Bukan Hitam Putih

Benar dan salah, antagonis dengan protagonis, terlihat manis dan sinis. Sepakat kata Sujiwo Tejo: dia terjebak pada diri dan cara berpikirnya tentang saat dia memainkan dan memaknai peran wayang, bahwa Kurawa salah, Pandawalah yang benar, atau kisah Ramayana, Rahwana yang buruk, Rama yang baik.

Seketika kudermakan waktuku malam itu, sampai sesuntuk. Entah kenapa kantukku tertangguhkan. Padahal seharian hitam-putih kehidupan itu telah aku jamah, berjubel kebaikan dan keburukan di depan hidung manusia.

Hidup punya banyak warna dan arti. Hal ini berarti dunia tidak hanya tentang benar atau salah, atau baik dan buruk secara mutlak. Ada banyak ruang abu-abu, alasan tersembunyi, dan proses yang rumit, dan kita pelit untuk mencoba menyusuri hal sepele ini, terutama di setiap kejadian.

Makna di balik warna kehidupan bukan cuma benar atau salah. Banyak hal terjadi karena ada alasan tertentu yang tidak terlihat langsung oleh mata. Manusia sering melihat secara sederhana, padahal kenyataannya penuh warna dan cerita yang berbeda, bahkan proses setiap orang unik, waktu dan jalan hidup tiap orang tidak sama.

Hidup itu di antara degradasi, atau lewat siluet. Kita menikmati sajian dari yang eksotik sampai pikiran yang menanjak ke ubun-ubun. Sampai kita punya hal selubung di luar kebenaran serta kesalahan.

Danu. Hitam itu rahim dan malam tempat bintang lahir. Putih bisa jadi topeng. Bisa jadi dingin. Danu tercekat seketika.

Ada yang juga menarik. Vi menuntun Danu pada sebuah ulasan dan percakapan di sudut laman, diurai bahwasanya menilai situasi dan membuat keputusan/pilihan tidak selalu ada pembagian yang jelas antara dua pilihan, satu berisi semua kualitas yang dianggap benar dan baik, yang lain berisi semua kualitas yang dianggap salah dan buruk.

Jadi, alih-alih harus membuat penilaian sederhana tentang benar/baik dengan buruk/salah, kita sering kali harus terlibat dalam pengambilan keputusan yang lebih canggih saat kita mempertimbangkan pilihan yang masing-masing merupakan campuran dari kebaikan dan keburukan.

Kemudian berlanjut, masih percakapan sebuah laman dan saling sahutan di kolom komentar; seseorang nyeletuk juga, “Hidup tidak selalu hitam dan putih, ada jutaan nuansa abu-abu.” Karena tidak ada benar atau salah, itu tergantung pada persepsi orang tersebut. Karena di setiap tindakan, ada alasannya. Kita tidak bisa hanya menilai seseorang dari apa yang telah dia lakukan, kita harus melihat di balik apa yang tampak. Setiap tindakan memengaruhi segalanya, bahkan jika hanya secara tidak langsung.

Atau mungkin saja kita teramat patuh pada satu hal, yang telah tertanam sejak awal, masa kanak hingga sampai kita ditanak dan diternak oleh pikiran yang merumputnya hanya sekitar tanah lapang saja. Tidak berani ke semak atau belukar. Untuk menguji mental dan nalar. Perasaan, firasat, atau entah ini dinamakan nurani? Tetiba kecemasan dan prasangka hadir. Sementara kita jarang bertanya pada nurani.

Tangis, kebencian, tawa adalah warna di antara tanda keberpurakan pula, bahagia, rindu, dan cinta menyatu semuanya.

“Bercakap pada nurani, ada Dia bersemi yang tidak bisa terlupakan.” Ah. Ini halusinasi pikiran saja. Danu berusaha menahan gejolak untuk tidak berlagak.

Yah. Ini bukan soal hitam-putih saja. Kita tarik dan mencoba di wilayah abu-abu, maka kau dianggap tidak punya “to’do puli” (pendirian/prinsip). Vi menguatkan kembali, kala sunyi kekacauan mengintimidasi seorang Danu.

Kita sering diajarkan serta diajukan kata memilih: baik atau buruk, benar atau salah, tinggal atau pergi. Seolah hidup itu papan catur. Jalan ke depan atau mundur. Samping dan bisa belok kiri dan kanan, bahkan melompati batas dan nilai. Menang atau kalah. Padahal kenyataannya tidak semutlak serta semudah begitu.

Sementara pada pernyataan, pada hitam ditangkup tertelingkup kemuraman dan kelam. Dari kecil kita diajarkan: hitam sama dengan duka, dosa, kematian, putus asa. Padahal di alam, hitam itu rahim. Tanah subur. Malam tempat bintang lahir.

Tapi kita buru-buru ngecap dia jahat, sebelum sempat nanya: “Kamu ngajarin apa?”

Putih dicocoklogikan sama dengan malaikat, suci, bersih, benar. Padahal putih juga bisa jadi topeng. Bisa jadi dingin. Bisa jadi ruang kosong yang tidak berani kotor.

Berapa banyak “kesucian” yang ternyata cuma pencitraan.

Di sudut lain. Ada orang yang menyakiti kita, tapi dia juga yang dulu menyelamatkan kita. Ada keputusan yang menyakitkan, tapi itu satu-satunya cara biar kita sembuh.

Ada hari di mana kita kuat, dan ada hari di mana kita cuma bisa duduk sambil kuyup kehujanan, tetiba ada ranting atau daun pisang menjadi payung agar tidak sebasah tudingan manusia yang mengaku sosial, tetapi dialah penyebab luka sosial sesungguhnya.

Itu benar. Sama seperti kamu, Danu, saat kau memilih jalan pulang ke “Rumah”. Bisa dibilang bodoh karena 10 tahun setia pada orang yang yang menghiasi pikiranmu. Tapi di sisi lain kau parkir keberanian karena hitam-putih (ditolak atau diterima). Karena kau mengira bahwa keberanian juga adalah kekonyolan.

Hitam? Putih? Tidak ada. Yang ada cuma manusia yang sedang belajar abjan sampai di ranah abu-abu. Apakah abu-abu tidak jelas dan ternilai dramatis dengan dicocokkan lagi sebagai sifat apatis?

Yang bikin kita capek dan menjadi manusia bodoh, bahkan kadang menjadi bajingan, itu ulah si ekspektasi, terkandang dan kelak kau tertendang dengan sendiri hanya pada harapan pada hitam-putih. Kita mau semua jelas, mau semua orang jadi malaikat atau iblis, mau semua luka langsung sembuh. Mau semua jawaban ada sekarang juga.

Padahal bertumbuh menuju kesadaran itu proses. Rajawali tidak langsung terbang tinggi. Sayapnya patah dulu, bulunya rontok dulu. Pas dia terbang lagi, dia tetap bawa bekas lukanya. Itu bukan kelemahan. Itu bukti dia pernah hidup.

Jadi kalau hari ini kamu bingung, itu wajar.

Kalau kamu masih sayang tapi harus melepas, itu wajar. Kalau kamu sudah memaafkan tapi masih ingat, itu juga wajar. Karena terlena kebiasaan manusia dan diagnosamu masih meraba-raba, selalu menakar-nakar. Terjebak pada hitam dan putih pembenaran dan menyalahkan.

Karena hidup bukan tentang memilih sisi. Hidup tentang belajar berdiri di tengah kumpulan peristiwa, sambil tetap berusaha menerima. Situasi bagai fluktuasi. Tidak pernah sama. Yang benar kemarin, belum tentu benar hari ini. Yang salah di mata si Anu, bisa jadi pilihan terbaik di mata si Anu juga. Makanya hukum, adat, dan hati nurani sering bentrok.

Di ranah lain, abu-abu itu memang kadang terasa lelah. Tidak sejelas “ini benar, itu salah”. Harus mikir, harus merasakannya, menahan dan menanggungnya.

Tapi di sisi lain, abu-abu itu kita jadi manusia seutuhnya. Tidak menjadi hakim, tapi jadi teman. Kita tidak kesusu dan terbawa arus hitam-putih yang juga masih samar bin sumir, buru-buru vonis.

Hitam-putih itu kadang kita marah tapi juga sayang. Kita kecewa, tapi juga ngerti.

Kadang kita mau menyerah tapi masih jalan juga. Tanggung dan bertahan pada rasa gengsi, ego, bertahan seolah punya prinsip yang kadang juga goyah.

Proses tumbuh dalam kesadaran itu, kalau semua hitam-putih, kita tidak pernah mau belajar. Mungkin tidak ada maaf, menghindari diskusi. Bukan pecundang di antara degradasi itu yang di abu-abu. Justru di sanalah kita belajar bijak, sabar, dan berempati.

Ketika terjebak pada ranah hitam-putih itu, maka kita gampang nge-judge orang, mudah kecewa sama diri sendiri. Gampang dimanipulasi dengan propaganda “kamu sama kami, atau musuh kami” dan berjamaah menanggung, bahkan kadang ada yang terbirit lari dari dua sisi.

“Mendung datang bukan hujan. Hidup ini bukan hitam-putih, tapi warna yang saling merangkul dan dimengerti perlahan.” Hem. Danu hanya menggumam, sambil senyum tipis, saat Vi mulai latah ikut menyuguhkan pantun.

Katanya hitam mengajarkan kita malam. Putih mengajarkan kita terang.
Tapi abu-abu!?

Danu. Abu-abu yang mengajarkan kita jadi manusia.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *