Kerajaan Bintoeng:  Negeri yang Rakyatnya Disuruh Sabar

Konon, di sebuah negeri yang tanahnya subur dan lautnya luas, berdirilah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Bintoeng.

Kerajaan itu terkenal bukan karena rakyatnya paling makmur.

Bukan pula karena jalannya paling mulus.

Bukan karena airnya paling lancar.

Apalagi karena listriknya paling terang.

Kerajaan Bintoeng terkenal karena satu hal:

rakyatnya sangat pandai bersabar.

Saking pandainya bersabar, para pejabat kerajaan sampai menganggap kesabaran rakyat sebagai salah satu sumber daya alam.

Kalau daerah lain punya tambang.

Bintoeng punya kesabaran.

Kalau daerah lain punya minyak.

Bintoeng punya kesabaran.

Kalau daerah lain punya gas.

Bintoeng punya rakyat yang kalau mengeluh masih bisa berkata:

“Iyya, mungkin memang begitu keadaannya.”

Maka kerajaan pun tenang.

Suatu hari Raja Bintoeng berjalan-jalan melihat keadaan negeri.

Ia menaiki kuda putih.

Kuda itu gagah.

Raja lebih gagah.

Rakyat yang melihat dari pinggir jalan pun bersorak.

“Hidup Raja!”

Raja tersenyum.

Kuda berjalan.

Rakyat tersenyum.

Jalan yang dilewati kuda ternyata berlubang.

Kuda hampir tersandung.

Raja segera berkata kepada pengawal:

“Catat! Jalan ini harus diperbaiki.”

Pengawal mencatat.

Dewan Kerajaan rapat.

Dinas Jalan mengukur.

Tim survei turun.

Dokumen dibuat.

Anggaran dibahas.

Kemudian tahun berganti.

Jalan tetap berlubang.

Kuda Raja akhirnya belajar menghindari lubang.

Rakyat juga.

Bedanya, kuda Raja punya kandang.

Rakyat punya cicilan motor.

Di sebuah desa, petani sedang memandangi sawah.

Tanahnya retak.

Tanaman menguning.

Air tidak ada.

Petani menggaruk kepala.

“Kalau begini, panen gagal.”

Tetangganya menjawab:

“Sabar mi. Pemerintah sudah punya program ketahanan pangan.”

Petani bertanya:

“Airnya ada?”

“Belum.”

“Irigasinya?”

“Belum.”

“Bantuannya?”

“Nanti.”

Petani menghela napas.

“Kalau begitu apa yang sudah ada?”

Tetangganya berpikir.

“Programnya sudah ada.”

Petani mengangguk.

“Oh… berarti yang tumbuh bukan padinya. Programnya.”

Di bagian lain kerajaan, warga berkumpul di depan keran.

Keran dibuka.

Tidak ada air.

Ditunggu.

Tidak ada.

Dibuka lagi.

Tetap tidak ada.

Seorang anak bertanya kepada ibunya:

“Ibu, airnya kapan keluar?”

Ibunya menjawab:

“Entahlah, Nak.”

“Kenapa?”

“Mungkin airnya sedang rapat.”

Anak itu mengangguk.

Ia belum mengerti bahwa di Kerajaan Bintoeng, bahkan air pun kadang harus menunggu keputusan birokrasi.

Warga akhirnya membeli air.

Air minum dibeli.

Air mandi dibeli.

Air memasak dibeli.

Air mencuci dibeli.

Sementara di kantor kerajaan, slogan pelayanan publik terpampang gagah:

“Melayani dengan Sepenuh Hati.”

Rakyat membaca.

Lalu tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalau tidak tertawa, mau menangis.

Malam hari, listrik mati.

Rumah-rumah gelap.

Anak-anak berhenti menonton televisi.

Ibu-ibu berhenti menggunakan mesin cuci.

Bapak-bapak mulai mencari lilin.

Di grup WhatsApp warga, pesan mulai berdatangan.

“Di sini mati juga.”

“Sama.”

“Di sini sudah satu jam.”

“Di sini dari tadi.”

Akhirnya warga menemukan cara menghemat energi:

tidak menggunakan listrik karena listriknya memang tidak ada.

Seorang warga bercanda:

“Kerajaan kita hebat. Program hemat energinya berhasil tanpa perlu sosialisasi.”

Yang lain menjawab:

“Jangan bercanda begitu. Nanti dibuatkan spanduk.”

Belum selesai urusan listrik, datang pula debu.

Debu dari jalan.

Debu dari kendaraan.

Debu dari aktivitas industri.

Debu masuk ke rumah.

Menempel di meja.

Menempel di motor.

Menempel di pakaian.

Masuk ke hidung.

Masuk ke mata.

Masyarakat mulai menyapu rumah berkali-kali sehari.

Seorang ibu berkata:

“Saya tidak tahu ini rumah atau lokasi pembangunan.”

Tetangganya menjawab:

“Anggap saja gratis facial.”

“Facial?”

“Iyya. Bedanya, facial biasa pakai masker. Ini kita yang jadi masker.”

Mereka tertawa.

Lalu batuk.

Tertawa lagi.

Batuk lagi.

Di istana, pejabat mengatakan:

“Investasi harus kita jaga.”

Rakyat tidak menolak investasi.

Rakyat hanya ingin satu hal:

kalau investasi membawa uang masuk, jangan sampai debunya juga masuk ke paru-paru.

Kalau industri memang penting, maka pengawasan lingkungan juga harus sama pentingnya.

Jangan sampai yang dijaga hanya nilai investasinya, sementara kualitas udara disuruh menjaga dirinya sendiri.

Kemudian ada jalan.

Jalan di Kerajaan Bintoeng memiliki fungsi yang sangat unik.

Jalan tidak hanya menghubungkan desa dengan kota.

Ia juga menghubungkan masyarakat dengan bengkel.

Petani dengan tukang tambal ban.

Pengendara dengan montir.

Dan dompet dengan biaya perbaikan kendaraan.

Petani membawa hasil kebun.

Jalan rusak.

Biaya angkut naik.

Barang terlambat.

Harga di pasar berubah.

Rakyat kembali diminta bersabar.

Seolah-olah kata sabar adalah solusi teknis pembangunan.

Jalan rusak?

Sabar.

Air tidak mengalir?

Sabar.

Listrik mati?

Sabar.

Panen gagal?

Sabar.

Debu masuk rumah?

Sabar.

Kalau semua masalah selesai dengan sabar, mungkin Kerajaan Bintoeng tidak membutuhkan APBD.

Cukup satu anggaran:

Anggaran Kesabaran Rakyat.

Suatu malam, Dewan Kerajaan mengadakan rapat besar.

Raja bertanya:

“Bagaimana keadaan rakyat?”

Ketua Dewan berdiri.

“Aman, Baginda.”

“Jalan?”

“Sedang ditangani.”

“Air?”

“Sedang diupayakan.”

“Listrik?”

“Sedang dikoordinasikan.”

“Petani?”

“Sedang diperhatikan.”

“Debu?”

“Sedang dikaji.”

Raja tersenyum puas.

“Berarti semua terkendali.”

Tiba-tiba seorang abdi kerajaan masuk dengan napas terengah-engah.

“Ampun, Baginda!”

“Ada apa?”

“Rakyat datang.”

Raja kaget.

“Berapa orang?”

“Banyak, Baginda.”

“Mereka membawa senjata?”

“Tidak.”

“Membawa batu?”

“Tidak.”

“Lalu membawa apa?”

Abdi itu menjawab pelan:

“Pertanyaan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Sebab kerajaan ternyata lebih takut kepada pertanyaan rakyat daripada jalan berlubang.

Rakyat akhirnya bertanya:

“Kalau jalan rusak, kapan diperbaiki?”

“Kalau air tidak mengalir, kapan mengalir?”

“Kalau listrik mati terus, apa solusinya?”

“Kalau sawah kekurangan air, siapa yang bertanggung jawab?”

“Kalau udara tercemar, siapa yang mengawasi?”

“Kalau semua masalah sudah diketahui, mengapa masalah yang sama terus berulang?”

Dewan Kerajaan saling pandang.

Satu orang membuka berkas.

Yang lain membuka laptop.

Yang ketiga membuka WhatsApp.

Yang keempat pura-pura membaca dokumen.

Raja memandang mereka.

“Apakah ada jawabannya?”

Ketua Dewan berkata:

“Ada, Baginda.”

“Apa?”

Ia berdiri gagah.

“Kita akan membentuk tim.”

Rakyat yang mendengar dari luar langsung tepuk tangan.

Bukan karena senang.

Karena sudah tahu kelanjutannya.

Tim dibentuk.

Rapat dilaksanakan.

Dokumen dibuat.

Foto diambil.

Berita diterbitkan.

Kemudian…

Rakyat menunggu lagi.

Begitulah Kerajaan Bintoeng berjalan.

Rakyat bekerja.

Petani bertani.

Pedagang berdagang.

Buruh bekerja.

Nelayan melaut.

Anak-anak sekolah.

Ibu-ibu mengurus rumah.

Bapak-bapak mencari nafkah.

Sementara kerajaan terus menyusun program.

Masalah datang silih berganti.

Program datang silih berganti.

Tetapi entah mengapa, masalahnya selalu lebih cepat daripada penyelesaiannya.

Mungkin masalah memang punya kendaraan lebih bagus.

Padahal rakyat Bintoeng tidak meminta istana dibangun dari emas.

Tidak meminta jalan dilapisi marmer.

Tidak meminta air mancur di setiap sudut kota.

Tidak meminta pemerintah menjadi pesulap.

Rakyat hanya meminta sesuatu yang sangat sederhana:

air yang mengalir, listrik yang menyala, jalan yang layak, udara yang aman, dan kebijakan yang benar-benar terasa di kehidupan mereka.

Itu saja.

Sebab pembangunan bagi rakyat bukan soal seberapa tinggi gedung pemerintahan.

Bukan seberapa banyak baliho keberhasilan.

Bukan seberapa ramai seremoni.

Pembangunan adalah ketika petani bisa membawa hasil panennya melalui jalan yang layak.

Ketika warga bisa membuka keran dan mendapatkan air.

Ketika anak belajar tanpa harus mencari cahaya lilin.

Ketika orang tua tidak harus khawatir setiap kali debu beterbangan.

Dan ketika pemerintah tidak perlu lagi menjelaskan mengapa masalah yang sama selalu terjadi.

Konon, sampai hari ini Kerajaan Bintoeng masih berdiri.

Rajanya masih naik kuda.

Dewannya masih rapat.

Pejabatnya masih bekerja.

Spanduk masih dicetak.

Program masih dibuat.

Rakyat masih bekerja.

Dan kesabaran masih menjadi komoditas unggulan.

Tetapi ada satu hal yang mulai berubah.

Rakyat Bintoeng mulai belajar bahwa menjadi sabar bukan berarti harus diam.

Sebab diam bukan selalu tanda setuju.

Kadang diam adalah tanda rakyat sedang mengumpulkan pertanyaan.

Dan ketika pertanyaan itu sudah terlalu banyak, kerajaan sebaiknya tidak buru-buru membuat spanduk.

Jangan pula buru-buru membuat tim.

Duduklah.

Dengarkan.

Lihatlah sawah yang kering.

Lihatlah keran yang tidak mengeluarkan air.

Lihatlah rumah yang gelap ketika listrik mati.

Lihatlah jalan yang hancur.

Lihatlah debu yang masuk ke rumah rakyat.

Sebab dari sanalah sebenarnya rakyat sedang mengirimkan laporan pemerintahan.

Bukan dalam bentuk dokumen.

Tetapi dalam bentuk kehidupan sehari-hari.

Dan laporan itu tidak bisa ditutup dengan kalimat:

“Akan kami koordinasikan.”

Sebab rakyat sudah terlalu lama menunggu koordinasi.

Yang mereka butuhkan sekarang adalah solusi.

Kalau tidak, Kerajaan Bintoeng akan terus menjadi kerajaan yang hebat.

Hebat dalam rapat.

Hebat dalam spanduk.

Hebat dalam seremoni.

Hebat dalam membuat rakyat bersabar.

Hanya satu yang masih perlu dibuktikan:

hebat dalam menyelesaikan masalah.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *