“Terlahir sebagai singa, tapi situasi menjadikannya domba.” (Tajali Daeng Litere, 17092024)
Ada saat-saat tertentu, manusia lebih mudah mengenali keadaan di sekelilingnya, ketimbang dirinya sendiri. Ia hafal arah angin, mahir membaca perubahan zaman, bahkan cakap menyesuaikan langkah dengan lingkungan.
Namun, pada saat yang sama, perlahan melupakan sesuatu yang paling hakiki: suara jiwanya sendiri. Barangkali, di simpul inilah pendakuan Daeng Litere memperoleh gaungnya.
Aforisme tersebut tidak sedang berbicara ihwal singa dan domba dalam pengertian harfiah. Keduanya hadir sebagai perlambang dua keadaan batin. Singa melambangkan keberanian, kemerdekaan, dan daya hidup. Domba melukiskan kepatuhan yang kehilangan daya timbang. Menariknya, perubahan itu bukan disebabkan oleh kodrat, melainkan oleh situasi. Di situlah simpai renungannya.
Situasi memiliki daya yang kerap diremehkan. Ia tidak selalu memaksa melalui kekerasan. Acap kali ia bekerja lewat kebiasaan. Hari demi hari, manusia belajar menyesuaikan diri. Sedikit demi sedikit keberanian dikurangi. Pertanyaan mulai ditahan. Keraguan terhadap ketidakadilan perlahan dibungkam. Apa yang mula-mula terasa ganjil, lama-kelamaan dianggap lumrah.
Puncaknya? Manusia bukan lagi sekadar menyesuaikan diri terhadap keadaan. Ia mulai lupa pada suara yang dahulu membuatnya berani mengaum.
Penjinakan semacam itu jarang berlangsung dalam sehari. Ia bergerak nyaris tanpa bunyi. Seperti air menetes pada batu, perubahan kecil terus berulang, hingga membentuk watak baru.
Manusia yang dahulu berani menyuarakan pendapat, perlahan memilih diam. Mereka yang semula tegak membela kebenaran, mulai belajar mencari aman. Bukan selalu karena kehilangan nurani, melainkan sebab terlalu lama hidup dalam keadaan yang menuntut penyesuaian.
Kehayatan kiwari menyediakan banyak ruang bagi gejala semacam itu. Lingkungan kerja, organisasi, birokrasi, bahkan pergaulan sosial acap melahirkan budaya yang lebih menghargai keseragaman, tinimbang kejernihan berpikir.
Orang yang banyak bertanya dianggap mengganggu. Mereka yang berbeda pandangan dipandang kurang sejalan. Akibatnya, keberanian sering kalah oleh kebutuhan untuk diterima.
Sesarinya, manusia tidak serta-merta berubah menjadi domba karena kelemahannya. Kadang ia berubah, justru karena terlalu lama memelihara kenyamanan. Rasa aman perlahan menjelma candu. Kemerdekaan berpikir ditukar dengan kepastian. Lama-kelamaan, kepatuhan terasa lebih ringan, tinimbang memikul risiko mempertahankan keyakinan.
Padahal, keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk suara lantang. Ada keberanian yang tampak dalam kesediaan berkata jujur ketika kebanyakan orang memilih diam. Tampak keberanian yang menjelma keteguhan memegang prinsip, waima tiada tepuk tangan.
Bahkan, ada keberanian yang bekerja sunyi, tetap berbuat benar walau tiada seorang pun menyaksikannya. Mengaum, sesarinya, bukan soal kerasnya suara, melainkan keberanian menjaga nurani tetap menyala.
Daeng Litere agaknya hendak mengingatkan, watak asli manusia tidak mudah lenyap. Ia hanya dapat tertimbun. Bara yang tertutup abu memang tampak padam, tetapi api belum benar-benar mati. Demikian pula keberanian. Ia mungkin lama terpendam oleh situasi. Yang hilang acap bukan keberaniannya, melainkan ingatan untuk mengaum.
Sejarah memperlihatkan banyak kenyataan semacam itu. Ada masa ketika manusia memilih tunduk, karena tekanan terasa terlalu besar. Namun, selalu datang waktu tatkala satu suara kecil membangunkan suara-suara lain.
Keberanian ternyata memiliki cara sendiri untuk menular. Satu orang berdiri, lalu yang lain menyusul. Perlahan, situasi yang semula menjinakkan, mulai kehilangan kuasanya.
Di alas inilah letak paradoks kehidupan. Situasi memang mampu membentuk manusia. Akan tetapi, manusialah yang pada akhirnya mampu mengubah situasi.
Sejarah tidak pernah digerakkan oleh keadaan semata, melainkan juga oleh insan-insan yang menolak menyerahkan seluruh dirinya kepada keadaan. Mereka tidak melawan demi kegaduhan, tetapi demi menjaga nurani tetap hidup.
Tutur Daeng Litere juga mengandung peringatan halus, agar manusia tidak terlalu mudah menyalahkan lingkungan. Situasi memang berpengaruh, tetapi ia bukan alasan, buat sepenuhnya melepaskan tanggung jawab.
Selalu tersedia ruang kecil tempat manusia masih dapat memilih. Mungkin sempit atau sulit, tetapi cukup buat menjaga, agar jiwa tidak seluruhnya dijinakkan.
Nisbi diri pun memperoleh maknanya. Keberanian bukan bawaan yang membuat seseorang merasa lebih mulia daripada orang lain. Ia merupakan latihan yang mesti terus dirawat.
Hari ini seseorang dapat berdiri tegak, esok ia mungkin tergoda berkompromi. Karena itu, keberanian bukan tujuan yang selesai dicapai, melainkan laku yang terus diperbarui.
Barangkali sebab itulah singa dalam ungkapan Daeng Litere, tidak hadir sebagai lambang keganasan. Ia melambangkan keberanian yang setia pada tabiatnya. Mengaum bukan hasrat menguasai, melainkan kesanggupan menyatakan diri apa adanya, tanpa kehilangan kejernihan nurani.
Dus, pendakuan tersebut bukan ajakan untuk memberontak kepada setiap situasi, apalagi memuliakan kepala batu. Ia sekadar mengingatkan, bahwa penyesuaian memiliki batas.
Tatkala penyesuaian membuat manusia kehilangan daya timbang, membungkam nurani, lalu melupakan suaranya sendiri, sejak itulah ia perlahan menjauh dari hakikat dirinya.
Walakhirin, setiap zaman selalu melahirkan situasi yang berusaha menjinakkan manusia. Namun, setiap jiwa pun menyimpan kemungkinan untuk kembali mengingat suaranya. Sebab, tragedi terbesar bukan ketika seekor singa hidup di tengah kawanan domba, melainkan tatkala ia lupa mengaum.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply