Ranca dan Ruang Baca-baca

Di tengah gerah, ketika timeline-timeline media sosial dipenuhi jargon, caption, dan branding yang penuh ekspektasi dibalut sekadar sensasi.

Tetiba kuterbawa ke sebuah ruang. Di sudut kota Bantaeng ada telaga, tempat bertamasya pikiran, makna, dan rasa.

“Warkop Dg Rannu” disematkan nama sebuah kearifan cinta seorang Ranca.

Seduhan kopi, percakapan hangat, tidak ada lengan baju dilipat. Tanpa memaksa yang hadir terpikat. Tetapi setiap yang hadir merasakan khidmat.

Aku terjaga menempuh sekian lama di antara nisan sepuluh tahun itu. Kembali pulang. Menemani sepuluh tahun. Dan memantikku kembali di atas meja kayu itu.

Entah kenapa ruang ini dia buat. Sementara seorang Ranca sebagian orang hanya mengenal sebagai abdi negara (ASN) di salah satu instansi.

Kenapa juga dia susah payah, dengan beberapa waktunya terbuang, membuat sesuatu yang bagi orang buang waktu dan membosankan?

Bukankah di kantor, di lapangan, berjubel tugas kau emban, bertaruh untuk bekerja maksimal?

Ya. Ini rileksasi dan refleksi tanpa harus mencari sensasi. Itu yang terbaca di matamu.

Sebagaimana kutipan dia tulis di ruang itu bernama “baca-baca, ruang kata, rasa dan makna” dijadikan mantra.

Ini membuatku terdiam sekian jam kembali. Merenung jauh. Bagaimana membangun sebuah peradaban berpikir, yang hari ini semakin pelik. Di mana orang-orang masih suka berkelik.

Ini sesuatu! Mampu menggugah. Jangan-jangan baca-baca itu membuat kita betah di ruang Ranca tanpa dinding kaca, tanpa kopi racikan ala-ala, diseduh sederhana dihidangkan dengan cinta.

Jangan berharap sorak-sorai. Sebab di sini sepertinya kita telah tunai untuk hadir. Tanpa undangan khusus, susunan acara, MC, dan atribut lainnya. Ornamennya hanya kopi dan kehangatan seorang Ranca.

Sepetak ruang, separuh imajinasi kita akan tumpah di sini.

Ranca di antara ruang, dia hadirkan sesuatu, mengajak kita berkaca (bercermin). Untuk menjawab geliat dan tabiat yang tidak harus menggeliat. Dia menahan segala tepukan dan euforia, dia tancapkan dalam-dalam ke dasar.

Sejam atau entah sepersekian detik diam. Terbawa suasana yang jarang saya temukan ruang ekspresi seperti ini.

Cukup duduk, melupakan sepuluh tahun. Dan di sini seperti bagai mengembalikan dirinya yang baru dalam kesadaran.

Ranca menemukan sepuluh tahun, saat jimat dan mantra itu meluap-luap ketika itu. Di sini menemukan tanpa memaksaku beradab.

Dan ketegangan seperti biasanya menjadi pelukan hangat yang kemudian terjaga agar tidak lagi dikepung rasa bangga.

Tetapi ada rongga lega dan napas imajinasi yang meloncat kegirangan.

Kepada Ranca hendak berbisik:
Di sini terasa kutidak diajari menjadi siapa-siapa. Di sini seakan disiapkan tempat duduk, menikmati mantra puisi yang mengalir begitu saja.

Ternyata di sini aku duduk, bagai sepuluh tahun mengabarkan tanpa nama dan tanpa nisan.

Ternyata kau buat satu jalan pulang di tengah kenduri yang berduri. Jalan yang tak perlu disesali. Hanya perlu diistirahatkan sejenak.

Di meja kayu dan kamar gerah itu menumpuknya segala pertarungan terhadap diri sendiri dan bersama puisi, lukisan, serta kopi yang tidak harus memaksa untuk dihabiskan.

Ranca memahat dan mengingatkan kembali, dengan ciri dan khasnya, tanpa harus mengabarkan ke seantero negeri. Hanya sebuah hidangan sederhana.

Di mana aku boleh kalah tanpa dihakimi.
Jawaban Ranca kembali berbisik kepadaku.

Memberiku ruang dengan baca-baca untuk kubawa berjalan menuju pulang:

“Boleh bangga tanpa dipuji, dan boleh pulang tanpa harus mengetuk pintu siapa-siapa.”

Menyiapkan kursi itu. Kursi tidak memaksaku beradab, tetapi membasuhkan pada telaga yang telah dia buat.

Aku tercekat. Bagai peziarah menatap nisan sepuluh tahun kembali. Yang selama ini merasakan begitu berisik.

Ya. Selama ini aku merasa paling merasa tahu baca-baca, mengenal jauh huruf, mengeja, dan bahkan menunggangi kata-kata.

Ternyata di sini di ruang Ranca dengan mantra baca-baca memberi kita makna untuk berkaca. Kita diajak untuk mengeja diri sendiri.

Baca-baca di ruang Ranca mengajari kita membaca manusia dan semesta. Bahkan di sini aku lebih berani membaca Tuhan.

Di sana ada artefak tanpa dipamer, tertancap, tumbuh di halaman rumahnya, menjadi jejaknya.

Dia melepas atribut yang di luar sana orang saling ribut dan saling merebut.

Kopi diseduh dengan suasana hati riang gembira, tanpa pulus, begitu tulus diracik seiring puisi mengalir, dengan baca-baca membuatku merasa betah.

Percakapan, tanpa atribut, tanpa ada merasa pintar. Yang ada berbagi pengetahuan, perjalanan hidup dan bagaimana melangkah.

Menepis yang membuat kita kadang apatis dari orang-orang bersikap skeptis, enggan diri dirilis.

Ranca membongkar kamuflase, dengan etalase dia bangun. Bukan sekadar baca, tetapi baca-baca terhadap diri, merintis perjalanan waktu dengan meluarbiasakan hal sederhana.

Ini bukan panggung. Ini tempat punggung kita sedikit jeda berlagak dan mendongak.

Tidak ada lampu sorot untuk kita tampil sempurna. Tidak ada tepuk tangan seribu, menuntut kita hebat.

Di ruang Dg Rannu buah cinta kasih seorang Ranca. Tidak sedang berakting untuk menjadi siapa-siapa.

Aku makin merenung jauh lagi. Melintas masa, merilis diri kembali. Yang dulu pernah memburu, menggema di panggung.

Di sini aku paham: Yang dibutuhkan bukan panggung untuk dihormati dan dipuji. Melainkan tempat untuk aku pulang.

Terima kasih, Karib Ranca. Kau berhasil membaca-bacaiku untuk kembali ke sebuah Huma tanpa gema. Yang ada hanya baca-bacamu dalam kata, makna, dan rasa itu sendiri.

Kalau ada gema yang tidak lagi ramah. Tak ada ornamen di sudut ruang, yang ada kalimat jarang dibaca-baca orang.

Tanpa branding, caption soal selera dan aroma kopi. Tidak bermotif antik nan klasik. Tetapi di sini suasana ada keramah yang asyik.

Di sini aku baru paham, kebersamaan tidak harus butuh panggung. Hanya butuh meja.

Ya. Meja kayu Dg Rannu tidak memisahkan konsumen dan pelayan. Di sana Ranca melebur membawa kehangatannya tanpa atribut ASN:

“Aku bukan penyair, bukan penonton. Kita semua sama manusia yang sedang kehausan makna.”

Ranca tidak membangun warung. Tetapi membangun Huma tanpa gema. Tanpa ubin marmer.

Di jendela kaca berlapis motif mewah. Tiangnya bukan kayu mahal, tapi keberanian untuk tidak ingin dipuji.

Di Huma yang Ranca buat, gelisah boleh tinggal. Sepuluh tahun tanpa nisanku itu boleh duduk tanpa dihakimi.

Karena di ruang itu. Tidak ada yang lebih pintar. Yang ada hanya lebih jujur dan berjuang untuk pulang tanpa kalung sakti.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *