Rumah yang tidak Mengajarkan Kami Mendobrak Etika

Ketika sejarah mulai diubah dan dilupakan oleh sebuah komunal yang ingin mengubah tatanan, kultur, sosial yang melekat sejak di rahim. Gejala itu bergejolak ketika sebuah komunal yang menjaga selama ini, tiba-tiba tersingkirkan dengan alasan tidak jelas.

Agenda yang terselip atas nama kesucian, menghapus jejak sejarah yang telah mendarah daging, lalu memaksakan dan membangun sejarah baru.

Maka ini bisa menjadi konflik sebuah komunal dan luka sosial, secara kuat telah ada sebelum mereka hadir dengan mengatasnamakan kebenaran baru pula.

Fenomena ini terjaring apik dengan menyusup melesap. Lalu merangkai bunga surga, aroma kasturi, tetapi menebar duri.

Dalih evaluasi. Merawat kemaslahatan, atau kemuslihatan?

Aku mulai menelaah, membaca dan menganalisis apakah ini faktor-faktor utama penyebab terjadinya konflik sosial di dalam masyarakat, dengan indikator seperti:

Perbedaan pendirian, perasaan, atau pendirian tiap orang. Perbedaan kebudayaan, sistem nilai dan norma budaya yang dianut kelompok yang telah melekat erat.

Atau ini telah merambat dan benalu dengan membenturkan kepentingan? Sosial politik, atau sosial antarpihak. Di tengah kesenjangan yang kian kompleks.

Tapi ini mulai merambat menyadur menunduk, bertameng atas nama agama.

Dulu masa kecil, saat mengenal cara berkomunikasi, kami diajari cara etika dalam sebuah hubungan sosial, agama dan budaya.

Saat sajadah digelar, tahlil dibaca penuh khidmat, orang tua mengaji dengan logatnya sendiri. Dan cara para tetua dulu merawat tradisi. Tanpa merasa paling suci.

Lalu datang alur-alur baru, yang seolah memahami agama lebih benar, tetapi disokong segala kepentingan. Membawa dalil baru, membawa kunci surga.

Katanya merawat rahmatan lil alamin. Tetapi kutemukan yang dirawat adalah golongannya sendiri.

Lalu hari ini aku diperhadapkan peristiwa yang tertulis di setiap zaman.

Ruh itu masih ada mengaminkan kami. Sebagai saksi dengan riasan warisan tetuah dulu. Tempat kami berteduh sebagai “pa’la’langngang“. Tiba-tiba hadir panitia surga mencabik-cabik tanpa “pattabe“.

Budaya, agama tidak sedemikian itu. Dia mengikat satu sama lainnya tentang nilai, etika kemanusiaan.

Di tempat Ruh yang mengaminkan umat. Tidak pernah mengajarkan kami merampas, menerabas nilai, di sana mengajarkan kami kesantunan dalam tuntunan tradisi yang kini mulai tidak dianggap bukan “kaum”.

Kami diajari tata krama, sebelum masuk mengetuk pintu. Lalu datang dengan membawa kain muamalah, namun membangun konflik komunal.

Luka sosial. Kedamaian keberagaman terusik, dari mereka yang terlalu berisik, menganggap kami salah kiblat.

Padahal mereka hadir sesuai pesanan. Bukan keimanan.

Lalu apakah ini ajaran surgawi, dengan kebiasaan mengobrak-abrik?

Kami diajari bertahan dengan cara paling tua: Masih tetap menggelar sajadah, pada setiap persoalan sepele hanya dengan rakaat. Dalihnya atas nama demokrasi, tetapi itu ilustrasi untuk sebuah cara masuk memprovokasi umat.

Kami juga diajari dengan tidak melibas soal tuntunan yang sesama penganut imami. Sebab kami diberi kemapanan jiwa, batin, secara spiritual bukan dengan cara brutal membabat yang tetua kami wariskan.

“Keimanan bukan terlihat dari dahi, serta berapa rakaat yang menjadi debat penuh kesumat.”

Tapi Ruh yang selalu mengaminkan kami tidak pernah pergi. Dia masih bersama dengan sajadah tradisi yang dia jaga, di antara adab yang tidak pernah merasa paling surga dan mulia.

Beberapa menit kujeda. Mulai paham. Tetap tabayun. Menyusuri menelaah aku menemukan “hak baru”. Hak yang mereka karang sendiri untuk menguasai sebuah tatanan yang berabad telah terbangun.

Ya. Istilah ini lebih ringan kutepatkan di narasi ini: “Menciptakan hak baru”.

Hak untuk mengevaluasi keimanan orang lain. Hak untuk menentukan siapa kaum dan siapa bukan kaum. Hak untuk menghapus logat mengaji orang tua kami, dengan alasan pemurnian.

Padahal hak yang diajarkan tetua kami dulu hanya satu: hak untuk saling menjaga. Sipakatau, appakatau. Memanusiakan, memuliakan, dan saling mengingatkan dengan adab, bukan dengan sengaja menciptakan palu konflik.

Hak baru itu tidak lahir dari sajadah. Ia lahir dari kepentingan. Dari kursi. Dari daftar nama yang ingin terlihat paling berhak atas surga.

Dan dengan hak baru itulah mereka merasa sah mengobrak-abrik tatanan. Bukan karena lebih benar, tapi karena dengan hak baru, mereka bisa bilang: “mulai hari ini, yang lama tidak berlaku.”

Cara mereka membujuk, membuatmu merajuk. Lalu takluk. Lupa bertaklik. Ini trik, intrik yang kadang kita tidak bisa membaca.

Cara mereka membujuk, membuatmu merajuk. Takluk. Lupa bertaklik. Ini intrik yang kadang kita tidak bisa duga telah masuk jebakannya.

Bukan dakwah, itu menurut analisaku. Ini dramaturgi, menghiasinya dengan pola depan, tengah dan belakang. Kita terselip dan tersalip tanpa kita sadari.

Bukankah jauh hari kita sering cakapkan. Di warung kopi, di beranda rumah saat silaturahim itu terjaga selama ini, di sela tahlilan. Hanya saja mungkin belum pada “kesadaran”. Untuk membaca tanda-tanda itu.

“Kita pikir itu evaluasi, itu invasi yang dibungkus adab.”

Teriba saya teringat sebuah tulisan A.A. Navis di tahun 1955. Ceritanya sederhana, tapi tamparannya abadi. “Robohnya Surau Kami”.

Surau itu roboh. Bukan karena gempa. Tapi karena sudah kehilangan ruh sosialnya. Ibadah yang hanya menghitung rakaat, tapi tidak menghitung perut lapar di sebelahnya. Kepentingannya lebih dominan.

Apa bedanya dengan yang terjadi akhir-akhir ini?

Surau itu kemudian dirobohkan oleh “panitia surga” yang baru datang. Mereka tidak merobohkan dindingnya, tapi merobohkan adabnya.

Navis mengkritik orang saleh yang hanya jago beribadah. Lupa etika manusia.

“Robohnya Surau Kami” bukan lagi cerpen. Kini menjadi seperti berita harian. Surau tidak roboh karena atapnya bocor. Surau roboh karena adab pattabe-nya dicabut. Karena sajadah yang dulu digelar untuk menampung, kini digelar untuk menyingkirkan.

Dan seperti kata Navis: Tuhan tidak butuh hitungan rakaatmu jika kau lupa cara mengetuk dan menyayangi sesamamu.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *