Perayaan Sebuah Republik di Bissampole

Riuh dan gemuruh kemerdekaan bernama Republik Indonesia ke-81 ini. Usia negeri yang terbaca dalam sejarah, pertengahan perjalanannya, menurutku hanya menyesuaikan pada tahun 1945 saja.

Rasanya selera berandaiku ini pupus di antara babad di abad yang tergolong masih beranjak dewasa. Dipaksanya aku bersorak-sorai bergembira, padahal kita masih terpenjara. Negeri yang sepertinya semakin terhujam dan dibabat.

Tapi hari ini aku pulang. Ke Bissampole.
Delapan puluh satu tahun kemerdekaan Republik ini rasanya hanya sekadar mengibarkan bendera, menulis puisi, dan esai seperti aku ini. Mendadak rasa menjadi kritis, padahal juga tergolong pragmatis. Kau terlalu goyah dan payah, Danu.
Vi menemukan Danu kembali di tengah amuk jiwanya yang belum merdeka sepenuhnya. Danu itu aku. Vi itu suara yang menyadarkanku.

Selongsong serta bekas peluru sejarah bersaksi. Jejak negeri yang kini ramai mengutil. Vi kembali menyadarkan Danu: Kau harus bangga! Pada semangat mereka. Menyaksikan sekelompok anak muda di kampungmu sendiri bernama Bissampole. Tempat peradaban dan jejak sejarah di Bantaeng dimulai.

Sepertinya mereka mulai merawat “assiama” satu dengan lainnya, semua golongan, semua strata. Menyatukan nilai yang berserakan selama ini menjadi rangkaian sebuah peristiwa. Dengan semangat yang dulu pernah mekar berseri, atas jiwa-jiwa mereka yang membara. Ingin menandai zamannya dengan menempatkan jejak pula, seperti para pemuda masa era kemerdekaan. Mendesak dan berharap tidak sekadar merdeka. Semoga ini bukan sekadar slogan dan seremonial saja.

Seakan bernapaktilas masa dulu ketika menyatukan segala elemen dan potensi dengan “assamaturu‘”, “accidong landang a’rapangrapang“, “siadakkan”, di tengah peradaban yang ingin dikembalikan. Bukan sekadar perayaan sebuah republik di tanah penuh sejarah para leluhur bernama Bissampole.

Bissampole bukan tanah dan sejarah hal biasa. Ia adalah salah satu dari Tujuh Kare’ yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Bantaeng. Di sinilah cahaya pertama menyapa utusan leluhur. Di sinilah dialog sakral melahirkan nama “Bantaeng”. Namun hari ini, tanah tua ini kembali ramai. Bukan oleh bunyi gandrang kerajaan, melainkan oleh bendera Merah Putih, lomba, dan tawa anak-anak. Tanah Bissampole sedang merayakan sebuah republik.

Danu. Kali ini mereka mengusung tema besar dengan gagah berani: “Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa’-taeng”. Ini sebuah harapan. “Harapan adalah mimpi yang menjadi kenyataan” tentang peradaban dan keadaban, tentang pola pikir dan cara memenuhi hajat bersama.

Ini bukan pula sekadar nampang dan numpang dalam perayaan 17 Agustus yang hanya perhelatan lomba itu-itu saja. Tetapi kali ini, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Di satu sisi ada Bungung Barania, sumur keramat tempat leluhur memohon berkah. Di sisi lain ada tiang panjat pinang yang berdiri kokoh di lapangan. Di satu sisi ada legenda Jangang Balibina yang melambangkan semangat juang. Di sisi lain ada anak-anak yang berlomba lari karung dengan semangat yang sama: pantang menyerah.

Perayaan republik di Bissampole terasa berbeda karena ia tidak memutus sejarah, justru merawatnya.

Bendera Merah Putih yang berkibar di halaman rumah-rumah Bissampole adalah bukti bahwa semangat kebangsaan bisa hidup berdampingan dengan kearifan lokal. Pohon beringin tua Pokok Baranaka dan Kayu Lompoa tetap disakralkan, sementara warga bersama-sama menghias kampung dengan umbul-umbul. Lomba tradisional seperti tarik tambang dan balap karung menjadi simbol gotong royong yang dulu juga mempersatukan Tujuh Kare’ untuk membentuk satu kerajaan.

Pada akhirnya kita mengikat serta mengingatkan kembali sejarah meski butuh perenungan dan tenunan riset serta data mengembalikan ironi dan sejawat pada trah dari Kare’ Bissampole hingga turun mengalir darahnya menjadi Jannang Bissampole. Ini sekadar mengingatkan. Jika ada simpang yang siur. Kita duduk bersama mebincangkan lebih arif.

Perayaan ini mengingatkan kita bahwa republik bukan hanya soal pemerintahan. Republik adalah tentang kebersamaan. Tentang bagaimana orang Bissampole, dengan sejarah panjangnya, tetap memilih menjadi bagian dari Indonesia. Tentang bagaimana sumur keramat dan lapangan upacara bisa berada dalam satu ruang yang sama tanpa saling meniadakan.

Di Tanah Bissampole, kemerdekaan tidak hanya dirayakan. Ia dihayati. Ia diwariskan. Dari cerita leluhur ke nyanyian anak-anak, dari sumur tua ke tiang bendera. Inilah wajah Indonesia: beragam, berakar, dan tetap satu.

Dan di sanalah, di tanah Bissampole, sebuah republik dirayakan bukan dengan gemuruh, melainkan dengan hormat, tawa, dan ingatan.

Kemerdekaan adalah rumah besar yang menaungi segala cerita kecil sebuah bangsa. Dan di salah satu sudut rumah itu, terdapat Tanah Bissampole — salah satu dari Tujuh Kare’ yang menjadi batu pertama berdirinya Kerajaan Bantaeng. Tanah ini menyimpan jejak cahaya gaib di Onto, bisik dialog yang melahirkan nama “Bantaeng”, serta napas leluhur yang hingga kini masih menjaga Bungung Barania dan Pokok Baranaka.

Setiap tanggal 17 Agustus, republik datang ke tanah ini. Bukan untuk menghapus sejarah, melainkan untuk merayakannya bersama.

Perayaan kemerdekaan di Bissampole berlangsung dalam dua denyut yang selaras. Denyut pertama adalah khidmat. Bendera Merah Putih dikibarkan diiringi penghormatan kepada para pendahulu Tujuh Kare’. Doa dipanjatkan, nama-nama leluhur disebut, dan keheningan sejenak diberikan untuk mereka yang telah merintis persatuan jauh sebelum kata “Indonesia” diikrarkan.

Denyut kedua adalah riuh. Lapangan kampung berubah menjadi panggung semangat. Anak-anak berlomba lari karung, bapak-bapak bertanding tarik tambang, ibu-ibu menghias gapura dengan janur dan umbul-umbul. Di tengah sorak-sorai itu, hadir pula legenda Jangang Balibina (ayam jago yang tak terkalahkan) sebagai pengingat bahwa keberanian dan pantang menyerah telah lama menjadi watak orang Bissampole.

Yang membuat perayaan di sini berbeda adalah cara ia menjahit masa lalu dengan masa kini. Republik tidak datang sebagai penakluk adat. Ia datang sebagai saudara. Upacara bendera tetap dilakukan dengan tata cara nasional, namun setelahnya warga duduk melingkar, berbagi makanan, dan saling bercerita. Orang tua menuturkan kisah Tomanurung dan asal-usul “Baa’ Taeng”. Kaum muda menjawab dengan cita-cita dan harapan bagi Bantaeng yang lebih maju.

Di sinilah kita melihat makna kemerdekaan yang sesungguhnya: kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri, sekaligus menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Pohon beringin tua tetap berdiri sakral di sisi lapangan, sementara tiang bendera menjulang di tengahnya. Sumur keramat tetap dijaga kesuciannya, sementara airnya juga dipakai untuk menyegarkan dahaga para peserta lomba. Ibaratnya.

Perayaan sebuah republik di Tanah Bissampole adalah bukti bahwa identitas tidak harus dipertentangkan. Sejarah kerajaan dan semangat kebangsaan dapat berjalan berdampingan. Adat dan konstitusi dapat saling menguatkan.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukanlah titik akhir. Ia adalah kerja terus-menerus untuk merawat ingatan, menjaga persatuan, dan menumbuhkan harapan. Dan di Bissampole, kerja itu dilakukan dengan cara yang paling manusiawi: berkumpul, menghormat, tertawa, dan mengingat.

Di tanah yang pertama kali disapa cahaya Tumanurung, kini berkibar cahaya lain: cahaya Merah Putih.

Begitulah peradaban. Bukan mengulang, tetapi mengonfirmasi. Sebuah afirmasi bahwa kebangkitan adalah perpaduan dari keinginan untuk tumbuh bersama, mekar dan memetik buah hasil proses kerja-kerja solidaritas.

Selama cahaya itu masih dijaga, maka republik, peradaban Bissampole akan terus dirayakan. Bukan hanya pada tanggal 17, tetapi dalam setiap tindakan warga yang memilih untuk bersatu.

Republik ini bukan milik satu golongan. Dia milik publik. Begitu pula peradaban yang pernah menjadi tonggak sejarah, yang kadarnya diukir oleh para pemenang. Tetapi kita mencoba menelusuri jejak leluhur sebagaimana negeri berusaha merepublikkan diri. Setidaknya mengisinya dengan segala kemampuan, mengisi ruang karya.

Di Bissampole, republik tidak dirayakan. Republik dirawat.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *