Aku buat sendiri satir pada judul, tetapi apa guna. Tidak mengapa! Biar lega sesak di dada di tengah luka terkoyak sebuah negeri yang seharusnya kaya, disegani, menjadi seperti istilah yang kini santer “Londoireng”. Hem.
Tidak harus ikut menyeretku ke suatu hal tanpa kumengerti. Cukup hal biasa bin sederhana saja kucelupkan pada narasi ini.
Saat aku sembunyi dari riuh ramai, ada gejolak ingin lompat menumpahkan segala sesak yang selama ini digasak oleh keadaan, sosial, kultur, manusia yang pudar warna-warninya. Masih selera hitam putih saja. Tidak berani bermain kembali dengan abu-abu, dan degradasi. Bahkan akhir ini aku memilih melukis siluet saja.
Walau awalnya getol tidak percaya bambu runcing sebagai perlawanan. Karena di baliknya ada perundingan, ada koalisi, ada petisi yang harus disepakati. Istilah perundingan meja bundar serta beberapa peristiwa perundingan lainnya. Akhirnya diproklamasikan.
Aku juga sangat menghargai para Kusuma Bangsa, pahlawan yang di dadanya tertembus peluru, lalu senyumannya merayap ke darahnya sendiri mengucap kata “merdeka” bahkan buka syahadat atau kalimat tauhid. Aku percaya itu. Sungguh sampai merasakan denyut nadi perjuangannya.
Tibalah pagi pukul 09.00. Aku menghadiri pertama kali sebuah perayaan itu juga hampir telat bangun, untung ada teman segera membangunkan lewat deringan hang mengusik tidur lelapku. Aku yang masih di antara serpihan-serpihan keresahan, sampai pada akhirnya aku lupa mengibarkan bendera dari bambu tua depan rumah. Hingga berdebat sama Ibu.
Yah. Sisa di halaman rumah kayaknya, meski ibu sudah susah payah menyuruh pada akhirnya mengalah. Maafkan Indonesiaku. Rasa nasionalis tanpa bendera masih melekat melebihi yang pura-pura merdeka, tetapi masih suka menggerutu dan suka bersekutu untuk mencabik sesama anak negeri.
Berusaha dan memaksakan dengan khidmat merayakan yang belum tuntas bernama upacara kemerdekaan. Bendera. Pidato. Lagu. Air mata. Semua rapi. Semua khusyuk. Padahal di luar pagar, masih ada lapar, utang, dijual, dibungkam.
Kita rayakan bersama keterpurukan dan kenduri yang kini penuh onak dan duri.
Kemerdekaan, tapi kita belum merdeka dari rasa pengecut, menulis puisi hanya sekadar didengar tanpa reaksi, membuat perayaan setahun terdeteksi, esok terburai sepi tanpa bertahan untuk menguatkan bersama, karena hanya kita merasa paling merdeka, padahal kita masih stagnan di simpang peradaban. Sepertinya kita masih ragu dan takut.
Negeri penuh pesona tetapi merana. Hutan, aut, sawah, gunung, tawa, gotong royong, “Tuhan bersama kita”. Bambu runcing, pekikan merdeka. Ternyata masih ada tangis bayi dan anak-anak di kolong jembatan. Pendidikan masih mahal, ruang ekspresi hanya sekadar ekspresi tanpa reaksi dan solusi.
Merana dijajah baru, dijajah lama, dijajah sama sesama. Betapa indah slogan dan di brosur. Namun ada luka di lapangan dipaksa anak negeri menerima dengan lapang.
Sungguh! Saya tidak meledek. Hanya berusaha dalam kesadaran. Ada kecewa tetapi buat apa? Ada resah dan miris, tapi sekali lagi untuk apa!? Kusaksikan riuh ramai, lalu sedih karena kita paling jago upacara, tapi paling susah jujur. Itu juga akan sia-sia. Jujur akan melemparkanmu ke sudut makam tanpa taburan bunga dan doa kelak.
Bukankah Kemerdekaan itu pas kita berani “kembali ke Kesadaran”? Berani lihat yang merana tanpa ditutup spanduk. Berani berhenti merayakan simbol, mulai merawat manusia.
Katanya kita bilang Tuhan itu penyayang. Karena negeri ini tidak butuh lebih banyak orasi. Butuh lebih banyak tangan yang menolong. Dari sebuah negeri merdekanya baru belum sampai satu abad terasa kehidupan, hak anak-anak negeri dibabat.
Kita pura-pura tidak lihat. Kita tutup pakai bendera, konser, dan kata “merdeka!”.
Padahal di dada kita sendiri masih ada rantai, takut, utang budi, utang kata, utang jujur. Khidmat merayakan. Sesungguhnya itu kalimat paling sakit.
Karena khidmat adalah sungguh-sungguh. Berarti kita benar-benar serius merayakan, sesuatu yang kita tahu belum selesai. Kita masih saja ikut terbuai dan tentunya belum tunai merdeka nan hakiki.
Pada akhirnya kita berhenti menyalahkan. Berhenti bertabur makian terhadap negeri sendiri. Karena makian tidak mengenyangkan yang lapar. Begitulaharah tidak menyekolahkan yang putus. Karena kebencian pada negeri hanya akan melahirkan negeri yang makin kita benci.
Lalu mau apa? Kening Danu seketika mengucur sebutir peluh di antara siang nan gerah sebuah perayaan atas nama negeri yang dia masih sangat dicintai.
Danu. Vi tetiba menepuk pundak Danu dari harapan dan mimpinya yang sepi. Kau harus tahu: Tinggal kita mau melepas atau melakukan hal sederhana saja.
Melepas ego yang ingin jadi pahlawan. Melepas perlu diakui. Melepas kemerasaan kita paling nasionalis, dan idealis, kita juga perlu pula mendengar pidato.
Selanjutnya Danu. Perlu kau dan aku, mereka tahu, harus belajar menekuni diri dengan tidak mudah tersulut, tetapi belajar memahami bersama; bahwasanya negeri ini tidak akan mengubah kebisingan dan kebisuan menyaksikan penderitaan rakyat karena satu orasi. Tapi negeri ini bisa berubah karena sejuta hal sederhana yang dilakukan diam-diam. Dan kalau perlu, bahkan Tuhan saja tidak tahu tentang apa yang telah kau buat untuk negeri ini.
Aku tidak mengibarkan bendera. Namun masih ada rasa tersisa nasionalis, tanpa bendera masih melekat melebihi yang pura-pura merdeka, tetapi masih suka menggerutu dan suka bersekutu untuk mencabik sesama anak negeri.
Pagi itu aku duduk di teras. Bendera belum naik. Ibuku masih berusaha menegur dan menyuruhku. Nak tersisa rumah kita ini. Sementara tetangga sudah sejak kemarin jauh sebelum tanggal kemerdekaan telah mengibarkan. Aku berusaha menghindar pertanyaan dan pernyataan ibuku hampir dua hari.
Bukan karena benci merah putih. Tapi karena semalam aku lihat anak di ujung gang merayap penuh luka sosial dan terhuyung mencari mimpinya yang terenggut. Dan paginya dia disuruh teriak “Merdeka!” paling keras.
Kemerdekaan itu bukan diukur dari seberapa tinggi bambu lalu mengikatkan bendera dimainkan angin empat musim, tersengat matahari, lusuh kehilangan dengan ikhlas kemilaunya.
Aku tidak anti upacara. Aku hanya lelah kalau upacara jadi alibi. Alibi untuk merasa sudah “berbuat” padahal cuma berbaris.
Alibi untuk merasa sudah “cinta tanah air” padahal tiap hari ikut mencabiknya lewat hoaks, lewat makian, lewat diam saat ada yang dizalimi.
Negeri ini tidak butuh aku yang paling lantang. Negeri ini butuh aku yang paling bertahan. Untuk tetap waras. Tetap menolong bukan saling todong. Dan untuk tidak ikut jadi bagian dari “keadaan, sosial, kultur” yang menggasak warna manusia.
Maafkan aku, Indonesiaku.
Aku belum sempurna mengibarkanmu.
Tapi aku janji: aku akan berusaha menghidupimu. Lewat hal sederhana. Lewat tangan yang tidak gemetar saat memberi. Lewat mulut yang tidak ringan saat memaki.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply