Belajar Melihat Laut

Saya pernah membenci laut. Sungguh.

Waktu itu, saya masih duduk di bangku SMA. Bersama beberapa teman, kami memutuskan merayakan hari-hari terakhir sekolah dengan berenang di pantai. Karena terlalu percaya diri, saya berenang terlalu jauh. Ombak mulai menyeret tubuh saya. Kaki kehilangan pijakan. Laut hampir saja merenggut masa muda saya yang gagah.

Sejak hari itu, melihat laut selalu menghadirkan memori buruk.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak kecil mengubah cara saya memandang laut. Shanum, anak kami begitu akrab dengan pantai. Ia suka bermain pasir, berlari di bibir pantai dengan kakinya yang mungil, atau sekadar duduk menikmati kue buatan ibunya.

Meresapinya, saya menyadari bahwa dua orang, bisa memaknai laut dengan cara yang berbeda. Bagi saya, laut adalah trauma. Bagi Shanum, laut adalah taman bermain. Perlahan, saya pun berdamai dengan laut.

Perdamaian itu rasanya makin dalam setelah saya membaca antologi Melihat Laut, buku hasil refleksi peserta Maritime Leadership Camp (MLC). Ternyata laut adalah guru yang tabah, lagi arif.

Tulisan-tulisan dalam buku ini lahir dari pengalaman peserta MLC, sebuah ruang belajar yang berangkat dari kegelisahan dan tanya.

Narasi dibuka oleh Rahmat HM, pendiri The Floating School (TFS), yang mewadahi lahirnya MLC. Lelaki asal Pangkep ini memperkenalkan saya pada MLC, sebuah ruang belajar yang lahir dari keresahan, mengapa orang-orang yang hidup di pulau justru sering tidak benar-benar mengenali pulaunya sendiri? Mengapa pendidikan formal, seolah menjauhkan kita dari realitas? Dari sini lahir desain program kepemimpinan kemaritiman untuk anak muda di pulau.

Hal yang sama dikonfirmasi oleh Yusril dalam tulisannya, sebelum ikut MLC, ia orang yang pasrah dan apatis dalam menjalani hidup. Sesekali ia memang gelisah, tapi merasa tidak berdaya mau melakukan apa. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, ia merasa punya bekal melakukan “perubahan”, mulai dari memberdayakan sampah, advokasi, hingga teknik rekayasa sosial.

Senada dengan Rahman, ia mengkritik sistem pendidikan yang dipandangnya hanya mengajari ilmu pergi dan kompetisi. Matematika, IPA, hingga sejarah, yang ia pelajari, tak membuatnya mengenal tempat tinggalnya sendiri. “Tepat jika dikatakan ilmu yang kita serap selama ini adalah ilmu pergi, sebab doktrin berkesinambungan dari muatan dan sajian edukasi kita sangat dominan kepada hal-hal yang tidak ada di lingkungan kita.”

Selanjutnya ada Nur Al Marwah Asrul, yang membincang tentang laut, tubuh manusia, dan perubahan iklim. Ia menjelaskan bagaimana perubahan iklim memengaruhi tubuh manusia, manusia memang bisa menyesuaikan dengan suhu di luar tubuhnya, tapi tetap saja ia memiliki batasan. Misal, Ketika suhu tinggi tidak bisa lagi ditoleransi oleh tubuh, maka terjadi heat stroke yang bisa berujung pada kematian.

Bagian lain tulisannya mengulas bagaimana paparan plastik mulai tampak di kehidupan. Mikroplastik kini ada di mana saja, udara yang kita hirup, air yang kita minum, bahkan dalam tanah tempat makanan kita tumbuh. Yang mengagetkan dari membaca tulisan Nur adalah, ternyata beberapa penelitian menunjukkan keberadaan plastik pada plasenta ibu hamil, juga ada dalam feses manusia, seperti pada film dokumenter Pulau Plastik (2021), disutradarai oleh Rahung Nasution dan Dandhy Laksono.

Penulis lain yang mengangkat isu sampah adalah Reza Ismeralda dan Faika Alhabsyie. Bagi Ismeralda, ikut MLC memberinya pengalaman tak terperi. Pandangannya terhadap laut berubah drastis. Aku, kata Ismeralda, tidak lagi melihat pantai sebagai tempat rekreasi yang indah, tapi juga sebagai simbol pertarungan terhadap polusi.

Pikiran itu muncul setelah ia mengikuti kegiatan audit sampah, di balik indahnya pantai, dan deru ombak, tersembunyi tabiat buruk manusia, ada sampah botol plastik, sendal bekas, hingga potongan kayu. Ia ikut pula kegiatan menanam mangrove, sebagai bentuk perwujudan harapan. Baginya, mangrove yang ditanam bukan hanya aktivitas fisik semata, melainkan bentuk penebusan dosa.

Tulisan Faika punya POV yang unik. Ia memosisikan dirinya sebagai biota laut yang berceloteh kesal akibat ulah manusia. “Sudah enak-enak diberi ikan untuk dimakan, kini lautan pun kalian ambil alih? Tidak puaskah kalian di daratan saja saling bunuh? Cih!” gerutu hiu.

Rahmiana seolah melengkapi pembahasa plastik ini. Ia berbagi tips mengurangi sampah plastik, dengan mengenalkan ecobrick sebagai transisi plastik. Baginya, ecobrick merupakan salah satu bentuk tanggung jawab diri terhadap plastik yang sudah dipakai. Hari ini, sulit sekali lepas dari plastik, sebab segala kebutuhan kita sudah ada plastiknya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menghindari penggunaan plastik yang bisa ditaktisi, seperti membawa totebag saat belanja.

Dari plastik, narasi bergeser ke isu perempuan.

Sandrawali memulai tulisannya dengan menegaskan “keperempuanannya”, ia bangga menjadi perempuan, tapi bukan sebagai penghias dalam perkumpulan sosial semata. Perempuan harus melampaui itu, menjadi suluh yang menyinari sekelilingnya, berkontribusi sebanyak mungkin.

“Kita pasti paham betul bagaimana perjuangan perempuan dari rezim ke rezim, yang bersusah payah berdiri tegak di antara barisan para raksasa pemikir sosial demokratik yang didominasi laki-laki,” ujarnya.

Wali tak menafikan bahwa kini sudah ada kemajuan dalam sektor kehidupan perempuan pasca reformasi, tapi itu hanya berlaku bagi segelintir kehidupan perempuan Indonesia. Wali menganggap masih butuh rekontruksi gagasan perempuan dalam praktik keseharian, seperti menormalisasikan kehadiran perempuan di ruang publik, kebebasan menyampaikan gagasan, atau bahkan sekadar merayakan dirinya sendiri dengan lipstik merah di bibir.

Wali mengambil cerita bagaimana perempuan pesisir yang tergabung dalam Jejaring Perempuan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nusantara berkumpul di Anjungan Pantai Losari, Makassar, tahun 2023. Mereka menggugat pembangunan Makassar New Port (MNP) yang dianggap menyengsarakan dan tidak berpihak pada masyarakat pesisir. Selayaknya nasi yang butuh kayu bakar dan proses dalam tanakannya. Maka perubahan pun seringkali berangkat dari keresahan yang menjelma jadi aksi.

Tak cukup di pesisir, kisah perempuan juga terekam dalam perjalanan Wali ke Pelosok Bantaeng, tepatnya di Babangen. Di sana, ia bertemu dengan Wani, anak kelas 5 SD yang lebih sering membantu ibunya mengambil kayu bakar di hutan, tinimbang duduk diam mendengarkan gurunya menjelaskan di bangku sekolah.

Kondisi makin berat, kaki mereka harus melangkah lebih lama, sebab kayu bakar makin jauh akibat hutan yang dikelola turun temurun tiba-tiba diklaim oleh negara. Lalu, akhirnya bisa kita tebak, negara memberikannya pada investor untuk ditanami karet dan keputusasaan.

Wani sebagai anak tentu kehilangan masa-masa sekolah yang membosankan, tapi dari alam dan ibunya, ia belajar langsung dari jantung kehidupan. Dari hutan, dari sungai, dan tanaman yang ada di sekelilingnya. Wani mungkin tak paham defenisi ini itu, juga tak menghafal perkalian satu sampai sepuluh. Tapi kehidupan sudah menjadi guru baginya, ia bisa hidup dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Barangkali, ah bukan barangkali, yang selalu kurang pastilah keberpihakan pemerintah, ketika hutan makin menyusut, tanaman hilang, bahkan punah, maka yang hilang bukan hanya sebatang pohon, tapi juga deretan kosa kata.

Bagi Wali sebagaimana ia kutip, tanaman yang punah, membuat mati satu kata, sebab namanya tidak akan lagi disebut manusia. Dan seperti biasa, hari ini mungkin 1, besok 10, lusa 20, lalu perlahan-lahan pengetahuan dan kearifan hidup ikut runtuh.

Wani dan ibunya adalah dua potret perempuan yang melawan, bukan dengan orasi dan lemparan batu. Melainkan dengan terus hidup, menjaga hutan yang tersisa, dan merawat pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Mereka melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Wali menutup tulisannya dengan menegaskan kembali, bahwa segenap pengalaman perempuan adalah sejatinya pengetahuan. Perempuan mampu keluar rumah dan kembali ke keluarga dengan pengetahuan yang bersahaja, dan generasi selanjutnya tidak lagi mewariskan kiat-kiat patriarki, melainkan solidaritas berdikari, tutupnya.

Dari Wali, tulisan beralih ke seorang anak Mapala yang biasanya ke gunung, tapi tiba-tiba ikut dalam kegiatan MLC, Andersit namanya. Baginya, kondisi ini tak lepas dari lingkungannya yang rusak akibat proyek reklamasi di pesisir Makassar, yang secara tidak langsung merusak ekosistem tempat ia tinggal, Takalar.

Kapal pengisap pasir, tentu tak hanya mengambil pasir tok, tapi juga menyapu apa saja, termasuk terumbu karang tempat ikan tinggal dan berbiak. Yang susah tentu bukan pemerintah, saat mereka sibuk mengalkulasi kapital, nelayan harus melaut lebih jauh dari sebelumnya, dengan perahu seadanya, tentu risiko menjadi lebih besar. Dalih awalnya memang kesejahteraan masyarakat, bahwa proyek ini itu demi kebaikan bersama. Tapi seperti biasa, tak ada yang lebih pandai bermanis muka dan bermain kata-kata selain pemerintah itu sendiri.

Tak cukup di situ. Ancaman yang dihadapi masyarakat pesisir makin serius setelah pemerintah meresmikan PP. No. 26 tahun 2023. Regulasi ini seolah membuka luka lama, keran ekspor pasir laut dibuka kembali setelah dihentikan dua dekade lamanya.

Ada kata-kata yang menarik dari Andersit dalam tulisannya, “Barangkali inilah konsekuensi menjadi masyarakat pesisir. Bukan hanya kaya sumber daya alam, tapi juga rentan terhadap berbagai macam masalah.” Saya ingin tegaskan, itu bukan hanya konsekuensi orang pesisir, tapi konsekuensi hidup menjadi WNI. Di laut ada reklamasi, di udara ada polusi, dan di darat ada tambang. Dari kebobrokan ini, lahirlah meme, “masuk surga lewat jalur WNI”.

Bagi Andesit, pengalaman ikut dalam MLC memberinya kepekaan dalam melihat ketimpangan dan ketidakadilan di sekitarnya. Ia pun banyak berkunjung ke desa-desa, pulau-pulau, mendengar cerita kelam tentang tambang pasir dan perlawanan nelayan dalam mempertahankan ruang hidupnya. “Ketimpangan akan terus terjadi jika masyarakat hanya diam melihat fenomena ini.” Jelas Andesit. Dan jika sudah begini, hanya ada satu kata, “lawan”. “Tirani harus tumbang!” Tutupnya.

Dari ajakan melawan, narasi tenggelam dalam romansa. Tri Nadia Asrini dengan apik bercerita tentang pemuda pesisir dan suku Yolngu dari Australia. Setelah mengikuti MLC, Tri merasa dipertemukan kembali dengan wajah laut yang sebenarnya.

Laut, kata Tri bukan hanya hamparan air tak terbatas, tetapi entitas hidup tempat bersemayamnya jutaan kehidupan dan harapan. Tri bercerita tentang pemuda-pemuda pesisir di kampungnya. Mereka menggali pasir di bawah terik matahari yang membakar, demi menyelamatkan penyu dari ancaman predator. Lucunya, salah satu predator terbesar itu adalah manusia itu sendiri. Dengan tangan kasar akibat garam laut dan pasir, mereka kukuh menjaga keseimbangan laut.

Sedang di tanah nun jauh di seberang, ada suku Yolngu dalam masyarakat Aborigin yang majemuk. Di sana, perempuan berdiri tegak menjaga laut macam pasak yang ditanam teguh dalam tanah. Mereka merawat laut, selayaknya menjaga anak sendiri.

Menariknya, dalam pandangan Tri, jika penjaga laut di kampungnya didominasi oleh laki-laki, maka di Yolngu, perempuanlah yang menjaga keseimbangan alam. “Mengapa begitu berbeda?” Mungkin, kata Tri, karena di sana, laut dipandang sebagai ibu, tempat kelahiran dan kehidupan. Sedang di sini, laut tak lebih dari entitas yang mesti ditaklukkan.

Bagi saya, di sini ataupun di sana, entah perempuan maupun laki-laki. Tak ada beda dalam tugas mulia. Sebab menjaga alam, memelihara laut, adalah kerja semua manusia.

Selanjutnya ada Sri Wulan yang berkisah tentang pengalamannya mengikuti MLC. Saat susur pantai, ia menemukan sol sepatu, dari sana, muncul tanya dalam kepalanya, dari mana sol ini? Kenapa benda yang begitu akrab dengan kaki dan daratan ini bisa tiba di bibir pantai.

Jelas tidak ada orang yang memakai sepatu, lalu berjalan di atas laut menuju pulau seberang. Barangkali, sol sepatu ini rusak dan terabaikan, lalu seseorang meletakkan begitu saja, lalu jatuh ke selokan, hingga terbawa ke sungai, hingga tiba di laut.

Membaca tulisan Sri membuat saya berpikir aneh, semoga sol ini hanya sekadar sol saat tiba di laut, bukan sepatu utuh, yang sebagiannya sudah dimakan makhluk laut. Kisah sol sepatu, laiknya kisah sampah-sampah lainnya. Sebagian mengira hanya membuang secuil benda tak berguna, yang tak disadari, benda itu bisa saja menjerat penyu, ataupun meracuni hewan laut. Mengapa manusia yang katanya cerdas, tak berpikir jauh ke sana?

Dari sol sepatu, cerita berpindah ke soal penyu. Rafli membawa pembaca melihat penyu, bukan sebagai satwa langka yang layak difoto, melainkan makhluk hidup yang terus menjadi korban kerakusan manusia. Penyu diburu atas nama tradisi, dikonsumsi atas nama kenikmatan, bahkan diperdagangkan sebagai komoditas.

Memang, di beberapa negara sudah ada sup penyu imitasi, tapi bagi Rafli, replikasi itu tetap berorientasi pada budaya konsumtif yang mendorong keingintahuan banyak orang terhadap rasa yang lebih asli dan otentik. Artinya, orang akan berpikir, kalau imitasinya saja seenak ini, gimana aslinya. Bukankah manusia adalah satu-satunya makhluk yang tak pernah mengenal cukup?

Membaca bagian ini, saya tiba-tiba ingin melihat tukik. Bukan untuk menyentuhnya, apalagi mencicipi rasanya, tetapi untuk menyaksikan bagaimana makhluk sekecil itu berkelahi dengan waktu, harus memulai hidupnya di tengah ancaman yang sebagian besar diciptakan manusia.

Di akhir buku, Nurul Mutmainnah seolah menjadi penutup yang sempurna. Ia mengajak kita memaknai kembali larik “Indonesia tanah airku” dalam Indonesia raya. Tanah dan air. Ia menegaskan kembali konsep archipelagic state, yang semestinya diartikan sebagai “negara laut utama”, yang dikelilingi pulau-pulau, bukan sebaliknya.

Selama ini kita sering memaknai tanah dan air sebagai dua unsur yang berdiri sendiri. Padahal Indonesia lahir sebagai negara kepulauan. Laut bukanlah pemisah antarpulau, melainkan ruang utama yang menghubungkan kehidupan.

Buku memang sudah saya khatamkan, tapi rasanya itu belumlah cukup. Kita butuh mendengar gagasan dalam buku ide lebih dalam dari penulisnya langsung. Itu sebabnya kita semua diundang Sabtu 08 Agustus 2025 nanti, dalam sawala buku buah kolaborasi Booknest Ares x Balla Literasi Indonesia. Jika berkenan, anggap saja tulisan ini sebagai pengantar tipis-tipis dari saya.

Syahdan, dulu saya berdamai dengan laut karena seorang anak kecil yang senang bermain pasir. Kini saya makin akrab karena dua belas orang penulis yang mengajari saya melihat laut dengan cara berbeda.

Ternyata di laut ada pengetahuan, ada sejarah, ada perempuan yang bertahan, nelayan yang melawan, penyu yang bertaruh hidup, hingga sampah yang diam-diam kembali ke tubuh manusia. Sisanya, apakah kita mau belajar melihat laut?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *