Forum Fikrah Nahdliyyah dan ikhtiar merawat tradisi, menyatukan gagasan, serta merumuskan masa depan NU Bantaeng.
Barangkali NU Bantaeng tidak sedang kekurangan orang. Di dalam jamiyah ini ada ulama, kiai, guru, akademisi, profesional, aktivis, anak muda, penggerak perempuan, pengasuh pesantren, pengurus lembaga, dan kader dari berbagai generasi. Mereka berkhidmat di tempat yang berbeda. Punya pengalaman yang berbeda. Dan tentu saja, melihat persoalan NU dari sudut pandang yang berbeda pula.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan bersama: kalau NU punya begitu banyak kader dan orang-orang hebat, mengapa gagasan mereka belum selalu bertemu dalam satu ruang yang sama?
Pertanyaan itulah yang kemudian membawa kita pada sebuah pertemuan sederhana di Café Alonica, Bantaeng, Sabtu, 3 Oktober 2026. Bukan muktamar. Bukan konferensi besar. Bukan pula pertemuan untuk membuat struktur baru. Hanya duduk bersama. Berbicara. Mendengar. Dan mencoba melihat kembali ke mana NU Bantaeng akan berjalan.
Dari ruang sederhana itulah Forum Fikrah Nahdliyyah (FFN) dilahirkan. Sebuah ruang untuk berpikir sebelum bergerak. Sebuah ikhtiar kecil untuk merawat tradisi, sambil tetap mau membaca perubahan zaman.
FFN memang tidak dimaksudkan menjadi organisasi baru di dalam NU. Ia lebih sebagai ruang bersama untuk membicarakan persoalan, saling bertukar pengalaman, mencari jalan keluar, dan kalau memungkinkan menghasilkan gagasan yang bisa dibawa kembali ke organisasi.
Dan pertemuan pertama kemarin menunjukkan bahwa sebenarnya banyak hal yang ingin dibicarakan. Ada kegelisahan tentang mulai jauhnya sebagian warga dari sejarah dan nilai perjuangan NU. Ada soal kaderisasi dan bagaimana mendekati generasi muda. Ada persoalan pendidikan, pesantren, Banom, MWC, data organisasi, kemandirian ekonomi, literasi media, sampai soal bagaimana NU tetap dekat dengan jamaah. Semua itu bukan persoalan kecil. Tetapi mungkin ada persoalan lain yang lebih mendasar: di mana semua kegelisahan itu bisa dipertemukan?
Selama ini banyak kader NU bekerja dengan niat yang baik. Lembaga menjalankan program. Banom bergerak. Pesantren terus mendidik. Banyak pula warga NU yang punya pengalaman dan pengetahuan. Masalahnya, kadang-kadang kita bekerja sendiri-sendiri. Bukan karena tidak mau bekerja bersama. Mungkin karena memang belum banyak ruang untuk duduk bersama dan membicarakan persoalan secara tenang.
Di sinilah saya kira ruang berpikir menjadi penting. Kita perlu sesekali berhenti dari kesibukan. Bukan berhenti berkhidmat. Tetapi berhenti sebentar untuk bertanya: apakah yang kita lakukan sudah menjawab kebutuhan jamaah? Apakah cara kita mengurus NU masih cocok dengan perubahan zaman? Apakah anak-anak muda masih merasa NU adalah rumahnya? Apakah lembaga dan Banom sudah cukup saling terhubung?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak langsung punya jawaban. Karena itu kita perlu mendengar. Mendengar pengalaman kader. Mendengar suara anak muda. Mendengar pesantren. Mendengar lembaga pendidikan. Bahkan mendengar kritik terhadap NU sendiri.
Menurut saya, tidak ada yang perlu ditakuti dari kritik. Justru dari situlah kita bisa melihat apa yang perlu diperbaiki. Karena itu, FFN jangan sampai hanya menjadi tempat berkumpul dan berbicara. Kalau setiap pertemuan hanya menghasilkan cerita, lalu selesai ketika kita meninggalkan tempat pertemuan, tentu lama-lama orang akan bertanya: lalu apa gunanya?
Maka setiap pertemuan perlu punya satu persoalan yang dibicarakan lebih serius. Dari sana, kalau memang memungkinkan, lahir rekomendasi, tulisan, kajian singkat, atau gagasan yang bisa disampaikan kepada PCNU, lembaga, Banom, atau pihak lain yang berkaitan. Yang paling penting, ada langkah setelahnya. Sederhananya, kita ingin agar apa yang dibicarakan tidak berhenti sebagai pembicaraan.
Ada guru yang punya pengalaman di sekolah. Ada pengurus pesantren yang tahu persoalan santri. Ada anak muda yang punya cara pandang berbeda. Ada pengurus Banom yang punya pengalaman kaderisasi. Ada akademisi dan praktisi yang punya pengetahuan serta pengalaman lapangan.
Kalau semua itu bisa dipertemukan, tentu banyak hal yang bisa kita pelajari. Bukan untuk mencari siapa yang paling pintar. Tetapi supaya kita bisa saling melengkapi. Di situlah fikrah menjadi penting. Berpikir, lalu bergerak. Dan akhirnya, apa yang kita pikirkan benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh jamaah.
Karena itu saya kira semangat FFN cukup sederhana: bertemu dalam fikrah, bersinergi dalam harakah, dan mengabdi melalui amaliyah. Tentu saja tantangannya tidak ringan. FFN bisa saja ramai pada awalnya, lalu perlahan sepi. Banyak forum pernah mengalami hal seperti itu.
Karena itu, keberhasilan FFN jangan diukur dari berapa kali kita bertemu atau berapa banyak orang yang hadir. Yang lebih penting adalah apa yang lahir setelah pertemuan itu. Apakah ada gagasan baru? Apakah ada rekomendasi yang bisa dipakai? Apakah ada program yang diperbaiki? Apakah ada persoalan jamaah yang akhirnya mendapat perhatian? Kalau ada, mungkin forum kecil ini punya arti.
Menariknya, dari pertemuan pertama sudah muncul satu agenda yang layak dibicarakan lebih jauh, yaitu bagaimana membangun kaderisasi NU Bantaeng yang lebih relevan dengan Generasi Z dan tetap terhubung dengan struktur sampai ke jamaah.
Bagi saya, ini penting. Sebab masa depan NU bukan hanya tentang siapa yang menjadi pengurus hari ini. Lebih jauh dari itu, masa depan NU adalah siapa yang akan meneruskan khidmat ini nanti. Karena itu kaderisasi tidak bisa hanya menjadi urusan satu Banom. Kaderisasi adalah urusan bersama. Begitu juga dengan pendidikan, pesantren, literasi media, penguatan jamaah, dan kemandirian organisasi. Semua berkaitan dengan masa depan NU.
FFN mungkin memang baru sebuah langkah kecil. Tetapi organisasi besar juga sering dimulai dari hal-hal kecil: dari kegelisahan, dari percakapan, dari keberanian untuk bertanya. Mungkin pertanyaan kita sekarang bukan lagi, “Apa lagi kegiatan NU yang harus kita lakukan?”
Tetapi:
“Apa yang perlu kita pikirkan bersama agar NU Bantaeng semakin kuat, semakin dekat dengan jamaah, dan tetap menjadi rumah bagi generasi yang akan datang?”
Pertanyaan itu membutuhkan ruang. Ruang untuk berbicara. Ruang untuk berbeda pendapat. Ruang untuk belajar. Ruang untuk menyusun gagasan. Dan yang paling penting, ruang untuk mengubah gagasan menjadi pengabdian.
Sebab NU Bantaeng sebenarnya tidak kekurangan kader. Yang mungkin masih kita butuhkan adalah ruang agar para kader itu bisa duduk bersama, saling mendengar, dan berpikir bersama. Mari kita rawat ruang itu. “Merawat tradisi, merumuskan masa depan.” Sebab khidmat tidak cukup hanya diwariskan. “Khidmat harus terus diperbarui.”

Telah meraih gelar Doktor di bidang Inovasi. Kesehariannya menjadi Konsultan/Praktisi Inovasi Pelayanan Publik. Kini, sebagai Direktur Bonthain Institute. Untuk keperluan konsultasi inovasi, bisa dihubungi pada nomor kontak: +62 852-9924-7191. Paling mutakhir, diberi amanah menjadi Ketua LAKPESDAM NU Cabang Bantaeng.


Leave a Reply