Tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa suatu hari akan duduk sebagai peserta di ruang-ruang belajar Universitas Indonesia (UI).
Dahulu, ketika masih menjadi remaja, UI hanya saya kenal dari berita dan buku-buku pelajaran. Kampus ini identik dengan lahirnya banyak ilmuwan, birokrat, ekonom, dan pemimpin bangsa.
Kini, Allah Swt. mempertemukan saya dengan tempat itu, bukan sebagai mahasiswa, tetapi sebagai Kepala Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, melalui sebuah program yang digagas oleh Kementerian Dalam Negeri, “Kepala Desa Masuk Kampus.”
Kesempatan ini bukanlah perjalanan wisata, melainkan sebuah amanah. Desa Bonto Jai menjadi salah satu desa yang terus berupaya menghadirkan inovasi dalam tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan potensi desa.
Ikhtiar tersebut mengantarkan saya memperoleh kesempatan mengikuti program peningkatan kapasitas kepala desa yang mempertemukan para pemimpin desa dari seluruh Indonesia dengan dunia akademik. Bagi saya, undangan ini bukanlah penghargaan untuk pribadi, melainkan bentuk kepercayaan bahwa desa juga memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, dan melahirkan gagasan-gagasan besar.
Memasuki kawasan Universitas Indonesia, saya merasakan suasana yang berbeda. Pepohonan yang rindang, lingkungan yang tertata, mahasiswa yang berlalu-lalang membawa buku, hingga ruang-ruang diskusi yang dipenuhi gagasan menghadirkan energi intelektual yang begitu kuat. Rasanya seperti memasuki tempat di mana setiap sudut mengajak orang untuk berpikir lebih jauh.
Selama mengikuti kegiatan, hari-hari kami dipenuhi dengan proses belajar yang padat namun menyenangkan. Kami mendalami tata kelola pemerintahan desa, kepemimpinan, kebijakan publik, pengembangan ekonomi desa, inovasi pelayanan, penguatan kelembagaan, hingga bagaimana desa harus mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Para dosen dan narasumber tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak kami berdiskusi, mengkritisi persoalan, dan mencari solusi bersama.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan berdiskusi secara langsung dengan para dosen Universitas Indonesia yang sekaligus menjadi fasilitator di Kelas 16. Diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Para dosen menghadirkan perspektif akademik berdasarkan teori dan hasil penelitian, sementara kami para kepala desa berbagi pengalaman nyata yang kami hadapi setiap hari di lapangan.
Dari ruang dialog itu, saya memahami bahwa teori tanpa praktik akan kehilangan konteks, sedangkan praktik tanpa teori sering kali kehilangan arah. Keduanya harus berjalan beriringan agar melahirkan kebijakan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Di luar ruang kelas, saya juga menyaksikan tradisi belajar yang begitu hidup di lingkungan kampus. Banyak mahasiswa memanfaatkan taman, pelataran fakultas, hingga ruang-ruang terbuka sebagai tempat berdiskusi, membaca, bahkan bertukar pikiran.
Pemandangan sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Saya melihat bahwa belajar bukan sekadar aktivitas di dalam kelas, melainkan telah menjadi budaya. Kampus berhasil membangun ekosistem yang membuat setiap sudut menjadi ruang untuk berpikir dan melahirkan gagasan.
Saya membayangkan, semangat seperti ini juga dapat dihadirkan di desa melalui taman baca, ruang diskusi warga, atau forum belajar yang melibatkan pemuda, perangkat desa, dan masyarakat.
Namun, pelajaran yang paling berharga justru sering kami peroleh di luar jadwal resmi. Ketika waktu istirahat tiba, saat berada di dalam bus menuju kampus, bahkan ketika malam hari di penginapan, percakapan tidak pernah berhenti.
Kami memanfaatkan setiap kesempatan untuk saling bertukar pengalaman, berdiskusi mengenai tantangan di desa masing-masing, berbagi praktik-praktik baik, hingga merancang kemungkinan kolaborasi di masa depan.
Saya bertemu dengan kepala desa dari Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Masing-masing membawa cerita yang berbeda. Ada yang memimpin desa di wilayah perbatasan negara, ada yang berada di pegunungan, di tengah hutan, maupun di pesisir. Ada yang disebut Keuchik, Reje, Wali Nagari, Kepala Kampung, maupun Kepala Desa.
Perbedaan itu justru memperlihatkan betapa kayanya Indonesia. Namun, di balik keberagaman tersebut, kami memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Dari interaksi itu, saya menyadari bahwa yang kami bawa pulang bukan hanya ilmu dari para dosen. Kami juga membawa pengalaman dari ratusan desa di seluruh Indonesia serta jejaring yang akan terus terhubung setelah kegiatan ini berakhir. Jejaring tersebut menjadi modal yang sangat berharga karena setiap desa dapat saling belajar tanpa harus mengulangi kesalahan yang sama.
Perjalanan ini juga mengubah cara pandang saya terhadap potensi desa. Selama ini kita sering melihat desa hanya dari sisi sumber daya alam atau hasil produksinya.
Padahal, setiap desa sesungguhnya memiliki cerita yang tidak kalah bernilai. Desa memiliki sejarah, budaya, tradisi, kuliner, bentang alam, serta kehidupan masyarakat yang unik. Semua itu merupakan aset yang dapat dikembangkan apabila dikemas dengan narasi yang baik.
Saya semakin percaya bahwa sebuah destinasi wisata tidak hanya dibangun oleh keindahan alamnya, tetapi juga oleh cerita yang menyertainya. Pantai, persawahan, perkampungan nelayan, atau tradisi budaya akan memiliki daya tarik yang lebih kuat apabila mampu diceritakan secara menarik.
Narasi mampu membangun rasa penasaran, menghadirkan pengalaman emosional, dan mendorong orang datang untuk melihatnya secara langsung. Karena itu, membangun desa bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun cerita tentang desa itu sendiri.
Ada satu pelajaran yang terus saya renungkan selama berada di Universitas Indonesia, yaitu perbedaan sekaligus kesamaan antara tradisi desa dan tradisi kampus.
Di desa, hampir setiap persoalan diselesaikan melalui musyawarah. Kami terbiasa mendengar aspirasi masyarakat, berdiskusi bersama, lalu mengambil keputusan. Sementara di kampus, setiap gagasan diuji melalui argumentasi, data, penelitian, dan diskusi ilmiah.
Awalnya saya melihat keduanya sebagai dua tradisi yang berbeda. Namun, semakin lama saya mengikuti kegiatan, semakin saya menyadari bahwa keduanya justru saling melengkapi.
Desa memiliki pengalaman empiris, memahami kebutuhan masyarakat secara langsung, serta memiliki nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun. Kampus memiliki teori, metodologi, hasil penelitian, teknologi, dan kemampuan mengembangkan inovasi.
Ketika pengalaman desa dipadukan dengan kekuatan akademik kampus, akan lahir kebijakan yang lebih tepat sasaran, inovasi yang lebih berkelanjutan, dan pembangunan yang memberikan dampak lebih luas. Inilah kolaborasi yang menurut saya harus terus diperkuat.
Perjalanan ini akhirnya membawa saya pada sebuah kesimpulan sederhana bahwa belajar tidak mengenal usia maupun jabatan. Seorang kepala desa tetap harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebab, tantangan desa akan terus berubah, dan hanya mereka yang terus belajar yang mampu menjawab perubahan tersebut.
Ketika kembali ke desa, perjalanan ini tidak boleh berhenti menjadi cerita. Ilmu yang saya peroleh harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Saya ingin memperkuat tata kelola pemerintahan desa yang semakin profesional, membangun kolaborasi yang lebih erat dengan perguruan tinggi, mendorong lahirnya inovasi berbasis potensi lokal, memperkuat promosi desa melalui narasi yang lebih baik, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta membuka lebih banyak ruang belajar bagi perangkat desa, pemuda, dan masyarakat.
Saya berharap Desa Bonto Jai tidak hanya dikenal karena pembangunan fisiknya, tetapi juga karena budaya belajarnya. Sebab, desa yang hebat bukan hanya desa yang memiliki jalan yang baik atau bangunan yang megah, melainkan desa yang dipenuhi orang-orang yang terus bertumbuh, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan berani berinovasi.
Akhirnya, saya memahami bahwa makna Kepala Desa Masuk Kampus bukan sekadar menghadirkan kepala desa ke ruang kuliah. Makna sesungguhnya adalah membawa semangat kampus pulang ke desa. Membawa budaya berpikir, budaya membaca, budaya berdiskusi, budaya meneliti, dan budaya terus belajar agar setiap kebijakan yang lahir benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Karena ketika seorang kepala desa terus belajar, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya dirinya, melainkan masa depan desanya. Dan ketika desa-desa di Indonesia terus belajar, saat itulah Indonesia sedang membangun masa depan bangsa dari akar rumput.
Berangkat dari Desa Bonto Jai, saya semakin yakin bahwa kemajuan Indonesia akan lahir dari desa-desa yang dipimpin oleh orang-orang yang tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti berkolaborasi, dan tidak pernah berhenti menyalakan harapan.

Kepala Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng.


Leave a Reply