Ada kampung yang sekadar menjadi tempat orang tinggal. Mengada pula kampung, menyimpan ingatan panjang, tentang bagaimana sebuah negeri bermula. Bissampole agaknya termasuk yang kedua.
Bentangan sejarah Bantaeng menabalkan Bissampole bukan nama yang datang belakangan. Ia telah disebut dalam kisah tua, tentang tujuh wilayah, masing-masing dipimpin oleh seorang Kare’: Onto, Bissampole, Sinoa, Gantarangkeke, Mamampang, Katapang, dan Lawi-Lawi.
Ketujuh Kare’ itu, dalam tradisi sejarah Bantaeng, bermufakat mencari seorang pemimpin yang dapat menyatukan mereka. Peristiwa itu kemudian berkelindan dengan kisah Tomanurung ri Onto dan terbentuknya tata awal Kerajaan Bantaeng.
Sajian kisah tersebut, Bissampole memperoleh posisi unik nan menarik. Kare’ Bissampole disebut sebagai salah seorang yang hadir dalam permufakatan itu. Salah satu versi cerita, ia menjadi suara yang menyampaikan maksud ketujuh Kare’, guna mencari seorang pemimpin, agar mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Tentu saja, kisah semacam ini perlu dibaca dengan kewaspadaan sejarah. Tradisi lisan, sumber lokal, penelitian akademik, dan dokumen kerajaan tidak selalu menghadirkan satu versi yang seragam. Namun, di balik perbedaan itu, terdapat satu hal yang sulit diabaikan: Bissampole memiliki lapisan sejarah panjang, dalam ingatan kolektif Bantaeng.
Pertanyaannya kemudian: apa yang hendak dilakukan generasi Bissampole hari ini terhadap warisan itu?
Pertanyaan ini menjadi penting, justru ketika anak-anak muda Bissampole, dalam momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mereka mulai memikirkan kampungnya secara lebih jauh. Dari kegelisahan dan kehendak itu lahir sebuah ungkapan tematik: “Bangkitnya Peradaban Bissampole di Baa-taeng”.
Ungkapan tersebut, bagi saya, bukan sekadar slogan. Ia mengandung sebuah panggilan. Sebab, kata bangkit mengandaikan adanya sesuatu yang pernah hidup, lalu meredup, dan kini hendak dihidupkan kembali.
Sementara kata peradaban mengandung pengertian, jauh lebih luas daripada pembangunan fisik. Jalan mulus, lingkungan bersih, drainase tertata, ruang publik nyaman, dan rumah-rumah terurus memang bagian dari kemajuan. Namun, sekotahnya belum otomatis menjadi peradaban.
Peradaban pertama-tama adalah cara manusia mengatur kehidupannya. Ia tumbuh dari pengetahuan, nilai, etika, kebudayaan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, kecakapan mengelola lingkungan, serta kemampuan sebuah komunitas mewariskan kebajikan kepada generasi berikutnya.
Peradaban, pada aras lebih dalam, sebentuk kemampuan satu masyarakat mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan mennyata kebiasaan baik, dan kebiasaan baik mewujud warisan lintas generasi. Sebab, apa gunanya sebuah kampung memiliki sejarah panjang, bila setiap generasi mesti memulai ingatan dari halaman kosong?
Peradaban menghendaki adanya kesinambungan. Yang baik dari masa silam tidak sekadar dikenang, tetapi dipelajari; yang masih relevan tidak sekadar dipelihara, tetapi dihidupkan kembali dalam bentuk sesuai dengan zaman. Dengan begitu, peradaban bukan perkara menoleh ke belakang, melainkan cara sebuah masyarakat membawa sesuatu yang berharga dari belakang, untuk dibawa mengarungi hari depan.
Di lapik inilah anak-anak muda memperoleh kedudukan penting: bukan hanya sebagai pewaris Bissampole, melainkan sebagai penafsir baru atas warisan itu. Mereka tidak ditakdirkan menjadi penjaga museum masa silam. Mereka justru ditantang menjadikan warisan sebagai tenaga, guna mencipta sesuatu yang baru.
Sebuah kampung dapat memiliki bangunan bagus, tetapi belum tentu memiliki kehidupan beradab. Sebaliknya, kampung sederhana dapat menyimpan kekayaan peradaban, melalui cara warganya saling menjaga.
Karena itu, Bangkitnya Peradaban Bissampole, tidak sepatutnya dimengerti sebagai keinginan, untuk menjadikan kampung ini sekadar lebih modern. Ia semestinya dibaca sebagai ikhtiar, buat membangun kembali manusia Bissampole, beserta lingkungan hidup, kebudayaan, ingatan, dan masa depannya.
Di sinilah sejarah menemukan kegunaannya. Sejarah bukan gudang untuk menyimpan kebanggaan. Sejarah merupakan sumber pertanyaan bagi masa kini.
Jikalau dahulu tujuh Kare’ dapat duduk bersama, untuk mencari jalan keluar dari keadaan yang mereka hadapi, apa yang dapat dipelajari generasi Bissampole sekarang?
Bila dulu mereka menyadari bahwa kehidupan terpecah-pecah membutuhkan kesepakatan, bagaimana semangat itu diterjemahkan ke dalam kehidupan kampung hari ini?
Manakala Bissampole pernah menjadi bagian dari sebuah proses besar, melahirkan Bantaeng, apa yang dapat dilahirkannya kembali pada kiwari?
Pertanyaan-pertanyaan itulah, semestinya menghidupkan gagasan ini.
Dengan demikian, minda tentang, Bangkitnya Peradaban Bissampole, tidak seharusnya hanya menjadi ide tentang masa lampau. Ia perlu bergerak dari ingatan menuju kesadaran, bermula kesadaran bermuara gagasan, dan berhulu gagasan berwujud laku bersama.
Di dalamnya, sejarah Bissampole perlu ditelusuri. Cerita para orang tua perlu dihimpun. Nama-nama tempat lama pentig dicatat. Jejak tokoh, makam, rumah tua, tradisi, permainan, bahasa, makanan, kesenian, serta berbagai pengetahuan lokal, urgen diselamatkan dari kemungkinan lenyap bersama pergantian generasi.
Namun, pendokumentasian hanyalah satu langkah.
Langkah berikutnya, bertanya tentang Bissampole hari ini: bagaimana pendidikan anak-anaknya, kehidupan pemudanya, lingkungan kampungnya, hubungan antarwarganya, kebudayaannya bertahan di tengah perubahan zaman, dan bagaimana teknologi dapat digunakan, tanpa membuat manusia tercerabut dari akar sosialnya.
Sesudah itu, barulah kita dapat berbicara tentang Bissampole yang hendak dibangun.
Bissampole masa depan mestilah sebuah kampung yang mengenal masa lalunya, waima tidak hidup di dalam masa lalu. Ia menghormati warisan, tiada membeku menjadi museum. Ia terbuka terhadap kemajuan, tetapi tidak kehilangan watak. Ia mampu menerima perubahan tanpa kehilangan ingatan.
Pada pucuknya, Bangkitnya Peradaban Bissampole, serupa ajakan, untuk menjadikan kampung sebagai subjek sejarahnya sendiri.
Bukan sekadar tempat tinggal, wilayah administratif, dan nama yang disebut dalam kisah lahirnya Kerajaan Bantaeng. Melainkan sebuah ruang kehidupan yang terus melahirkan manusia, gagasan, kebudayaan, dan kebajikan.
Mungkin inilah saatnya Bissampole berhenti hanya bertanya, “Dari mana kami berasal?” Pertanyaan lebih penting: “Setelah mewarisi sejarah sepanjang itu, ke mana kami hendak kelana?”

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply