Ketika Semua Merasa Pakar

Termasuk kadang aku merasa, padahal sekadar numpang, hanya terdampar, di tengah suasana yang lagi tren akhir-akhir ini. Akademisi dan para pakar lagi bicara membawa perubahan.

Sementara, baru memulai serasa terbang bersama uraian, pengakuan, merasa sudah bisa, lalu aku tenteng ke mana-mana.

Lupa bahwa aku masih terlalu pagi. Serta kemarin sore yang baru mendapat ruang. Lalu kusematkan kalung sakti itu.

Hari ini, aku segera pulang, dan di tengah simpang perjalanan, yang kulihat hanya pertengkaran, kemarahan, kritik yang sekadar taktik untuk sebuah peran, kepakaran serta keilmuan.

Kucegat kendali itu, saat kemudian mulai terasa ada kemungkinan pertengkaran di pikiran-pikiran ini.

Sejumud aku dipaksa sujud dan takluk pada segunung teori, untuk kemudian aku harus menjadi pelayannya.

Mengalah saja cara untuk melerai kemungkinan yang bisa mengembalikanku di sebuah ruang dan panggung yang kuanggap paling meriah. Dan merasa akulah pemenang. Padahal jebakan.
Setiap kali melihat podium, nadiku berdenyut kencang. Mulai terasa mengekang. Meregang, tegang.

Namun yang kusimak, beberapa orang merasa pemenang di atas podium. Berselimut kehangatan seremoni dan dipaksa untuk terukur, teratur, terstruktur.

Podium, seminar, dan upacara adalah kultur yang tidak berkembang gaya dan narasinya. Baju rapi sebagai etika, seragam seakan gambaran kompak, padahal seribu hal kocak dan kekacauan.

Sama seperti ritual upacara tetap begitu, sebagai kultur yang katanya luhur. Padahal banyak pasukan dan barisan kabur berteduh saat upacara berlangsung.

Kutemukan beberapa orang butuh podium, lalu teks diatur, durasi dibatasi. Bahkan jeda napas diatur oleh pendengar yang abal dan asal. Setelah itu acara selesai, podium kosong. Bagai tong berisik penuh sampah.

Gaya dan gestur dipaksa-paksakan. Cara pegang mic, pembuka kata wajib salam, memberi hormat, dalam suara terbata-bata.

Sambil mengutip teori, lempar istilah. Tumpuk nama besar. Ternyata bukan dijelaskan, hanya untuk pamer.

Begitu pula yang sering kudengar tentang istilah akademisi. Terpercaya. Aku terdiam, terpaku sambil tersipu-sipu malu. Lebih didengar, meski yang banyak kutipannya.

Sambil nyemil, aku membaca sebuah peradaban dari sekian situs dan ritual yang membuatku bebal dan mulai nakal.

Kemudian di persialan lain, hanya karena ucapan dan pernyataan terlontar, membuat geger tentang profesor dan para pakar.

Profesor terbawa suasana. Ada yang geram, terbakar amarah di sebuah podcast. Menganggap ini penghinaan.

Tak berselang lama, kegaduhan itu kemudian hening.

Tiba-tiba sekelompok akademisi dan ahli masuk istana, duduk manis, baju antik bermotif rupa-rupa.

Pembuka kata, seorang tuan di istana klarifikasi tentang pernyataannya yang katanya dipelintir. Dengan bujuk rayu maut, ia meminta para ahli yang hadir saat itu agar membantu mencarikan solusi permasalahan negara yang ia pimpin.

Uji nyali dan kompetensi satu per satu, bagai pertunjukan akrobatik dari segala penjuru, adu keahlian, kepintaran, gagasan, ide, dan solusi.

Saya mulai tertarik awalnya, ternyata sama: ada yang bahas istilah sejarah, ada yang berusaha memadamkan dengan ini serta itu, ada yang bersusah payah membangun narasi lengkap data dan pengalaman. Slide ditampilkan. Kepakaran mulai dipamerkan.

Saya menunggu ulasan keilmuan yang bisa membuatku merenung jauh kembali.

Sepeka apa, dan sesensitif apa sains itu mengubah kepakaran? Di tengah agenda ritual yang membawa toga keilmuan hanya menjadi tameng? Saat beberapa pakar merasa terusik oleh sebuah pernyataan, di sisi lain pakar lain berbondong memenuhi undangan.

Begitulah kiranya negeri dan penghuninya kali ini begitu amat sensitif, persoalan gelar bahkan agama semu punya motif. Membawa gerbong di lokomotif yang kaku. Menyerbu dengan serdadu dan muncahan serapah.

Adegan lain di debat kusir, para akademisi kehilangan kendali oleh sesama akademisi yang lain merebut mic, ingin membela, mengklarifikasi tetapi dengan penuh amarah.

Debat membuat kumat secara naluri manusia, kecerdasan dan kepakaran hilang seketika.

Atau karena kecenderungan merasa eksklusif di tengah masyarakat. Aktif tetapi pasif, tidak signifikan secara produktif membangun pengetahuan dengan konstruktif.

Bahkan sebuah gelar justru dibawa sampai ke batu nisan, tertera indah. Ikut terkubur, tertanam, terbenam, tak lagi mendermakan pengetahuan kepada khalayak.

Padahal akademisi sejati, tidak butuh gerbong. Ia hanya butuh pemahaman dengan memaparkan, tidak dengan slogan. Padahal di sisi lain para ahli yang sesungguhnya terdiam, termangu menyaksikan akrobatik kepintaran di negerinya.

Pakar dan akademisi hanya butuh satu cermin kecil untuk dibawa pulang.

Aku pikir kehadiran mereka di istana itu menjadi jawaban atas pernyataan yang membuat para pakar merasa terusik, atau membawa angin segar mengubah kebijakan. Menemukan solusi dari dimensi yang berbeda.

Ternyata sama. Kita masih menonton film dan adegan yang sama.

Aku mulai meraba-raba, kembali otakku menggoda. Menahan ingin “tepuk jidat” tetapi aku didahului “tepuk dada” di sebuah wawancara oleh seorang pakar gegara persoalan satu kata “goblok” itu.

Aku merasa terdera dan diberi candu berserah di sebuah gubuk. Kemudian setiap periode seperti dikode untuk menerima kembali persoalan pelik di negeri ini.

Disuruh duduk manis seperti mereka, mendengar, menyaksikan percakapan yang bagi awam seperti saya tidak mengerti, saat keadilan terancam bedil-bedil yang tengil.

Ketika pakar di-goblok-i, saat pakar kebakar marah, sebagian dijamu.

Kain-kain kritis telah terkoyak. Peziarah ramai menabur bunga tanpa air mata lagi.

Para pelayan menuju tuan, suguhan kue lezat manis. Sementara kami yang awam, hanya disuruh duduk manis, mendengar semua orang merasa pakar.



Comments

One response to “Ketika Semua Merasa Pakar”

  1. Tetap membumi meski ilmu sudah setinggi cakrawala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *