Sebuah Nama, Tiga Makna, Satu Pertanyaan

Empat puluh tujuh tahun lalu, 1979, enam belas tahun sebelum saya lahir. Goenawan Mohamad pernah menulis, “Setiap kali matamu terpejam, menyiapkan seluruh tubuhmu untuk sekolah esok pagi, selalu datang pertanyaan kepada dada saya: ‘Apa sebenarnya rencana Tuhan dengan dirimu? Apa sebabnya pada suatu hari sepuluh tahun yang lewat kau dititipkan-Nya padaku—hingga saya tersentak, bahagia seperti ibumu, tapi juga agak cemas?”

Goenawan adalah seorang ayah, dan barangkali semua ayah pun sama. Saat mata anaknya terpejam, kala yang tersisa hanya mainan yang berantakan, dan  rumah yang kembali sunyi. Para ayah sibuk bertanya, bagaimana masa depan anak-anaknya nanti?

Pertanyaan itu tentu tak hadir begitu saja, ia lahir dari kecemasan yang setiap hari kita saksikan, di televisi, di gawai dalam genggaman, di mana saja. Kita dipaksa optimistis ketika semua indikator kehidupan terlihat begitu rapuh dan pesimistik.

Tentu, sebagai orangtua, kami ingin meninggalkan banyak hal. Sebanyak mungkin, sebisa-bisanya. Mungkin rumah, atau dana pendidikan, atau deretan silsilah keluarga.Tetapi seluruhnya bisa digerus oleh zaman. Apatahlagi, kita hidup di sebuah negara yang sepertinya hendak memajaki apa saja di masa depan.

Barangkali, yang paling lama tinggal hanya nama, iya nama. Deretan huruf yang menjadi pintu masuk orang lain buat mengenalmu lebih dalam dan jauh.

Mungkin benar, nama itu hadiah pertama bagi seorang anak. Dengan nama, ia mengenal dirinya, mengenal orang lain. Nama menjadi ilmu pertama Adam dalam mengenali benda-benda di surga. Nama lebih dari sekadar bunyi, ia adalah ilmu paling purba.

Saya sering membayangkan, suatu hari nanti, anakku akan bertanya seperti anak-anak lain, laiknya saya dulu semasa kanak-kanak.

“Ayah, kenapa namaku begini?”

Ketika masa itu tiba, saya berharap, tidak hanya mampu menjelaskan arti kata-katanya, tetapi juga alasan mengapa kami memilihnya.

Kemarin, anak kami genap tiga tahun. Waktu terasa cepat berlalu, rasanya baru kemarin kami tergopoh ke rumah sakit, sebab bidan menyarankan operasi karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk lahir normal.

Tetapi sejak hari itu pula rumah kami berubah. Kami belajar bahwa seorang anak bukan hanya menambah anggota keluarga, melainkan juga mengubah cara kami memandang hidup.

Anggap saja kata-kata ini sebagai kado ulang tahun, kelak kau mungkin akan membacanya dengan perasaan yang sama saat ayah menuliskannya.

Shanum: Nama dari Ibumu, Rahmat dari Semesta

Shanum adalah nama yang sudah dilafal ibumu bahkan sebelum kamu hadir. Ia memilih nama itu saat kamu masih dalam perut, ketika belum tahu rupa dan tangismu, saat ruh pun belum ditiupkan pada tubuhmu. Tapi ibu begitu fasih, seolah kalian sedang berhadap-hadapan, ibu memberi nasihat, dan kau khyusuk mendengarkan.

Memang, banyak yang bilang, “itu nama yang umum.” Di kampung kita sendiri sudah ada tiga, belum di tempat lain. Tapi bagi kami, ini bukan tentang siapa namamu, tapi bagaimana kamu memaknainya? Di situlah otentisitas tiap orang. Kami sadar, dalam hidup ini, nama unik itu baik, tapi makna yang melatarinya jauh lebih penting.

Apatahlagi, nama itu pilihan ibumu sendiri, ayah cukup mengiyakan saja. Dengan segala kepayahan saat mengandungmu, ayah merasa bahwa ibumulah yang paling berhak memberimu nama.

Konon, “Shanum” berarti rahmat. Dan benar, kamu membawa rahmat. Sejak kamu lahir, banyak hal jadi terasa lebih terang. Langkah kakimu membuat rumah jadi lebih hidup. Tawamu membikin hati kami jadi lebih lapang. Kesulitan memang ada, tapi namamu, selamanya akan jadi rahmat semesta untuk rumah kita.

Asyura: Hadiah Kakek Nenek dari Karbala

Tapi bagian terpenting dari namamu, adalah Asyura. Kamu lahir sedikit terlambat, dan semesta mengizinkanmu membuka mata pertama kali di bulan Muharram. Bulan suci, yang di dalamnya ada satu tanggal yang menyayat sejarah dan menggugah jiwa: 10Muharram, hari di mana Imam Husain gugur di Karbala.

Berkat saran dari kakek nenekmu, kami bersepakat menaruh nama itu di tengah, bukan untuk gaya, lebih dari sekadar tanda waktu, melainkan sebagai tanda jiwa. Kami ingin kamu tumbuh tidak hanya manis dan baik, tapi juga teguh dalam pendirian. Tidak hanya lembut, tapi juga berani berkata tidak pada kezaliman, seperti Husain bin Ali, cucu Rasulullah itu, yang memilih mati berdiri daripada hidup tunduk.

Di padang yang tandus itu, Husain kehilangan keluarga, sahabat, bahkan nyawanya. Tetapi ia tidak kehilangan keyakinan. Sejarah mengingatnya bukan karena ia menang dalam peperangan, melainkan karena ia tidak menyerah kepada kezaliman.

Nak, kelak mungkin akan datang hari ketika semua orang menyuruhmu mengikuti arus.

Mungkin lebih mudah diam daripada bersuara. Lebih nyaman ikut mayoritas daripada mempertahankan yang benar. Lebih asyik menjilat demi jabatan yang fana.

Pada hari-hari seperti itulah semoga Asyura dalam namamu mengingatkanmu bahwa hidup tidak selalu meminta kita menjadi pemenang. Kadang berpegang pada nilai yang kita yakini itu sudah cukup.

Macca: Dua Tanah Satu Makna

Nama terakhirmu berasal dari tanah tempat kita tumbuh: Macca. Dalam bahasa Bugis dan Makassar, kata itu berarti cerdas.

Kami sengaja memilih kata yang hidup dalam dua kebudayaan sekaligus. Sebab dalam dirimu mengalir dua warisan, Bugis dari pihak ibumu, Makassar dari pihak ayahmu.

Tetapi kami tidak pernah berharap kamu hanya menjadi anak yang pandai menjawab soal ujian, fasih menghafal ini itu. Sejatinya, kecerdasan yang kami doakan jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit.

Semoga kamu mampu membedakan benar dan salah ketika keduanya tidak lagi tampak jelas. Ketika semuanya tampak abu-abu. Semoga kamu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan. Semoga kamu tidak hanya cepat memahami dunia, tetapi juga lambat menghakimi manusia.

Ayah percaya, orang yang benar-benar macca bukanlah yang mengetahui banyak hal. Ia adalah orang yang tidak kehilangan arah ketika isi kepalanya makin berisi, saat deretan gelarnya makin memanjang.

Kelak, orang-orang mungkin akan memanggilmu hanya dengan satu nama.

Mereka tidak akan tahu bahwa di balik panggilan itu ada cerita, tentang seorang ibu yang memilih dengan cinta, sepasang kakek nenek yang menitipkan keberanian dari Karbala, dan dua kebudayaan yang sama-sama mendoakanmu menjadi manusia yang macca.

Mereka mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini. Mereka tidak akan tahu mengapa kami memilih tiga nama itu. Mereka hanya akan mengenalmu dari caramu memperlakukan manusia.

Sebab pada akhirnya, nama tidak pernah benar-benar berarti karena arti katanya. Nama menjadi berarti karena kehidupan orang yang menyandangnya.

Empat puluh tujuh tahun lalu, Goenawan Mohamad bertanya kepada Tuhan tentang anaknya yang sedang terlelap, “Apa sebenarnya rencana Tuhan dengan dirimu?”

Hari ini, ketika usiamu genap tiga tahun, pertanyaan itu diam-diam berpindah ke dadaku.


Comments

One response to “Sebuah Nama, Tiga Makna, Satu Pertanyaan”

  1. Happy birthday, Maccaaaa…!
    Berbahagialah nak, kamu dibersamai kedua orangtua yang bijak dan kakek nenek yang teguh pendirian. Salama’ki lino akhera’
    Salam sayang dari Nesa 🌹

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *