Pagi di Bantaeng selalu datang tanpa banyak suara. Matahari pelan-pelan muncul dari balik perbukitan, menyentuh daun-daun yang masih menyimpan embun. Di kejauhan, petani telah lebih dulu berjalan menuju kebun. Di sudut lain kampung, warung kopi mulai dipenuhi orang-orang yang percaya bahwa segala urusan negeri bisa dibicarakan di atas secangkir kopi yang mulai kehilangan panasnya.
Lelaki itu sesekali singgah di sana.
Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dari meja-meja sederhana itu ia belajar bahwa politik memiliki banyak wajah. Di hadapan rakyat, ia sering tampil sebagai janji. Di hadapan kekuasaan, ia berubah menjadi hitung-hitungan. Dan di hadapan kepentingan, ia kerap kehilangan ingatan tentang alasan mengapa ia dilahirkan.
Beberapa tahun terakhir, ia melihat banyak wajah berubah.
Orang-orang yang dahulu lantang mengkritik, perlahan menjadi hati-hati setelah berada lebih dekat dengan kekuasaan. Mereka yang dulu mengaku berdiri bersama rakyat, tiba-tiba lebih sibuk menjaga hubungan dengan mereka yang memiliki pengaruh. Kalimat-kalimat yang dahulu terdengar seperti keberanian, kini berubah menjadi pujian yang diucapkan dengan begitu ringan.
Mungkin begitulah politik bekerja.
Ia tidak selalu mengalahkan manusia dengan ancaman. Kadang ia hanya menawarkan kenyamanan. Dan kenyamanan sering kali jauh lebih sulit ditolak daripada ketakutan.
Lelaki itu tidak pernah menganggap dirinya lebih baik daripada siapa pun. Ia hanya tidak memiliki kemampuan untuk mengatakan sesuatu yang tidak dipercayainya. Barangkali karena sejak kecil ia tumbuh di kampung yang mengajarkannya bahwa nama baik lebih mahal daripada keuntungan yang datang sesaat.
Ia masih mengingat wajah orang-orang tua di kampungnya. Mereka mungkin tidak pernah membaca buku-buku politik. Namun mereka memahami satu hal yang sederhana: sekali seseorang kehilangan harga dirinya, tidak ada jabatan yang cukup tinggi untuk membelinya kembali.
Pelajaran itu tinggal lama di kepalanya.
Karena itulah, ketika banyak orang memilih menyesuaikan langkah dengan arah angin, lelaki itu justru berjalan lebih pelan. Bukan karena ia ingin terlihat berbeda. Ia hanya takut kehilangan dirinya sendiri.
Lalu ia kalah.
Sebagian orang menganggap kekalahan adalah akhir dari segala sesuatu. Seolah-olah setelah politik usai, hidup juga ikut selesai. Padahal sawah tetap meminta ditanami. Anak-anak tetap berangkat ke sekolah. Nelayan tetap menunggu laut bersahabat. Kampung tetap hidup tanpa terlalu peduli siapa yang sedang duduk di kursi kekuasaan.
Justru setelah kekalahan itu, lelaki tersebut merasa melihat banyak hal dengan lebih jernih.
Ia mengetahui siapa yang datang karena persahabatan dan siapa yang datang karena kepentingan. Ia belajar bahwa tepuk tangan adalah suara yang paling mudah berpindah. Hari ini mengiringi satu nama, esok menyambut nama yang lain. Tidak ada yang benar-benar abadi selain perubahan itu sendiri.
Di warung kopi, percakapan juga berganti. Nama-nama baru disebut dengan penuh semangat. Nama-nama lama perlahan menghilang dari pembicaraan. Politik memang mempunyai ingatan yang pendek. Ia lebih akrab dengan yang sedang berkuasa daripada dengan mereka yang pernah berjuang.
Namun lelaki itu tidak pernah menyimpan iri kepada mereka yang menang.
Menang adalah bagian dari pertandingan. Setiap orang berhak merayakannya. Yang lebih penting justru apa yang dilakukan setelah kemenangan itu tiba. Sebab jabatan hanyalah titipan waktu. Cepat atau lambat, ia akan mencari pemilik yang baru.
Yang tinggal hanyalah jejak.
Karena itu, lelaki itu tidak pernah benar-benar percaya bahwa kekuasaan adalah tujuan. Baginya, kekuasaan hanyalah alat. Ketika alat itu lebih penting daripada manusia yang hendak dilayani, saat itulah politik kehilangan jiwanya.
Barangkali karena cara berpikir seperti itulah ia dianggap terlalu keras kepala.
Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi dekat dengan penguasa, ia justru memilih menjaga jarak agar pikirannya tetap merdeka. Di saat sebagian orang sibuk mencari tempat yang paling nyaman, ia memilih jalan yang mungkin lebih sunyi. Jalan yang tidak menjanjikan jabatan, tidak menawarkan kemewahan, bahkan kadang menghadiahkan kesepian.
Tetapi setiap jalan memang memiliki ongkosnya sendiri.
Ada orang yang membayar kemenangan dengan kebebasan berpikir. Ada yang membayar jabatan dengan diamnya hati nurani. Ada pula yang membayar kenyamanan dengan kesediaan mengubah keyakinan setiap kali musim politik berganti.
Lelaki itu memilih membayar dengan kekalahan.
Mungkin pilihan itu terdengar ganjil di tengah zaman yang mengukur keberhasilan dari seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan. Namun baginya, kekalahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada kekalahan yang justru menyelamatkan manusia dari kehilangan hal yang lebih berharga: kemampuan untuk tetap jujur kepada dirinya sendiri.
Ketika matahari sore mulai turun di balik bukit-bukit Bantaeng, kampung kembali tenang. Anak-anak bermain di halaman. Azan magrib pelan-pelan memenuhi udara. Orang-orang pulang membawa lelahnya masing-masing. Alam seolah mengingatkan bahwa hidup selalu lebih luas daripada sekadar perebutan kekuasaan.
Barangkali beberapa tahun lagi, nama-nama yang hari ini memenuhi baliho tidak lagi diingat banyak orang. Jabatan akan berpindah. Kekuasaan akan berganti. Tepuk tangan akan mencari panggung yang baru.
Tetapi kampung memiliki cara sendiri untuk menyimpan ingatan.
Ia tidak hanya mengingat siapa yang pernah menang. Ia juga mengingat siapa yang tetap berjalan tegak ketika banyak orang memilih membungkuk.
Dan barangkali, di situlah lelaki itu menemukan kemenangan yang tidak pernah diumumkan di atas panggung mana pun.

Pemuda desa, yang bertani di bumi dan bermimpi menanam kebenaran di langit. Telah menjadi lelaki beranak satu, aktif bertani di kebun belakang rumah.


Leave a Reply