Puang Hami

Ada tokoh yang dikenang bukan karena namanya terpahat pada banyak tempat, melainkan karena jejaknya menetap, dalam ingatan orang-orang yang pernah berjumpa dengannya. Cerita demi cerita saling menumpuk menjadi legenda.

Begitulah yang menghidu saya, sejak mulai bisa mengingat dengan benderang, hingga duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1978. Nama Puang Hami (K.H. Abdul Hamid) sering menghiasi alam pikiran saya, sebab kerap diceritakan oleh amma dan abba saya, juga oleh beberapa tetua di Bissampole.

Di usia SMP, sebuah momen tanpa direncanakan menyata. Kala hari raya Iduladha, saya disunat. Hari itu Puang Hami tiba-tiba datang, mungkin sekadar bersilaturahmi di hari lebaran. Kedatangannya membuat kedua orang tua saya amat haru dan bahagia. Sudah lama Puang Hami tidak mengunjungi Bissampole.

Usai melepas rindu, Puang Hami pamit. Namun, air minum masih tersisa di gelasnya. Spontan saya disuruh meminumnya sebagai barakka’na Puang. Sebelumnya, saya memang sudah didoakan oleh beliau. Momen sederhana itu hingga kini tinggal dalam ingatan. Itulah perjumpaan pertama sekaligus terakhir saya dengan Puang Hami.

KH. Abdul Hamid Karim merupakan salah seorang ulama, memiliki jejak penting dalam perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Bantaeng, khususnya Bissampole dan Banyorang. Ia dikenal sebagai ulama yang mengembangkan tradisi mangngaji tudang, baik di Bantaeng maupun di sejumlah daerah lain di Sulawesi Selatan.

Mengenai tempat dan tahun kelahirannya terdapat beberapa versi. Menurut penuturan dari lingkungan keluarga, beliau lahir di Pulau Saugi, sekarang termasuk wilayah Desa Mattiri Baji, Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkep, sekitar tahun 1900. Versi lain menyebutkan 1909. Keterangan terakhir, antara lain terdapat dalam buku Pangngaji Salemo, meski validitasnya masih perlu ditelusuri.

Ayahnya, H. Abdul Karim, berasal dari Labakkang, Pangkep, sedangkan ibunya Hj. Suhrah. Sekitar 1919, Abdul Hamid dibawa ayahnya ke Pulau Salemo dan tinggal di rumah pamannya, Puang Lanti. Salemo kemudian menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan intelektual dan keagamaannya.

Ketika berusia sekitar lima belas tahun, ia dibawa ke Tanah Suci untuk memperdalam ilmu agama. Di Makkah, ia tinggal di rumah pamannya, KH. Abdul Asis Al-Bugisi, yang telah lama bermukim di sana. Setelah kembali sekitar 1929, Abdul Hamid melanjutkan aktivitas mangngaji tudang di Pangkep dan kembali ke Salemo, untuk memperdalam ilmu kepada sejumlah ulama, antara lain Puang Walli, KH. Abdul Rasyid, dan Syekh Abdul Yaman.

Perjalanan keilmuan itu kemudian membawanya ke Bantaeng. Mengenai waktu kedatangannya terdapat beberapa versi. Di Bissampole sekitar pertengahan 1950-an. Di Banyorang, antara pertengahan 1960-an dan awal 1970-an. Di Bantaeng ia menikah beberapa kali dengan perempuan setempat dan dikaruniai sejumlah putra dan putri.

Meski menetap di Bantaeng, aktivitas keilmuan Puang Hami terus bergerak. Ia menjalankan mangngaji tudang di sejumlah tempat, antara lain Madalle, Segeri, Banyorang, Bissampole hingga Jeneponto. Di Bissampole dan Banyorang ia mengajarkan kitab-kitab keislaman, antara lain Shahih Bukhari dan Fathul Mu’in. Dalam menjelaskan isi kitab, ia menggunakan bahasa Konjo sehingga pengajaran agama terasa dekat dengan kehidupan jamaah.

Aktivitas mangngaji tudang juga berlangsung di Masjid Al-Mubaraat Bissampole dan Masjid Nurul Muttaqin, Ra’ra, Kelurahan Banyorang, yang berada di depan rumah tempat tinggalnya. Kedua masjid tersebut dibangun oleh Puang Hami bersama masyarakat setempat dan kemudian menjadi salah satu ruang penting, bagi berlangsungnya pengajaran agama.

Namun, Puang Hami bukan hanya seorang pengajar kitab. Ia memiliki karakter pemberani dalam menegakkan dakwah. Tegas dalam menyampaikan ajaran, bahkan tak segan menantang masyarakat bila ada yang berani melawannya. “Tunggu saya di luar masjid,” begitu katanya bila merasa perlu berhadapan langsung dengan orang yang menentang dakwahnya. Karena itu, ketika memberikan pengajian atau berdakwah di tempat lain, ia kerap berbekal badik di pinggangnya.

Badik itu perlu dibaca dalam konteks masyarakat tempat ia hidup. Dakwah tidak selalu berlangsung dalam ruang teduh. Pada zamannya, seorang panrita mesti hadir dengan keberanian yang dapat dibaca langsung oleh masyarakat. Badik di pinggang menjadi bagian dari citra keberanian seorang ulama di tengah lingkungan sosialnya.

Ketegasan itu berjalan beriringan dengan pengetahuan bercorak batin. Puang Hami dikenal memiliki ilmu-ilmu bernuansa sufistik. Keberislaman yang didakwahkannya tidak semata menyentuh tata laku lahiriah, melainkan juga dimensi batin.

“Loe baca-bacana Puang Hami.”

Begitu masyarakat menggambarkan kemampuan doa dan baca-baca Puang Hami. Banyak cerita beredar mengenai doa-doanya yang dianggap makbul. Dalam masyarakat yang pada masa itu masih kuat mempercayai dunia gaib dan kekuatan doa, kemampuan semacam itu memiliki tempat tersendiri. Panrita dicari ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, ketika penyakit datang, atau ketika membutuhkan doa.

Di luar dakwah dan aktivitas mengajar, Puang Hami juga seorang wirausahawan. Ia memiliki usaha pengolahan kapur untuk bahan bangunan dan berbisnis sapi. Seingat saya, ketika masih duduk di sekolah dasar pada awal 1970-an, saya masih menemukan sisa-sisa tiang tempat penambatan sapi di halaman rumahnya. Rumah abba saya memang berhadapan langsung dengan rumah Puang Hami. Detail kecil itu membuat sosoknya terasa dekat dalam ingatan masa kanak-kanak saya.

Puang Hami hidup di tengah masyarakat, berdagang, berusaha, bergaul, berdakwah, mengajar kitab, menghadapi berbagai tabiat manusia, sekaligus menjaga wibawa sebagai seorang panrita. Pada sosoknya, kehidupan keagamaan berkelindan dengan kehidupan sehari-hari.

KH. Abdul Hamid wafat di Banyorang pada 2 Januari 2001. Sewaktu wafat, saya hanya mendengar kabarnya beberapa waktu kemudian. Saat itu saya sudah mukim di Makassar sejak mulai kuliah pada 1985. Belakangan, ketika intens bolak-balik Makassar–Bantaeng sebagai pegiat literasi, hasrat untuk menorehkan esai tentang berbagai dimensi literasi Bantaeng semakin membuncah, termasuk tentang tokoh-tokohnya.

Beberapa tahun lalu, saya memiliki kebiasaan berziarah ke makam para kiai, termasuk ke makam Puang Hami di Ra’ra, Banyorang. Suatu ketika saya mengajak kakak pindu‘ (sepupu dua kali) yang tinggal di Banyorang, untuk menemani ziarah. Semasa hidup Puang Hami, ia termasuk murid yang tekun mengikuti pengajiannya.

Dari kakak pindu‘ itulah saya memperoleh cerita tentang hari-hari terakhir Puang Hami. Menjelang wafatnya, ia berwasiat agar imam salat jenazahnya dipercayakan kepada K.H. Yusuf Sulaemana.

Amanah itu kemudian ditunaikan. K.H. Yusuf Sulaemana dijemput dari mukimnya di Bissampole. Sang penjemput bertutur lirih, “Babba Usu, narapikimi Puang Hami. Nia amanahna Puang. Gitte imam sambayangngi.”

Babba Usu berangkat ke Banyorang, menunaikan amanah sahabatnya. Ia menjadi imam salat jenazah Puang Hami. Di antara keduanya terdapat ikatan keilmuan dan persahabatan yang terus terjaga, hingga penghujung hayat. Sebuah ikatan rohani dari dua panrita yang pernah menghidu tradisi keagamaan Bissampole.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *