Di hampir setiap agama, surga digambarkan sebagai puncak harapan dan pencarian manusia. Ia adalah simbol kebahagiaan abadi, tempat di mana penderitaan berakhir dan kasih Tuhan mencapai kesempurnaannya. Semua orang ingin sampai ke sana. Rasa-rasanya tidak ada doa yang lebih sering dipanjatkan selain harapan agar kelak dipertemukan dengan surga.
Akan tetapi, ada problem dalam kehidupan beragama kita. Semakin sering orang berbicara tentang surga, semakin sempit pula definisi mengenai siapa yang dianggap layak memasukinya. Surga akhirnya berubah dari ruang kasih menjadi ruang eksklusif. Bukan Tuhan yang mempersempitnya, tetapi manusia itu sendiri.
Fenomena itu dapat kita saksikan hampir setiap hari. Di media sosial, perdebatan agama tidak lagi bertujuan mencari kebenaran, tetapi memenangkan pertengkaran. Kolom komentar dipenuhi vonis kebencian. Seseorang dianggap kafir hanya karena berbeda pilihan politik. Yang lain dicap sesat karena berbeda cara beribadah. Ada pula yang dianggap menyimpang dari agama hanya karena menyampaikan tafsir yang tidak sejalan dengan kelompok tertentu.
Anehnya, semua itu dilakukan atas nama membela Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah meminta dibela dengan kebencian. Yang justru sering kita saksikan adalah manusia yang sedang membela egonya sendiri, lalu menyelipkan nama Tuhan agar tampak suci. Padahal kata Gusdur “tidak perlu membela Tuhan, belalah orang yang diperlakukan secara tidak adil”.
Di ruang publik kita akhir-akhir ini, agama semakin sering dijadikan identitas pembeda daripada jembatan kemanusiaan. Kita lebih mudah mengenali siapa yang berbeda daripada menemukan apa yang sama. Kita lebih cepat mengelompokkan daripada memahami. Kita lebih gemar memberi label daripada membuka percakapan.
Akibatnya, lahirlah batas-batas yang terus menyempit. Ada surga versi kelompok A. Ada surga versi kelompok B. Ada surga versi mazhab tertentu. Ada surga versi organisasi tertentu. Bahkan kadang-kadang, seseorang merasa bahwa surga hanya untuk kelompoknya.
Gejala ini mengingatkan kita pada kecenderungan manusia untuk selalu membangun tembok pembatas. Dalam politik, tembok itu bernama ideologi. Dalam ekonomi, ia bernama kelas sosial. Dalam kebudayaan, ia bernama etnis. Dan dalam kehidupan beragama, tembok itu kadangkala dibangun atas nama kebenaran.
Masalahnya bukan pada keyakinan bahwa agama kita benar. Bukan, bukan disitu. Tentu, sah-sah saja bila setiap pemeluk agama meyakini ajarannya sebagai jalan hidup yang benar. Persoalannya ialah saat keyakinan pribadi berubah menjadi hak untuk menentukan keselamatan orang lain.
Disituasi inilah manusia mulai mengambil pekerjaan yang bukan menjadi wewenangnya. Seolah-olah ia lah penentu daftar resmi penghuni surga. Padahal tidak ada satu pun manusia yang diberi mandat untuk menjadi petugas imigrasi akhirat. Tugas manusia bukan memutuskan siapa yang diterima Tuhan.
Tugas manusia adalah berusaha menjadi pribadi yang pantas di hadapan-Nya. Menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik. Menyuarakan kebenaran dengan cara yang benar. Jangan menjadi orang yang sibuk menentukan nasib orang lain tetapi malah lupa memeriksa dirinya sendiri.
Sebaliknya, orang yang sungguh-sungguh menyadari kebesaran Tuhan justru akan dipenuhi kerendahan hati. Ia tahu bahwa amalnya sendiri belum tentu cukup. Maka ia tidak memiliki waktu untuk menghakimi orang lain. Sayangnya, era digital justru memperkuat kecenderungan sebaliknya.
Algoritma media sosial menyukai kemarahan. Konten yang paling cepat viral kadang bukan ceramah yang menenangkan, tetapi potongan video yang memancing emosi. Semakin keras seseorang berbicara, semakin banyak perhatian yang diperoleh. Semakin mudah ia menghakimi, semakin besar peluangnya mendapatkan pengikut.
Dalam situasi seperti itu, kesalehan perlahan berubah menjadi tontonan. Ukuran keberagamaan bergeser dari kedalaman akhlak menuju kemampuan memamerkan arogansi identitas. Orang lebih sibuk memperlihatkan simbol daripada memperbaiki perilaku.
Lebih mudah mengunggah kutipan ayat daripada menahan diri untuk tidak menghina. Lebih ringan membagikan ceramah daripada meminta maaf kepada tetangga yang disakiti. Lebih semangat mendebatkan hukum ibadah daripada membantu keluarga yang kelaparan.
Agama akhirnya kehilangan daya transformasinya. Meski tetap hadir dalam simbol, dalam ritus, tetapi semakin jarang tampak dalam tindakan. Padahal, hampir seluruh tradisi keagamaan mengajarkan pesan yang sama, bahwa manusia yang paling dekat dengan Tuhan adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat kepada sesama.
Kasih sayang bukan hanya pelengkap ajaran agama. Ia adalah inti dari keberagamaan itu sendiri. Karena itu, sungguh aneh jika seseorang merasa semakin religius, tetapi semakin mudah membenci.
Semakin rajin beribadah, tetapi semakin sulit memaafkan. Semakin fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi semakin miskin empati terhadap sesama. Barangkali di sinilah kita perlu membedakan antara agama sebagai identitas dan agama sebagai karakter.
Identitas dapat dikenakan. Tapi karakter mesti dihidupi. Identitas terlihat pada pakaian, simbol, atau atribut. Sementara karakter terlihat pada cara memperlakukan orang lain. Tidak sulit menemukan orang yang tampak saleh.
Dalam banyak kisah tentang orang-orang bijak, kita hampir tidak pernah menemukan mereka sibuk menghitung siapa penghuni neraka. Mereka justru sibuk mengobati orang sakit, memberi makan orang lapar, mendamaikan mereka yang bertikai, melindungi yang lemah, menghibur mereka yang kehilangan harapan, dan lain sebagainya, dan lain seterusnya.
Mereka menghadirkan sedikit suasana surga di dunia sebelum berbicara tentang surga di akhirat. Sebaliknya, kita saat ini terkadang terjebak dalam perlombaan menjadi hakim akhirat bagi sesamanya.
Kita merasa lebih cepat mengetahui dosa orang lain daripada luka yang mereka simpan. Kita lebih rajin menilai daripada mendengar. Lebih cepat mengutuk daripada memahami. Mungkin karena menghakimi selalu terasa lebih mudah daripada mengasihi.
Padahal kasih membutuhkan keberanian. Mengasihi berarti bersedia menerima bahwa manusia memang tidak pernah sepenuhnya sempurna. Mengasihi berarti tetap melihat martabat seseorang meskipun kita tidak sepakat dengannya.
Mengasihi berarti percaya bahwa setiap manusia memiliki kemungkinan untuk berubah. Inilah yang tampaknya mulai hilang dari ruang publik kita. Ruang publik dipenuhi kepastian. Yang kurang adalah kerendahan hati. Kita terlalu cepat merasa mewakili Tuhan.
Padahal, jika kita percaya bahwa Tuhan benar-benar Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukankah sifat pertama yang semestinya tergambar pada diri orang beriman adalah kemampuan mengasihi?
Bukan berarti kita harus menghapus batas antara benar dan salah. Bukan pula berarti semua pandangan harus dianggap sama. Moral tetap memerlukan ketegasan. Nilai tetap membutuhkan prinsip.
Namun prinsip yang kokoh tidak harus melahirkan kebencian. Keyakinan yang kuat tidak harus menghasilkan penghinaan. Justru semakin matang seseorang dalam beragama, semakin tenang cara ia menyampaikan kebenaran.
Ia tidak membutuhkan kemarahan untuk membuktikan imannya. Karena ia percaya bahwa kebenaran sejati tidak pernah takut pada dialog. Karena itu, mungkin persoalan terbesar kita bukanlah surga yang semakin sempit.
Yang menyempit adalah hati dan akal kita. Hati yang tidak lagi cukup luas untuk menerima perbedaan. Hati dan akal yang lebih mudah curiga, yang lebih senang membangun tembok daripada jembatan.
Padahal, jika Tuhan menghendaki manusia menjadi seragam, niscaya keberagaman tidak akan pernah diciptakan. Mungkin surga memang tetap seluas kasih Tuhan. Yang menjadi sempit hanyalah imajinasi kita tentang kasih itu.
Karena itu, sebelum sibuk memastikan siapa yang tidak akan masuk surga, barangkali ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kehadiran kita menghadirkan sedikit rasa damai bagi orang lain?
Sebab boleh jadi, jalan menuju surga tidak dimulai ketika kita berhasil membuktikan bahwa orang lain salah, tetapi ketika kita berhasil menjadi manusia yang membuat sesamanya merasa dihargai, ditolong, dan dicintai.
Bukankah surga, dalam makna yang paling sederhana, adalah tempat di mana tidak ada kebencian, tidak ada kesombongan, dan tidak ada keinginan untuk saling menyingkirkan?
Jika demikian, maka setiap kali kita memperluas kasih, memperkuat keadilan, memuliakan alam dan sesama manusia, sesungguhnya kita sedang memperluas surga, bukan di langit terlebih dahulu, tetapi di dalam hati kita sendiri.

Lahir di Budong-budong Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Makassar. Belajar menulis dan bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute. Aktif berbagi perspektif melalui artikel opini di sejumlah media online, koran serta artikel ilmiah di jurnal penelitian-pemikiran dan pengabdian masyarakat. Telah menerbitkan sejumlah buku diantaranya “Kebebasan Berpendapat dan Berorganisasi: Persepsi Mahasiswa” (2020), “Metanarasi Pendidikan Nasional” (2024), “Digital Citizenship: Menjadi Warga di Ruang Maya” (2025), “Indonesia dalam Ragam Perspektif: Isu-Isu Kewargaan, Kebangsaan dan Kemanusiaan” (2025). Dapat berkorespondensi melalui yunasri.ridhoh@unm.ac.id atau akun instagram @ari_myunasri.


Leave a Reply