Guru paling jujur. Dia tidak pernah bohong, tapi juga tidak pernah menjelaskan secara teori dan percakapan. Dia hanya menunjukkan, bukan menghakimi. Kadang juga manusia suka lari dari cermin saat lagi jelek, kusut, menangis, dan saat wajah kita telah menandai tidak muda lagi, dan lain sebagainya.

Cermin membalik, bukan meniru. Apa yang di kanan, kelihatan di kiri. Untuk mengirim pesan untuk kenal diri, harus siap dibalikkan. Sisi yang manusia sembunyikan, ego yang kita tutupi, bakal kelihatan kalau kita berani menatap lama-lama.

Mengutipnya dalam filosofi: katanya kalau identitasmu cuma nempel di citra, sekali “pecah”, kamu akan hancur. Manusia yang sehat tidak takut cermin retak. Karena dia tahu jiwanya bukan kaca.

Terdiam lara mengutip narasi di atas, kemudian kudaras diri dalam bayangan di cermin itu, aku hujat diri, dan menampar-namparnya, sampai pada sebuah keputusan untuk belajar mengelabui.

Aku telah lama kalah. Dengan tenang kuselipkan pedang itu. Agar mereka tidak tahu bahwa kejahatan itu bisa berselimut kebaikan.

Ibarat dua entitas yang tidak terpisahkan. Benda ini bukan sekadar alat untuk melihat wajah fisik, melainkan metafora mendalam mengenai kesadaran diri, penerimaan, dan bagaimana kita memandang dunia di sekitar kita.

Filosofinya dalam kehidupan manusia, “Refleksi dan Introspeksi”, di mana cermin menjadi simbol untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sebelum kita menilai atau menghakimi orang lain, cermin mengajarkan kita untuk memeriksa kekurangan dan noda dalam diri kita terlebih dahulu.

Sisi lain kadang salah memaknai dalam kehidupan dan lupa cermin di tengah biorama kemanusiaan antara berpihak dan ketidakberpihakan, analisanya pisau kejujuran.

Dia tidak pernah berbohong atau memanipulasi kenyataan. Cermin menerima siapa saja yang berdiri di depannya tanpa pandang bulu, mengajarkan manusia arti objektivitas, kejujuran pada diri sendiri, dan penerimaan. Manusia sebagai Cermin Sosial.

Dalam berbagai tradisi, manusia adalah cermin bagi manusia lainnya. Kebaikan dan keburukan yang kita lihat pada orang lain sering kali merupakan proyeksi dari isi hati dan pikiran kita sendiri.

Cermin itu tetiba membawaku pada watak dalam perwayangan. Ada nama Bima yang sangat kuat, bisa membelah gunung, dan dia lahir dari angin. Namun dia temperamental, mudah meledak-ledak.

Ada Krisna yang tertib dalam berpikir, mampu mengolah argumen untuk mencari hal yang tidak mampu diucapkan, dia sembunyikan dalam polemik.

Bima lambang dari otot, Krisna lambang dari akal, dan debat. Ada perseteruan antara Kurawa dan Pandawa. Namun diakhiri dengan kebijakan oleh seorang yang gendut perutnya bernama Semar sembari dia berucap, “Demi keutuhan dan keselarasan, kemaslahatan bersama, saya mengalah demi kebenaran, bukan sebagai pemenang.”

Di tengah peristiwa berusaha bertarung, melawan diri sendiri. Mengelebauiku selama ini. Tetiba cermin aku retakkan! Kukira semua kejujuran, namun hanya palsu belaka. Darah itu mengalir dari jemari-jemari yang pernah mengusapku, mengulurkan tangannya kepadaku ketika aku terpuruk. Tapi aku terlalu lemah dan kalah, cermin itu kupecahkan, tersisa puing dekat air mata dan kebajikan.

Di sebuah metafora dikisahkan sang bangau. Seekor bangau tua, biasa memangsa ikan, tiba-tiba “bertobat”. Berdiam diri di danau, tak lagi berburu. Ikan-ikan pun percaya, menganggapnya suci. Di musim kering, bangau menawarkan bantuan, memindahkan ikan-ikan ke kolam lain.

Namun, si kepiting yang cerdik menaruh curiga. Ia minta diangkut terakhir sambil memegang leher bangau saat terbang. Terlihatlah di bawah, kerangka-kerangka ikan yang telah habis dimangsa. Bangau yang pura-pura tobat itu ternyata pemakan sesama.

Sementara sang cermin. Di mana dia adalah kaca berkaca, mampu menangkap seluruh wujud, dekat maupun jauh, tanpa diskriminasi.

Jangan keluar dulu, masuklah ke dalam, memenuhi syarat dan isyaratnya. Tidak jauh dia terletak. Jangan terlena sebab bisa membuat kita terbawa, terjungkal hingga tidak terasa kita rubuh dan tergeletak sepi ditinggal pergi.

Sejak dahulu, cermin sudah digunakan dalam berbagai peradaban. Awalnya manusia memanfaatkan permukaan air yang tenang untuk melihat bayangan. Seiring perkembangan teknologi, cermin dibuat dari logam yang dipoles hingga akhirnya menggunakan kaca berlapis perak seperti yang kita kenal sekarang.

Dalam kehidupan sehari-hari, cermin membantu manusia menjaga penampilan. Sebelum berangkat sekolah, bekerja, atau menghadiri acara penting, orang akan bercermin untuk memastikan pakaian dan wajahnya cukup menarik. Membuat seseorang lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.

Selain fungsi fisik, cermin sebagai simbol refleksi diri. “Mengajarkan untuk melengkapi diri sebagai fungsinya tidak mudah goyah dalam membaca tanda-tanda berkerut, jerawat, alis, bekas sayatan di pipi, hingga bekas kecupan pertama. Hemm. Dia menginformasikan sebelum menilai orang lain.” Cermin seolah mengingatkan bahwa perubahan besar dimulai dari dalam diri.

Kurebahkan sejenak ego yang menghasutku setiap detik. Lembaran-lembaran peristiwa manusia menukik tajam, gelagat hingga geliat, memaksaku untuk berbohong yang sebenarnya.

Di sebuah dinding kamarku. Dengan segala fungsi dan maknanya, dia menegur secara jujur, memberiku wasiat agar belajar setiap detik mengenali diri, memahami isi hati dan pikiran. Dari benda kecil yang tergantung di dinding itu, tersimpan pelajaran besar tentang refleksi, kejujuran, dan keberanian mengakui kekurangan dan kesalahan.

Benar, kemarin lupa menoleh dan hadap diri. Hanya berselebrasi paling pemenang, padahal sesungguhnya jiwa dan pikiran ini ada kekacauan, ada ketegangan yang butuh ketenangan. Hanya saja sudah terlanjur sengaja kukaburkan, kuretakkan, bahkan hingga pecah berkeping. Hingga membuatku larung dan bertarung, tetapi lari dari kenyataan sesungguhnya.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *