Hujan, Tanah, dan Percakapan tentang Pendidikan: Catatan TPN XIII

Pagi itu agak muram. Langit berganti-ganti rupa, kadang biru, kadang kelabu, barangkali awan memang sedang letih menggendong air. Hujan turun sebentar, membasahi tanah dan jalan-jalan yang mengarah ke aula.

Sempat terlintas kekhawatiran, jangan-jangan hujan membuat orang mengurungkan niat datang. Kursi-kursi masih kosong, aula pun masih lengang.

Namun, hujan segera usai, seolah telah menuntaskan janjinya kepada bumi. Perlahan, satu per satu peserta berdatangan. Kursi-kursi mulai terisi, percakapan kecil bermunculan, dan lagu-lagu yang mengalun dari pengeras suara pelan-pelan kalah oleh riuh suara manusia.

Lagi, Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Bantaeng menggelar Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII. Sependek ingatan, sejak tahun 2020, KGBN Bantaeng rutin menggelar forum tahunan ini, ruang tempat guru berbagi pengalaman melalui beragam aktivitas belajar, berkarya, dan berkarier.

Tahun ini, TPN mengangkat tema “Cita-Cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia”. Tema yang kemudian coba diterjemahkan dalam konteks Bantaeng oleh panitia menjadi “Pendidikan Berbasis Pangan Lokal: Mewujudukan Kewargaan Desa Dunia dan Keberlanjutan Lingkungan.”

Aula Pondok Pesantren DDI Mattoanging dipenuhi guru-guru dari berbagai sekolah. Ratusan kursi yang disiapkan panitia terisi, bahkan sebagian peserta mengikuti acara dari tenda di luar aula. Hujan rupanya hanya membasahi halaman, bukan semangat belajar mereka.

Dari kursi moderator, saya mencoba merekam percikan gagasan dalam bincang pendidikan. Hadir sebagai narasumber: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, Muhammad Yusuf, S.Pd., M.M. Koordinator Pengawas (Korwas) Kabupaten Bantaeng, H. Saenong, S.Pd., M.M. Dari Yayasan Guru Belajar, Maman Basyaiban. Juga Ketua KGBN Bantaeng, Resky Arisandi.

Masing-masing datang dengan sudut pandang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu pertanyaan yang sama, bagaimana pendidikan dapat kembali bertumpu pada tanah tempat kita berpijak?

Membuka percakapan, saya mengajak para peserta merefleksikan kondisi Bantaeng. Butta Toa ini, dikenal sebagai daerah dengan potensi pangan yang sangat besar, ada wilayah pesisir, pegunungan, hingga dataran rendah yang kaya dengan hasil pertanian.

Namun, di sisi lain, anak-anak kita semakin akrab dengan makanan instan daripada mengenal hasil kebun sendiri. Mereka tahu banyak tentang dunia melalui gawai, tapi masih latah mengenal sumber pangan yang tumbuh di tanah tempat mereka berpijak.

Percakapan pun dimulai dari pertanyaan yang paling mendasar: di mana posisi pendidikan dalam arah pembangunan Bantaeng hari ini?

Pak Kadis tidak langsung berbicara tentang sekolah, apalagi kurikulum. Ia memulai dari manusia.

“Sebesar apa pun pembangunan infrastruktur atau kemajuan sektor pertanian dan kesehatan, semuanya membutuhkan manusia yang berkualitas sebagai penggeraknya.” Hal ini sejalan dengan visi Bupati dan Wakil bupati Bantaeng, yaitu Bantaeng bangkit, maju, dan religius.

Berkenaan dengan isu pangan lokal, dinas pendidikan terus mengembangkan program Sekolah Ketahanan Pangan sebagai bentuk pembelajaran yang menghubungkan pendidikan dengan potensi lokal, serta membangun kepedulian terhadap pangan sejak dini.

Dengan tegas, pak kadis meminta semua guru untuk memanfaatkan tiap jengkal lahan di sekolah, menjadi sumber belajar pangan bagi anak-anak. Taburlah benih bersama anak-anak, sebab yang akan tumbuh kelak bukan hanya terong dan cabai, tapi juga pikiran dan jiwa mereka.

Dari kadis, percakapan berpindah pada Korwas, tantangan terbesar apa yang dihadapi pendidikan saat ini dalam peningkatan kualitas pembelajaran?

Bukan dengan kata-kata Pak Korwas menjawab, melainkan dengan bentangan data. Mula-mula beliau menjelaskan mutu pendidikan, hingga ke hasil Tes Kompetensi Akademik murid yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Baginya, semua angka-angka ini penting sebagai bahan evaluasi bagi kita semua.

Pak Korwas lalu melanjutkan dengan mengurai tantangan pendidikan di Bantaeng, mulai dari infrastruktur, sumber daya, ATS (Anak Tidak Sekolah), hingga kondisi sosio kultural. “Tantangan pendidikan memang kompleks,” jelasnya, itu sebabnya kita butuh merevitalisasi catur sentra pendidikan agar benar-benar bisa memberikan dampak bagi peningkatan kualitas pendidikan di Bantaeng, tutup Pak Korwas.

Dari data, percakapan bergeser ke arah tujuan. Saya lalu melemparkan pertanyaan kepada Maman Basyaiban dari Yayasan Guru Belajar, murid seperti apa yang sebenarnya sedang kita siapkan hari ini?

Maman tidak langsung menjawab dengan daftar kompetensi atau sederet keterampilan abad ke-21. Ia justru mengajak peserta kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar. “Apakah kita hanya ingin melahirkan anak-anak yang pandai mengerjakan ulangan, ataukah anak-anak yang mampu memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya?”

Jika pilihan kita adalah yang kedua, kata Maman, maka pendidikan sesungguhnya sedang menjalankan nilai yang amat luhur, menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Tentu, jalan menuju ke sana tidak sederhana. Data yang dipaparkan sebelumnya menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi murid masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Namun, Maman mengingatkan bahwa rendahnya capaian belajar tidak selalu berakar pada keterbatasan fasilitas.

Ia menunjuk berbagai temuan yang menunjukkan satu pola yang sama. Ada sekolah-sekolah dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah, bahkan fasilitas yang sangat sederhana, tetapi mampu menghasilkan capaian literasi dan numerasi yang tinggi. Pembeda utamanya bukan gedung atau kelengkapan sarana, melainkan iklim belajar yang aman, nyaman, dan mendukung proses tumbuh murid.

“Kalau memasak dengan banyak gangguan,” ujarnya memberi analogi, “hasilnya bisa keasinan, bahkan gosong.” Begitu pula proses belajar. Murid akan sulit berkembang jika setiap hari harus belajar di tengah rasa takut, tekanan, atau berbagai gangguan lain.

Dari sana, Maman membawa percakapan kembali ke tema besar forum hari itu: pangan lokal.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diajarkan melalui nasihat. Ia harus dihadirkan sebagai pengalaman belajar.

Ia memberi contoh sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bantaeng. Ketika musim panen tiba, sebagian anak ikut membantu orang tua di kebun atau sawah. Alih-alih memandangnya sebagai alasan ketidakhadiran di sekolah semata, guru justru dapat melihatnya sebagai konteks belajar yang kaya. Di sana anak belajar menghitung hasil panen, mengelompokkan kualitas hasil, memahami proses jual beli, hingga mengenali nilai kerja dan gotong royong.

Belajar, dengan demikian, tidak selalu dimulai dari buku. Kadang ia berawal dari tanah yang diinjak murid setiap hari.

Percakapan kemudian saya tutup bersama Ketua KGBN Bantaeng, Resky Arisandi. Pertanyaan terakhir sengaja saya arahkan kepada orang yang setiap hari berinteraksi langsung dengan guru-guru melalui komunitas belajar. Di tengah perubahan kurikulum yang silih berganti, perkembangan teknologi yang begitu cepat, serta karakter murid yang semakin beragam, bagaimana guru dapat terus bertumbuh?

Sandi tidak menampik bahwa menjadi guru hari ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Guru dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan kebijakan, menguasai teknologi dan jika perlu empat elemen avatar, sembari tetap menyelesaikan berbagai tugas administrasi yang menyita waktu.

Di tengah berbagai tuntutan itu, ruang untuk berhenti sejenak, berefleksi, mencoba pendekatan baru, atau sekadar berbagi praktik baik dengan sesama guru sering kali menjadi semakin sempit.

Karena itu, menurut Sandi, tantangan terbesar sesungguhnya bukan hanya mengikuti perubahan, melainkan menumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat di kalangan guru sendiri. Guru perlu terus belajar, sekaligus mengenali cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya. Sebab, sulit mengajak murid mencintai proses belajar jika gurunya sendiri telah berhenti menjadi pembelajar, tutupnya.

Langit masih kelabu, menjelang siang matahari masih malu-malu. Saya tidak menutup forum dengan simpulan. Barangkali memang tidak semua percakapan perlu ditutup dengan jawaban. Ada yang lebih baik dibiarkan pulang sebagai pertanyaan, lalu tumbuh perlahan dalam pikiran masing-masing.

Seperti pagi tadi. Hujan tidak pernah memaksa benih untuk tumbuh. Ia hanya datang, membasahi tanah, lalu pergi. Selebihnya, biarkan waktu bekerja.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *