Setiap akhir tahun, Spotify dengan santainya memberi tahu saya bahwa lagu yang paling sering saya putar bergenre “sedih-akustik-patah-hati”. Padahal saya merasa baik-baik saja. Tapi Spotify lebih percaya diri. Ia punya data, dan saya cuma punya perasaan.
Dari situ muncul pertanyaan yang agak serius: identitas kita ditentukan oleh diri sendiri, atau oleh representasi digital kita? Untuk menjawabnya, mari panggil filsuf Prancis berkepala plontos yang hobi membuat mahasiswa begadang: Michel Foucault.
Penjara yang Kita Bangun Sendiri
Dalam Discipline and Punish (1975), Foucault membahas panopticon, penjara melingkar dengan menara pengawas di tengahnya. Narapidana tidak pernah tahu kapan sedang diawasi, sehingga mereka berperilaku baik sepanjang waktu. Penjaganya boleh ketiduran, karena para napi sudah mengawasi diri sendiri.
Bedanya dengan zaman sekarang, kita tidak dipaksa masuk menara itu. Kita membangunnya sendiri, lengkap dengan ring light dan caption yang direvisi tujuh kali. Sebelum mengunggah foto, kita sudah membayangkan penontonnya: dosen, mantan, calon mertua. Tanpa disuruh, kita menyensor dan memoles diri.
Kuasa yang Memberi Hadiah
Bagi Foucault, kuasa tidak cuma melarang. Kuasa juga produktif: ia menghasilkan perilaku dan jenis manusia tertentu. Instagram tidak melarang kamu mengunggah foto piring kotor. Hanya saja, foto itu sepi like, sementara foto senja di Bromo dibanjiri jempol. Lama-lama kita paham sendiri versi diri mana yang layak dipamerkan. Itulah normalisasi.
Yang paling getir dialami pengemudi ojek daring. Identitas profesional mereka diringkas menjadi deretan bintang. Mereka tersenyum dan menawarkan air mineral tanpa ada mandor di samping, karena mandornya adalah algoritma.
Foucault juga bicara soal kuasa/pengetahuan: siapa yang tahu banyak tentangmu, dialah yang berkuasa atasmu. Aplikasi paylater tahu limit yang pantas untukmu. Algoritma tahu kamu galau dari lamanya jempolmu berhenti di video kucing. Kita dikelompokkan menjadi “risiko kredit rendah” atau “peminat konten self-improvement “, lalu pelan-pelan kita benar-benar menjadi kategori itu.
Tapi Kita Bukan Boneka
Foucault tidak sepesimis itu. Dalam The History of Sexuality (1976), ia menulis bahwa di mana ada kuasa, di situ ada perlawanan. Ia juga membahas teknologi diri, yaitu cara manusia membentuk dirinya secara sadar. Versi digitalnya sudah kita lakukan: punya akun kedua untuk jadi diri sendiri, memakai fitur close friends, detoks media sosial, atau iseng menyukai tutorial memasak rendang supaya algoritma bingung. Perlawanan, walau receh.
Jadi, Siapa yang Menentukan?
Menurut Foucault, tidak pernah ada “diri yang asli” di luar relasi kuasa. Dulu diri dibentuk oleh sekolah dan penjara, sekarang oleh feed, rating, dan skor kredit. Identitas kita adalah hasil tarik-menarik, ditulis bersama oleh kita dan oleh mesin. Pertanyaannya tinggal satu: siapa yang memegang pena lebih lama?
Omong-omong, kalau kamu membaca tulisan ini sampai habis, selamat: algoritma kini tahu kamu suka filsafat. Siap-siap FYP-mu dipenuhi video Foucault, lengkap dengan kepala plontosnya yang bersinar meski tanpa ring light.

Ketua Bidang Politik dan Demokrasi Badko HMI Sulsel


Leave a Reply