Laut, Manusia, dan Batas: Catatan Book & Beats

Siang jelang sore di Café Damar, 07 Agustus 2026.

Satu per satu karpet digelar, di atas kerikil, di bawah rindang pohon mangga. Buku-buku ditata para pelapak laiknya pakaian baru di pasar malam. Di sana ada Tan Malaka, Kahlil Gibran, hingga Yuval Noah Harari. Di karpet lainnya, crayon, kertas gambar, dan balok kayu juga dihampar. Para pelapak tiba dari berbagai penjuru angin, melebur dalam spirit altruisme.

Saya harus menyebut mereka satu per satu, sebagai bentuk penghormatan saya kepada kawan-kawan kolaborator yang datang dari tempat jauh: Pustaka Kampung dari Takalar, Teras Literasi dari Jeneponto, juga Bookclub Bulukumba. Dari Bantaeng, hadir Pejuang Pelosok, Boetta Ilmoe, dan kawan-kawan organisasi lainnya. Sedang Booknest, Balla Literasi Indonesia, dan Café Damar menjadi trio pelaksana kegiatan.

Adalah buku Melihat Laut, yang menjadi bintang utama perhelatan Book & Beats sore itu. Buku yang mempertemukan dua belas penulis dengan laut dalam pengalaman dan cara pandang yang berbeda-beda.

Malam tiba, menggeser sore yang hangat. Ade Sulmi Indrajat selaku MC membuka kegiatan dengan kepercayaan diri yang berlebihan. Ia mengenalkan satu per satu komunitas yang hadir. Lalu menyilakan Ainun menyihir hadirin dengan pembacaan puisi yang atraktif.

Selanjutnya, forum ia serahkan pada saya—Ikbal Haming—selaku moderator. Di sisi saya, turut hadir salah satu penulis Melihat Laut, Sandrawali, yang menjadi pemantik tunggal diskusi buku.

“Seberapa jauh kita mengenal laut?”

Sebagian kita mungkin pernah bermain di pantai, menikmati senja, atau sekadar duduk diam menatap ombak. Namun, belum tentu kita benar-benar mengenal kehidupan yang tumbuh di sekitarnya: masyarakat pesisir, kehidupan laut, hingga persoalan sampah.

Kalimat itu meluncur membuka percakapan, membelah dingin dan hadirin.

Setelahnya, saya menyilakan Wali.

Buku ini, katanya, adalah kumpulan gagasan dan refleksi atas pengalaman para peserta Maritime Leadership Camp.

Dari sana, percakapan mulai bergerak. Malam itu kami tidak sedang sekadar membicarakan sebuah buku. Kami membicarakan manusia, alam, dan sesekali mengutuk sistem. Pengantar Wali tidak panjang, sebab ini bukan pidato pejabat yang membosankan.

Kami ingin mendengar tanggapan dari teman-teman yang hadir. Jeril mengangkat pertanyaan pertama.

Mengapa masyarakat cenderung pasif dan lebih senang menunggu bantuan pemerintah? Mengapa masyarakat seolah kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan persoalannya sendiri?

Masyarakat sejatinya memiliki modal sosial, tegas Wali. Mereka punya pengetahuan, jaringan, kebiasaan, dan metode sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Dari pengalamannya berkeliling dan hidup di tengah masyarakat, ia melihat salah satu kekuatan itu dalam kearifan lokal.

Masyarakat bukan tong kosong yang nyaring bunyinya. Pengalaman panjang bertahan hidup jelas membuat mereka berpengetahuan.

Masalahnya, kata Wali, masyarakat sering kali dibuat tidak berdaya secara sistemik.

Ketidakberdayaan itu kemudian dipelihara. Masyarakat dibuat terbiasa menunggu bantuan, terbiasa menerima, dan pada akhirnya terbiasa bergantung. Dalam politik yang pragmatis, ketergantungan semacam itu bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Ada hegemoni politik. Masyarakat dibuat percaya bahwa penyelesaian persoalan selalu datang dari atas. Maka ketika bantuan datang, masalah dianggap selesai. Lama-lama kemampuan untuk menyelesaikan persoalan sendiri menjadi tumpul, macam hukum di negeri ini.

Pertanyaan berikutnya datang dari Yuno.

Ia bertanya tentang moral manusia: mengapa manusia begitu gemar merusak?

Pertanyaan itu membawa kami pada sesuatu yang lebih sulit. Kita tahu sampah merusak laut. Kita tahu ikan tidak mungkin ditangkap tanpa batas. Kita tahu terumbu karang penting. Kita tahu ini dan itu.

Tetapi pengetahuan ternyata tidak otomatis membuat manusia berhenti merusak.

Iskandar kemudian membawa percakapan pada gagasan Slavoj Žižek tentang hasrat manusia yang tidak pernah selesai. Manusia selalu mendamba sesuatu yang baru. Selalu ingin memperbarui. Selalu ingin memiliki lebih.

Lalu, bagaimana menghadirkan perasaan cukup?

Kita mengambil ikan karena kita membutuhkannya. Lalu mengambil lebih banyak karena kita ingin mendapatkan lebih. Makin banyak ikan, makin banyak uang.

Kita membangun karena kita membutuhkan ruang. Lalu membangun lebih luas karena ruang yang ada dianggap belum cukup. Lebih banyak ruang, tentu lebih banyak uang pula.

Kita mengeruk pasir karena pembangunan membutuhkan material. Lalu mengeruk lagi karena pembangunan tidak pernah selesai. Di negeri ini, pembangunan adalah proyek abadi.

Keinginan manusia terus mencari alasan untuk memperluas dirinya. Manusia bukan lagi serigala bagi manusia lainnya, melainkan bagi apa saja yang ada di sekelilingnya, termasuk alam, termasuk laut.

Wali kemudian menggugat sistem yang memungkinkan semua itu terjadi.

Menurutnya, kita tidak bisa membicarakan kerusakan lingkungan hanya dengan menyalahkan moral individu. Ada sistem yang amoral. Ada relasi kuasa yang timpang. Ada kepentingan ekonomi dan politik yang membuat sebagian orang memiliki kekuasaan lebih besar untuk menentukan nasib ruang hidup orang lain.

Karena itu, ia mengajak pada apa yang ia sebut sebagai tobat ekologis. Bukan sekadar meminta manusia memungut sampah setelah membuangnya. Bukan sekadar menanam pohon setelah hutan ditebang. Tetapa melihat alam sebagai ibu yang mesti dijaga, bukan sesuatu yang mesti ditaklukkan.

Barangkali dengan mengubah cara kita mengonsumsi. Mengubah cara membangun. Mengubah cara memandang alam. Dan mungkin, pada tingkat yang paling sederhana, belajar seni hidup minimalis. Mengambil seperlunya. Mengonsumsi secukupnya. Berhenti menganggap bahwa segala sesuatu yang bisa dimiliki harus dimiliki.

Malam makin larut, percakapan makin dalam.

Di sesi kedua, Ardiansyah kemudian membawa forum pada pertanyaan lain. Apakah semua kerusakan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, atau memang ada pengabaian dari manusia?

Jawaban Wali menarik.

Menurutnya, kita sebenarnya tidak pernah kekurangan pengetahuan, apalagi tentang kemaritiman. Laut dan kehidupan pesisir sudah menjadi bagian dari aktivitas keseharian kita. Sesederhana ketika kita hendak makan ikan: kita tahu nama ikannya, tahu bagaimana mengolahnya, dan tahu mengapa kita memilih memakannya.

Yang membuat pengetahuan itu seolah-olah semakin berkurang adalah karena kita sering tidak menuliskannya.

Kita lebih banyak bertutur, tetapi lupa mendokumentasikan pengetahuan keseharian. Akibatnya, beberapa tahun ke depan, bisa jadi kita kehilangan banyak kosa kata tentang laut dan penghidupannya.

Lalu, apakah kita abai? Ya.

Tetapi keabaian itu, menurut Wali, muncul karena kita tidak lagi melihat laut sebagai bagian dari diri kita. Laut hanya ditempatkan sebagai pelengkap, sebagai objek atas kebutuhan manusia. Antroposentrisme benar-benar menjalari kehidupan manusia modern.

Karena itu kita bisa membangun dengan memunggungi pesisir. Kita abai terhadap kesejahteraan nelayan, perempuan pesisir, dan masyarakat yang bermukim jauh dari pusat kota.

Maka persoalannya bukan sekadar kurang pengetahuan. Kita tahu, tetapi kita tidak merasa memiliki hubungan dengan apa yang kita ketahui. Di situlah pertobatan ekologis menjadi penting.

Idil sebagai penanggap kedua kemudian bertanya tentang filosofi hidup masyarakat pesisir yang patut kita jadikan pegangan. Tentang mereka yang menempatkan laut sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Wali mengajak kami berkaca pada masyarakat pesisir dari dulu hingga hari ini.

Bagi masyarakat Makassar, misalnya, laut dan pelaut bukan sekadar pekerjaan. Ia menjadi bagian dari garis sejarah dan nilai-nilai kehidupan.

Ia juga bercerita tentang pengalamannya melihat masyarakat pesisir di Sumba yang menempatkan laut sebagai sumber kehidupan. Ada tradisi adat Nyale, menangkap cacing laut berwarna-warni sebagai bagian dari ungkapan syukur atas hasil panen. Masyarakat juga memiliki aturan untuk menjaga laut sebagai bagian penting dari ritual adat mereka.

Mungkin itulah yang perlahan hilang dari manusia modern: batas. Bagi sebagian orang, batas adalah titik akhir. Bagi yang lain, ia justru garis yang mesti dilampaui. Barangkali, di situlah keserakahan bermula.

Pertanyaan terakhir datang dari Fuad. Jika seandainya laut bisa bicara, kira-kira bagaimana pandangan mereka terhadap manusia?

Pertanyaan itu seperti mengembalikan seluruh percakapan kepada laut.

Selama ini kita berbicara tentang laut sebagai objek: sumber pangan, ruang pembangunan, tempat wisata, sumber ekonomi, bahkan objek konservasi.

Tetapi bagaimana jika kali ini laut yang menilai manusia?

Wali kemudian mengingatkan pada tulisan Faika, salah satu penulis Melihat Laut. Ada bayangan bahwa suatu hari nanti hewan-hewan laut akan melakukan pemberontakan kepada manusia; menciptakan sebuah dunia ketika binatang berkuasa atas dirinya sendiri, seperti yang tergambarkan dalam Animal Farm karya George Orwell.

Saya tidak lagi mengingat seluruh percakapan malam itu. Saya menyesal tidak menyalakan perekam di HP, tidak mencatat dengan baik, justri di saat ingatan saya begitu payah.

Tetapi ada beberapa pertanyaan yang ikut pulang bersama saya dan teman-teman.

Mengapa masyarakat dibuat tidak berdaya?

Mengapa manusia gemar merusak?

Mengapa kita tidak pernah merasa cukup?

Apakah kita benar-benar kekurangan pengetahuan, atau hanya terlalu abai untuk mengingatnya?

Apa yang bisa kita pelajari dari masyarakat yang menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupannya?

Dan akhirnya, jika laut bisa bicara, bagaimana ia memandang kita?

Saya tidak tahu jawabannya.

Tetapi mungkin pertanyaan itu justru membuat saya melihat laut dengan cara yang sedikit berbeda.

Laut yang ikannya kita makan setiap hari adalah laut yang sama yang pernah dibelah Musa ribuan tahun lalu.

Laut yang ditimbun dan pasirnya kita keruk hari ini adalah laut yang sama yang pernah membawa kejayaan bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara berabad-abad silam.

Laut yang sekarat hari ini adalah laut yang sama yang memberi kita sebagian besar oksigen untuk kita hirup.

Laut itu masih sama. Yang berubah adalah manusia.

Mungkin karena itu, pertanyaan terakhir malam itu terus mengganggu, jika laut benar-benar bisa bicara, apa yang akan dikatakannya tentang kita?

Mungkin laut hanya akan meminta kita untuk sering mengingat hal yang selalu kita pura-pura lupakan: kapan harus berhenti.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *