Makar Tuhan

Tuhan tidak diam, buta, atau tuli. Kebrutalan manusia saling menegasikan satu sama lain, menjadikan manusia tamak, buta hati, dan bahkan tega memberangus manusia lainnya. Ketamakan dan cinta dunia mendorong manusia untuk saling meniadakan.

Sejarah manusia akan berulang dari masa ke masa. Aktor dan konteksnya saja yang berbeda. Di masa lampau, sekitar 14 abad silam, cahaya Islam hampir punah oleh kekejaman tiran Dinasti Umayyah. Puncaknya, seluruh zuriah Nabi dilenyapkan, kecuali beberapa anggota keluarga Nabi saja yang dibiarkan hidup.

Dari keluarga yang tersisa itu, cahaya Islam tidak sepenuhnya redup. Perlahan, narasi perjuangan keluarga Nabi kembali disuarakan, meski dalam kondisi mencekam. Kebenaran tidak akan benar-benar punah. Di seluruh sudut kota disebar bermacam makar agar umat Islam tidak lagi berkesadaran, melainkan hanya sekadar menjalankan ibadah ritual.

Islam mulai bertransformasi manakala peristiwa Nainawa diungkap pelan-pelan. Cahaya Islam mulai tampak berkat zuriah Nabi yang masih hidup. Umat mulai sadar, cahaya api Islam makin lama makin bersinar. Kebenaran mulai menemukan ruangnya, pemahaman umat akan nilai Islam mulai menemukan akarnya, gerakan kesadaran mulia digalakkan, dan majelis ilmu mulai tumbuh.

Meskipun kala itu umat Islam mulai bertransformasi, bukan berarti kekejian yang dilakukan oleh tiran ikut terhapus. Dinasti bisa berganti, namun personifikasi Yazid sang penguasa zalim selalu hadir di setiap era kekuasaan.

Di masa kejayaan Bani Umayyah, nilai keimanan direduksi; Islam diinterpretasikan sekadar menjalankan formalitas belaka. Penguasa kala itu melakukan pemurnian Islam, membelokkan sejarah, membuat hadis-hadis palsu, dan mencetak ulama karbitan. Di masa itu, kebenaran tersembunyi di balik awan gelap, sedangkan kepalsuan menjadi terang benderang.

Namun demikian, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Di situlah makar Tuhan bekerja. Sekuat apa pun skenario kejahatan berjalan, selalu saja ada orang-orang yang meneriakkan kebenaran. Maka, lambat laun kebenaran akan nyata pada waktunya.

Maka, tidak salah jika kiwari, sejarah 14 abad silam seakan merefleksikan kembali perjalanan umat Islam. Kata Imam Khomeini, “Jika setiap orang Islam menuangkan air satu ember, maka akan terjadi banjir bah yang akan menghapuskan Zionis.” Pernyataan itu merupakan metafora pentingnya persatuan umat.

Semangat perlawanan umat Islam terhadap kolonialisme merupakan momok yang menakutkan bagi kaum imperialisme. Maka, berbagai upaya mengaburkan interpretasi Islam dilakukan secara sistematis dan masif. Para penjajah itu menggunakan tangan-tangan ulama yang cinta duniawi (hubbud dunya) untuk mengaburkan cinta pada Ilahi.

Kelompok pemecah belah sengaja diproduksi dan ajaran pemurnian disebar di majelis-majelis ilmu. Interpretasi nilai keimanan Islam diciutkan. Islam dipaksa mengakui keadikdayaan bangsa penjajah. Keimanan bukan lagi jalan pengetahuan yang melahirkan tanggung jawab sosial. Keimanan hanya sebatas dalam ide, bukan jalan penerang, apalagi penunjuk jalan.

Penafsiran Islam terhadap tanggung jawab sosial tidak boleh menyentuh kemapanan kolonialisme sehingga internalisasi keimanan berhenti pada formalitas agama semata. Oleh karena itu, para kolonialisme tidak melarang umat muslim melaksanakan peribadatan dan ritual lainnya. Mereka hanya menginginkan pengakuan terhadap kekuasaan. Sepanjang umat mengakui kekuasaannya, mereka akan diam.

Perlawanan bangsa Persia terhadap campur tangan imperialis tak pelak merupakan manifestasi pesan duka historis Karbala. Transformasi pesan duka itu mewujud menjadi perlawanan politik nyata bangsa Iran saat ini.

Pascarevolusi pecah, Iran terbebas dari bayang-bayang tirani, juga campur tangan asing. Empat puluh tahun setelah revolusi, bangsa Iran bangkit dengan semangat Asyura. Tak hanya bebas dari tiran dan kolonialisme, terlebih lagi, nilai-nilai keimanan terhadap antipenjajahan terus mereka teriakkan (“Mampus Amerika, mampus Israel!”).

Selama penjajahan dilakukan oleh Amerika dan Israel, selama itu pula bangsa Iran tidak akan berdamai dan bergeming. Keberanian terhadap kaum zalim adalah bagian dari iman. Untuk menyempurnakan iman, seseorang mesti bebas dari sifat duniawi (harta dan kekuasaan).

Bukankah esensi dari agama adalah iman? Iman yang bernapaskan pengetahuan akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan tercerahkan. Sebuah bangsa yang masyarakatnya tercerahkan akan merasakan kemajuan pengetahuan dan teknologi. Semoga bangsa kita menunjukkan tanda-tanda ke arah itu.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *