Bulo Karisa’

Ketika manusia hanyalah bayangan yang mengiringi bergesernya Siri‘ na Pacce. Si passiri ki, si lantangang pacce na si bulo karisakki.

Di bawah langit yang sama, kita tak lagi benar-benar hidup bersama. Kehidupan bermasyarakat yang dulunya menjadi tempat bernaung kini bergeser menjadi panggung kemuakan yang dingin dan sesak. Kita berdiri berdesakan di ruang publik yang sama, namun nurani masing-masing telah terisolasi ribuan kilometer jauhnya.

Dulu, Siri‘ adalah benteng kehormatan, sebuah kompas moral yang menahan langkah sebelum merugikan orang lain dan menjaga martabat diri agar tak tercemar. Ada batas tegas antara keberanian dan kelakuan yang tak beradab.

Kini, rasa malu dianggap sebagai ketertinggalan zaman, dan integritas dilelang dengan harga murah. Orang-orang tak lagi takut kehilangan kehormatan. Mereka hanya takut kehilangan panggung dan pemuas ego.

Suatu ketika, sebuah pernyataan menampar relung hati saya yang paling dalam, “Di tanahmu sekalipun saya telanjang bolak-balik di tengah jalan, saya tidak merasa malu.” Singkat dan sederhana, tapi berhasil mengoyak sisi manusiaku yang paling dalam.

Ya, benar adanya. Salah satu contoh, dulu ketika ada seseorang yang kawin lari. Jangankan mempelai wanita untuk dapat mahar tanah, kembali ke kampung halamannya saja sudah dikenakan hukum adat, atau biasa disebut dengan ni tompangi butta. Sekarang, bahkan dalam kondisi MBA (Married by Accident) pun masih bebas berkeliaran di tengah-tengah masyarakat, bahkan melakukan pembenaran atas apa yang mereka alami.

Martabat diri dengan mudahnya diinjak-injak sendiri. Nilai-nilai leluhur yang dulunya dijunjung tinggi kini tergilas oleh hasrat untuk selalu jadi yang paling menonjol, tak peduli berapa banyak orang yang harus dikorbankan. Perilaku culas, manipulasi, dan keserakahan tak lagi memicu penyesalan. Demi sekelumit kekuasaan, materi, atau sekadar validasi semu.

Mari kita bergeser ke matinya Pacce, Kepedulian yang Tak Lagi Berbekas.

Jika Siri‘ adalah fondasi harga diri, maka Pacce adalah napas empati, rasa nyeri di dalam dada saat melihat sesama menderita, kepedihan kolektif yang melahirkan solidaritas tanpa batas. Namun, hari ini Pacce telah mati rasa.

Kemanusiaan yang Tumpul. Ketika kemalangan menimpa seseorang, kamera ponsel lebih cepat diangkat daripada tangan yang menawarkan bantuan. Penderitaan orang lain dijadikan panggung pencitraan atau bahan tontonan.

Transaksi Kebersamaan. Gotong royong yang tulus telah digantikan oleh kalkulasi untung-rugi. Pertanyaan “Apa untungnya buat saya?” menjadi syarat mutlak sebelum seseorang mau mengulurkan tangan.

Tangis tetangga di sebelah rumah dianggap bising yang mengganggu ketenangan. Tak ada lagi air mata bersama, tak ada lagi rasa senasib sepenanggungan. Pipa-pipa air untuk tetangga ditutup. Kepedulian yang menjadi perekat sosial telah menguap, menyisakan manusia-manusia yang beku, egois, dan memuakkan.

Kehidupan sosial hari ini tak ubahnya rimba yang pengap. Saling sikut dianggap sebagai keahlian bertahan hidup, sementara ketulusan dinilai sebagai kelemahan yang siap dimanfaatkan.

Orang-orang sibuk membangun tembok setinggi mungkin di hatinya. Interaksi hangat berganti menjadi tegur sapa penuh kepalsuan, hanya dilakukan jika ada kepentingan, lalu kembali bersembunyi di balik egoisme masing-masing.

Ketika Siri‘ tak lagi menjadi panduan hidup dan Pacce padam dari dada, ruang bermasyarakat hanyalah wadah kosong. Kita tak lagi benar-benar bertetangga atau bersaudara, kita hanyalah sekumpulan orang asing yang kebetulan menghirup udara di tanah yang sama, saling memanfaatkan dalam diam.

Kehidupan bermasyarakat selalu berisi riuh saling sikut atau keheningan yang dingin. Bantuan terasa berat karena dibayangi oleh Si bi’nyara (tabiat saling mengungkit kebaikan yang pernah diulurkan). Tangan kanan memberi, namun mulut tak henti menyebutnya hingga ketulusan berubah menjadi jerat utang budi yang merendahkan martabat.

Kebaikan yang sejati tak pernah meminta panggung untuk diingat, tak pula menagih bayaran dalam bentuk kepatuhan. Ia dilepaskan seperti benih, tumbuh tanpa perlu dihitung berapa kali ia disiram.

Bermasyarakat tapi tidak saling peka (tau tanni bulo karisakki), penuh dengan kalkulasi untung-rugi. Seyogyanya ketika satu jiwa berguncang diterpa angin kehidupan, jiwa-jiwa di sekitarnya ikut bergetar, merapat, dan menjadi penopang agar tak ada satu pun rumpun yang tumbang, layaknya serumpun batang bambu, saling peka satu sama lain.

Masyarakat yang kuat tidak dibangun dari tembok ego yang tinggi, melainkan dari kepekaan rasa yang saling menyentuh. Ketika kita membuang hitung-hitungan kebaikan dan melatih nurani sepeka Bulo Karisa’, kita tidak sekadar hidup berdampingan di atas tanah yang sama, kita tumbuh bersama sebagai satu rumpun yang saling menjaga, saling merangkul, dan tak akan membiarkan siapa pun patah sendirian di tengah badai.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *