Surat ini hanya jembatan kecilku untuk sekadar menyeberangi titimasa itu. Bukan untuk butuh klarifikasi, tetapi sebagai afirmasi saja, dari sesuatu yang tumbuh menghadirkanmu setiap saat. Ternyata aku lupa untuk pulang ke rumah.
Lentera itu masih menceritakan gelap ketika cahaya menjauh. Gerai rambutmu yang hitam sebahu, ketika angin memainkannya. Ada getir merambat tidak karuan.
Betapa konyolnya manusia satu ini. Mendebat dirinya sendiri. Pada sekeping emas yang telah ditukar kadar manusia, tidak pernah lelah tumbuh. Bertaruh setiap saat, memicing sekadar di seberang waktu.
Meski hari-hari itu berat, tetap ingin tahu: nama itu selalu jadi bait penuntun setiap kali menulis tentang fenomena apa saja pada kehidupan, manusia yang begitu cepat mengubah perilaku.
Aku membaca pertanda dan memahamimu, bagaimana kau menikmati sunyi di tepi jendela, saat embun pagi menyelinap sekadar mengintaimu di tepi telagamu. Di antara petikan, bunyi nada, setiap larik, setiap kalimat bagai wirid hening.
Sebagian orang mungkin menganggap ini terlalu berlebihan, atau terlalu bodoh. Ada seribu tanya tentang namamu yang hadir seakan menampar-nampar kedunguan ini di setiap lembar tulisan. Antara benar dan tidak, kau nyata atau palsu. Sampai mereka mulai menganggap ini sudah tidak normal.
Sejak pertemuan di sebuah titimasa, bagai sang alkemis menepis setiap rasa apatis, tumbuh menjadi lebih optimistis, sementara Danu seperti gembala mencari keadilan dan ruang sepetak saja untuk dibawa pulang ke rumah.
Aku baca mata dan rangkaian peranmu, waktu sayapku patah, dan kembali bangkit. Kau bilang hitam itu bukan kemuraman, putih tidak juga harus merasa paling terang. Kau katakan pulang itu perlu waktu.
Aku ikuti jejakmu, hingga tidak tahu bagaimana cara untuk mencegahnya bertarung dalam pikiran. Belajar darimu tentang jatuh, gagal, dan bangkit lagi.
Ternyata benar. Orang paling dalam lukanya adalah paling dalam cintanya. Danu menghela napas.
Terima kasih telah membuatku tumbuh sebagai kata. Dan memahami jalan untuk ke rumah.
Ini hari apa? Tanya itu sekadar mengingatkanmu tahun lalu, walau itu juga terpaksa kau hadir, saat aku mengantre menunggu kue pesanan. Pertama kali memberimu kejutan.
Setidaknya saya mencoba seperti yang lain ikut nimbrung menyematkan doa pada hari pertama tangismu pecah. Saat pijakan kakimu di bumi, tersemat namamu yang indah, dari seorang ibu yang mengajarkan falsafah kehidupan, dengan seorang ayah yang kini selalu mengharap kehadiranmu di sisinya. Dan di tengah penantiannya yang mendebarkan.
Hari pertama udara kau hirup, wangi tanah, serta wangi bunga kehidupan. Sebagai titianmu pada dunia fana ini. Warna mata ibu yang kau kenali lebih dahulu. Sambil menangis merajuk, bersandar menyeka air matamu, dengan segala peristiwa tentangnya yang mengasuh dan membasuhimu kasih sayang. Walau kini telah menyaksikanmu di balik surga, tetapi masih hadir menenun batinmu, menuntun langkahmu menuju titah bertahta kebahagiaan kau temui.
Dengan lirih berujar ke langit untukmu dengan bermunajat penuh hayat, “Kebahagiaan menaungimu, menjalani setiap pilihan dan konsekuensi hidup, seperti sketsa kelak kau lukis sendiri di kanvas putih, dengan segala peristiwa warna bukan cuma hitam, tetapi ada merah, ada abu-abu. Ternyata kau melukis pelangi di bawah kaki langit. Dengan segala peristiwa, dinamika kehidupan telah kau lewati secara khidmat.”
Terlalu tersirat, pada surat ini yang tak bisa kumaknaimu dalam isyarat. Tetiba aku menjadi kelabakan sendiri. Aku melengkapi hari-hari yang konyol untuk dipertaruhkan.
Begitulah pengharapan di pucuk cemara.
Danu diam tiga detik. Bukan karena kaget. Tapi karena lega. Lega sebab sebelum akhirnya ada jawaban. Itu hanya karena terlalu gegabah dan cukup telak, dan tentunya telat.
Sejak itu Danu belajar satu hal:
Ada rumah yang pintunya sudah digembok. Dan kuncinya bukan padanya. Yah, dia.
Malam-malam Danu masih menulis. Tapi bahasanya dia ubah. Dulu dan sampai sekarang berusaha dia tepis, kapan bisa ketemu, berharap semesta bersekutu. Dia memilih kalah dengan mengubahnya lagi dengan merayu Tuhan:
Itu bukan harapan lagi. Itu doa.
Karena berharap ke manusia itu lelah dan kadang penuh kebohongan pula. Manusia kadang jahil, sering mengumpat, dan merasa bermartabat padahal juga jahat! Masih bermain di ranah hitam dan putih. Padahal hidup dengan warna-warni.
Seteguk dia telan: “Terima kasih untuk lorong waktu menumbuhkan pucuk-pucuk kata yang dulu pucat.” Danu lanjut menulis suratnya.
Danu tidak kalah, dia hanya merasakan lega. Di tengah perangai, pada saat manusia mulai lupa pulang ke rumah! Lupa belajar tentang pulang sambil bawa patah. Dia jadikan risalah.
Kalau hujan menulis lagi, Danu menulis tentang sejarah. Kalau kelak doa itu hadir menjelma takdirnya dan mimpi itu nyata. Danu jadi bingung mau mengajak pulang ke “rumah”. Dia sendiri malu pulang ke rumah.
Tapi anehnya, semua tulisan itu ujungnya selalu sama. Selalu nyasar ke satu nama. Walau dia telah kuyup menunggu jawab, dari sesuatu yang dia selipkan di pucuk pengharapan.
Beberapa saat Danu menyandarkan tubuhnya yang lelah: Aku masih ingat hari pertama kita ketawa dan masih sebatas menyelinap memperhatikan, ketika rasa itu tidak bisa lagi kupecundangi. Kenapa demikian? “Aku percaya di matamu, aku lihat rumah.” Satu detik Danu diam lagi.
Vi. Sepuluh tahun atau lebih. Bukan waktu sebentar. Cukup buat menabur, menanam pohon, menunggu berbuah, lalu menyaksikan orang-orang berteduh. Melihat sebagian orang datang menebas ranting, membiarkan daun kering berserakan, lalu tetiba ada yang merubuhkannya.
Cukup buat belajar tentang diam, berani, serta percaya diri. Untuk tahu rasanya menunggu notifikasi yang tidak pernah datang. Itu konsekuensi.
Vi. Dulu kau pernah mengingatkanku, entah klise, basa-basi aku tidak peduli! Atau sekadar membesarkan hati: bahwa kita pernah marah sama waktu. Kenapa lambat sekali bawa hadir. Lalu kenapa cepat pula bawa kita dewasa?
Danu masih menulis. Bukan karena berharap satu detik saja Vi baca. Tapi karena kalau berhenti, rasanya seperti mengubur 10 tahun tanpa nisan.
“Dulu aku kira pulang itu tempat, rumah dengan pintu, lampu teras, dan nama yang disebut. Ternyata pulang itu perasaan, kemuliaan.”
Kalau suatu hari kamu dengar namaku di obrolan orang, biarlah mereka bilang, “Dia itu yang dulu suka menulis panjang-panjang?” Katakan, “Bukan.” Jawab dengan lantang, “Dia itu yang dulu menjadi pecundang, pengecut!”
Sepertinya Danu cuma berhenti berlari ke pintu yang sudah digembok. Sekarang dia duduk di teras rumahnya sendiri. Menyiram pohon yang dulu berharap dia tanam. Walau yang berteduh sampai saat ini kerinduan. Danu berjuang lagi, tetapi menanggung nasibnya pada sebuah tradisi.
“Terima kasih sudah membuat kata-kataku tumbuh, meski harus disiram air mata.”
Oh iya. Kalau nanti hujan turun lagi, dan kamu ingat aku. Tidak usah dibalas. Cukup diam tiga detik. Seperti aku dulu.
Bukan karena kaget. Tapi karena lega.
Bahwa pernah ada yang menghiasi setiap ceruk rasa, berandai menggenggam erat, sembari merangkai cerita, membangun mimpi dengan merawat dan selalu kita pulang ke rumah! Aku butuh nyali, pada percaya diri ini yang dekil.
Danu kembali diam tiga detik. Lalu menutup suratnya dengan lega.
Karena aku hanya wayang yang tahu diri tak perlu minta panggung. Cukup tahu kapan harus diam, saat dalang selesai memainkan.
Bukan butuh validasi seperti kebanyakan manusia butuh identitas yang tidak pantas. Apalagi memintamu dengan terpaksa. Sekiranya ada harapan jikalau sampai nanti kalau waktu mengizinkan kita pulang bersama. Ah. Ini tambah tolol lagi.
Hujan boleh turun lagi.
Tapi kali ini, biarlah ia hanya membasuh.
Ini bukan pamit. Tapi melengkapi sebagai cerita untuk kubawa pulang ke rumah.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply