Malam itu sepertinya menemukan sebuah “hikma menghantar”, menuntun membasuhkan cahaya kasih. Tanpa harus memaksakan keinginannya.
Kedua sosok itu menguatkan untuk Andien agar saat menempuh dan ditempa pada prosesnya. Tidaklah semudah apa yang orang menyaksikannya dan melihatnya sekarang.
Tertempa dan belajar oleh kesenjangan, tertulis di garis waktu, dengan realitas, diretas. Tanpa mengabarkan kepada jagad. Sebagai afirmasi.
Wasiat itu tak tertulis, tertera pada jiwa seorang bernama Andien. Begitu melekat.
“Hari ini harus kau hadapi, jangan menunggu esok atau lusa. Buatlah keputusan, menerima konsekuensi pada setiap langkah, pilihan hidup,” pesan itu dijadikan jimat.
Melampaui usianya, pada proses merilis diri. Menyusuri peradabannya dan zamannya menggunakan pisau nalar dengan sains. Tanpa menerjang batas norma.
Saya terdiam beberapa menit ketika Andien menemparkan sesuatu dalam pemahamannya: “Kita dipaksa untuk hitam putih. Sementara kita diperkenalkan warna lain pula.”
Ini memang beda, Andien mampu membedah yang anak atau generasi lain seusianya, belum tentu bisa membaca, memahami dengan cara berpikir seperti itu.
Ada dinamika, ada peristiwa, Andien menjadikan itu sebagai penenun jiwa, mental dan cara dia memutuskan sesuatu.
Mungkin saya agak berlebihan, atau memang sewajarnya untuk mengatakan bahwa nalar, naluri, cara berpikir Andien begitu melaju melampaui usianya.
Percakapan kami berlanjut. Tanpa peduli beberapa orang memperhatikan kami. Ada memicing, ada seribu tanya mungkin dengan kehadiran saya, di antara tamu lain yang beragam pesanan serta selera mereka.
Memilih tempat duduk dan ruangan di Alonica Cafe.
Ya. Alonica Cafe. Ini kali ketiga pertemuan saya dengan Andien. Namun kali ini pula saya memilih ruang lebih terbuka. Tidak memilih seperti biasa ruang khusus para penikmat nikotin.
Usianya mungkin belum seberapa, tapi cara Andien berpikir tidak bisa ditakar dari angka. Pada umur di mana kebanyakan masih sibuk membuktikan diri lewat pembenaran, dia sudah sibuk membongkar pembenarannya sendiri.
Dia tidak buru-buru menyimpulkan, tidak buru-buru menghakimi. Dia bertanya dulu ke dirinya: ini pikiranku atau pikiran orang yang aku pinjam?
Nalarnya jalan, nalurinya juga jalan. Itu yang jarang. Biasanya orang pintar, hatinya ketinggalan. Orang perasa, nalarnya tumpul. Andien bisa dua-duanya sekaligus, bisa menjelaskan dengan data, tapi memutuskan dengan rasa. Bisa bicara sains, tapi tetap menjaga adab norma yang dia bawa dari rumah.
Mungkin karena itu dia terlihat lebih dewasa dari umurnya. Bukan karena dia banyak tahu, tapi karena dia menerjemahkan namanya memiliki arti: kepatuhan, setia, dan penuh kebahagiaan dia hamparkan ke sesiapa saja.
Ada nilai keluhuran, jujur menuangkan “saya belum sampai di situ.” Pada usianya, keberanian untuk tidak tahu itu jauh lebih mahal daripada kepandaian untuk menjawab segalanya. Walau semestinya Andien telah memasuki fase yang kelak akan menempanya kemudian.
Ya. Alonica Cafe. Ini kali ketiga pertemuan saya dengan Andien. Namun kali ini pula saya memilih ruang lebih terbuka. Tidak seperti biasa, ruang khusus para penikmat nikotin.
Alonica bukan sekadar tempat yang dia tunjuk di maps. Dia pendirinya. Dia yang memberi nama Alonica.
Dari namanya saja sudah kebaca dia tidak mendirikan cafe untuk jualan kopi saja, dia mendirikan ruang untuk berpikir. Tempat di mana orang boleh memesan selera apa saja, tapi tetap saat pulang dengan satu selera yang sama: untuk tidak berhenti belajar.
Usianya mungkin belum seberapa, tapi cara dia mengelola Alonica seperti cara dia mengelola pikirannya. Tidak berisik, tapi tertata. Tidak memaksa ramai, tapi membuat orang betah untuk tinggal lebih lama. Di usia di mana kebanyakan masih mencari siapa dirinya, Andien sudah berani memberi nama pada karyanya sendiri.
Dan itu yang membuatnya melaju melampaui usianya. Bukan karena dia punya cafe, tapi karena dia tahu kenapa cafe itu harus ada.
Kendali diri adalah cara untuk menentukan untuk bertindak dan bertaruh di peradabannya. Menemukan afirmasi peran dan cara dia memasuki sebuah ruang untuk dia belajar.
Alonica bukan sekadar dengan menu saja. Meja kayu, yang melebur bersama warna cokelat dan krem di ruangan itu selain mesin kopi dan wangi aromanya.
Ada seduhan serta aroma lain kutemukan.
Ya. Di dekat kaca cermin. Ada berjejer beberapa buku-buku yang gurih penuh gurah menempatkannya dengan apik.
Di ruang itu, adalah sebagai pustaka, budaya percakapan pula, dari setiap generasi dengan khas narasi di zamannya.
Ornamen ini menandakan selain sekadar narasi ada literasi hendak Andien mau sampaikan dan dia suguhkan.
Entah sesiapa jadi pendengar, kadang saya diam menyimak dengan khidmat. Mencoba mengikut alur berpikir Andien yang semakin melaju itu. Gadget dibiarkan tergeletak.
Kali ini beda, pertemuan saya dengan Andien. Saya terdiam kembali, dari setiap uraian, pencapaian membacanya begitu kuat.
Sepertinya Andien menemukan sebuah proses dalam ilmu “hermeneutik” (seni memahami tafsir dalam sebuah teks dan kejadian).
Pada akhirnya mampu membaca penanda, menemukan argoritma dan afirmasinya selama ini.
Di situlah aksara-aksara jiwanya. Dia adalah anomali yang manis. Dia tidak seperti remaja perempuan kebanyakan yang sibuk dengan tren.
Andien berbicara struktur dan bikin saya takjub adalah juga menempatkan kultur sebagai pemandunya.
Ya. Saya bergumam saja. Andien bukan karena dia lebih pintar, tapi karena dia sudah lebih dulu belajar seni memahami yang orang dewasa pun sering lupa pada sisi seni hermeneutik. Memahami bukan sekadar melihat.
“Alonica dengan segala ornamennya, menjadi laboratoriumnya.”
Memahami. Dia bukan penghafal biasa. Kecakapannya menandakan dia healing pengetahuan serta interaksi sosialnya sebagai pijakan pengembangan diri, bahwa dia bersama beberapa kehidupan lain bernama Alonica.
Dia bukan akuarium. Sebagaimana Alonica dia jadikan universitas dan kampusnya mengimplementasikan segala proses dia ditempa dan belajar kembali.
Saya mulai merasakan healing malam itu. Di meja kayu dan kursi yang membuatku terasa nyaman duduk di antara keramaian yang tidak biasa bagi saya.
Andien. Lirih saya berkata: Saya mungkin memang lebih dulu lahir, justru saya diajak dan mengenali sisi lain pemahaman yang saya bawa malam ini.
Betapa literasi yang kau bangun bukan sekadar tampak duduk membaca buku.
Tidak juga harus di podium kau tajamkan pikiran-pikiran bertameng lomba dengan kompetisi padahal hanya sebuah kontemplasi saja. Seremoni dan ritual pemenang dan peraih.
Alonica ini kutemukan sebuah dialektika dan etika yang Andien bangun. Bukan sekadar selera menu para pengunjung. Tetapi ada seduh, ada tempat berteduh. Sebagaimana aroma kopi saya semalam terseduh.
Andien tidak sedang memamerkan kepintarannya. Dia sedang merawat caranya memahami dunia. Dan diam-diam Alonica merekam semua itu.
Andien. Jika malam itu Alonica adalah telaga, maka kamulah kendurinya. Tidak seremoni menyeduhkanku kopi.
Tetapi memberiku cara di mana memandang waktu dan telusuri nilai-nilai dari kedua sosok yang kau jadikan falsafah kehidupanmu.
Saya datang sebagai pengunjung, pulang sebagai pembelajar.
Terima kasih menjadikan Alonica dan menjaga telagamu itu dan bagi saya bukan sekadar ruang singgah, tetapi sebagai ruang menemukan argoritma dan cara pengetahuan itu teraplikasi.
Semesta jiwamu malam itu terlalu luas. Tidak perlu mimbar, seminar untuk didengar, cukup duduk bercerita. Tanpa seremoni dan ritual saja.
Saya tidak juga memujimu berlebihan. Hanya ingin Andien tahu: Malam itu jarum jam saya berhenti.
Di antara meja Alonica. Saya melihat remaja perempuan tidak sedang mengejar panggung, dia sedang membangun dunia sendiri.
Teruslah begitu. Biar Alonica menjadi naskahmu. Dan biarkan Bantaeng tanah bertuah itu sadar dan membaca kelak dirimu.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply