Pegari Keluhuran

Bila sikap remeh sesama menyata, maka laku temeh akan bertandang pada diri.” (Tajali Daeng Litere, 24092024)

Kehormatan manusia, agaknya, tidak pertama-tama ditentukan oleh bagaimana ia dipandang orang lain, melainkan oleh cara ia memandang sesamanya. Pada simpul inilah, sentensia Daeng Litere menemukan pijakannya. Ia tidak sedang mengadili orang yang diremehkan, tetapi mengajak menilik keadaan batin mereka yang gemar meremehkan.

Sepintas, ujar tersebut terdengar seperti permainan bunyi antara remeh dan temeh. Namun, justru di situlah kedalaman maknanya bersemayam. Diksi remeh menunjuk sikap memandang rendah sesama. Sementara temeh menghadirkan bayangan tentang laku tercela, rendah martabatnya, serta kehilangan keluhuran. Jarak kedua kata itu amat tipis dalam bunyi, tetapi menghadirkan lompatan besar dalam makna.

Sesarinya, sentensia tersebut tidak mengatakan, orang diremehkan menjadi hina. Sebaliknya, perlahan kehilangan kemuliaan, mereka yang membiasakan diri meremehkan orang lain. Kehinaan itu tidak datang dari luar. Ia bertandang dari dalam, tumbuh bersama watak, terpelihara secara konsisten dan persisten.

Kiwari, hidup dan kehidupan acap memberi ruang subur bagi kecenderungan semacam itu. Ukuran manusia lebih mudah ditimbang melalui jabatan, harta, gelar, kemasyhuran, ataupun banyaknya pengikut. Perlahan, lahir kebiasaan mengelompokkan manusia berdasarkan penampakan. Mereka yang berada di puncak lebih mudah dihormati, sedangkan yang tampak sederhana, kerap luput memperoleh penghargaan yang sama.

Padahal, kehidupan berkali-kali memperlihatkan ironi. Orang yang tampak biasa, justru acap menyimpan kejernihan luar biasa. Seorang petani mungkin tidak fasih berteori, tetapi memahami kesabaran yang tidak diajarkan buku. Nelayan mengenal ketabahan melalui gelombang. Guru di pelosok merawi ilmu tanpa sorotan. Ibu rumah tangga menumbuhkan generasi melalui kasih, nyaris tak pernah diberitakan. Kebijaksanaan sering bertunas dari tempat-tempat yang luput dipandang megah.

Tatkala seseorang terbiasa meremehkan sesama, sesungguhnya ia sedang menutup pintu belajar. Ia lebih sibuk menilai daripada memahami. Lebih lekas menyimpulkan ketimbang mendengarkan. Akibatnya, banyak pelajaran berlalu tanpa sempat dipetik, hanya karena datang dari sosok yang dianggap tidak layak didengar.

Barangkali sebab itulah kerendahan hati selalu menjadi lapik bagi pertumbuhan. Orang yang menyadari nisbi dirinya, akan lebih mudah menemukan kebijaksanaan di mana saja. Ia tidak terlalu sibuk bertanya siapa yang berbicara. Perhatiannya lebih tertuju pada apa yang dapat dipelajari. Kesadaran semacam itu membuat setiap perjumpaan, berpeluang menjadi ruang bertumbuh.

Sebaliknya, kesombongan menghadirkan dunia yang sempit. Ia membuat seseorang merasa telah mengetahui lebih banyak daripada orang lain. Kritik terdengar sebagai gangguan. Nasihat dipandang ancaman. Perbedaan dianggap kekeliruan. Lama-kelamaan, manusia hidup dalam gema suaranya sendiri. Ia kehilangan cermin yang dapat memperlihatkan kekurangannya.

Daeng Litere agaknya hendak mengingatkan, martabat tidak dibangun melalui perasaan lebih tinggi daripada sesama. Kemuliaan justru bertunas dari kesediaan memuliakan manusia lain. Sebab, penghormatan bukanlah hadiah bagi mereka yang hebat, melainkan laku yang memperlihatkan kejernihan batin pemberinya.

Dalam sejarah kehidupan, banyak tokoh besar dikenal bukan semata karena kecerdasannya, melainkan karena kemampuannya menghargai siapa saja. Mereka tidak mengukur manusia dari pakaiannya, kedudukannya, ataupun keluasan pengaruhnya. Mereka memahami, setiap insan membawa cerita, pengalaman, dan pelajaran yang mungkin belum pernah mereka miliki.

Sesarinya, sikap meremehkan lebih sering memperlihatkan kegelisahan batin daripada keunggulan. Ada orang mengecilkan sesamanya, demi merasa lebih besar. Muncul pula, gemar merendahkan orang lain, karena takut kehilangan tempat. Hadir juga, membangun citra dirinya, dengan cara memperkecil keberadaan orang lain. Padahal, kebesaran yang bertumpu pada pengecilan sesama, hanyalah lapik kerapuhan.

Laku temeh bertumbuh perlahan. Ia tidak selalu tampak dalam ucapan kasar. Kadang hadir melalui senyum merendahkan, tatapan meremehkan, atau keengganan mendengar pendapat orang kecil. Mula-mula terlihat sepele. Namun, bila terus dipelihara, ia membentuk watak, menjauhkan manusia dari kejernihan.

Ironinya, orang yang gemar meremehkan, sering tidak menyadari perubahan itu. Ia merasa sedang menilai orang lain, padahal sedang memperlihatkan isi dirinya. Cara seseorang memperlakukan sesama, acap menjadi cermin paling jujur bagi kualitas batinnya. Bukan hanya kata-kata yang berbicara, melainkan juga sikap penyertanya.

Pada lapik inilah sentensia Daeng Litere menemukan daya gugahnya. Ia tidak mengajak manusia sibuk mencari penghormatan, apalagi menuntut penghargaan orang lain. Ia sekadar mengingatkan, setiap kali manusia memandang rendah sesamanya, pada saat yang sama ia sedang mengurangi kemuliaan dirinya sendiri. Martabat tidak pernah bertambah, melalui penghinaan terhadap orang lain.

Dus, manusia tidak menjadi tinggi, karena berhasil membuat sesamanya tampak rendah. Sebaliknya, keluhuran bertunas, tatkala ia mampu memandang setiap insan, sebagai sesama pejalan, sama-sama memikul keterbatasan, sekaligus menyimpan kemungkinan untuk bertumbuh. Kesadaran itulah yang membuat penghormatan lahir, tanpa harus menunggu kehebatan.

Kalakian, sesama bukan sekadar orang lain, sekadar melintas dalam perjalanan hidup. Ia serupa cermin, guru, sekaligus pengingat tentang nisbi diri. Barang siapa memandangnya dengan mata jernih, akan menemukan pelajaran di balik setiap perjumpaan. Namun, siapa yang memilih meremehkannya, perlahan sedang menuliskan laku temeh pada lembar hidupnya sendiri.

Muara ihwalnya, kemuliaan tidak lahir dari mata yang gemar merendahkan, melainkan dari hati yang sanggup memuliakan sesama. Sebab, setiap penghormatan tulus, sebetulnya bukan sedang meninggikan orang lain, melainkan lagi menjaga martabat diri, agar tetap selesa.


Comments

One response to “Pegari Keluhuran”

  1. Isra' magassing Avatar
    Isra’ magassing

    Top

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *