Sikapallakki

Seketika mulai rapuh. Melepuh, luluh, dan keruh. Sejumud hidangan asin, manis, pekat, tawar, dan pahit sepertinya susah lagi kita definisikan. Untuk guyub, tergantung selera, strata sosial, mulai pudar bin hambar.

Tidak perlu pura-pura tidak tahu bahwa realitas yang ada tampak di depan hidung.

Sudut pandang sosiologi dan antropologi mencoba menafsirkannya: Beberapa bentuk mentalitas serta kebiasaan tradisional kerap menjadi belenggu kemajuan untuk bertindak. Menjadikan manusia berada pada persimpangan, terus saja, berhenti tiga detik, atau maju labrak tanpa kompas.

Sepertinya Danu lupa bahwa dia juga suka menerabas kebiasaan mencari jalan pintas atau instan, tanpa melalui sebuah prosesi kehidupan, pada aturan yang dipaksakan benar, serta pernah dan sering meremehkan sesuatu yang sepele.

Kurangnya perhatian pada kualitas diri. Di sisi lain, dengan penuh ambisi bahkan saling menghabisi, gencar mencari kesalahan dan kelemahan.

Begitu lantip selalu dikutip “Sipakainga‘”. Akan tetapi, siklus dan cara kesadaran yang primitif. Enggan mundur setapak saja sekadar merunut. Katanya berbudaya, tetapi suka tipu daya, mengebiri makna diri.

Ada hal membuat Danu tercekat pada dimensi meyakini segala tetabu-an atau alasan istilah pamali membuat kita merasa paling taat, pemenang, merasa penting. Padahal kita sama-sama buruk dalam berakting mengaplikasikannya.

Selanjutnya berburu identitas. Mengabaikan kepekaan begitu pekat, hendak mendapat daya pikat, tetapi sebenarnya jauh melebihi dengan cara muslihat.

Danu. “Merawatnya butuh sabar, itu tidak semudah kau ucapkan. Hari ini bersemayam, esok menjadi bara dendam.” Vi mengingatkan Danu di tengah gamangnya, berkenaan manusia bertarung gengsi di padang penuh ilalang dengan kedok kebajikan.

Ada pula faktor sosial yang menahan perkembangan selain mentalitas, serta struktur kebiasaan sosial tertentu juga memperlambat perubahan positif, seperti pada istilah aturan pada sebuah paradigma tradisionalisme kaku.

Menolak merekonstruksi pikiran, sebagai solusi untuk tidak terjebak pada tataran dogma ambiguitas, sebuah prakata atau paling sering terjadi “sallatturang” (tingkah, sifat yang kadang tidak menentu). Masih saja berseliwerang.

Resistensi pada hal sederhana, sepele bin receh. Menimbulkan prasangka buruk terhadap yang pernah saling mempercayai, bahkan sama-sama mengigau, saling membasuh cahaya, kemudian sekejap mengubah menjadi saling “sicalla-calla“.

Danu diam tiga detik lagi: suara ibu menyembuhkannya seketika luka sosial manusia berjubel di depannya: “Nak! Manna pole siluserang allo bangngi, nanu Tappu sisalonna manassa iya lanu urang sibangkengang, Tanre nama’ring sanna nukarimangngi. Cappanapi niciniki.” (Jangan melebihi ekspektasimu kepada sesiapa saja, untuk merasa paling bersama, senasib sepenanggungan bagai tak terpisahkan lagi. Tapi ingat, di ujung pisah akhir semua akan terkuak).

Danu terjebak, dia hampir tersesat, kemudian merunut kembali! Kemudian menemukan jalan lebih mudah ke “rumah”. Setengah pengetahuannya lenyap disekap. Seketika sesuatu melintas di hadapannya, menerabas yang luput saat mencoba mendaras, kandas, dan ada yang lepas tanpa bekas.

Seperti memanipulasi budaya atas nama ikatan ikrar cinta lepas saat rencana untuk hanimun. Tetapi semua tertukar sekejap, awan pekat menjadi hujan dan badai. Seperti misalnya mimpi sepasang kekasih memadu janji, saat pertama kali mengucap dan mengecup, tetiba adat dan budaya menggugurkan, mengurungnya. Budaya sepertinya mulai mengibuli.

Bukankah budaya hadir menetralkan dan mengatur keadaban? Mengatur jiwa serta kebahagiaan manusia, lantas mengapa semua berujung petaka pada manusia? Padahal sudah membuat ritual, membakar dupa dengan wangi kemenyan yang katanya bisa menembus katanya sampai ke langit?

Kusimak keadilan sosial, mulai dibuat binal, berkerumun, berselkingkol, lalu membuat kelompok lagi, untuk saling mengeroyok.

Sungguh? Lagi asyik-asyiknya bercumbu mesra, diadu menjadi bidak-bidak catur, akhirnya semua bertaruh, bersekutu bagai serdadu dan dadu.

Begitu adanya, sembari kujelajahi reaksi lain tentang sebagian di antara kita “sikapallaki”.

Kusaksikan pula ketika masalah kecil saja, tumpah di halaman beranda media sosial “apa Anda pikirkan” sebagai ruang ekspresi menaruh umpatan, tumpah ruah, mencacah dan merasakan sensasi sendiri, merasa puas dan merasa sebagai pemenang.

Selain itu! Vi meneruskan di tempahan paragraf ini: Kau harus tahu bahwa ada luka sosial menjadi trauma kolektif atau rasa sakit psikologis yang dialami oleh individu maupun kelompok akibat cara menyikapi, bertutur, bahkan gestur kadang menjadi tolok ukur nilai, dengan stigma negatif, ketidakadilan struktural, atau kesalahpahaman. Kondisi ini merusak suasana, hubungan antarmanusia, dan keharmonisan bersama.

Penyebab utama adalah stigma dan kemerasaan sebagai pembenaran mutlak, dan kadang merasa penting. Itu sudah kita bahas sebelumnya.

Sekiranya jarum bisa diputar kembali! Sungguh tiada peristiwa tanpa pembelajaran di dalamnya, meski sekalipun air mata jatuh di keranda! Itu bukan takdir. Itu ulah kita sendiri. Tetapi setidaknya sama-sama kiranya dengan meng-upgrade, agar tidak menjadi manusia suka risih dan reseh. Danu bagai terkepung.

Mungkin manusia sebagian lupa, atau saat merasa derajat tinggi, butuh pengakuan, selalu paling benar, gengsi untuk mengucap kata maaf. Ini sering terjadi di antara sekelompok sosial masyarakat, pertemanan, dan bahkan keluarga. Sikapallakki, tidak lagi sebagai hierarki yang sejatinya manusia.

Ada luka yang paling sulit sembuh. Bukan luka dari orang asing, tapi luka dari orang yang seharusnya jadi tempat kita pulang. Dalam bahasa Makassar, itu disebut Sikapallakki — saling melukai, saling menyakiti, sesama keluarga, sesama teman.

Ironis. Vi mengubah posisi dengan suaranya yang sepertinya miris juga. Orang luar menyakiti, kita bisa pasang tameng.

Tapi kalau yang melempar batu itu saudara sendiri, tembok pertahanan kita runtuh duluan. Karena kita tidak pernah siap dan terlena sekian lama lalu tetiba diserang dari dalam.

Kenapa sikapallakki luka sosialnya terasa paling dalam? Karena ekspektasinya beda.

Ke keluarga dan teman kita memberi kepercayaan seratus persen. Kita buka semua pintu. Cerita rahasia, kelemahan, mimpi.

Saat kepercayaan itu dipakai untuk menusuk, rasanya seperti dikhianati dua kali: dikhianati orangnya, dan dikhianati rasa amannya.

Danu. Suara Vi pelan mengutip sesuatu yang sangat relevan dengan situasi setiap manusia. Kita juga harus tahu! Bahwasanya Sikapallakki bisa berbentuk kasar: fitnah, iri, menjatuhkan. Tapi lebih sering berbentuk halus: sindiran di grup keluarga, membanding-bandingkan di depan umum, “lupa” mengajak, diam saat kita butuh dibela.

Ada hal yang merusak tatanan nilai itu, sebagaimana sumber: iri, ego, serta potensi ada luka lama. Satu sisi sering kali sikapallakki lahir bukan karena benci. Tapi karena hal di atas, iri: Lihat saudara/teman naik duluan, lalu muncul rasa “kenapa dia bukan aku”; berikutnya ego: Merasa paling benar, paling berhak, paling berjasa. Dan ada luka yang belum selesai. Persaingan sejak kecil, harta warisan, salah paham yang dipendam.

Begitu merusak dan merasuk. Luka kecil yang tidak dibicarakan, lama-lama jadi duri. Dan duri itu akhirnya kita lempar ke orang terdekat. Dampaknya pada akhirnya yang rusak bukan cuma hubungan. Tapi juga mental dan batin.

Danu terdiam, mengatur napas pada situasi yang dihadapinya dan sepertinya terbawa suasana, teringat sebuah pesan ibu: “Jadi hati-hati berlebihan. Jadi merasa ‘rumah’ bukan lagi tempat aman.”

Seperti banyak telah terjadi dalam pusaran waktu tadinua sikamaseang menjadi sikapallakki adalah pusaran yang paling melelahkan. Karena kita harus tetap berdiri, padahal yang mendorong kita adalah orang yang kita cintai.

Kita kudu menjalninya dengan penuh hati-hati. Dua hal yang paling berat: “jujur dan memaafkan”.

Ketika kau jujur dan bicara baik-baik! Ada potensi merasakan sakit. Tariklah batas. Sayang boleh, tapi harga diri dan ketenangan juga harus dijaga. Tidak semua harus ditoleransi atas nama nilai hendak kau raih, merasa paling benar dan baik! Itu juga berbahaya.

Kau ingat kalimat yang pernah kita tengkarkan waktu itu? Vi kembali mengingatkan Danu tentang kalimat seperti ini: Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan itu untuk menyelamatkan diri sendiri dari racun dendam.

Sikapallakki tidak akan hilang dari dunia. Selama ada manusia, akan ada gesekan.

Tapi kita bisa memilih: mau jadi orang yang menambah luka, atau jadi orang yang jadi penjahit luka.

Karena pada akhirnya, keluarga dan teman itu rumah. Rumah boleh retak, tapi jangan sampai kita sendiri yang merobohkannya.

Danu pada satu titimasa pulalah waktu tetap berputar. Dan kita belajar satu hal. Menjadi dewasa adalah memilih. Memilih menutup mulut saat ingin menyakiti. Memilih membuka dada saat ingin memaafkan. Memilih jadi rumah, bukan jadi badai di dalam rumah.

Karena pada akhirnya, yang akan kita rindukan bukan siapa yang paling benar. Tapi siapa yang masih mau duduk satu meja, walau pernah saling melukai.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *