Panrita Tallua ri Bissampole

Mengeja religiusitas masyarakat Bissampole, barangkali seperti menikmati kue lapis. Setiap lapisan menyimpan jejak para panrita, yang pada zamannya ikut membentuk kehidupan keberagamaan masyarakat.

Jejak itu dapat ditemukan melalui makam, masjid, madrasah, rumah para panrita, serta ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Satu lapisan belum selesai dibaca, lapisan lain sudah memperlihatkan jejaknya. Semuanya bertaut dalam bentangan sejarah yang panjang.

Di jantung Bissampole terdapat Kompleks Taman Makam Purbakala La Tenri Ruwa dan Raja-raja Bantaeng dan sekitarnya. Kawasan ini menjadi salah satu penanda penting perjalanan keislaman Bantaeng. La Tenri Ruwa disebut turut menyebarkan Islam di Bantaeng, sementara Karaeng Ma’jombea dikenang sebagai raja yang menerima Islam.

Pada lapisan berikutnya, terdapat makam Syekh Abdul Gani dan Syekh Sayyid Abdullah Al-Hasani, yang juga menandai kehadiran ulama, dalam perkembangan keberagamaan masyarakat setempat.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa keberislaman Bantaeng, termasuk Bissampole, tumbuh melalui proses yang panjang. Ia tidak hadir sekaligus dalam satu masa, melalui satu tokoh, atau hanya dalam satu bentuk kelembagaan.

Para panrita datang pada bentangan zaman masing-masing, berhadapan dengan masyarakat dengan corak kehidupan yang terus berubah. Dari sana terbentuk kesinambungan yang jejaknya masih dapat dirasakan hingga kini.

Lapisan itu terus berlanjut. Sekitar tahun 1950-an, berdiri Masjid Al-Mubaraat sebagai masjid pertama di Tumbel Gani Bissampole. Dalam perjalanan waktu, masjid tersebut kemudian dikenal sebagai Masjid Ruhul Amin.

Di sekitar masjid inilah terdapat tiga panrita, yang kemudian saya sebut Panrita Tallua ri Bissampole: K.H. Abdul Hamid atau Puang Hami, K.H. Yusuf Sulaemana atau Babba Usu, dan K.H. Abd. Djabbar Arafah atau Puang Lompo.

Nama ketiganya saya temukan, ketika mencari tulisan tentang Syekh Abdul Gani, sebagai bahan persiapan lokakarya penulisan biografinya. Lokakarya tersebut merupakan bagian dari rekomendasi seminar yang digelar NU Bantaeng.

Pencarian itu membawa saya pada tulisan Wardiah Hamid, “Geneologi Intelektual Ulama Awal Abad XX di Kabupaten Bulukumba dan Bantaeng Sulawesi Selatan,” dalam Jurnal SMaRT, Volume 05 Nomor 02, Desember 2019.

Informasinya singkat. Namun, bagi saya, informasi singkat itu seperti kejatuhan dalle mandulung. Nama-nama tersebut bukan sesuatu yang asing. Ada cerita terdengar, jejak terlihat, bahkan sebagian pengalaman yang bersentuhan dengan kehidupan Bissampole, sejak masa kanak-kanak. Sebuah informasi akademik yang semula tampak kecil, tiba-tiba bertemu dengan ingatan yang telah lama tersimpan.

Dari simpai ingatan itulah, istilah Panrita Tallua ri Bissampole saya tabalkan. Istilah ini, bukan hendak menggantikan penamaan sejarah yang sudah ada. Ia lebih merupakan cara, untuk membaca kembali sebuah simpul keberagamaan,  selama ini hidup dalam cerita masyarakat, tetapi belum dirangkai sebagai satu kesatuan.

Ketiganya hidup dalam bentangan masyarakat yang belum sepenuhnya meninggalkan kebiasaan lama. Judi, sabung ayam, minum tuak, serta berbagai kepercayaan dan praktik mistis, masih dikenal sebagian masyarakat. Pada ruang sosial yang sama, masjid menjadi tempat pengajian, madrasah tumbuh, anak-anak belajar mengaji, kitab dikaji, dan pendidikan agama berkembang. Kehidupan masyarakat berlangsung dengan segala tarik-menariknya.

Panrita tidak hadir setelah seluruh persoalan sosial selesai. Justru mereka hadir karena persoalan itu memang ada.

Mereka menghidu Bissampole dari dalam. Masjid bukan ruang yang terpisah dari kampung. Madrasah bukan bangunan yang berdiri jauh dari kehidupan sehari-hari. Rumah panrita pun berada di tengah permukiman masyarakat. Dari kedekatan semacam itu, pengetahuan agama, dakwah, pendidikan, dan kehidupan sosial saling bersentuhan.

Puang Hami, Babba Usu, dan Puang Lompo memiliki corak pengabdian masing-masing. Namun, ketiganya bertemu dalam ruang keberagamaan yang sama. Masjid Ruhul Amin menjadi salah satu titik temu penting, sementara lingkungan permukiman dan madrasah, menjadi ruang yang memperluas hubungan mereka dengan masyarakat. Karena itu, Panrita Tallua lebih menarik dibaca sebagai sebuah jaringan kehidupan, daripada sekadar deretan nama.

Bahkan, jejak permukiman mereka seperti membentuk sebuah segitiga. Rumah Puang Hami dan Babba Usu berhadapan, dipisahkan jalan poros menuju Kampung Allu. Rumah Puang Hami sederet dengan rumah Puang Lompo, hanya dipisahkan rumah Haji Nawawi. Rumah tersebut berhadapan dengan Madrasah Tsanawiah Ma’arif Tumbel Gani Bissampole, sementara rumah Babba Usu berada di sebelah madrasah.

Ruang itu memberi gambaran mengenai kedekatan antara masjid, madrasah, rumah panrita, dan masyarakat. Pengajian tidak hanya berlangsung di ruang ibadah, sebagaimana pendidikan agama tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan yang diperoleh dari kitab dan pengajian, menemukan medan pengujiannya dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah keberagamaan berhadapan dengan kenyataan masyarakat.

Ketiganya memiliki karakter, medan pengabdian, dan cara berdakwah yang berbeda. Perbedaan itulah yang kemudian membuat keberagamaan Bissampole bergerak dalam banyak arah. Puang Hami dengan ketegasannya, Babba Usu dengan kedekatannya kepada masyarakat kampung, dan Puang Lompo dengan keluasan wawasan serta ruang dialog yang dibukanya.

Jejak ketiganya kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Sebagian tumbuh menjadi guru agama, ustaz, dan kiyai. Mata rantai tersebut memperlihatkan, bahwa sebuah kehidupan keagamaan dapat bertahan melalui pewarisan pengetahuan, keteladanan, hubungan sosial, serta ingatan kolektif.

Dalam bentangan tersebut, corak keberagamaan Ahlussunnah wal Jamaah dalam tradisi Nahdlatul Ulama, juga menjadi salah satu lapisan penting kehidupan keagamaan Bissampole.

Kini ketiganya telah berpulang. Namun, jejaknya masih tertinggal pada Masjid Ruhul Amin, madrasah, rumah-rumah yang pernah mereka tempati, serta ingatan masyarakat.

Dari jejak-jejak itulah Panrita Tallua ri Bissampole menemukan maknanya: bukan sekadar tiga nama dalam sejarah lokal, melainkan simpul dari sebuah perjalanan keberagamaan yang pernah tumbuh dan berdenyut di jantung Bissampole.



Comments

3 responses to “Panrita Tallua ri Bissampole”

  1. Salman Naba Avatar
    Salman Naba

    Narasi ini bukan sekadar menuliskan sejarah, tetapi sedang menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat Bissampole. Panrita Tallua ri Bissampole bukan hanya tiga sosok yang pernah hadir dan kemudian berpulang, melainkan tiga jejak yang menyatu dengan masjid, madrasah, rumah, tradisi keilmuan, dan kehidupan keberagamaan masyarakat.
    Di sanalah nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam tradisi Nahdlatul Ulama menemukan ruangnya—bukan hanya sebagai paham keagamaan, tetapi sebagai warisan yang hidup dalam perilaku, pendidikan, keteladanan, dan pengabdian.
    Mereka telah tiada, tetapi ilmunya tetap berbicara melalui generasi. Karena sejatinya, orang alim tidak benar-benar meninggalkan tempat yang pernah disentuhnya; ia meninggalkan jejak kebaikan yang terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
    Panrita Tallua ri Bissampole akhirnya bukan sekadar nama dalam sejarah lokal, tetapi menjadi simpul ilmu, tradisi, keteladanan, dan peradaban keislaman Bissampole—warisan yang patut dirawat, dikenang, dan diteruskan.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Terimakasih yang khusyuk atas apresiasinya.

  2. Sulhan Yusuf Avatar
    Sulhan Yusuf

    Terimakasih yang khusyuk atas apresiasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *