Zakat dan Infak dalam Perspektif LoSA

Saya merasakan sungguh Kasih-Sayang Allah tak terbatas. Bagi manusia dalam menjalani kehidupannya yang penuh kebahagiaan dan kesuksesan, Allah telah memberikan berbagai modal besar dan utama. Pantaslah ketika dikatakan bahwa Allah memberikan deposit rezeki unlimited kepada manusia sejak awal kehidupannya.

Kepada manusia, Allah bukan hanya menghadirkan agama (baca: Agama Islam) dan kitab sucinya yang di dalamnya berisi tuntunan hidup sempurna langsung dari-Nya, tetapi juga dalam kehidupan secara universal yang berlaku di alam semesta dan pada diri manusia selaku makhluk dan hamba-Nya, Allah menghadirkan yang bisa kita menggunakan istilah teknologi komputer: Operating system (OS), software, hardware, serta lengkap dengan big data, dan algoritmanya.

Mulai dari agama dan kitab sucinya sampai pada algoritma—maksud saya bukan algoritma teknologi, tetapi algoritma psikologis-spiritual—terintegrasi dan kompatibel antara satu dengan yang lainnya. Bisa pula ditegaskan bahwa antara ayat-ayat qauliyah Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an memiliki korelasi positif dengan ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam semesta, termasuk yang ada dalam diri manusia.

Berdasarkan judul dan pandangan awal di atas, saya ingin menegaskan bahwa perintah berzakat dan berinfak sebagai ayat qauliyah yang tertuang dalam Al-Qur’an sebagai suatu perintah yang kelak—minimal—akan bermuara atau membangun ketakwaan dalam diri umat Islam, ini pada dasarnya berada dalam operating system (OS) Allah dan kompatibel dengan otak dan hati (tepatnya jantung) sebagai hardware yang di dalamnya terdapat pikiran/akal dan perasaan/kalbu (qalbu) sebagai software dalam diri manusia.

Optimalisasi integrasi dan kinerja psikologis-spiritualitas di atas, Allah di dalam operating system-Nya juga menciptakan satu hukum, prinsip, dan mekanisme operasional yang selama ini dikenal dengan sunnatullah atau yang dalam istilah lain, disebut law of attraction (LoA), hukum tarik menarik. Tentu saja di balik semua ini, Allah bukan hanya menghadirkan berbagai rumus nilai, makna, proses, tujuan, dan hasil, tetapi sudah dilengkapi dengan algoritma—sejenis langkah metodis dalam bahasa program teknologi.

Berdasarkan algoritma dan operating system Allah yang telah built-in (terbangun dan kompatibel) dalam diri manusia dan alam semesta secara umum, memiliki tujuan dan dampak nyata yang dahsyat bagi orang-orang yang beriman, mematuhi perintah dan menjauhi larangan dari ayat-ayat qauliyah Allah, memaksimalkan potensi dirinya (hardware dan software yang telah ditegaskan di atas), dan law of attraction yang ada.

Apa yang baru saja terungkap di atas sebenarnya itu adalah penegasan yang selaras dengan kacamata maqasid syariah dalam meneropong Islam sebagai agama. Artinya, ada tujuan, maksud, atau rahasia-rahasia di balik penetapan hukum Islam oleh Allah Swt, yang secara substansial bermuara pada konsepsi ideal untuk mewujudkan kemaslahatan (kebaikan) serta menghindari kemudaratan (keburukan) bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Meskipun sebentar dalam konteks tulisan ini sebagaimana judul di atas fokus pada dimensi dunia—kehidupan  yang lebih baik di dunia.

Adalah Ahmad Norma Permata, telah menegaskan dalam buku karyanya bahwa agama memiliki mekanisme institusional. Agama memiliki kemampuan untuk menciptakan dan/atau mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Tidak semata berorientasi surga-neraka dan/atau akhirat. Komaruddin Hidayat pun menegaskan agama untuk peradaban, yang termaknai etos agama memiliki dampak nyata dan dahsyat dalam kehidupan.

Zakat dan infak pun sebagai bagian dari ajaran, tuntunan, dan/atau perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam, itu memiliki nilai dan etos yang untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Hanya saja, ini bisa berdampak positif atau memiliki implikasi yang nyata dan dahsyat, ketika zakat dan infak tidak hanya dilihat sebagai kewajiban dan anjuran kebaikan yang bersifat vertikal semata. Namun, zakat dan infak pun dilihat, dipahami, diresapi, dijalankan dalam perspektif yang utuh mulai kesadaran maqasid syariah agama Islam sampai pada law of attraction sebagai salah satu wujud nyata ayat kauniyah Allah Swt.

Zakat dan infak ketika dibawa dalam dimensi atau perspektif law of spiritual attraction (LoSA) akan membangun pemahaman dan kesadaran bahwa sesungguhnya zakat dan infak memiliki mekanisme psikologis-spiritualitas dalam diri manusia yang berimplikasi dalam kehidupan nyata. LoSA adalah turunan atau kontekstualisasi dari law of attraction (LoA) atau hukum tarik menarik yang dibawa ke ranah spiritual-teologis. Sehingga dimensi psikologis LoA akan semakin dahsyat karena mendapatkan sentuhan spiritualitas-teologis.

Sebelum mengulas lebih jauh, saya terlebih dahulu ingin mengatakan bahwa pembahasan ini sangat penting karena ada hal paradoks dari hal ini telah menimbulkan dampak buruk, negatif, dan destruktif (merusak) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Maksudnya, Indonesia yang kaya raya akan sumber daya alam dan bahkan telah memiliki dasar negara yang dikenal sebagai ideology par excellence, tetapi belum memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia karena ada sikap dan tindakan paradoks dari nilai zakat dan infak dan itu mengalami mekanisme dalam LoSA, sehingga respons algoritmiknya pun buruk atau negatif.

Zakat dan infak dalam perspektif LoSA sesungguhnya bisa menjadi afirmasi positif agar diri kita memiliki keberlimpahan rezeki atau minimal tidak pernah mengalami kekurangan rezeki untuk memenuhi kebutuhan, selain bisa menjadi lahan subur bagi Pancasila sebagaimna tulisan saya, “Nilai Zakat Menjadi Lahan Subur Pancasila”, yang terbit beberapa hari yang lalu di Paraminda.com.

Menunaikan kewajiban zakat dan/atau mengikhlaskan hati untuk berinfak dan bersedekah, sesungguhnya itu mengandung afirmasi positif yang melibatkan kemahakuasaan dan kemahabesaran Allah untuk mencapai keberlimpahan rezeki. Ini bukan sekadar afirmasi positif biasa yang terkadang melupakan Allah Swt, dan semata mengandalkan LoA dan lupa bahwa Allah memiliki Hak Prerogatif atas semuanya, termasuk terhadap LoA.

Orang yang berzakat, berinfak, dan bersedekah dipastikan hartanya tidak akan menyusut justru sebaliknya akan bertambah sebab sebelum tindakan ini dilakukan ada mekanisme psikologis-spiritualitas yang bekerja dalam diri manusia, alam semesta, dan hukum yang Allah telah ciptakan. Secara psikologis orang yang berzakat, berinfak, dan bersedekah dipastikan merasa “lebih” atau memiliki kelebihan harta atau sesuatu sehingga dikeluarkan atau diberikan pula ke orang lain. Secara tidak langsung ini menjadi afirmasi positif. Atau dalam bahasa lain, ini menjadi doa bagi dirinya (baca: orang yang berzakat, berinfak, dan bersedekah).

Untuk mendukung terwujudnya kedahsyatan di atas, Allah pun melalui hadis qudsi “Aku sesuai persangkaan hambaKu kepadaKu”. Tentu saja firman Allah ini, menjadi operating system (OS) untuk aplikasi afirmasi positif atau tempat bekerjanya software LoA maupun LoSA mengalami mekanisme dan memengaruhi proses algoritmik.

Dalam diri manusia—khususnya umat Islam yang memahami dan menyadari—pada mulanya di alam ruh manusia dibukakan ruang atau diberi akses langsung dan ikatan kuat Khalik-Hamba dengan Allah, ketika Allah mengawali “Alastu birabbikum”, kita pun menjawab “Bala syahida”. Hal ini ada yang mengistilahkan sebagai syahadat ruh.

Kemudian Allah Swt menciptkan pada diri manusia berupa otak dan jantung (Islam menyebutnya sebagai hati) yang di dalamnya terdapat pikiran/akal dan perasaan/kalbu. Keduanya ini sebagai anugerah terbesar dari Allah Swt, baik yang berbentuk hardware maupun software memiliki mekanisme yang akan mengoptimalkan dan untuk mencapai kedahsyatan agar zakat dan infak itu bisa menjadi afirmasi positif atau sejenis doa untuk mencapai keberlimpahan rezeki.

Kedahsyatan dan pengaruh pikiran dan perasaan bisa dipahami dan disadari dalam perspektif fisika quantum. Di mana inti kehidupan ini dipahami berpusat pada atom, di mana atom ternyata 99,99999 persen adalah energi dan 0,00001 persen adalah materi. Berbeda dengn fisika klasik atau dikenal pula fisika newton yang misahkan antara materi dan pikiran atau materi dan energi, fisika quantum justru meyakini bahwa antara keduanya tidak bisa dipisahkan dan energi dan/atau pikiran justru bisa mengubah materi dan hal material lainnya.

Hal di atas, bisa dipahami dengan baik dalam buku Breaking The Habit of Being Yourself karya Dr. Joe Dispenza. Bahkan dari Dispenza, kita pun bisa memahami bahwa pikiran dan perasaan yang selaras, seiring, dan/atau senada itu bisa memengaruhi realitas kehidupan. Inilah yang disebut dengan gelombang elektromagnetik dalam diri manusia. Gelombang elektromagnetik itu lahir dari sinyal listrik (elektrik) dari pikiran dan daya magnetis dari perasaan. Menguatkan referensi tentang ini bisa pula membaca buku Psikologi Iman karya Prof. Dr. Nevzat Tarhan dan buku Law of Spiritual Attraction: Prinsip Sukses Beyond LOA karya Priatno H. Martokoesoemo.

Dari pemahaman di atas, mulai dari penegasan firman Allah dalam hadis qudsi tersebut, bagaimana pikiran dan perasaan dan perspektif fisika quantum, bisa menguatkan kesimpulan bahwa berzakat berinfak, itu berarti kita sedang memancarkan gelombang elektromagnetik (paduan selaras pikiran dan perasaan) untuk memengaruhi realiatas kehidupan agar diri kita semakin sejahtera, semakin memiliki keberlimpahan rezeki, dan/atau minimal tidak pernah mengalami kekurangan rezeki dalam hal memenuhi kebutuhan.

Persoalan hari ini, baik yang saya temukan puluhan tahun terakhir ketika ada penyaluran bantuan pemerintah, banyak orang mampu berlomba-lomba mengaku tidak mampu agar bisa mendapatkan bantuan. Sama halnya, dalam rentang waktu sepuluh bulan saya menjadi Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bantaeng, banyak oknum yang secara ekonomi termasuk orang mampu, tetapi secara personal mengajukan permohonan bantuan ke BAZNAS Kabupaten Bantaeng untuk kebutuhan pribadinya. Semangat menerima atau tangan di bawah jauh lebih besar daripada semangat memberi atau tangan di atas.

Mereka yang terakhir ini pun, seperti kurang (untuk tidak mengatakan “tidak”) tmemahami dan menyadari bahwa tindakannya itu dalam perspektif LoSA atau dalam perspektif afirmasi sama saja sedang mendoakan atau membangun harapan dalam dirinya sendiri untuk kelak menjadi orang yang kurang/tidak mampu dan/atau tidak berkecukupan. Dan, saya meyakini ayat qauliyah dan ayat kauniyah Allah dalam konteks ini akan terbukti, cepat atau lambat mereka akan merasakannya.

Mungkin inilah pula, sehingga Indonesia belum sejahtera, karena selain the love of power (cinta kekuasaannya) terlalu tinggi, semangat menerima dan tangan di bawahnya lebih dominan. Bahkan berwujud keserakahan.

Anjuran berinfak dalam keadaan lapang dan sempit, sebenarnya Allah sedang mengharapkan kita untuk memiliki keberlimpahan rezeki, Allah pun sudah menyiapkan hukum dan berbagai perangkatnya agar hal tersebut terbukti.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *