Kusematkan pembuka dari percakapan tentang bagaimana anak usia remaja itu melawan keinginan, selera di luar minat dan bakatnya. Yah. Dua kata yang memiliki arti berbeda, namun memiliki keterkaitan antara keduanya. Jika seseorang memiliki bakat, ia akan semakin terdorong dan termotivasi oleh minat.
Dua kata itu menyuplai keinginan yang terbatas sebagaimana arti dari kata minat adalah kecenderungan yang tinggi terhadap sesuatu, keinginan, dan antusias. Minat adalah rasa ketertarikan seseorang pada suatu hal yang muncul sebagai motivasi dari dalam diri tanpa paksaan dari orang lain.
Sedangkan bakat adalah kemampuan yang semakin terlihat jika diasah dan dilatih untuk mencapai potensi terbaiknya. Seseorang yang memiliki bakat terhadap suatu hal akan dapat lebih cepat dan lebih baik dalam mempelajari hal tersebut dibandingkan dengan orang lain.
Seseorang yang mengembangkan minat secara tidak langsung juga dapat menyalurkan bakat yang dimilikinya. Banyak orang, terutama remaja, yang tidak mengetahui bagaimana arah minat dan bakatnya karena bingung dengan kemampuan diri sendiri.
Terlebih, usia remaja SMA yang sedang berada di masa peralihan menuju usia dewasa, baik yang hendak bekerja atau melanjutkan kuliah. Padahal, masa remaja adalah masa pencarian jati diri, di mana remaja dituntut untuk menentukan masa depan yang diraihnya nanti.
Potensi setiap orang sangat beragam, ada yang unggul di bidang akademik, ada yang unggul di bidang nonakademik seperti olahraga dan seni. Hal-hal tersebut akan berkembang dengan baik apabila potensi tersebut diasah dengan baik.
Memilih Forum Anak karena sebagai personal branding (proses menguatkan keinginan untuk pengembangan diri). Ruang eksplorasi dan pengembangan potensi, bakat selain di sekolah. Dan sebagai belajar dalam interaksi, melingkupi semua aspek kehidupan sosial. Lebih khusus kepada seusianya dan anak-anak.
Sisi lain, Adin merasakan ruang lingkup anak seusianya terhadap perundungan. Entah bagaimana cara ketika itu untuk tidak mengalami dan melakukan.
Merasakan miris dan pada akhirnya dia harus mengambil peran dengan mencoba untuk bersama peserta lain mendaftarkan diri pada pemilihan Duta Anak yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2026.
Sebagai peserta pemilihan Duta Anak dan berhasil masuk empat besar untuk selanjutnya bertanggung jawab atas amanah sebagai Duta Anak Bantaeng.
Titah dan titian perjalanan selanjutnya, mengikut undangan pemilihan Duta Anak tingkat provinsi, dia juga masuk terpilih sebagai Duta Anak Sulsel mewakili Bantaeng dari 24 kabupaten.
Menurut Adin, sapaan akrabnya, anak dari almarhumah Sri Rahmi yang selama ini ikut memberi peran untuk pengembangan bakat dan minatnya, serta seorang ayah yang mendukung setiap proses penemuan bakat, jati dirinya untuk segera memutuskan sebuah pilihan dilema bagi Adin.
Adin mengubah arah untuk lebih mengembangkan bakat, potensi yang ada pada dirinya, kemudian memutuskan untuk personal branding-nya dia memilih Forum Anak. Sebuah kebanggaan tersirat di wajah seorang ayah, Muh. Idris. Ada haru bangga di matanya. Dan Adin membuktikannya, dengan mempersembahkan dia bawa pulang dengan prestasi kepada keluarganya.
Tidaklah semudah yang kiranya, seketika Adin kala itu diperhadapkan sebuah dilema di usianya. Harus mengorbankan satu hal yang selama ini dengan segala prestasi telah diraihnya. Tetapi nalar, cara dia mengambil keputusan begitu sangat berani, tanpa merasakan kekecewaan, rasa sakit. Justru di sanalah dia menelaah, membaca dirinya, tanpa intimidasi, paksaan dari pihak lain. Bahkan sosok ayahnya sendiri. Dia merajut asa dan memutuskan langkah menyusuri lorong zamannya sendiri.
Ketika dilema di usianya, kemudian prestasi di tengah bakatnya di bidang seni dance, dengan telah melewati dan pengalaman kompetisi bahkan tingkat nasional. Seketika harus merelakan untuk memasuki ruang-ruang lain sebagai pelopor dan pelapor untuk hak anak. Tegasnya saat bincang lepas sore itu, di beranda sebuah tempat kuliner bernama Acca’ma-Ca’ma.
Farid Adinata Solthan, nama yang menata dan membawa Adin, sapaan akrabnya, menuju suatu titimasa, mimpi, pilihan atas minat dan bakatnya telah menempanya kini. Mencoba untuk mencari personal branding-nya dengan segala kerelaan untuk memutuskan, menanggalkan sesuatu yang sekian lama digelutinya, ini butuh kekuatan mental.
Adin dalam sebuah pilihan di usia remajanya adalah titik balik yang menentukan arah hidup masa depan. Pada masa ini, otak remaja sedang mengalami perkembangan pesat, terutama dalam hal identitas, kemandirian, dan pengambilan keputusan.
Yah. Ada pertarungan dalam jiwanya, pada mimpinya, di antara pilihan paling krusial bagi usianya dan bahkan di kalangan remaja lainnya. Jalur pendidikan misalnya, memilih jurusan SMA/SMK atau program studi kuliah. Dan Adin membuktikannya.
Di sisi lain era yang kini diperhadapkan oleh generasi, seperti lingkungan pergaulan, menentukan teman dekat yang memberi pengaruh positif atau negatif, atau saat menyeimbangkan antara belajar, hobi, organisasi, dan media sosial.
Adin merasa bahwa ini sudah final. Saat pertanyaan berulang saya lontarkan! Tidak merasa canggung, lugas, dan tetap suara dan nada yang sama sebelumnya bahwa dia telah memilih jalur prestasi, bakat selain uang digelutinya.
“Saya siap dan menerima segala konsekuensi buah dari keputusan yang telah saya pilih.” Tegas Adin sembari menata ritme nada suaranya. Saya menangkap makna mendalam dari matanya, dan sedikit getar yang tegas. Diam sejenak, dalam benak saya. Ini melampaui usianya, anak seusia Adin dihadapkan dua sisi untuk memutuskan sebuah pilihan yang sangat dilematis.
Sebuah pemahaman menguatkan tentang bagaimana pilihan di usia ini begitu sulit? Tekanan teman sebaya dan pada umumnya adanya rasa takut dikucilkan jika berbeda dari kelompok. Ekspektasi orang sekitar, dan bahkan orang tua. Konflik antara impian pribadi dan keinginan keluarga sering terjadi.
Menurut beberapa pendapat: Bagian otak pengontrol emosi (amigdala) lebih aktif daripada pengontrol logika (prefrontal korteks). Cara Mengambil Keputusan yang Bijak. Kenali Diri Sendiri: Pahami bakat, minat, dan kelemahan pribadi. Cari Informasi Akurat: Kumpulkan data sebelum memilih, jangan hanya ikut-ikutan.
Selanjutnya pikirkan dampak panjang: Pertimbangkan konsekuensi pilihan untuk 5 hingga 10 tahun ke depan. Diskusi dengan Mentor: Ajak bicara orang dewasa yang tepercaya seperti guru, konselor, atau orang tua. Nah. Ini satu hal Adin berani menentukan sikap, pilihan, dan memutuskan tanpa tekanan, intimidasi, atau secara terpaksa dengan alasan klasik.
Zaman telah mengubah dengan begitu cepat. Tidak harus tinggal mengadu dan menerima begitu saja “bagai pungguk merindukan bulan”. Tetapi beranjak menemui halaman peradaban. Menyeka air matanya sendiri, menentukan sikap. Tanpa harus menjadi cengeng untuk melewati fase keremajaannya dengan sempurna.
Di akhir narasi ini saya mengutip kalimat dalam syair lagu dengan bait sarat makna dari seorang Iwan Fals berjudul “Nak”;
“Duduk sini, Nak, dekat sama bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri.”

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply