalamnya, wajar kalau muncul pertanyaan. Bukan karena mereka tidak menerima perubahan. Tetapi karena mereka merasa tidak diajak bicara. Di sinilah persoalannya.

Perubahan tidak selalu salah. Perampingan tidak selalu salah. Evaluasi juga bukan sesuatu yang harus ditolak. Tetapi cara melakukan perubahan juga penting.

Sebab keputusan yang baik sekalipun bisa terasa tidak baik apabila prosesnya mengabaikan orang-orang yang terdampak oleh keputusan tersebut.

Pancasila Tidak Berhenti di Dinding Kantor

Kita sering mengucapkan Pancasila. Kita menghafal sila-silanya. Tetapi sesungguhnya Pancasila baru berarti ketika nilai-nilainya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Sila keempat mengajarkan kita tentang permusyawaratan dan perwakilan.

Maka ketika menyangkut rumah ibadah yang hidup di tengah masyarakat, mengapa musyawarah justru terasa seperti sesuatu yang sulit dilakukan?

Bukankah duduk bersama jauh lebih baik daripada membiarkan prasangka tumbuh? Bukankah menjelaskan jauh lebih baik daripada membiarkan orang bertanya-tanya?

Dan bukankah mendengarkan jauh lebih mulia daripada merasa paling berhak menentukan?

Saya kira tidak ada pihak yang akan kehilangan wibawa hanya karena mau duduk bersama jamaah. Justru sebaliknya. Kekuasaan akan terlihat lebih kuat ketika ia bersedia mendengarkan.

Masjid Agung Syekh Abdul Gani adalah Peradaban Bissampole

Bagi orang yang hanya melihat dari luar, Masjid Agung Syekh Abdul Gani mungkin hanyalah sebuah bangunan. Tetapi bagi warga Bissampole, ia lebih dari itu.

Di sana ada cerita tentang orang tua kita. Ada anak-anak yang dahulu belajar mengaji. Ada orang-orang yang bertemu setiap hari. Ada suara azan yang menemani kehidupan kampung.


Ada pengajian, salat berjamaah, peringatan hari besar Islam, kegiatan sosial dan berbagai tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu saya kira tidak berlebihan jika kita mengatakan: Masjid Agung Syekh Abdul Gani adalah bagian dari peradaban Bissampole.

Peradaban tidak selalu dibangun oleh gedung-gedung tinggi. Kadang ia dibangun dari kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Orang tua mengajak anaknya ke masjid. Guru mengajarkan anak-anak mengaji. Tetangga saling menyapa setelah salat.


Orang yang sedang kesusahan dibantu. Yang meninggal diurus bersama. Yang hidup dirawat persaudaraannya. Itulah peradaban.


Dan masjid menjadi salah satu tempat peradaban itu tumbuh.

“Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya”

Ada penggalan lagu Indonesia Raya yang menurut saya sangat relevan untuk kita renungkan: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”

Kita tentu bangga kalau Masjid Agung Syekh Abdul Gani berdiri megah. Tetapi pembangunan masjid jangan berhenti pada bangunannya. Masjid juga harus membangun jiwa jamaahnya. Jiwa yang tenang. Jiwa yang merasa dihargai. Jiwa yang merasa memiliki.

Jiwa yang tidak merasa terusir dari rumah ibadahnya sendiri hanya karena ada perubahan dalam pengelolaan. Kita ingin masjid yang megah.  Tetapi kita juga ingin jamaah yang bahagia berada di dalamnya.

Kita ingin bangunannya indah. Tetapi kita juga ingin hubungan antarjamaah tetap indah.

Dan kalau boleh memilih, saya kira masjid yang sederhana tetapi jamaahnya rukun jauh lebih berharga daripada masjid yang megah tetapi jamaahnya terpecah.

Perjuangan Ini Jangan Kehilangan Adab

Karena itu, saya mengajak jamaah dan warga Bissampole untuk tetap menjaga kepala dingin. Jangan terpancing. Jangan menghujat. Jangan membalas dengan kebencian.

Kita tidak sedang mencari musuh. Kita sedang mencari kebenaran. Kita tidak sedang mempertahankan sebuah jabatan.

Kita sedang mempertahankan sebuah nilai. Nilai bahwa setiap perubahan yang menyangkut kepentingan bersama sebaiknya dibicarakan bersama.  Nilai bahwa jamaah punya hak untuk didengar. Nilai bahwa masjid adalah rumah umat. Dan nilai bahwa tradisi baik yang diwariskan para pendahulu tidak boleh begitu saja diputus hanya karena sebuah keputusan administratif.

RDP yang akan dilaksanakan nanti harus menjadi tempat semua pihak berbicara secara terbuka. Yang merasa punya kewenangan silakan menjelaskan kewenangannya. Yang membuat keputusan silakan menjelaskan alasannya.  Yang selama ini mengurus masjid silakan menyampaikan pengalamannya. Dan jamaah silakan menyampaikan kegelisahannya.

Setelah semuanya didengar, mari kita mencari jalan terbaik. Bukan jalan yang memenangkan satu pihak. Tetapi jalan yang membuat semua pihak bisa pulang dengan hati yang lebih tenang.

Jangan Wariskan Masjid yang Hanya Megah

Pada akhirnya, kita akan meninggalkan dunia ini. Pengurus akan berganti. Pejabat akan berganti. Pemerintahan akan berganti. Tetapi Masjid Agung Syekh Abdul Gani akan tetap berdiri.

Pertanyaannya adalah: apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?

Apakah hanya sebuah masjid yang megah?

Ataukah juga sebuah tradisi bahwa masjid adalah rumah bersama, tempat orang belajar menghargai perbedaan, bermusyawarah dan menjaga persaudaraan?

Saya berharap yang kedua. Sebab perjuangan jamaah dan warga Bissampole hari ini bukanlah perjuangan untuk masa lalu. Ini justru perjuangan untuk masa depan.

Agar anak-anak kita kelak tidak hanya melihat masjid yang megah, tetapi juga mengetahui bahwa pernah ada orang-orang sebelum mereka yang bersungguh-sungguh menjaga kehormatan rumah umat ini.

Mereka mungkin tidak mengingat nama kita. Tidak masalah. Yang penting mereka masih menemukan tradisi yang baik. Masih menemukan jamaah yang rukun. Masih menemukan ruang untuk beribadah dan beramaliah dengan tenang. Dan masih menemukan semangat musyawarah yang menjadi salah satu jati diri bangsa ini.

Masjid Agung Syekh Abdul Gani bukan milik satu orang. Bukan milik satu kelompok. Bukan pula sekadar urusan administrasi pemerintahan.
Ia adalah rumah umat. Ia adalah bagian dari sejarah. Ia adalah warisan para pendahulu.

Dan bagi warga Bissampole, ia adalah bagian dari peradaban yang harus dijaga.

Mari kita jaga dengan hati.
Kita perjuangkan dengan adab.
Dan kita selesaikan dengan musyawarah.

Sebab masjid seharusnya menyatukan kita. Bukan memisahkan. Dan Bissampole tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Bissampole hanya ingin rumahnya tetap menjadi rumah bersama.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *