2009 pertama kali kau hadir di kehidupanku, mengawal dan menjadi saksi pengelanaanku. Meski maharmu saat itu cukup fantastik, pada ukuran upah di sebuah lembaga kala itu.
Dengan menabung upah tiga bulan. Sampai sejak itu kau sah menjadi bagian dari hidupku, dan saat ini kau masih setia menemaniku.
Di antara deru, menempa kita dalam menempuh jarak. Setiap tikungan, tanjakan, jeritmu kau tahan. Demi mencapai tujuan membawaku satu titik dan ke titik yang lain.
Besi tua. Cat usang pudar. Sesekali merajuk, tidak merengek. Saat di tengah jalan rantai lepas. Kehabisan bahan bakar. Meski kadang gerutu, dan keluh.
Mungkin sisi lain nilaimu pudar tanpa ditakar, hendak mereka tukar, dan bahkan dianggap barang rongsok. Tidak mengapa. Bagiku, kau tetap menjadi arsip.
Setiap goresan, adalah catatan perjalanan. Dibasuh hujan dan terik. Bahkan sampai diasuh rembulan.
Kadang kau memaksa berhenti, di tengah perjalanan, di balik awan tebal, di antara deru kendaraan yang lain mengejek saat melaju menoleh dengan ekor mata yang tajir.
Atau kita berteduh di bawah pohon yang kita tidak kenal, bahkan nama kampung. Dan orang sekitar.
Maafkan sering kubuat anekdot dan bahkan sempat pernah mau menggadaikanmu. Hehe. Tawa kecilku menghibur, mengingat kebersamaan kita yang tak kenal pamrih.
Kadang kita diteriaki dengan klakson panjang saat lajumu melambat dengan mata yang tadinya tajir, kini menjadi beragam, ibah, dan tajam.
Yah. Dulu hampir kutukar dengan rupiah saat mahar mulai semakin melonjak di pasar gelap. Saat orang mulai berburu produk baru untuk dipamerkan.
Yang kutahu. Kalau orang lain butuh bensin sehari isi penuh, full tangki. Kau cukup sebotol harga terjangkau seminggu membawaku bertamasya. Mengantarkanku ke pintu-pintu rumah yang masih mau menerima kita.
Orang lain butuh gengsi untuk dihormati. Aku butuh kau yang setia.
Kau legenda bukan mitologi, yang harus paling kencang suara dan lajunya seratus kilometer per jam. Tetapi kutahu dan lebih memilihmu lama menemani pada sebuah komitmen kita bersama.
Sering aku lalai. Membiarkan napasmu tersengal. Saat sisa setetes oli mengintimidasi untuk segera terisi.
Dan ternyata benar. Sampai saat peradaban hari ini. Kita masih bersama dalam satu komitmen. Tanpa kaca spion, tanpa lampu terang. Jok yang sobek tapi seabrek peristiwa mengesankan kita lalui.
Kau ingat pada jok robek itu, pernah duduk seorang ibu menuju laju menemui rindu sanak saudaranya di kampung. Pernah ada anak kecil menikmati perjalanan sore menuju senja di taman bermain.
Di zaman semua klakson panjang dan menatap kita kembali dengan ibah, ada juga sinis, tertawa geli. Tetapi masih ada klakson yang menyuruh singgah berteduh, menikmati seduhan kopi keikhlasan.
Kelak entah cerita apa di antara saat besok lusa, kau benar-benar tidak bisa apa-apa lagi. Atau mungkin rantai, mesin akan segera kau putuskan untuk berhenti.
Yah. Begitulah cara legenda itu bekerja. Tanpa harus memaksa mereka menaruh tinta catatan kecil saja. Tetapi ada titah untuk aku tidak menyerah, mengalah dan kalah pada pertarungan peradaban manusia selanjutnya.
Berdebu, bekas oli yang bau. Jok usang tersobek luka alami. Saat mogok, saat oli kala itu kita tunda untuk beli. Hanya bekas oli tua meski kadang kau merasakan sesak.
Ketika mereka tanya ini masih ada rongsokan yang mengubah pandangan di teras. Jawabku sederhana. Ini yang membawaku, mengajarkanku kembali pulang dengan tenang.
Akan kusampaikan cara menjawab mendengar dan klakson panjang itu, tanpa harus ngebut ingin membuktikan apa saja. Cukup mengajarkanku bahwa kalah di jalan raya tidak sama kalah dalam peradaban. Yang satu soal kecepatan, yang satu soal komitmen dan kesetiaan.
Jika kemudian peradaban semakin sibuk menagih manusia segera memburu gengsi produk baru, dengan mahar yang melonjak, pada mencapai gengsi yang diimpor. Tetap ada jawaban.
Ada di teras, yang tertuduh rongsokan di tepi terparkir. Dan tidak ingin banyak bicara lagi. Hanya menunggu kembali untuk diengkol, diservis, dipreteli, dilengkapi tak selengkap semula, dengan menyicil dua, tiga kali. Sampai hidup kembali.
Sampai suatu saat kau hidup kembali, bunyimu yang membuat telinga mereka merasa bising ketika kau hidup kembali. Lajumu mungkin lebih lambat, mendahului mereka. Tidak apa-apa.
Karena tugasmu bukan lagi mendahului. Tugasmu adalah mengingatkan.
Mengingatkan bahwa di teras dan di kampung itu. Pernah ada cara lain untuk hidup, tanpa merasa diri rendah, dan menjual kesedihan, kepapahan demi ibah. Tanpa harus merasa paling benar memilih peradaban kita sendiri.
Cukup dengan sebotol bensin, membawaku kembali healing bertamasya.
Tidak harus butuh analogi, di tengah bayang mitologi yang menjual sebuah legenda. Peran kita menikmati. Bukan mengkhianati pikiran, cara merasakan, dan melakoni kehidupan.
Hari ini, menjadi kesadaran baru. Bukan kesabaran atau pura tabah. Padahal kita memilih jalan hidup. Tidak butuh berjuang untuk menjadi legenda pula. Tetapi bagaimana legendamu dikenang tanpa pusara, tanpa baca-baca dan doa-doa surga.
Saliter saja dalam laju 40 kilometer per jam, bahkan lebih pelan lagi, menempuh jarak membawaku ke satu titik harapan. Menemui orang-orang yang sepenuhnya menerima aroma kehidupan kita.
Meski tanpa starter tangan, tanpa spion, tanpa lampu terang, dan rem yang sudah haus dan sudah tidak lagi mencengkeram. Sebotol bensin, bau oli, dan rantai yang “rantas” (kotor dan jorok) bekas debu, lumpur dan minyak oli.
Kita sama-sama legenda, di tengah mitologi, tidak harus seperti yang lain. Duduk di sadel empuk harganya bisa mengisi lambung lapar seminggu bahkan sebulan, menguasai jalanan, melaju kencang dengan aroma knalpot bagai parfum.
Tetapi di akhir tahun, di ujung bulan jatuh tempo, menggerutu tentang tagihan. Tentang onderdil mahal. Ditambah pajak yang semakin menyumbat sumbangan terpaksa kita kepada negara.
Aku jarang bahkan tidak pernah tahu, dan bertanya kenapa lajumu lambat dan dasbornya yang rantasa. Dia hanya tahu satu liter itu. Membawaku ke mana kehendaki sesuai kemampuan secara ekonomi. Tapi bisa bertahan menemaniku sepanjang hari.
Kemarin tetiba kau merajuk, sementara orang sekitar termasuk diriku lalu lalang pada kesekian musim berlalu.
Getir. Pada akhirnya aku bagai ditampar, sekian lama membiarkanmu bagai terpasung oleh manusia sepertiku yang mulai terhasut merasa gengsi.
Lupa ada esensi nilai yang kau ajarkan selama kebersamaan kita itu beberapa tahun silam. Bahkan dua puluh, atau tiga puluh tahun kita bersama menemaniku mengarungi dan bertarung.
Sampai pada hal kunci kontak ditukar dengan semua jenis kunci. Hem. Kadang saya tertawa jika hendak mengajakmu menemaniku keluar, sibuk mencari apa saja benda kecil bisa menjadi kontak untuk segera starter tancap gas.
Melajulah pelan menderu di antara bising dan berisiknya manusia yang kadang tidak patuh dalam berkendara.
Di tepi sore, kita jeda. Menyaksikan pesta dan aroma kafe, sambil menggodamu sesekali untuk parkir di antara jejeran yang jauh lipat tiga hargamu. Hem.
Sembari menunggu petang. Kita beranjak meninggalkan paras kemanusiaan dan poros waktu yang hendak mengatur kehidupan kita.
Meski kemudimu mulai agak goyah, sein enggan berkedip lagi, dan lampu utama sebatas menerangi setengah pandanganku. Agar segera berhati-hati mengemudimu.
Pada akhirnya sekian puluh tahun menemaniku. Insiden hanya sekali, itu pun hanya serempet tidak fatal. Dan bahkan sampai saat ini ingatanku masih kuat, tak pernah kita jatuh bersama, atau membuatku terluka selama ini.
Lajumu hari ini, kembali membawaku bernapak tilas. Menderu tidak harus memburu waktu.
Pelan tapi pasti, merasakan desir angin, terik dan kita sepertinya kembali bernostalgia, tentang orang-orang yang pernah hadir ikut menemani, duduk di jok dengan sobekan kecil.
Perjalanan kita bersama, tidak seromantis yang lain, ada peran narasi dan literasi, dalam gemanya, menjadi gempa yang kuat sampai hari ini telah memenuhi laman dan gairah yang penuh gurah. Yang dulu kita pernah hampir menyerah.
Ini romantisme kita bangun tak ada klise.
Beberapa episode, merekat erat, melintasi sebagian imajinasi, menjadi narasi yang melapangkan perjalanan, melintasi kesadaran, mengajarkan tentang nilai:
“Katutu laloki surang A’na’na, nanu a’minasa, rapang tala ranggaselayya ri Tallasa tamannanunganga“. (Penuh tolak ukur berhati-hati, mehamami hakikat hidup, tidak asal nyerocos, dan menerobos, terburu-buru, dengan penuh harapan, dan tidak putus asa pada setiap perjalanan yang kita lalui kepada hidup tiada yang kekal.)
Ini bukan mitologi, hanya legenda tanpa misi yang kelak bisa menggugat kita. Untuk melaju menuju di halaman peradaban yang dulu pernah kita singgahi.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply