Jarak dalam Kedekatan

Bila belum bisa membedakan antara melekat dan menyatu, maka jangan bicara kualitas hubungan yang awet.” ( Tajali Daeng Litere, 17122024)

Ada hubungan bertahan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Orang-orang di dalamnya tetap bersama, saling menyapa, duduk bersebelahan, berbagi kabar, sesekali bertukar cerita. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Lama dianggap sebagai ukuran kesetiaan. Keawetan pun sering dipandang sebagai tanda kualitas.

Padahal, waktu hanya mengukur berapa lama sebuah hubungan berlangsung. Ia belum tentu menerangkan sedalam apa hubungan itu berakar.

Sebuah hubungan dapat berumur panjang karena kebiasaan, ketergantungan, kepentingan, bahkan ketakutan kehilangan. Karena itu, umur hubungan belum cukup untuk membaca kualitasnya.

Di sinilah perbedaan antara melekat dan menyatu, perlu dibaca lebih perlahan. Melekat berarti dekat, karena sesuatu yang membuat dua pihak sulit berjarak. Seperti dua benda yang saling menempel, keduanya bisa sangat rapat, tetapi masing-masing tetap berdiri sebagai dirinya sendiri.

Bahkan, keterlekatan kadang lahir dari rasa memiliki. Aku merasa engkau milikku. Engkau merasa aku bagian dari milikmu. Kedekatan lalu berubah menjadi semacam pagar. Keinginan untuk bersama, bercampur dengan hasrat memastikan pihak lain, tetap berada dalam jangkauan.

Relasi seperti itu mudah bergeser dari kasih menuju kepemilikan, perhatian mengarah pengawasan, dan kedekatan mewujud keinginan mengatur.

Menyatu punya kedalaman lain. Menyatu tidak berarti kehilangan diri, apalagi peleburan dua pribadi sampai salah satunya lenyap. Aku tetap aku. Engkau tetap engkau. Perbedaan masih bernapas, kehendak masih memiliki ruang, jalan hidup tetap dapat ditempuh masing-masing.

Waima, terdapat ruang batin tempat kepentingan diri, tak lagi selalu berdiri paling depan. Hubungan tidak semata-mata dipelihara karena takut kehilangan, melainkan karena tumbuh kesadaran untuk merawat. Pada kedalaman semacam itu, kedekatan tidak lagi membutuhkan penguasaan.

Karena itu, kalimat-kalimat kepemilikan patut sesekali direnungkan. “Dia sahabat saya.” “Dia orang saya.” “Dia pasangan saya.” “Dia anak saya.” Semua terdengar lumrah dalam percakapan sehari-hari.

Namun, di balik bahasa kepemilikan itu, kadang terselip sesuatu yang lebih dalam: keinginan menentukan batas, mengatur perilaku, bahkan memastikan orang lain tetap sesuai dengan kehendak. Manusia pun dapat diperlakukan seperti benda milik. Pasangan, anak, dan sahabat dimiliki. Ketika hubungan telah diletakkan dalam logika memiliki, kedekatan perlahan kehilangan kelapangannya.

Ada jalan lain: menjadi. Memiliki cenderung menggenggam; menjadi memberi ruang bagi pertumbuhan. Memiliki ingin memastikan sesuatu, tetap berada dalam jangkauan; menjadi bersedia menyaksikan sesuatu berkembang menurut hakikatnya sendiri.

Dalam hubungan semisal itu, seseorang tidak diperlakukan sebagai pribadi yang telah selesai, melainkan sebagai jiwa yang terus bertumbuh. Tersedia ruang bagi perubahan, pencarian, kesalahan, bahkan bagi jalan yang sesekali menjauh dari kehendak pihak lain.

Kasih tidak lagi sibuk berkata, “Engkau milikku.” Ia lebih lirih berbisik, “Tumbuhlah menjadi dirimu.” Barangkali menyatu memang bukan perkara memiliki orang lain, melainkan menemukan kedalaman tempat dua pribadi, dapat bertumbuh tanpa saling mengerdilkan.

Persoalannya, keterlekatan sering menyamar sebagai cinta. Orang tua bisa sangat melekat kepada anaknya, lalu mengira kasih sayang memberi hak, buat menentukan seluruh jalan hidup sang anak. Seorang sahabat bisa begitu melekat kepada sahabatnya, kemudian merasa berhak mengetahui seluruh rahasia hidupnya. Sepasang kekasih bisa begitu melekat, lantas menyebut kecemburuan sebagai bukti cinta.

Padahal, cinta yang terus-menerus meminta kepastian, kadang sedang menyembunyikan ketakutan kehilangan. Perhatian yang berlebihan, bisa saja menyimpan hasrat mengendalikan. Kesetiaan pun dapat berubah menjadi ketergantungan, ketika kebersamaan lebih didorong rasa takut daripada kesadaran.

Melekat sering membutuhkan pegangan, sedangkan menyatu justru melahirkan kepercayaan.

Karena itu, hubungan awet belum tentu hubungannya sehat. Mengada hubungan bertahan, karena kedua pihak telah terbiasa. Menampak eksis, sebab takut memulai kehidupan baru. Menyata  pula berkukuh, lantaran kepentingan, status, keluarga, pekerjaan, atau sekadar karena tidak tahu bagaimana cara berpisah.

Semua itu dapat membuat dua manusia tetap berdekatan secara lahiriah, sementara batinnya telah lama berkelintangan ke arah masing-masing. Keawetan semacam itu hanya menunjukkan umur hubungan; ia belum sampai pada kedalaman akar.

Mungkin kualitas hubungan justru tampak dari kemampuan memberi ruang. Semakin matang sebuah hubungan, semakin lapang ruang bagi pihak lain untuk menjadi dirinya sendiri.

Tidak setiap langkah harus diikuti. Tak mesti keputusan  melalui persetujuan. Tiada perlu perbedaan diperlakukan sebagai ancaman. Hubungan yang matang mengenal jarak, sebab jarak pun dapat menjadi bagian dari keintiman.

Dua orang yang menyatu tidak harus selalu berdampingan. Mereka bisa berjauhan secara ruang, tetapi tidak tercerai secara batin. Mereka bisa berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan penghormatan. Mereka bisa memilih jalan masing-masing, tetapi tetap membawa sesuatu dari perjalanan bersama.

Barangkali itulah sebabnya, ada orang yang baru dikenal beberapa waktu, tetapi terasa begitu dekat. Sebaliknya, ada orang yang telah puluhan tahun berada di sekitar, tetapi tetap terasa asing. Waktu ternyata bukan satu-satunya jalan menuju kedekatan.

Pertemuan batin memiliki jalannya sendiri. Kedekatan tidak selalu lahir dari frekuensi perjumpaan, sebagaimana keawetan tidak selalu lahir dari kedalaman. Ada hubungan yang ramai oleh pertemuan, tetapi sepi oleh penghayatan. Ada pula hubungan yang jarang bersua, tetapi diam-diam berakar dalam kesadaran.

Seseorang perlu sesekali bercermin kepada dirinya sendiri. Jangan-jangan sesuatu disebut cinta, padahal ia hanya keterlekatan. Kesetiaan disebut-sebut, padahal di dalamnya bersemayam ketakutan kehilangan. Perhatian dipertontonkan, padahal diam-diam terdapat keinginan mengendalikan.

Senandika semacam itu penting, sebab hubungan berkualitas tidak pertama-tama meminta orang lain berubah. Ia mengajak kesadaran menertibkan cara memandang hubungan itu sendiri. Melekat masih bergerak dalam hasrat memiliki; menyatu mulai bergerak menuju kesediaan merawat. Yang satu ingin menggenggam agar tidak kehilangan, yang lain memberi ruang agar sesuatu tetap hidup.

Di antara melekat dan menyatu terdapat perjalanan batin yang panjang: dari memiliki menuju merawat, dari menuntut menuju memahami, dari menggenggam menuju memberi ruang.

Pada perjalanan itu, aku tetap aku dan engkau tetap engkau. Kebersamaan tidak menghapus perbedaan, justru merawatnya agar tidak berubah menjadi keterpisahan. Maka, jangan terlalu cepat menyebut sebuah hubungan awet, hanya karena ia telah lama bertahan. Boleh jadi ia sekadar melekat kuat pada kebiasaan. Atau, ia belum pernah benar-benar menyatu dengan kesadaran.

Sebab kedekatan sejati tidak selalu meniadakan jarak. Ada jarak yang justru memberi ruang bagi dua manusia, agar tetap menjadi dirinya, lalu saling mendekat dengan kesadaran, bukan dengan genggaman.

Hubungan semacam itu tumbuh diam-diam, merambat ke dalam laku, hingga kedekatan tidak lagi berarti saling memiliki. Barangkali pada jarak separas itulah, keabadian sebuah hubungan bersemayam: bukan ketika dua manusia tidak pernah berjarak, melainkan ketika jarak sekalipun, tidak sanggup memisahkan kedalaman yang telah menyatu.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *