Tiga Pertanyaan, Satu Jawaban

Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah teka-teki unik yang pernah dilontarkan oleh sosok guru agama yang saya hormati dan teladan sampai di jabatan terakhirnya sebagai Pengawas PAIS Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng hingga purna bhakti, dalam usianya yang ditakar dalam ketentuan ASN, beliau Ustadz Abd Khalik, S.Ag., M.Pd.I., guru Bahasa Arab kami kala itu.

Sebuah teka-teki sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam dan hingga hari ini masih melekat dalam ingatan. Teka-teki itu disampaikan ketika kami duduk di kelas 2 Tsanawiyah Ma’arif Lasepang—atau yang sekarang kita kenal sebagai kelas VIII.

Beliau bertanya dengan gaya yang santai, tetapi membuat kami semua berpikir:”Ada tiga pertanyaan, tetapi hanya membutuhkan satu jawaban. Allah tidak pernah melihat…, Presiden sesekali melihat…, dan manusia seringkali melihat…?”Dahulu, mungkin kami hanya menganggapnya sebagai teka-teki untuk mengasah pikiran.

Namun, setelah waktu berlalu, setelah perjalanan hidup membawa kita melewati banyak perjumpaan, jabatan, kesuksesan, kegagalan, pujian, dan penilaian manusia, barulah saya menyadari bahwa teka-teki itu bukan sekadar permainan kata. Ia adalah sebuah renungan tentang bagaimana manusia memandang manusia.

Jawabannya adalah: sesamanya.Allah tidak pernah melihat sesamanya, karena Allah adalah Al-Ahad, Yang Maha Esa. Tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, dan tidak ada sesama bagi-Nya.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ikhlas: قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُن لَّلهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Presiden sesekali melihat sesamanya. Sebab, dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang manusia, ia mungkin akan bertemu dengan orang yang memiliki kedudukan, jabatan, atau posisi yang setara dengannya. Tetapi jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Hari ini seseorang berada di puncak kekuasaan, esok mungkin ia kembali menjadi manusia biasa. Kursi bisa berganti, jabatan bisa berakhir, tetapi manusia tetaplah manusia.

Sementara manusia seringkali melihat sesamanya. Kita sering menilai orang lain dari apa yang tampak di mata. Kita melihat pakaian, jabatan, gelar, kekayaan, popularitas, rumah, kendaraan, bahkan dari siapa ia berteman. Kita terkadang terlalu sibuk mengukur orang lain dengan ukuran dunia, sampai lupa bahwa ukuran manusia tidak selalu sama dengan ukuran Allah.

Kita melihat seseorang dari luarnya, sementara Allah melihat hatinya. Kita melihat siapa dia hari ini, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya. Kita melihat kesalahannya, sementara Allah mengetahui perjuangannya untuk kembali.

Kita melihat kekurangannya, sementara Allah mengetahui segala kebaikan yang mungkin tidak pernah kita lihat.Bukankah Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi melihat hati dan amal kita?

Maka, mungkin teka-teki sederhana dari seorang guru di masa lalu itu sebenarnya adalah sebuah pelajaran yang baru kita pahami setelah dewasa: jangan terlalu sibuk melihat manusia dengan ukuran manusia, tetapi belajarlah melihat kehidupan dengan ukuran iman. Sebab, semakin kita sering melihat sesama, semakin besar kemungkinan kita membandingkan diri.

Kita membandingkan rezeki, jabatan, keberhasilan, rumah tangga, bahkan kebahagiaan. Padahal setiap manusia sedang menjalani takdirnya masing-masing. Ada yang cepat sampai, ada yang harus berjalan perlahan. Ada yang terlihat bahagia, tetapi diam-diam sedang berjuang. Ada yang tampak sukses, tetapi hatinya sedang mencari ketenangan. Dan ada pula yang hidupnya sederhana, tetapi mungkin justru paling dekat dengan Allah.

Karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi. Jangan terlalu mudah merendahkan. Jangan merasa lebih tinggi hanya karena dunia memberikan kita tempat yang lebih tinggi. Sebab, di hadapan Allah, yang membedakan manusia bukanlah jabatan, bukan kekayaan, bukan rupa, bukan pula popularitas. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13).

Kini, ketika mengingat kembali teka-teki Ustadz Abd. Khalik, S.Ag., M.Pd.I., saya merasa bahwa ada pelajaran besar yang tersimpan di balik kalimat sederhana itu.

Sebuah pelajaran yang mungkin dulu belum kami mengerti, tetapi kini semakin terasa maknanya. Allah tidak pernah melihat sesamanya, karena Dia Maha Esa. Presiden sesekali melihat sesamanya, karena ia tetap seorang manusia. Dan manusia seringkali melihat sesamanya, karena kita terlalu mudah membandingkan diri dengan orang lain.

Maka, barangkali tugas kita bukan lagi sibuk mencari siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Bukan pula sibuk mencari siapa yang lebih kaya dan siapa yang lebih miskin. Tetapi bagaimana kita belajar menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.

Sebab pada akhirnya, semua jabatan akan ditinggalkan, semua gelar akan dilepas, semua harta akan berpindah tangan, dan semua manusia akan kembali kepada Allah. Di hadapan-Nya, kita tidak akan ditanya tentang seberapa sering kita melihat sesama manusia dengan rasa bangga atau merendahkan. Kita akan ditanya tentang apa yang telah kita lakukan dengan hati, ilmu, umur, harta, dan amanah yang pernah dititipkan kepada kita.

Dan hari ini, saya kembali tersenyum mengenang sebuah teka-teki sederhana dari seorang guru teladan. Ternyata, sebuah pertanyaan yang dilontarkan di ruang kelas bertahun-tahun silam, dapat menjadi sebuah pelajaran yang terus hidup dalam perjalanan kehidupan.

Terima kasih, Guruku Khalik. Mungkin saat itu kami hanya mendengar sebuah teka-teki. Tetapi waktu telah membuktikan, bahwa di balik teka-teki itu ada sebuah nasihat, jangan terlalu sibuk melihat sesama, hingga lupa melihat diri sendiri. Jangan terlalu sibuk menilai manusia, hingga lupa bahwa Allah sedang menilai kita. Dan jangan terlalu sibuk mengejar pandangan manusia, hingga lupa mencari pandangan dan ridha Allah.

Sebab manusia melihat apa yang tampak di mata, tetapi Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada. Dan pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling banyak dilihat manusia, melainkan tentang siapa yang paling baik amalnya ketika dilihat oleh Allah.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *