Menjadi Guru Bahagia dengan Menulis: Catatan Kelas Pendidik TPN XIII

Sudah siang, tetapi matahari masih enggan menampakkan dirinya. Langit yang sejak pagi muram belum juga benar-benar cerah. Seusai bincang pendidikan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII, para guru mulai menyebar menuju kelas-kelas pendidik yang telah disiapkan panitia. Tahun ini ada sepuluh kelas, masing-masing menawarkan cerita dan pengalaman belajar yang berbeda.

Saya mendapat amanah mengisi Kelas 09 dengan tema “Menjadi Guru Bahagia dengan Menulis.”

Sejujurnya, sebelum pintu kelas dibuka, saya sempat berdoa dalam hati, semoga kelas saya kosong.

Bukan karena tidak ingin berbagi. Justru sebaliknya. Saya ingin percaya bahwa guru-guru kita sudah cukup bahagia sehingga tidak merasa perlu mencari cara untuk merawat dirinya melalui menulis.

Namun, saya salah.

Ketika pintu saya buka, puluhan guru sudah duduk rapi. Kursi-kursi disusun membentuk huruf U. Sebagian tersenyum, sebagian sibuk berbincang dengan teman di sebelahnya, yang lain sibuk menatap layar di genggaman.

Saya menarik napas pelan. Untuk mencairkan suasana, saya membuka kelas dengan sedikit kelakar.

“Terima kasih sudah hadir. Saya sungguh berharap, semoga Bapak/Ibu datang ke sini bukan karena tidak bahagia.” Ruangan pun dipenuhi tawa ringan. Dan satu lagi kebahagiaan lahir.

Setelah dipersilakan oleh Ibu Mahfula dari Mts DDI Mattoanging selaku pemandu, saya tidak langsung berbicara tentang menulis. Saya memilih memulai kelas dengan kisah seorang laki-laki yang pernah mengalami kehilangan paling besar dalam hidupnya.

Namanya B.J. Habibie.

Setelah Ainun meninggal dunia pada tahun 2010, Habibie bukan hanya kehilangan pasangan hidup. Ia kehilangan tempat pulang. Kesedihan yang dipendam begitu lama membuat kondisi fisiknya ikut runtuh. Dokter mendiagnosisnya mengalami gangguan psikosomatis yang berat. Tubuh dan jiwanya sakit.

Di tengah kondisi itu, dokter tidak hanya meresepkan obat. Habibie juga dianjurkan melakukan sebuah aktivitas yang tampak sederhana: menulis.

Mula-mula ia menulis untuk dirinya sendiri. Ia menuliskan kenangan, percakapan, kerinduan, bahkan kesedihan yang sulit diucapkan kepada siapa pun. Kata demi kata menjadi ruang tempat emosinya mengalir. Perlahan, tulisan itu bukan lagi sekadar catatan pribadi. Ia berubah menjadi terapi. Dari proses itulah kemudian lahir buku Habibie & Ainun, karya yang akhirnya menguatkan begitu banyak orang.

Saya sering membayangkan, seandainya Habibie memilih memendam semua itu sendirian. Mungkin dunia tidak pernah mengenal kisah cintanya. Mungkin pula beliau membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk berdamai dengan kehilangan.

Kisah Habibie ternyata bukan sekadar pengalaman pribadi. Psikolog James W. Pennebaker telah menelitinya selama puluhan tahun. Dalam berbagai eksperimennya, ia menemukan bahwa orang-orang yang secara rutin menuliskan pengalaman emosionalnya cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Mereka lebih mampu memahami dirinya sendiri, tingkat stresnya menurun, bahkan dalam beberapa penelitian, daya tahan tubuh mereka ikut membaik.

Temuan ini terdengar sederhana. Menulis ternyata bukan hanya pekerjaan intelektual. Menulis juga adalah pekerjaan emosional.

Saat menulis, sebenarnya kita sedang merapikan ruang yang selama ini berantakan di dalam kepala. Lalu saya memikirkan profesi yang setiap hari paling banyak menyimpan cerita. Guru.

Selama ini, kita sering menganggap guru lelah karena administrasi. Karena kurikulum. Karena rapat. Karena beban mengajar. Semua itu memang benar.

Tetapi saya semakin percaya bahwa yang paling melelahkan bukanlah pekerjaannya. Melainkan perasaan yang terus dipendam.

Guru menjadi tempat murid bercerita tentang ayahnya yang jauh. Tentang teman yang sering mengganggu. Tentang dirinya yang tidak dibekali uang ke sekolah.

Guru mendengar keluhan orang tua.Guru menerima tugas menjadi bendahara. Guru menghadapi tuntutan dari pemerintah.

Guru harus tetap tersenyum meskipun mungkin pagi itu ia lelah karena kurang tidur, atau sedang memikirkan cicilan ini itu, atau cemas karena anaknya sakit di rumah.

Anehnya, hampir tidak ada yang bertanya kepada guru, “Bagaimana kabarmu hari ini?”

Guru begitu terbiasa mendengarkan orang lain sampai lupa mendengarkan dirinya sendiri.

Barangkali di situlah menulis menemukan maknanya. Bukan untuk diterbitkan jadi buku, bukan pula untuk jadi penulis terkenal. Melainkan agar ada satu ruang kecil nan sunyi yang berisi kita dan diri kita sendiri.

Di sana guru boleh marah. Boleh kecewa. Boleh menangis. Boleh merasa gagal. Dan tidak ada yang akan menghakiminya cengeng dan baperan. Tidak ada yang tergesa menyuruhnya bangkit. Seolah semua luka bisa sembuh hanya karena satu kalimat motivasi.

“Kalau saya tidak pandai menulis, bagaimana?”

Saya selalu menjawab, justru karena itulah Anda harus mulai menulis. Sebab menulis yang saya maksud bukanlah menulis agar dikagumi. Melainkan menulis agar kita mengenali diri sendiri. Menulis sebagai terapi jiwa.

Tulis satu halaman setiap hari. Tentang murid yang membuatmu tersenyum. Tentang kesalahan yang ingin diperbaiki. Tentang rasa syukur yang nyaris terlupa. Tentang kelas yang kacau. Tentang seorang anak yang diam-diam membuatmu bangga. Tentang apa saja yang membuatmu jadi lebih baik. Tidak perlu indah. Tidak perlu puitis. Bahasanya tak harus baku, yang penting jujur.

Saya percaya, setiap guru adalah gudang cerita. Setiap hari mereka menyaksikan kehidupan bertumbuh. Melihat anak yang awalnya tidak bisa membaca, lalu mampu mengeja. Mereka melihat murid yang pemalu perlahan berani berbicara. Mereka melihat air mata, tawa, kegagalan, harapan, dan keajaiban-keajaiban kecil yang sering luput dari perhatian.

Sayangnya, sebagian besar kisah itu menguap begitu saja.

Padahal mungkin suatu hari nanti, cerita-cerita itulah yang akan menguatkan guru lain. Atau bahkan menguatkan diri kita sendiri ketika semangat mulai memudar.

Saya tidak sedang mengajak semua guru menjadi penulis. Saya hanya ingin mengajak guru tetap menjadi manusia. Manusia yang berhak lelah. Berhak kecewa. Berhak menangis. Dan berhak memiliki cara untuk pulang kepada dirinya sendiri. Bagi saya, salah satu jalan pulang itu adalah menulis.

Sejam berlalu tak terasa. Di akhir sesi, ketika acara hampir selesai, seorang guru mengangkat tangan.

“Pak, saya kalau sedang marah atau emosi, justru tidak bisa menulis. Yang saya lakukan malah mencoret-coret kertas sampai robek.”

Saya tersenyum dan mengangguk, “Tidak apa-apa, Bu. Begitu saja dulu.” Sebab pada saat itu, yang paling penting bukanlah menghasilkan tulisan yang bagus. Yang paling penting adalah emosi itu menemukan jalan keluar.

Lebih baik kemarahan dilampiaskan pada selembar kertas daripada pada orang lain. Lebih baik kertas yang robek daripada hubungan dengan murid yang rusak.

Setelah dada mulai terasa lapang, dan napas kembali teratur, barulah kita duduk dan menuliskan apa yang sebenarnya terjadi. Tuliskan semuanya. Apa yang membuat marah. Apa yang membuat kecewa.

Biarkan semua itu berpindah dari dada ke atas kertas.

Sebab emosi yang tidak diberi jalan keluar akan menetap. Ia memenuhi dada, membuat napas terasa sesak, lalu memenuhi kepala dengan kebisingan. Sedikit demi sedikit, ia menguras tenaga kita tanpa kita sadari.

Menulis kadang tidak selalu menjadi langkah pertama. Kadang, langkah pertama hanyalah mencoret-coret selembar kertas. Atau meremas-remas benda.

Namun, jangan berhenti di sana. Ketika hati mulai tenang, ubahlah coretan itu menjadi kata-kata. Sebab pada akhirnya, yang menyembuhkan bukanlah kertas yang robek, melainkan keberanian kita untuk memahami apa yang sedang kita rasakan.

Kelas pun selesai. Kami berfoto bersama, berjabat tangan, lalu perlahan meninggalkan ruangan. Saya tidak tahu apakah setelah ini mereka akan benar-benar mulai menulis. Mungkin ada yang mulai mencoret-coret selembar kertas, mungkin pula ada yang belum melakukan apa-apa.

Tetapi saya percaya, tiap ikhtiar untuk memberi jalan keluar bagi perasaan adalah selangkah menuju dada yang lapang.

Dalam perjalanan pulang, saya hanya membawa sebaris doa, “Semoga setelah ini, guru-guru kita lebih sering berbahagia.” Bukankah guru yang bahagia akan lebih mudah menumbuhkan murid-murid yang bahagia pula?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *