Seleraku menggugat, mendaras yang sederhana saja, agar semakin menguatkan dengan tidak melintas sekadar tameng pembatas buku.
Aku baca selembar dan sampai tiap selesai satu bab, muncul seribu tanya baru yang belum berani kujawab.
Aku masuk ke celah-celahnya. Mengunyah sampai sebuah tinta kata-kata menetes di ujung lidah.
Aku suka merayu dan memaksakan keinginan pada Tuhan, sampai katanya aku mulai keluar dari batas keimanan. Sambil mengadukanku kepada Tuhan hendak menentukan surga dan nerakaku. Sementara aku tahu dosa hanya berkedok.
Kemudian berdalih pada kata taubat yang juga katanya: esok, lusa tidak lagi mengulang. Tetapi sedetik lalu aku telah menaruh bisul yang bernanah ke mana-mana.
“Kusematkan pinta dan tanya: “Kalau engkau penyayang, kenapa yang lapar masih menelan lapar dengan terkapar?” Bisik rayuan Danu pada Tuhan.
Begitulah sebuah belati doa dan rumus atom, menerjang dan menentukan proses kepintaran, kemerasaan, keimanan manusia mengubah kadang menjadi sebuah kejahatan yang tidak kita sadari.
Katanya suka wirid hening tengah malam. Duduk paling depan, tasbih tidak pernah lepas dari tangan. Lanjut membaca mantra setiap menjelang ritual subuh. Suara merdu, wajah teduh, sorban rapi. Bahkan sampai yang pakai dasi mengumbar basa-basi.
Selebihnya duduk bersila. Tapi masih suka lidah kita bersilat. Hem.
Katanya ahli zikir, tetapi suka mangkir dari amanah.
Katanya penjaga umat, tetapi jadi kurir hoaks. Bahkan saling telikung. Wow, keren juga. Sebar potongan video, potong konteks, tambah bumbu. Lalu duduk lagi, pura-pura paling suci.
Ini membuatku merasa tidak merasa aman dan nyaman lagi. Bukan karena kaget termangu, menyaksikan sepertinya manusia akhir-akhir ini, suka kalap dan menabur tebar hanya marah-marah. Saat padahal katanya ahli ini dan itu. Tetapi masih bermain sesumbar, menancapkan belati.
“Seperti doa yang diucapkan untuk menjatuhkan, dengan doti yang dibisik untuk memecah belah keyakinan.”
Ruang yang tadinya penuh khidmat menjadi hampa. Karena masih suka menerka tanpa tabayun. Masih suka berserapah di balik mimbar. Padahal katanya ahli sujud, dahinya ditandai cap ahli ibadah. Tetapi masih suka jumud. Masih suka saling menyeruduk demi panggung, demi nama, demi siapa paling benar.
Ada juga merasa bijak, tetapi masih suka membajak, ahli dan pengamat lamat-lamat ketahuan ternyata penuh muslihat.
Sebelumnya terangkum pada judul Sikapallakki. Luka yang datang dari rumah sendiri. Dari orang yang katanya saudara, katanya teman seperjuangan akan tetapi di sebuah musim, ketika musibah hadir! Hanya lalu-lalang menenteng kemuliaan, menawarkan mawar, tetapi kebaikan ditukar takar sebuah mahar.
Kita diajari mengangkat tangan ke langit, tapi lupa menahan tangan untuk tidak menunjuk. Kita hafal seribu dalil, tapi lupa satu: bahwa agama itu akhlak.
Dia adalah luka yang datang dari rumah sendiri. Ketika musibah hadir! Hanya lalu-lalang menenteng kemuliaan, menawarkan mawar, kebaikan ditukar takar sebuah mahar.
Kita diajari mengangkat tangan ke langit, tapi lupa menahan tangan untuk tidak menunjuk. Kita hafal seribu dalil, tapi lupa satu: bahwa agama itu akhlak.
Dan ternyata, luka itu juga masih terangkai di masjid. Di antara kecerdasan, berpengetahuan berjubel titel, di laboratorium pun sama. Di ruang penuh angka dan rumus pun sama. Bahkan seorang ahli nuklir dan atom tetiba meratap.
Dia yang dulu begadang demi “kemajuan”. Percaya ilmunya akan menyelamatkan dunia. Tapi setelah melihat kota rata dengan tanah, setelah melihat anak-anak lahir tanpa masa depan, dia menyesali dan merasa sangat bersalah.
Bagaimana dengan yang merasa ahli ibadah, tetapi masih suka berserapah dan lupa menyesal seperti ahli nuklir meratapi kesalahannya? Dan pada akhirnya mereka justru paling lebih mudah, mau menyatakan sebenarnya. Artinya “Para fisikawan telah jauh lebih mengenal dirinya”.
Demikianlah kiranya. Yang satu punya ilmu agama setinggi langit. Satu punya ilmu sains setinggi langit. Keduanya lupa satu hal: “hati nurani”. Keimanan telah tandus tidak lagi kudus.
Ada sebuah ungkapan begitu menghujam: Ilmu tanpa hati jadi senjata. Katanya zikir tanpa adab jadi topeng. Rumus tanpa nurani jadi bom. Doa tanpa kasih jadi kutukan.
Danu. Uraian di atas mungkin berlebihan. Tapi kita serap jadi percakapan begini: Yah. Kita hidup di zaman label. Bisa saja kita sama dengan mereka nantinya tentang kalimat “katanya”.
Katanya ustaz. Katanya kiai. Katanya jenius, pandai, pintar, jagoan, kritis, idealis, berbudaya! Tapi lupa bertanya: katanya untuk siapa? Untuk tameng diri, menolong, atau untuk melukai? Vi merasa sesuatu yang membuatnya ikut larut. Mereka hanya saling menatap.
Atau mungkin sudah saatnya kita berhenti menghitung rakaat. Suara Danu berat nan lirih: “mulai menghitung berapa hati yang kita lukai hari ini.” Berhenti menghitung situs, ritus dari ritual jurnal sosial dan keadabanmu, mulai menghitung berapa prasangka pada perasa yang terdampak karena ego kita.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak bertanya berapa banyak wiridmu. Tapi berapa banyak manusia yang kau selamatkan dengan lisan dan perbuatanmu. Sejarah tidak bertanya berapa rumus yang kau temukan.
Tapi berapa penderitaan yang kau cegah dengan ilmumu.
Jangan sampai kita jadi “katanya juga”
tapi kenyataannya ahli dalam Sikapallakki.
Ahli dalam saling melukai. Baik di mimbar, di ruang paripurna, di istana, trotoar, di jalan, di kampung, di dunia medsos yang suka nyerocos sesukanya, di kampus atas nama akademisi, maupun di laboratorium. Semua masih merasa hanya “katanya”.
Setidaknya belajar. Belajar menutup mulut saat ingin jadi hakim. Belajar membuka dada saat ingin jadi rumah. Karena takut jangan-jangan aku juga hanya “katanya”.
Kucegat kembali, menghindari caraku bertutur, merawat diam dan pulang lagi ke rumah. Akan tetapi semua semakin tidak bisa terbendung, kalau hanya sekadar merenung saja.
Danu. Kita kayaknya harus berhenti menjelaskan. Setiap kali buka mulut, dianggap lumut. Yang keluar cuma “katanya”. Ini benar, katanya dosa. Padahal perut masih kosong, langit masih diam.
Katanya kita tidak beradab. Katanya tidak nasionalis karena tidak mengibar bendera. Padahal aku takut. Takut pura merdeka, padahal gerutuku dan seleraku berekspestasi pada negara berujung kecewa, takut pas mengibar, ada yang nusuk dari belakang.
Merdeka katanya, tapi masih terasa kita dirimpung terkandang. Sementara yang lain merdeka menghasut dan masih duduk mendustai kemundurannya.
Berbudaya katanya! Tetapi kita masih lupa menaruh bejana dengan bijaksana ke tempat semula lalu membuatnya jadi kosong. Masih suka main tipu-tipu saya.
“Katanya tahu, tetapi hanya tahu apa yang dia tidak tahu.”
Luka legam meradang di antara peradaban manusia yang masih kikuk, sukanya saling sikut, mempertahankan atribut yang juga hanya katanya. Aku mendengar katanya dan katanya bahkan seribu katanya.
Katanya pengarung bahkan petarung, pas lelah, kalah jadi murung, diliputi mendung tanpa hujan. Meracau, merasa paling benar dan menganggap diri pemenang.
Danu. Katanya romantis, sok puitis, tapi saat bersua, menikmati aroma bunga di balik temaram cahaya, yang terbayang cuma sensasi. Dan tetiba ekspestasi itu basi.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply